
Malam itu, Rania dan Alvaro berada di dalam kamar. Alvaro memainkan ponselnya, sementara Rania ikut memperhatikan layar yang digeser oleh suaminya itu.
"Mas, sebentar lagi Bima ulang tahun. Bagaimana kalau kita rayakan di rumah dan undang semua teman-teman sekolah Bima?" ujar Rania memberikan usulan mengingat sebentar lagi putranya akan berulang tahun.
"Kami tidak pernah merayakan ulang tahun Bima di rumah," ucap Alvaro meletakkan layar ponselnya ke atas nakas.
"Tidak pernah merayakan di rumah? Lalu di mana, Mas?" tanya Rania mengerutkan keningnya.
"Coba besok kamu tanya Bima langsung, dia ingin merayakan ulang tahunnya di mana. Yang pasti, jawabannya tidak akan ada acara di rumah," ujar Alvaro memeluk sang istri.
"Apa salahnya sih, Mas yang bilang dia pernah merayakan ulang tahun di mana saja. Rencananya kan aku ingin membuat kejutan kecil padanya," gerutu Rania menepis tangan Alvaro yang memeluk dirinya.
Alvaro terkekeh, ia kembali memeluk sang istri dan bergelayut dengan begitu manja. "Merajuk? Terus saja begitu, nanti Mas makan kamu," ancam Alvaro.
Mendengar ucapan suaminya, membuat Rania mendelik. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, membuat Alvaro pun tersenyum penuh kemenangan.
"Mas, kok aku belum ada tanda-tanda juga ya," ujar Rania.
"Tanda-tanda apa?" tanya Alvaro.
"Tanda-tanda hamil, Mas." Rania memperlihatkan wajah murungnya.
Tangan Alvaro bergerak mengusap puncak kepala istrinya, " Sabar, Sayang. Lagi pula kita menikah juga belum sampai sebulan. Apakah kamu begitu menginginkannya?" tanya Alvaro.
"Aku hanya kepikiran dengan permintaan Bima, Mas. Dia tidak meminta apapun dariku, hanya ingin diberikan seorang adik untuk menemaninya bermain di rumah," tutur Rania.
"Istriku, kita serahkan semuanya pada Tuhan. Aku tahu antusiasmu hendak mewujudkan keinginan Bima itu sangatlah besar. Namun, untuk yang satu ini, kita tidak bisa menentukan kapan tepatnya Tuhan akan menitipkan adik kecil untuk Bima kepada kita. Tugas kita hanya bisa berusaha dan bersabar," ujar Alvaro mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Aku hanya takut,Mas. Tetangga di desa, dia menikah ketika sudah memasuki umur 30, sama sepertiku. Sampai saat ini, dia belum memiliki keturunan. Aku takut jika hal itu akan terjadi padaku juga, Mas. Aku tidak hanya mengecewakan Bima saja jika itu terjadi. Tentunya kamu dan juga keluarga kita, Mas."
"Sssttt ... Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah sudah Mas jelaskan tadi, kita hanya bisa berusaha, hasil selanjutnya serahkan saja Yang Maha Kuasa," tutur Alvaro menenangkan kegelisahan istrinya.
Rania menganggukkan kepalanya. Suaminya benar, seharusnya dia tetap berpikiran positif dan sabar dalam menunggu. Toh, pernikahan mereka juga belum genap satu bulan.
"Sekarang kita tidur ya. Kamu pasti lelah sudah bekerja seharian, begitu pula dengan Mas," ujar Alvaro.
"Selamat malam, Mas. Semoga mimpi indah." Rania sedikit mendongak menatap suaminya.
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening Rania," Kamu juga, Istriku."
Keduanya pun mulai memejamkan mata, larut ke dalam mimpi indah mereka masing-masing.
......................
Keesokan harinya, Rania menjalankan aktivitas paginya, membangunkan putra sambungnya, menyiapkan perlengkapan sekolah Bima dan membuatkan sarapan untuk kedua pria tampan berbeda generasi tersebut.
Aroma masakan Rania tercium begitu lezat. Kemampuan memasaknya pun meningkat bukan hanya dari Alvaro saja, saat ini wanita tersebut sering menonton video memasak dan mempraktekannya saat pulang dari klinik.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kecil mendekat ke arahnya. Rania menoleh, mendapati putra sambungnya duduk di kursi dengan raut wajah yang sedikit kebingungan.
"Ada apa, Nak? Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Rania sembari meletakkan makanan yang dibuatnya di atas meja.
"Semalam Mama dengar suara orang menangis tidak?" tanya Bima.
"Suara orang menangis?" Rania mengerutkan keningnya.
"Mama tidak mendengar suara orang yang menangis semalam," lanjut Rania.
Tak lama kemudian, Alvaro pun keluar dari kamarnya. Pria itu melangkahkan kaki ke dapur untuk ikut bergabung sarapan bersama dengan anak dan istrinya.
"Mas semalam mendengar suara tangisan tidak?" tanya Rania.
"Suara tangisan? Tidak." Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Memang siapa yang menangis?" Lanjut pria tersebut.
"Bima tidak tahu, Pa. Semalam Bima sempat mendengar seperti ada yang menangis. Apakah yang menangis adalah Febby?" gumam Bima.
Alvaro teringat saat kejadian di lift kemarin. Ia sempat memperhatikan tangan Mila yang sedikit kasar mencekal tangan putrinya.
"Sudahlah! Mungkin Bima salah dengar saja. Sekarang makanlah dulu dan jangan memikirkan hal apapun," titah Alvaro pada putra semata wayangnya
"Baik, Pa." Bima pun mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Papa berencana membeli rumah," ucap Alvaro sembari memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Rumah? Memangnya kenapa, Mas? Apakah Mas Varo merasa tidak nyaman di sini?" tanya Rania menatap serius suaminya. Begitu pula dengan Bima.
"Ya ... Mas hanya merasa, kita tidak akan selamanya untuk tinggal di apartemen. Lagi pula, jika memiliki adik nanti, Bima pasti membutuhkan tempat bermain. Seperti halaman yang luas dan masih banyak lagi," jelas Alvaro.
Memang tujuan Alvaro adalah untuk memberikan hunian yang nyaman untuk anak dan istrinya. Namun, tujuan utama dari rencananya itu tak lain untuk menghindari si Mila, tetangga yang meresahkan Alvaro.
"Apakah kalian tidak setuju pindah rumah?" tanya Alvaro menatap anak dan istrinya secara bergantian.
"Tentu saja setuju!" jawab mereka serentak.
Alvaro tersenyum, untunglah mereka berdua mau diajak pindah dari tempat ini. Membuat Alvaro tak harus menjelaskan alasan yang lebih spesifik lagi.
"Bima, ..." Rania memanggil putranya.
"Iya, Ma."
"Sebentar lagi Bima ulang tahun, Bima mau merayakan ulang tahun Bima di mana?" tanya Rania sembari mengulas senyumnya.
Bima menatap ke arah Alvaro sejenak, lalu kemudian berpikir. Tak lama kemudian, ia pun memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Rania.
"Bima mau merayakan ulang tahun di panti saja, Ma. Bima ingin berbagi bersama mereka," jawab Bima dengan lugas.
Rania langsung tersenyum mendengar jawaban dari Bima. Putra sambungnya itu memang luar biasa, dan bahkan membuat Rania terkagum-kagum.
Rania menatap Alvaro, tentu saja semua itu tak luput dari ajaran ayahnya yang selama ini mengasuh anaknya. Meskipun selama ini Bima kurang akan kasih sayang dari ibunya, akan tetapi Bima tak kekurangan kasih sayang pada orang-orang sekitarnya. Hingga ia pun tumbuh dengan sangat baik dan juga bersikap lebih dewasa.
"Baiklah, nanti kita rayakan di panti ya, Nak. Berbagi kebahagiaan bersama mereka," ucap Rania tersenyum.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka pun bersiap untuk berangkat. Ketiga orang tersebut sudah keluar dari unit. Sementara Rania sibuk mengunci pintu terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, terdengar suara tetangganya yang juga baru saja keluar dari rumah. Alvaro mengernyitkan keningnya, entah mengapa Alvaro merasa ini bukanlah sebuah kebetulan.
"Mau berangkat ya?" tanya Mila seraya memperlihatkan senyumnya. Sementara Febby, ekspresinya tak berubah, sama seperti waktu itu.
"Ah iya, Mbak Mila mau berangkat ke sekolah juga?" tanya Rania seraya tersenyum simpul.
"Iya, nih. Emmm ... kira-kira boleh tidak jika kami menumpang untuk pergi ke sana. Kebetulan searah kan?" ujar Mila yang masih mengulas senyum penuh arti.
Rania baru saja hendak membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, akan tetapi Alvaro sudah menyela ucapan sang istri terlebih dahulu.
"Kami buru-buru, lagi pula banyak angkutan umum atau pun kendaraan yang bisa kalian tumpangi. Atau perlukah aku memesankan ojek online untuk kalian?" tanya Alvaro. Sontak Rania pun langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Alvaro barusan.
Bersambung ....