Cassanova Penikmat Sepupu

Cassanova Penikmat Sepupu
Bab 71


"Astaga apa kalian tidak untuk skip saja?"


Tan dan Laluna hanya tertawa ringan melihat wajah putrinya malu-malu seperti itu.


Satu Minggu berlalu setelah waktu itu Lindsey dirawat satu hari di rumah sakit, tapi hingga saat ini Domanick belum juga menemuinya!


Gusar, kesal dan rindu bercampur menjadi satu! Semakin lama kerinduan pada laki-laki yang dicintainya itu semakin tidak dapat Lindsey bendung lagi.


Akhirnya weekend ini Lindsey memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Dady Lan lalu nantinya akan mampir untuk menemui Domanick, Tan dan Laluna juga ikut bersama Lindsey karena mereka juga belum menjenguk lagi Dady Lan mereka ingin tau keadaan Dady Lan apakah sudah benar-benar pulih kembali.


"Sey kau sudah hubungi Nick?"


"Untuk apa menghubunginya, dia saja tidak menghubungi ku!" ketus Lindsey.


"Loh bukankah kalian pacaran?"


"Sudahlah mom, aku ke sana karena ingin melihat keadaan Dady Lan saja kok bukan untuk menemui kak Nick!"


"Masa?" goda Laluna.


"Gengsi tuh mom, ibaratnya masa perempuan yang nyamperin!" timpal Tan.


"Eh masa gengsi-gengsian kaya anak sekolah pacaran saja!" Laluna menertawakan Lindsey.


"Arghh sudahlah kalian berhenti menggodaku, aku sedang kesal padanya! Bisa-bisanya dia satu Minggu ini tidak memberi kabar, bahkan tidak menanyakan keadaan ku padahal aku dirawat waktu itu!"


"Nick itu sedang sibuk Sey, group Limson sedang memperluas perdagangan wine dan senjata ke negara-negara lain yang tadinya dikuasai oleh group lain!" Tan berusaha memberikan pengertian pada putrinya.


"Apapun alasannya aku tidak peduli dad, lagipula aku tidak penasaran kok apa yang dia kerjakan!"


Setelah berkemas beberapa pakaian dan oleh-oleh khas kota ini, mereka masuk kedalam mobil! Dady Tan memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri, karena sudah tidak percaya lagi pada sopir atau siapapun semenjak Lindsey pingsan waktu itu.


Lebih aman dan nyaman bila Dady Tan yang mengemudikan mobil, perjalanan mereka berlangsung lebih dari 3 jam! Sekitar pukul 10.00 pagi mereka akhirnya tiba di kediaman Dady Lan.


Kedatangan keluarga Lindsey tentulah membuat Momy Larisha dan Dady Lan sangat senang! Tapi sejauh Lindsey menginjakkan kaki di kediaman Dady Lan, belum juga ada tanda-tanda kalau Domanick ada disini.


Mereka sedang asik mengobrol dengan Dady Lan, meskipun kesehatan Dady Lan masih bekum pulih sepenuhnya tapi Dady Lan selalu tertawa saat mengobrol dengan Laluna dan Tan.


Larisha pun menyiapkan makan siang untuk mereka makan siang bersama, dan Lindsey pun pergi ke dapur untuk mengorek informasi tentang keberadaan Domanick.


"Momy!" sapa Lindsey.


"Ada apa? Kenapa cengengesan begitu?"


"Kak Nick tidak datang berkunjung?"


"Huh, anak itu dia sepertinya menantikan kutukan dari orangtuanya sendiri! Sudah lama dia tidak datang kemari, sedangkan Britney dan Bright rumah mereka padahal jauh tapi sering berkunjung kemari, hanya anak itu saja!" kesal Larisha.


"Memangnya kak Nick sedang sibuk sekali ya mom?"


"Mana momy tau Sey, ditelepon saja tidak pernah diangkat! Begitulah kalau selalu mementingkan dunia, dua tidak puas dengan pencapaian perusahaan dan juga pencapaian group Limson! Sey pokoknya kalau mau sama anak itu, kau harus extra sabar!"


Sambil mencicipi masakannya Larisha memberikan nasehat pada Lindsey, bahwa anaknya yang satu itu memang berbeda dari saudaranya yang lain! Dia sulit ditebak, dan sangat sibuk.


Lindsey terpaksa harus menelan kekecewaan sepertinya dia tidak akan bisa bertemu dengan Domanick, padahal sudah jauh-jauh datang ke pusat kota tapi orang yang dinantikan ternyata tidak ada.


Sementara itu Domanick sedang berada di Hongkong saat ini! Gilbert yang mendapatkan kabar dari anak buahnya yang berjaga di kediaman Tuan Lan, bahwa Lindsey dan orangtuanya datang berkunjung menemui Dady Lan.


"Tuan, nona dan orangtuanya datang ke kediaman orangtuamu!"


"Oh ya? Kapan dia datang!"


"Baru saja! Perlukah kita cancel semua meeting, dan batal berkunjung ke pabrik pembuatan wine dan senjata?"


"Rupanya gadis itu begitu merindukan aku!" Domanick menyunggingkan senyuman dibibirnya.


"Jadi bagaimana Tuan?"


"Mungkin saja nona berkunjung bukan karena merindukan mu, tapi memang ingin melihat keadaan Dady Lan!"


"Bert, kau berkata begitu sama saja kau meragukan pesona seorang Domanick Limson!"


"Maaf Tuan, tapi bukankah sebaiknya kau menelpon nona dan mengatakan kalau kau sedang berada di Hongkong saat ini?"


"Tidak perlu, nanti saja setelah semua urusan disini selesai aku akan menemuinya! Tapi sebelum menemuinya, aku akan lebih dulu berkunjung ke kediaman David!" Domanick tersenyum sinis.


"Baik Tuan kalau begitu, ngomong-ngomong kemarin Nyonya Larisha kembali menelpon ku!"


"Lalu apa yang wanita tua itu katakan?"


"Lebih tepatnya bukan katakan, tapi teriakan!"


"Apa momy berteriak padamu?"


"Benar Tuan,"


"Teriak bagaimana?"


"Katakan pada anak itu, apa dia menunggu aku ibunya sendiri mengutuknya?" Gilbert menirukan suara Larisha.


"Serak sekali!"


"Mungkin Nyonya dan Tuan merindukan mu Tuan, luangkanlah waktu untuk menemui mereka!"


"Ya nanti aku usahakan! Lagipula aku takut dikutuk ibuku sendiri!"


Saat sedang berbicara dengan Gilbert, Naura lolos dari pandangan Domanick! Anak kecil itu membuka laci yang berada dibawah meja kerja Domanick, didalam laci tersebut terdapat pistol yang berisikan peluru, diambilnya lalu ditenteng-tenteng ke hadapan Domanick.


"Dady lihat!" kedua tangan Naura memegang pistol itu.


Sontak saja Gilbert dan Domanick langsung beringsut buru-buru merebut pistol dari tangan Naura.


"Hei gadis kecil tanganmu tidak bisa diam ya? Kau pikir ini mainan?"


"Mainan Nola," Naura menjawab dengan santai.


"Mainan-mainan bikin panik saja! Dengar ya jangan lagi pegang-pegang ini oke?"


"Tuan sepertinya nona kecil harus dijauhkan dari benda-benda seperti ini! Apalagi jika usianya nanti semakin besar, salah-salah dia menembak orang nanti!"


"Ku benar, gadis kecil ini jangan sampai seperti ku!"


"Anda tidak akan mewarisi cara bertarung, Tuan?"


"Tidak, aku mau dia tumbuh menjadi gadis yang manja seperti Lindsey!"


"Lalu penerus mu?"


"Aku akan buat nanti, kalau perlu sebelas anak laki-laki! Kau jangan khawatir Bert, rahim Lindsey akan terus penuh oleh benih-benih ku!"


"Senang mendengarnya semoga secepatnya terealisasi Tuan!"


Di kediaman Tuan Lan, Lindsey dan orangtuanya menginap selama dua hari weekend Minggu ini di kediaman Dady Lan, padahal dihari ke 2 Lindsey berharap bisa bertemu dengan Domanick tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda Domanick ada di rumah ini.


Hingga tiba waktunya mereka pulang setelah berpamitan pada Tuan Lan dan Larisha, Lindsey dan orangtuanya masuk kedalam mobil untuk memulai kembali perjalanan pulang ke kota mereka.


Sepanjang perjalanan wajah Lindsey ditekuk, terlihat Lindsey kali ini benar-benar marah pada Domanick, tangannya meremat-remat pakaian yang dia kenakan saking kesalnya karena Domanick mengabaikannya.



♥️♥️♥️


Dibikin rindu dulu ya Nick biar nanti pas nganu bener-bener nganu banget gitu ya? Paham lah ya othor,😃