Cassanova Penikmat Sepupu

Cassanova Penikmat Sepupu
Bab 59


Seharusnya Domanick memang memberikan Lindsey waktu untuk membuka hatinya kembali, tapi apalah daya jika gejolak hasrattnya sudah tidak dapat ditahan lagi.


Keduanya saling bertatapan! Satu tangan Domanick meraba wajah cantik Lindsey.


"Aku mencintaimu Lindsey, untuk malam ini saja tidurlah di sini!"


"Tapi aku belum siap kak, luka itu masih tidak bisa aku lupa belum lagi Raline dia masih hidup kan?"


"Aku tidak peduli Raline masih hidup atau tidak ini tentang kita Sey," Domanick mencoba mencium bibir Lindsey tapi Lindsey memalingkan wajahnya enggan untuk menyatukan bibir dengan Domanick.


"Menyingkir dari tubuhku kak kalau tidak aku akan marah!"


Tak ingin Lindsey semakin marah Domanick pun menyingkir dari atas tubuh Lindsey. Setelah itu Lindsey duduk dibibir ranjang sedangkan Domanick menuju pintu kamar untuk menutupnya lalu menguncinya.


Dan Lindsey hanya bisa terdiam duduk memandangi Domanick percuma juga dia terus berusaha keluar dari dalam kamar ini, toh Domanick tidak akan membiarkannya.


Setelah memastikan kunci sudah dikunci, Domanick kembali keranjang lalu meraih satu tangan Lindsey.


"Sini tidur udah malem tadi capek kan dari pagi di rumah Dady Lan," ajak Domanick.


"Ta-tapi aku,"


"Kakak tidak akan memper kosa mu Sey kalau kau belum siap kakak bisa sabar kok!"


Lindsey pun naik keatas ranjang tapi belum mau tidur, sementara Domanick masih terus memandanginya sambil memegangi tangan Lindsey.


Dipeluknya Lindsey oleh Domanick, kedua tangan Domanick melingkar diperut Lindsey, posisi keduanya masih duduk diranjang belum mau tiduran.


"Sayang,"


"Kok engga jawab si aku panggil sayang,"


"Apa si kak? Memangnya aku siapa kakak panggil sayang,"


"Cinta ku, kakak kangen banget Sey kau wangi sekali kakak lagi pengen banget," dihirupnya ceruk leher Lindsey oleh Domanick.


"Kakak sudah janji engga bakal per ko sa aku,"


"Iya kakak janji, kalau kau tidak mau memberikan itu sekarang maka kakak engga akan maksa,"


"Ya sudah sekarang aku ngantuk mau tidur,"


"Nanti dulu sayang, kakak masih kangen pengen menghirup aroma tubuhmu lebih lama jangan tidur dulu ya,"


"Kak,"


"Hmm," pandangan keduanya kembali beradu, tatapan sendu Domanick selalu saja membuat Lindsey merasakan debaran dihatinya.


"Sey kiss yah?"


"Engga, kiss saja sana sama Raline,"


"Gitu ya, nyindir-nyindir terus kakak gigit nih,"


"Kak aku serius aku belum siap kembali menjalin hubungan, jadi lebih baik kita masing-masing saja dulu!"


"Oke kakak akan sabar sampai waktunya kau kembali siap menjadi isteri Kakak,"


Domanick benar-benar tidak melepaskan tubuh Lindsey sama sekali, sejak tadi kedua tangannya masih terus melingkar diperut Lindsey sementara bibirnya terus menggesek-gesek kulit leher Lindsey.


"Kak geli, udah aku mau tidur dulu,"


"Kiss dulu ya kakak besok bakalan kangen banget karena besok pagi kakak akan pergi mengurus group Limson,"


"Hah? Masih aja terlibat hal yang membahayakan,"


"Kenapa kau khawatir?"


"Tidak terserah saja! Sudah aku mau tidur,"


Namun Domanick malah semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Lindsey, nafas keduanya mulai saling memburu, bibir Domanick mulai mendekat dan menempel dipipi Lindsey.


Dan sialnya tubuh Lindsey tidak pernah bisa diajak kerjasama dengan akal sehatnya, selalu saja lemah dan merespon sebaliknya setiap kali Domanick memberikan sentuhannya.


Seolah menikmati saat kedua tangan Domanick memberikan sentuhan-sentuhan lembut disekitar pinggang dan punggung belakang Lindsey hingga tubuh gadis itu menggeliat.


"Ssttt,"


"Kak," Lindsey menggit bibir bawahnya sendiri saat bibir Domanick bergerak perlahan dari pipinya menuju bibir lembab Lindsey.


"Kiss ya sayang biar besok kakak semangat dan pulang dengan selamat,"


Hidung keduanya saling mendekat hingga nafas pun saling bertukar, kedua tangan Lindsey meremat pundak Domanick.


"Besok kakak akan menyerang group mafia yang cukup kuat, kau yakin tidak mau memberikan vitamin untuk kakak?"


"Yakin!"


"Biar aja,"


"Bikin kakak makin gregetan Sey,"


"Berjanjilah kakak engga akan terluka besok?"


"Oke janji tapi ada imbalan engga kalau kakak engga terluka besok?"


"Imbalan? Apa?"


"Masukin ya besok?"


"Kakak," kedua bola mata Lindsey memutar karena lagi-lagi Domanick membujuknya untuk melakukan itu.


"Ya sudah besok lebih baik kakak tidak melakukan perlawanan biar saja musuh mengalahkan kakak dan kakak terluka, toh kau juga tidak peduli kan?"


"Engga gitu! Kak, kasihan momy dan Dady Lan sebaiknya Kakak tidak perlu terlibat dalam bisnis hitam dan fokus saja dengan perusahaan!"


"Sudahlah kau memang tidak peduli padaku!" Domanick melepaskan pelukannya dari Lindsey kemudian langsung menarik selimut dan tidur membelakangi Lindsey.


Keduanya tidur saling membelakangi dan tidak lagi saling bicara padahal keduanya sama-sama belum bisa tertidur lelap.


Hingga malam harinya Domanick dan Lindsey tidur dalam satu ranjang tapi tidak melakukan hal apapun.


Pagi hari saat Lindsey terbangun, sudah ada Naura yang tengah duduk didekatnya sambil memandangi wajah Lindsey.


"Naura, kau sudah bangun?"


"Cudah onty udah ciang,"


Lindsey pun mengucek kedua matanya lalu melihat sekeliling kamar dan tidak dia temukan keberadaan Domanick.


"Kemana Dady mu Naura?"


"Pelgi dengan Paman GilBelt,"


"Kok aunty engga dibangunin? Sudah lama Dady perginya?"


"Cudah, onty kata Dady Nola salapannya ditemenin onty! Ayo onty Nola lapal,"


Tak disangka oleh Lindsey ternyata Domanick benar-benar pergi untuk bertarung dengan group mafia lain. Jelas Lindsey tidak suka bila Domanick selalu saja terlibat dengan hal yang membahayakan nyawanya.


"Naura tunggu sebentar ya, aunty mau telpon grandma dulu!"


"Iya onty,"


Lindsey pun meraih handphone yang tergeletak dimeja samping ranjang, ditekannya nomor telepon Laluna.


"Halo mom,"


"Sey kapan kau pulang ke rumah Dady Lan? Kita harus pamitan pulang sekarang!"


Lindsey pun teringat permintaan atau keinginan Domanick semalam, entah kenapa permintaan itu sungguh berputar-putar dipikirannya.


"Momy dan Dady pulang duluan saja! Besok Lindsey baru akan pulang!"


"Loh kenapa?"


"Anu mom, emm Naura masih menangis ingin aku temani sampai besok katanya!" Lindsey terpaksa berbohong, entah kenapa bisa-bisanya Lindsey membohongi Ibunya sendiri dan mengatasnamakan Naura demi memuluskan kebohongannya.


"Ya sudah kalau begitu, momy dan Dady mau pulang ke rumah pagi ini ya!"


"Oke hati-hati dijalan mom!"


Panggilan telepon pun terputus dan Lindsey menghembuskan nafas panjangnya.


"Onty belbohong pada glandma?"


"Hah? Kau menguping Naura?"


Naura pun mengangguk karena memang sejak tadi gadis itu mendengarkan obrolan Lindsey dengan Laluna.


"Naura kok Naura tau aunty berbohong?"


"Kalena tadi onty bilang Nola masih menangis padahal Nola sudah tidak menangis?"


"Emm itu aunty tidak bermaksud bohong sayang, tapi aunty mencoba untuk menyenangkan hati Dady mu Naura senang kan kalau Dady senang?"


Gadis kecil itu pun mengangguk kemudian tersenyum.


♥️♥️♥️


Lindsey bisa ngibul juga ternyata 🤣