Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 32. Aku Membutuhkan Sosok Mama!


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di sekolah. Pria tersebut bersama dengan anaknya turun dari kendaraannya. Ia mengantarkan Bima menuju ke kelasnya.


Alvaro melihat keberadaan Nana yang juga berada di kelas tersebut. Gadis itu mengembangkan senyumnya saat bertemu dengan Alvaro. Setelah mendapatkan penolakan, Nana bersikap tak berlebihan lagi pada duda anak satu tersebut.


"Bu Guru, ..."


"Pagi Bima, Pagi juga Pak Alvaro," sapa Nana.


"Pagi," timpal Alvaro sekenanya.


"Ah iya, saya ingin memberitahukan kepada Pak Alvaro, hari Sabtu nanti sekolah akan mengadakan pentas seni. Jadi, kami mengharapkan kesediaannya untuk menghadiri acara tersebut," tutur Nana sembari mengulas senyumnya.


"Bu Guru, apakah semua siswa harus membawa dua orang tua? Bagaimana dengan Bima yang hanya memiliki papa saja?" tanya Bima.


Siapapun mendengar ucapan pria kecil itu tentu saja merasa kasihan. Alvaro yang mendengarkan ucapan putranya secara langsung membuat hatinya teriris.


"Emmm ... begini sayang, Bima tidak harus membawa keduanya. Bima kan memiliki papa. Jadi, papa Bima saja cukup," ucap Nana mencoba memberi pengertian pada anak muridnya.


Alvaro tersenyum, akan tetapi hatinya bak diiris sembilu melihat tatapan Bima yang mulai menyendu. Pria tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Bima.


"Anakku, jagoan kecilnya papa. Akan papa pastikan, papa memberikan semua kasih sayang yang papa punya untukmu. Papa bisa menjadi ibu bagi Bima, papa juga bisa menjadi seorang ayah bagi Bima. Jadi, Bima tidak perlu bersedih akan hal itu," tutur Alvaro.


"Tapi Bima membutuhkan sosok mama, Pa!" lirih Bima.


Dengan raut wajah yang masam, pria kecil itu pun masuk ke dalam kelasnya. Saat ia hendak menduduki bangkunya, para teman-teman Bima menyorakinya.


"Kasihan sekali dia tidak punya mama," celetuk salah satu teman Bima.


Nana yang mendengar hal tersebut langsung menegur muridnya. Sementara Bima, pria malang itu melipat kedua tangannya di atas meja, lalu kemudian menjatuhkan kepalanya di atas tangannya itu. Bahunya naik turun, menangis sesegukkan.


Alvaro langsung menghampiri putranya. Pria tersebut mengusap pelan rambut Bima. "Maafkan papa, Nak." Melihat Bima yang menangis dan menjadi bahan ejekan seperti ini, membuat Alvaro tergerak hatinya. Ia ingin mencoba mengejar wanita pilihan anaknya, yang cocok untuk dijadikan ibu pengganti.


Saat Alvaro sedang mencoba menenangkan anaknya, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam sakunya berdering. Pria tersebut merogoh ponselnya, melihat nama sang asisten tertera di layar benda canggih tersebut. Dengan cepat, Alvaro pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, Jun?" tanya Alvaro.


"Pak, saya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa pegawai yang ada di anak perusahaan tengah mengadakan demo karena tidak mendapatkan upah selama tiga bulan terakhir," timpal Juni dari seberang telepon.


Alvaro memijat pelipisnya, sungguh iparnya itu membuatnya naik darah. Dana yang diberikan Alvaro kemarin rupanya ia gunakan untuk kepentingan pribadinya.


"Baiklah, nanti saya akan segera ke sana," ujar Alvaro yang langsung menutup panggilan telepon tersebut.


Alvaro menghela napasnya, ia tak bisa meninggalkan Bima dengan kondisi seperti ini. Namun, jika pria itu tidak turun tangan secepatnya, maka akan berdampak semakin buruk di perusahaan tersebut.


Nana menghampiri Alvaro. Gadis itu duduk di samping Bima. "Pak Alvaro, apakah ada masalah?" tanya Nana dengan sopan.


"Iya, ada masalah di kantor," timpal Alvaro.


"Kalau begitu selesaikanlah masalah Pak Alvaro di kantor, Bima biar saya yang urus," ucap Nana.


Alvaro kembali mengarahkan pandangannya pada putranya. "Kalau begitu, saya titip Bima." Alvaro mulai beranjak dari tempat duduknya.


Nana tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala menanggapi ucapan dari Alvaro.


"Nak, papa berangkat ke kantor ya. Tolong jangan menangis lagi," ucap Alvaro mengusap puncak kepala Bima.


Tak lama kemudian, pria itu pun melangkahkan pergi dari tempat tersebut. Bima mengangkat kepalanya saat melihat kepergian ayahnya. Ia melirik ke samping, melihat gurunya yang tengah tersenyum menatap ke arahnya.


"Bima, jangan menangis lagi," ujar Nana menghapus jejak air mata di pipi gembul Bima.


"Lihatlah! Papamu saat ini tengah pusing memikirkan masalah kantor. Jadi, Bima tidak boleh merajuk dengan papa. Bima harus mengerti keadaan papanya Bima. Apakah Bima tidak kasihan melihat papa yang bekerja keras demi membahagiakan Bima, tetapi Bima masih saja bersedih," lanjut Nana.


"Nah, kalau Bima merasa kasihan dengan papa, sepulang sekolah nanti Bima minta maaf sama papa, dan jangan suka merajuk lagi dengan papa," ujar Nana mencoba memberi pengertian pada anak didiknya.


Bima pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. Nana tersenyum, mengusap kepala Bima. "Sudah siap belajar hari ini?" tanya Nana.


"Siap Bu Guru," timpal Bima yang kembali bersemangat.


....


Alvaro dalam perjalanan menuju ke perusahaan. Pria tersebut kembali menginjak pedal gas mobilnya, menambah kecepatan laju kendaraannya itu.


Setibanya di sana, Alvaro melihat di depan tampak ramai. Alvaro memilih untuk memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari gedung tersebut karena memang tak ada celah untuk masuk ke sana.


Saat Alvaro turun dari mobilnya, pria itu melihat semua orang yang tampak bersorak meminta uang gaji agar secepatnya cair. Beberapa dari mereka mengenali Alvaro, dengan cepat kerumunan orang-orang tersebut langsung mengerubungi pria itu.


"Kami minta hak kami! Segera bayar gaji kami!" seru banyak orang tepat di depan Alvaro.


Alvaro kebingungan, disatu sisi ia memang tak tahu jika keadaannya seperti ini. Sebelumnya, ia memberikan dana tambahan pada Andre untuk membayar upah para karyawannya.


"Tolong tenang sebentar!" seru Alvaro.


Semua orang pun terdiam saat Alvaro berucap. Mereka memilih mendengarkan terlebih dahulu penjelasan atasan dari kantor pusat.


"Saya akan membayar gaji kalian secara tunai, tapi tolong bisakah kalian lanjutkan pekerjaan tanpa membuat keributan seperti ini?"


"Kami telah memutuskan untuk mencabut jabatan Andre. Sebelumnya, aku benar-benar tidak tahu jika kondisi di sini akan kacau balau seperti ini. Untuk beberapa bulan ke depan, saya yang akan mengambil alih mengelolanya sebelum Bu Alvira kembali aktif mengurus perusahaan."


"Saya pastikan, tidak akan ada upah yang tak terbayarkan sepeserpun!" tegas Alvaro.


Semua orang pun saling berbisik dan mengangguk-anggukkan kepalanya mempercayai ucapan Alvaro.


"Jadi, saya minta untuk kalian kembali ke tugas masing-masing. Tidak usah khawatir akan masalah gaji, hari ini saya akan menyuruh asisten saya mengurus semuanya," ucap Alvaro dengan suara yang lantang.


Semua orang yang ada di sana langsung membubarkan barisannya. Mereka kembali masuk ke dalam gedung perusahaan, melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


Alvaro menghela napasnya, ia benar-benar panik saat melihat banyak kemarahan dari wajah-wajah pegawai yang ada di sana.


Tak lama kemudian, ia melihat Juni yang baru saja tiba. Alvaro berdecak sebal, melihat asistennya itu datang terlambat.


"Kenapa kamu baru datang sekarang? Seharusnya kamu berada di sini saat kamu memberikan informasi kepadaku," ketus Alvaro.


"Maafkan saya, Pak. Saya kira bapak masih berada di sekolah tadi, saya berniat menjemput bapak," jelas Juni.


Alvaro memijat keningnya kembali. Entah mengapa di saat yang tidak tepat, justru Juni bergerak dengan lambat dan sedikit membuatnya merasa kesal.


"Kenapa kamu harus menjemput saya ke sekolah? Saya membawa kendaraan sendiri," ujar Alvaro dengan nada penekanan.


"Maafkan saya, Pak."


"Ya sudah, lupakanlah! Sekarang kamu aku beri tugas. Tanyakan kepada bagian admin untuk melunasi semua tunggakan gaji mereka. Hari ini tolong selesaikan masalah ini!" titah Alvaro.


"Baik, Pak. Akan segera saya laksanakan," timpal Juni dengan tegas, pria itu pun langsung pergi meninggalkan Alvaro untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya tadi.


"Ini semua karena Andre sialan itu! Akan ku hajar dia saat kedapatan denganku nanti!" geram Alvaro sembari mengepalkan tangannya.


Bersambung ....


Ada yang mau bantu nimpuk Andre?