
Keesokan harinya, rumah utama terasa begitu ramai karena keluarga kecil Alvaro menginap semalam. Mereka tengah menikmati sarapan lagi bersama, diiringi dengan obrolan ringan.
"Apakah kamu ingin kembali ke kantor?" tanya Alvaro kepada saudara kembarnya.
"Iya. Dalam waktu dekat ini, aku berencana untuk kembali ke kantor," timpal Alvira.
"Lalu bagaimana dengan Abian?" tanya Alvaro lagi.
"Aku akan menyewa baby sitter untuk merawatnya," balas Alvira.
"Bagaimana jika dia lebih membutuhkan ibunya dari pada orang lain. Apakah kamu rela meninggalkan Abian begitu saja?" tanya Alvaro lagi.
Rania langsung menyenggol lengan sang suami yang sedari tadi beradu argumen dengan Alvira. "Mas, ini meja makan. Seharusnya kamu tidak membahas itu," bisik Rania pada sang suami.
Alvira menghela napasnya, ia menatap Alvaro dan meletakkan alat makan yang ada di tangannya. "Ada apa denganmu? Mengapa kamu sepertinya sangat keberatan jika aku kembali ke kantor?" tanya Alvira.
"Aku tidak keberatan jika kamu kembali terjun ke perusahaan. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya jika kamu mengurus Abian terlebih dahulu? Abian masih kecil, ia masih membutuhkanmu," timpal Alvaro.
"Iya, Nak. Sebenarnya mama juga sependapat dengan Alvaro. Kamu uruslah dulu Abian. Nanti, jika Abian sudah besar, kamu boleh kembali ke kantor," ujar Arumi yang juga ikut memberikan saran pada putri semata wayangnya.
"Tetapi aku tidak ingin terus-menerus merepotkan, Ma. Alvaro sudah sibuk mengurus kantor pusat, ia juga harus mengurus kantor cabang," tutur Alvira.
"Untuk masalah yang satu itu, kamu tidak usah khawatir. Terkadang papa juga ikut andil membantu. Lagi pula Alvaro tidak sendirian, ia memiliki tangan kanan yang dapat dipercaya," ujar Fahri menambahi.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengurus Abian dulu," ucap Alvira yang mencoba mendengarkan ucapan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Orang-orang yang ada di sana langsung melemparkan senyum. Masalah ini pun terselesaikan tanpa harus adanya adu mulut. Di atasi dengan kepala dingin.
Setelah selesai menikmati sarapannya, Alvaro dan Bima pun berpamitan untuk berangkat. Sementara Rania, Alvaro sengaja belum mengajak pulang istrinya dikarenakan takut jika sang istri merasa bosan. Apalagi melihat Rania yang begitu senang bersama dengan Arumi, membuat pria itu pun berinisiatif untuk menetap di rumah utama sementara waktu, agar Rania tak bosan sendirian di rumah.
Di rumah utama, Rania tak merasa bosan sama sekali. Setidaknya ia ada teman yang diajak berbicara, yaitu ibu mertua dan juga adik iparnya. Selain itu, ia juga sering menggendong Abian, mencoba belajar untuk menggendong anak-anak agar nanti dirinya dapat melakukan hal tersebut tanpa merasa kaku.
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di sekolah Bima. Anak laki-laki itu menyalami tangan sang ayah terlebih dahulu.
"Bima pamit ya, Pa."
"Iya, Nak. Belajar yang rajin ya. Jangan bermain-main disaat guru sedang menjelaskan pelajaran," ujar Alvaro.
"Baik, Pa."
Setelah mengecup punggung tangan sang ayah, Bima pun langsung keluar dari kendaraan tersebut. Anak laki-laki itu terlihat berlari masuk ke dalam ruang kelasnya.
Melihat Bima yang sudah masuk, Alvaro pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.
Sesampainya di kantor, ia disambut oleh asisten kesayangannya. Siapa lagi jika bukan Juni. Namun, beberapa hari terakhir, Juni selalu saja memperlihatkan wajahnya yang tidak bersahabat.
"Jun," tegur Alvaro saat melihat sang asisten melamun.
"Ah iya, Pak." Juni tersadar dari lamunannya, ia langsung menutup pintu mobil atasannya itu.
Alvaro berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit itu, diikuti oleh Juni yang ada di belakangnya.
Tinggg ...
Keduanya keluar dari lift secara bersamaan. Alvaro berjalan menuju ke ruangannya. Ia melihat Shinta yang sibuk berkutat dengan layar komputernya.
Gadis itu segera beranjak dari tempat duduknya, saat melihat Alvaro tiba. Ia pun ikut mengekor Alvaro masuk ke dalam ruangannya.
Shinta pun mulai membacakan jadwal Alvaro hari ini satu persatu. Pria tersebut mengangguk paham, lalu kemudian menatap asisten dan sekretarisnya secara bergantian.
"Ya sudah, kalau begitu kalian boleh pergi," ucap Alvaro kepada kedua pegawainya itu.
Shinta dan Juni pun menundukkan kepalanya bersamaan, lalu kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan atasannya itu.
Alvaro memperhatikan keduanya yang semakin menjauh. Menatap seksama ke arah kedua orang tersebut.
"Mereka tidak berjauhan seperti sebelumnya. Apa mungkin sudah berbaikan?" gumam Alvaro pelan.
"Tetapi ... kenapa asistenku itu raut wajahnya masih muram? Ada apa dengannya?" lanjut Alvaro bertanya-tanya.
"Entahlah, cerita mereka lebih rumit dari pada soal matematika," gumam Alvaro memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan saja.
Juni dan Shinta baru saja keluar dari ruangan atasannya. Juni berbalik menatap ke arah Shinta. "Apakah kamu berangkat bekerja bersama Daren?" tanya Juni yang merasa penasaran, karena dirinya tadi pagi memilih untuk berangkat terlebih dahulu karena ada sesuatu yang harus ia urus.
"Tidak, aku berangkat naik taksi. Daren hari ini tidak bekerja, katanya ada urusan mendadak," timpal Shinta.
"Oh ...." Juni menganggukkan kepalanya.
"Atau jangan-jangan dia memang mengindahkan peringatan ku kemarin. Baguslah kalau begitu, setidaknya aku bernapas lega karena telah membasmi serangga yang satu itu," batin pria tersebut tersenyum samar.
"Memangnya ada apa?" tanya Shinta yang merasa penasaran akan pertanyaan yang diajukan oleh pria di hadapannya.
"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu silakan lanjutkan pekerjaanmu, aku permisi dulu." Juni pun melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut.
Sementara Shinta, ia mengendikkan bahunya tidak peduli dengan keingintahuan Juni. Memilih untuk kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Jam makan siang pun telah tiba. Shinta baru saja membereskan dokumen yang ada di meja kerjanya. Tak lama kemudian, ia melihat office girl yang selalu mengantarkan makanan untuknya.
"Untukku lagi?" tanya Shinta yang mencoba menebak.
Office girl tersebut menganggukkan kepala. Meletakkan makanan tersebut di atas meja kerja Shinta.
"Daren masih mengirimiku makanan meskipun dia tidak masuk? Sungguh sangat pengertian sekali," batin Shinta.
Gadis itu tersenyum, lalu kemudian berterima kasih kepada office girl tersebut. Setelah mengantarkan makanan kepada si penerima, office girl tersebut langsung pergi dari hadapan Shinta.
Ia berjalan menuju ke Juni yang melihat hal tersebut dari kejauhan. Pria itu sedikit bersembunyi agar tidak ketahuan.
"Sudah, Pak."
Juni menganggukkan kepalanya, lalu kemudian memberikan uang sebagai tip untuk si office girl tersebut.
"Kenapa Pak Juni tidak mengantarkannya sendiri? Pasti Bu Shinta akan senang jika mengetahui bahwa makanan itu pemberian dari Pak Juni," tutur wanita tersebut.
"Benarkah? Sepetinya tidak. Dia lebih senang jika mengetahui bahwa pengirim makanan tersebut adalah orang lain," ujar Juni.
Setelah melihat Shinta menyantap makanannya, Juni pun mengembangkan senyum. Pria itu memilih untuk pergi dari sana, sebelum Shinta melihatnya.
Setelah Juni pergi, Shinta mengarahkan pandangannya ke sudut ruangan, tempat Juni menatap Shinta sedari tadi. Namun, ia tak melihat keberadaan siapapun di sana.
"Tidak ada orang lain, mungkin hanya perasaanku saja." Shinta melanjutkan menyantap makan siangnya dengan tenang.
Bersambung .....