Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 220. Air Mata


Alvaro tengah fokus menatap ke jalanan menuju ke sekolah untuk mengantarkan putra sulungnya. Namun, sesaat kemudian pria itu pun terkejut dengan sebuah pertanyaan dari anak berusia 6 tahun tersebut.


"Pa, apakah menjadi seorang ayah itu tidak menyenangkan?" tanya Bima.


Alvaro yang mendengar hal tersebut cukup terkejut. Bagaimana tidak? Ia tidak menyangka jika Bima akan memberikan pertanyaan hingga sejauh itu di umurnya yang masih terbilang sangat muda.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak?" tanya Alvaro yang sesekali melirik ke arah Bima, lalu kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalanan.


"Tidak apa-apa, Pa. Bima hanya ingin bertanya saja, karena Bima penasaran. Waktu papa menggendong adik bayi, papa menangis. Katanya kalau seseorang itu mengeluarkan air mata, itu pertanda bahwa ia sedang bersedih. Apakah papa sedih menjadi seorang ayah?" tanya Bima dengan wajah polosnya, seakan menuntut jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.


Alvaro menghela napasnya. Bima adalah anak yang paling teliti. Buktinya, ia bahkan mengaitkan air mata dengan sebuah kesedihan.


"Nak, papa kemarin menangis itu karena bahagia, bukan sedih. Papa sangat senang menjadi seorang ayah. Adanya kamu, dan juga adik-adik membuat papa lebih bersemangat untuk menjalani hidup," jelas Alvaro.


"Memangnya menangis bahagia itu ada ya, Pa?" tanya Bima lagi.


"Tentu saja ada, Nak. Menangis bahagia itu sama dengan menangis haru. Dimana ada sebuah momen yang membuat kita benar-benar merasa bahagia, yang sebelumnya kita tidak pernah bayangkan bahwa hal itu akan terjadi," jelas Alvaro sebisanya.


"Oh, jadi kemarin itu papa menangis bahagia ya, Pa?" tanya Bima lagi.


"Iya, Sayang." Alvaro mengulas senyumnya.


Tak lama kemudian, mobil yang ia kendarai pun tiba di sekolah. Bima langsung menyalami tangan Alvaro. Saat Alvaro hendak melepas sabuk pengamannya untuk mengantar Bima hingga ke dalam kelas, Bima langsung mencegah sang ayah melakukan hal tersebut.


"Papa tetap di sini saja. Biar Bima sendirian yang masuk ke kelas," ujar Bima yang mulai bersiap untuk turun.


"No, Pa! Bima sudah besar, sebentar lagi Bima masuk sekolah SD. Lagi pula Bima sudah menjadi Abang, yang berarti Bima harus lebih mandiri dari sebelumnya," jelas Bima.


"Anak Papa memang sangat pintar!" puji Alvaro seraya mengusap rambut ikal putranya.


"Bima masuk dulu ya, Pa. Papa hati-hati di jalan," ujar Bima yang mulai turun dari mobil, lalu kemudian melambaikan tangannya ke arah Alvaro.


Alvaro membalas lambaian tangan putra sulungnya itu. Pintu mobil pun di tutup oleh Bima. Alvaro menatap putranya itu dari dalam mobil. Bima setengah berlarian menuju ke ruang kelasnya.


"Putra sulungku sudah berpikiran dewasa. Papa sangat bangga memilikimu, Nak." Alvaro mengulas senyumnya. Ia kembali menginjak pedal gas mobilnya, memutar setir dan melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di kantor.


Kedatangan pria itu tentunya langsung disambut oleh Juni. Sang asisten dengan sigap langsung membuka pintu mobil atasannya itu.


"Pagi ini ... langit tak semendung kemarin," sindir Alvaro melihat sang asisten yang terlihat lebih baik, tak murung lagi seperti kemarin-kemarin.


"Langit yang cerah didukung oleh mentari pagi yang bersinar begitu terang, Pak." Juni menjawab kalimat Alvaro dengan kalimat lainnya. Ia sangat mengerti ucapan sang atasan tersebut sedang menyinggung dirinya.


"Baguslah, ku harap pekerjaanmu kali ini tidak salah-salah lagi seperti kemarin," ucap Alvaro yang kemudian melangkah lebih dulu masuk ke lobi.


Sementara Juni, hanya bisa menggerutu di belakang Alvaro. Saat atasannya itu menoleh, Juni pun langsung menormalkan kembali ekspresinya.


Bersambung ....