Cassanova Penikmat Sepupu

Cassanova Penikmat Sepupu
Bab 111


Satu bulan berlalu Lindsey dan Domanick semakin mesra setiap harinya, membuat Gilbert sangat ingin segera memiliki istri agar bisa mengikuti jejak atasannya itu! Tapi wanita mana yang akan dia jadikan istri, kekasih saja tidak punya kalau wanita bayaran mungkin stoknya menumpuk, tapi seburuk-buruknya perilaku laki-laki dia pasti menginginkan wanita baik-baik untuk dijadikan istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak.


Pagi ini Domanick dan Gilbert sedang berada di markas group Limson untuk melihat latihan para anggota di ring tinju, nanti juga akan ada latihan membidik agar mereka semakin ahli dalam menembak.


"Bert, kau tidak mau menikah?" tanya Domanick disela-sela pertunjukan anggota yang sedang bertarung di ring tinju.


"Tentu saja mau, tapi dengan siapa aku harus menikah Tuan?"


"Usiamu hanya berbeda 1 tahun denganku, aku 28 tahun dan kau 27 tahun seharusnya kau sudah menikah, kelompok yang dibentuk Jazz sudah tidak menyerang lagi jadi kau tidak perlu siaga disini, berkencan lah dengan wanita baik-baik,"


Jika otaknya sedang lurus, Domanick memang sering memberikan masukan yang baik untuk Gilbert, tapi jika otaknya sedang oleng tentu saja bisikan-bisikan jahat yang akan didengar oleh Gilbert dari Domanick.


"Baik Tuan, aku akan mencari! Kau sendiri bagaimana Tuan setiap hari Tuan Lan dan Nyonya Risha terus menghubungi aku dan menanyakan apakah nona sudah mengandung atau belum,"


"Aku dan Lindsey sudah berusaha setiap saat melakukannya, hanya saja memang belum ada tanda-tanda, mau bagaimana lagi aku juga ingin segera memiliki anak dari Lindsey kau tau sendiri kan kesehatan Dady ku sudah mengkhawatirkan!"


"Benar Tuan, seharusnya kau juga tidak perlu stay di sini lebih baik kau pulang sekarang dan mulai mencetak anak!"


"Kau benar Bert! Kita pulang saja sekarang," Domanick tersenyum licik.


"Mari Tuan!"


Keduanya pulang ke rumah lebih cepat hari ini, setibanya di rumah! Domanick langsung mencari keberadaan Lindsey, dan hanya ada Emilia yang sedang membuat kue puding di dapur.


"Mil, kau lihat Lindsey?" tanya Domanick.


"Nona Lindsey sedang mengantar nona kecil untuk les piano Tuan!"


"Kenapa Naura tidak les piano diantar oleh mu?"


"Karena nona Naura hanya ingin pergi dengan Tuan Gilbert atau tidak dengan Nyonya Lindsey, Tuan tadi nona kecil menangis ketika saya yang mau antar,"


"Hadeuh Nola, katanya mau teman main buru-buru tapi malah mesin pencetakannya dia bawa ke tempat les piano,"


Perkataan Domanick itu sukses membuat gelak tawa para pelayannya yang kebetulan sedang berada di dapur, bahkan Emilia pun sampai tidak bisa menahan tawanya.


Tapi begitu Gilbert melirik kearahnya, Emilia akan kembali bungkam dan mencoba untuk menjaga sikap dihadapan Gilbert.


Selama satu bulan terakhir Gilbert dan Emilia memang hanya saling bertegur sapa seperlunya dan saling melirik malu tanpa berani saling mendekat.


"Baiklah, kalian teruskan bekerjanya aku akan menunggu mesin cetak ku di ruangan kerja, ketika istriku kembali suruh dia menghadap ku!"


"Baik Tuan," serempak.


Domanick pergi ke ruangan kerjanya, sementara Gilbert pergi entah kemana. Membuat Emilia penasaran apakah Gilbert akan pergi keluar secara nanti malam kan malam Minggu, Emilia berpikiran mungkin Gilbert dari sore ini akan meninggalkan rumah untuk menghabiskan malam Minggu dengan kekasihnya.


Setelah selesai membuat puding untuk Naura dan memasukkannya kedalam lemari es, Emilia pergi ke kamarnya yang terletak didekat halaman belakang rumah mewah tersebut.


Karena Naura belum pulang juga, Emilia memutuskan untuk bersantai sejenak didalam kamarnya. Rupanya Lindsey mengirimkan pesan pada Emilia, memberikan kabar bahwa Lindsey dan Naura akan pulang malam sebab dari tempat les piano Lindsey dan Naura akan mengunjungi kediaman orangtua Domanick.


"Yah mereka pulang malam lagi, bosan sekali!"


Tok.


Tok.


Terdengar pintu kamarnya diketuk, biasanya itu pelayan yang memberinya makanan ataupun mengajak Emilia curhat di dapur! Tanpa pikir panjang, Emilia pun membukakan pintu kamarnya.


Klek..


Dibalik pintu ternyata bukan teman sesama pelayan yang sedang berdiri tegak melainkan Gilbert.


Glek..


Gilbert langsung terpaku saat memandangi tubuh Emilia yang sedikit masih basah. Bahkan air dari rambutnya menetes kebagian pundak yang terlihat putih mulus dihadapan Gilbert.


"Tuan, kau!"


"Aku hanya mau memberikan ini," Gilbert menyodorkan satu buah paperbag pada Emilia.


"Apa ini Tuan?"


"Berkencan lah denganku besok malam!"


"Berkencan? Kau serius Tuan?"


"Panggil aku Gilbert saja! Aku harap kau mau, dan kita akan pergi setelah Naura tertidur jadi tidak ada alasan kau menolak,"


"Baiklah Tuan, maksud ku Gilbert sampai jumpa besok malam,"


Keduanya tersenyum malu-malu, lalu Emilia pun menutup pintu kamarnya! Didalam kamarnya Emilia berjingkrak-jingkrak karena Gilbert akhirnya berani mendekatinya.


Apa yang dilakukan oleh Emilia juga dilakukan oleh Gilbert, dia terlihat gembira karena tawaran kencannya tidak ditolak oleh Emilia.


Malam hari pukul 21.00 malam Lindsey dan Naura baru tiba di rumah, melihat mobil yang ditumpangi Lindsey tiba, Gilbert segera menghampiri Lindsey untuk melihat Naura, benar saja anak kecil itu sudah tertidur sehingga Lindsey harus menggendongnya.


"Biar aku saja nona!"


"Terimakasih Bert," Lindsey menyerahkan Naura pada Gilbert untuk dia gendong.


"Nona, sebaiknya anda segera ke ruangan kerja Tuan Nick beliau sudah marah-marah sejak tadi!"


"Marah-marah? Memang kenapa dia harus marah-marah?"


"Karena mesin pencetaknya tak kunjung pulang,. sementara Tuan ingin mencetak sejak tadi sore,"


"Mesin cetak? Cetak apa Bert?"


"Silahkan ke ruangan kerja Tuan Nick nona agar anda paham!"


Lindsey sangat penasaran dibuatnya hingga dia buru-buru menuju ruangan kerja Domanick untuk mengetahui sebab suaminya itu marah-marah.