Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 70. Hari Guru


"Aku di lamar, Ma!" seru Rania berucap pada ibunya di seberang telepon.


"Apa? Kamu di kamar? Ya sudah, tidurlah, Nak." Tampaknya wanita paruh baya dari seberang telepon tersebut salah mendengar ucapan dari putrinya.


"Di lamar, Ma. D-I-L-A-M-A-R," ujar Rania mengulangi ucapannya dan memperjelas dengan cara mengejanya.


"Di lamar? Wah! Sama siapa, Nak? Tetangga sebelahmu?" tanya Bu Isna yang tampak antusias.


"Hmmm ... aku hanya berpacaran dengan Alvaro, tentu saja dia yang melamar ku," ucap Rania, kedua sudut bibir gadis itu terangkat sempurna.


"Bagaimana cara dia melamarmu, Nak? Apakah romantis seperti yang di film-film itu?" tanya Bu Isna yang merasa sangat penasaran.


"Tentu saja, Ma."


Rania pun mulai menceritakan semuanya. Bagaimana pertama kali Alvaro melamarnya, riuh tepuk tangan yang terdengar, dan masih banyak lagi. Sesekali terdengar tawa Rania menjelaskan semuanya.


Cukup lama keduanya saling sambut suara, hingga akhirnya mereka pun mengakhiri pembicaraan melalui via telepon tersebut.


Malam itu, ditutup dengan pembicaraan Rania bersama dengan ibunya. Rasa kantuk mulai menyerang Rania, hingga ia pun menutup matanya dan larut ke dalam alam mimpinya.


.....


Keesokan harinya, Alvaro tengah berada di perjalanan ke sekolah Bima bersama dengan Rania dan juga Bima tentunya. Setelah melamar Rania di depan banyak orang, Alvaro tak segan-segan menunjukkan semua perhatiannya kepada Rania.


"Sayang, Minggu depan aku ingin mengajak mama dan papa bertemu dengan orang tuamu," ujar Alvaro.


"Berencana untuk meminta restu dari orang tuamu dan merencanakan tanggal pernikahan kita nantinya," jelas Alvaro.


"Baiklah, nanti akan aku sampaikan niatmu kepada mama," balas Rania sembari mengulum senyumnya.


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di sekolah. Bima serta Rania turun dari mobil. Gadis itu membantu membawakan bingkisan hadiah untuk Nana, karena hari ini merupakan hari guru. Jadi, Bima ingin memberikan hadiah kecil pada gurunya karena telah berjasa dan sabar dalam mendidiknya di sekolah.


"Bu Guru!" Seru Bima melihat punggung Nana.


Gadis itu pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara dan menemukan Bima yang tengah menghampirinya.


"Eh, Bima. Ada apa, Nak?" tanya Nana dengan lembut.


Rania memberikan bingkisan tersebut kepada Bima. Anak laki-laki itu langsung memberikan hadiahnya kepada sang guru.


"Selamat hari guru," ujar Bima sembari memberikan bingkisan tersebut.


"Wah, terima kasih banyak ya, Nak." Nana menerima hadiah tersebut dengan senang hati. Ia pun mencium kedua pipi gembul Bima.


"Selamat hari guru." Kali ini Rania lah yang mengucapkannya sembari memberikan sebuah pelukan kepada Nana.


Nana tersenyum membalas rangkulan itu. "Terima kasih banyak," ujarnya dengan mata yang sedikit memerah.


"Hadiah Bima terlalu kecil untuk jasa Bu Guru yang sudah sabar mengajari Bima," tutur anak laki-laki itu.


"Tidak, Sayang. Bu Guru sangat senang menerima hadiah dari Bima. Sekali lagi terima kasih ya ...."


"Sama-sama, Bu Guru."


Tak lama kemudian, Rania pun berpamitan kepada Bima dan Nana. Keduanya mengangguk sembari tersenyum dan melambaikan tangan pada Rania.


Di dalam mobil, Alvaro menunggu sang kekasih yang masih berada di dalam. Tak lama kemudian, Rania pun muncul dan langsung kembali masuk ke dalam kendaraan tersebut.


"Bingkisannya sudah diberikan?" tanya Alvaro yang perlahan kembali melajukan mobilnya.


"Iya, sudah. Gurunya sangat senang sekali mendapatkan hadiah dari Bima. Putramu memang anak yang baik, bahkan dia berinisiatif memberikan bingkisan untuk gurunya," tutur Rania yang merasa bangga kepada Bima.


Alvaro tersenyum mendengarkan pujian yang keluar dari bibir kekasihnya itu, "Bima tumbuh menjadi anak yang baik bukan hanya mendapatkan didikan dariku saja. Ia juga menerima didikan dari orang sekitarnya . Dari kedua orang tuaku, serta guru yang mengajarinya di sekolah," papar Alvaro.


"Iya juga sih," sungut Rania di sertai dengan anggukan pelan.


Selang beberapa saat kemudian, mobil tersebut sudah tiba di klinik. Rania pun turun dari kendaraan tersebut.


"Hati-hati di jalan ya," ujar Rania.


"Hmmm ... pulang nanti mau aku jemput?" tawar Alvaro.


"Tidak usah. Lagi pula aku pulang lebih awal darimu. Aku bisa naik taksi saja nanti," timpal Rania.


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu." Alvaro mulai melajukan mobilnya. Ia melihat Hilda, meneriaki gadis tersebut dengan membunyikan klaksonnya. Hilda tersenyum sekilas melihat Alvaro yang semakin menghilang dari pandangannya.


Hilda langsung menghampiri Rania, merangkul pundak gadis itu dari belakang.


"Ehemmm ... semalam ada yang dilamar nih," celetuk Hilda.


Rania mengernyitkan keningnya, lalu kemudian beralih menatap temannya itu. "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Rania heran.


"Video tentang lamaran Alvaro di sebuah pesta pernikahan cukup viral di jejaring sosial media," ujar Hilda.


Rania langsung membelalakkan matanya. Ia pun merogoh ponsel dari dalam tasnya, lalu kemudian mencoba memeriksanya secara langsung . Dan benar saja, video seseorang yang tengah melakukan siaran langsung itu pun langsung viral.


"Ya ampun, bagaimana ini? Aku benar-benar malu?" gumam Rania seraya memegangi kedua pipinya.


"Untuk apa kamu malu, lagi pula video kalian bukanlah hal yang memalukan. Justru membuat orang takjub dan merasa iri," tutur Hilda.


Rania tak menjawab, gadis itu masih sibuk memegangi pipinya.


"Ayolah! Sudah saatnya menerima pasien hari ini. Berhenti memikirkan tentang video tersebut!" seru Hilda yang berjalan lebih dulu meninggalkan Rania.


"Iya-iya." Gadis itu pun sedikit berlari mengusul langkah Hilda yang sudah lebih dulu masuk ke dalam klinik.


.....


Alvaro tiba di kantor. Pria tersebut turun dari kendaraannya dan mulai masuk ke gedung pencakar langit yang ada di hadapannya. Semua pegawai yang berpapasan dengannya menunduk hormat. Namun, Alvaro agak sedikit aneh dengan cara mereka menatap atasannya itu.


"Tatapan mereka, mengapa sedikit membuatku bertanya-tanya," gumam Alvaro yang mulai memasuki lift membawanya menuju ke ruangan pria itu.


Tinggg ...


Lift pun terbuka, ia melihat sang asisten yang datang menghampirinya sembari tergesa-gesa. "Pak, anda menjadi trending topik hari ini di kantor," celetuk Juni.


"Trending topik?" tanya Alvaro seraya menaikkan alisnya sebelah.


Juni pun langsung memperlihatkan sesuatu yang ada di layar ponselnya kepada Alvaro. Berbeda dengan Rania yang merasa malu, justru Alvaro terlihat biasa saja sembari mencebikkan bibirnya.


"Oh yang ini. Bukankah aku terlihat tampan dan menawan?" tanya Alvaro yang memberikan penilaiannya terhadap diri sendiri.


Juni langsung terkekeh geli. "Di kantor, semua orang lebih memperhatikan tangan bapak yang gemetaran, Pak."


Alvaro kembali mengerutkan keningnya, ia mengambil ponsel sang asisten, lalu memeriksanya sendiri. Dan benar saja, sangat jelas kala itu tangannya gemetaran saat berlutut dan memegang cincin.


"Angel si penyorot kurang bagus," celetuk Alvaro yang menutupi rasa malunya. Ia pun langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Bersambung ....