
Klek..
Pintu ruangan kerja Domanick dibuka oleh Lindsey, laki-laki tampan itu tengah duduk dikursi kebesarannya sambil menatap sinis kedatangan Lindsey.
"Mesin cetak apa? Dan katakan kenapa kau harus marah-marah?"
"Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa?"
"Jam 21.00 malam,"
"Kau membuatku menunggu untuk kita mencetak anak sebanyak-banyaknya sayang! Aku marah dan kesal,"
"Oh jadi karena kau menunggu sejak tadi, dan aku tak kunjung pulang makanya kau marah karena tidak sabaran ya?"
Lindsey berjalan perlahan menuju kursi Domanick, setiap satu langkah kakinya, Lindsey akan melepaskan pakaiannya satu persatu.
"Wow, ini baru istriku!" Domanick tersenyum mengembang melihat istrinya berjalan sambil terus membuka pakaiannya satu persatu.
Hingga bagian akhir penutup semangka import itu pun dilepaskan oleh Lindsey dan isi didalamnya tergantung sempurna! Dan satu langkah lagi membuat Lindsey melepaskan kain penutup akhir bagian intinya.
"Kau luar biasa sayang!"
Domanick hendak berdiri namun didorongnya kembali oleh Lindsey sehingga tubuh Domanick kembali duduk diatas kursi. Lindsey berdiri dihadapan Domanick hal itu membuat posisi semangkanya sejajar dengan wajah Domanick.
Sambil menempel-nempelkan kedua semangka import miliknya kewajah Domanick, kedua tangan Lindsey dengan lihai membuka satu persatu kain kemeja yang dikenakan oleh Domanick.
Dilahapnya satu persatu semangka import milik Lindsey itu oleh Domanick, sementara kini tubuh bagian atas Domanick telah polos karena Lindsey berhasil menanggalkan kemeja yang dikenakan oleh Domanick hingga jatuh kelantai begitu saja.
Sambil menikmati semangka importnya yang terus di hi sap oleh Domanick, kedua tangan Lindsey meraih resleting celana yang dikenakan Domanick hingga resleting itu pun terbuka! Dilepaskannya semangka import milik Lindsey terlebih dahulu, karena Domanick sudah tidak sabar ingin melepaskan celananya.
Diturunkannya semua celana yang dikenakan oleh Domanick hingga celaan serta kain penutup akhir dari lobak import itu jatuh kelantai. Tanpa basa-basi, Lindsey duduk diatas kedua paha Domanick.
"Kau masih marah?"
"Tentu saja tidak sayang, mana bisa aku marah lama-lama jika kau membuatku gemas seperti ini,"
Lindsey tersenyum manis lalu di lu matnya bibir Domanick oleh Lindsey sementara kedua tangannya melingkar dileher Domanick, bagian inti Lindsey dia gesekan kelobak import Domanick yang sejak tadi sudah mengeras dan memanjang sempurna.
"Ah sit," Domanick melepaskan ciumannya karena bagian bawahnya sudah tidak bisa tahan lagi.
Lindsey pun mengangkat sedikit kedua pahanya hingga posisinya berjongkok dan Domanick bisa dengan mudahnya menancapkan lobak importnya kedalam bagian inti milik Lindsey.
"Ahhh, emthhh,"
Lobak import itu tertanam sempurna didalam sana, dan Lindsey lah yang memimpin permainan! Posisinya masih duduk diatas kedua paha Domanick dengan lobak yang tertancap dibagian intinya.
Bergerak sangat lincah naik turun gerakan pinggul Lindsey membuat Domanick terus menerus meracau karena Lindsey sangat lihai sekarang ini.
Kursi kerja itu mendadak ikut bergerak-gerak dan bergoyang seiring dengan gerakan naik turun yang dilakukan oleh Lindsey! Tak puas sampai disitu, Domanick mengangkat tubuh Lindsey menggendongnya sambil lobak import miliknya tetap tertancap sempurna didalam bagian inti miliknya.
Pinggul Domanick maju mundur sambil terus menggendong tubuh Lindsey, keduanya melakukan penyatuan sambil berdiri!
"Ah kakak, sssthh emtthh,"
Keduanya bahkan sampai ketiduran di sofa ruangan kerja Domanick hingga keesokan harinya! Sampai Naura berangkat ke sekolah pun, Domanick dan Lindsey masih tertidur pulas.
Naura berangkat ke sekolah diantar oleh supir dan juga Emilia, sementara Gilbert pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor karena sudah pasti Domanick akan berangkat ke kantor siang hari jika sudah dibuat lemas oleh Lindsey.
Gilbert harus mewakili Domanick dalam berbagai meeting saat Tuannya itu belum tiba di kantor!
Sudah agak siang, Lindsey yang baru saja membuka kedua matanya melihat wajah tampan Domanick yang masih terkulai lemas memeluk tubuhnya.
"Hei sayang, bangun kau tidak ngantor?" Lindsey mengelus-elus pipi Domanick.
"Emm," laki-laki itu hanya mengulet sebentar kemudian tertidur lagi.
"Kau tampan sekali kak," dike cup-nya bibir Domanick oleh Lindsey.
Setelah beberapa kali Lindsey mencoba membangunkan, Domanick pun bangun juga dan dia kaget karena ternyata jam sudah menunjukkan dirinya sudah kesiangan. Domanick buru-buru ke kantor sementara Lindsey hari ini dia ada kelas yoga bersama teman-temannya.
Malam harinya, Emilia sudah meminta izin pada Lindsey bahwa dia akan keluar dengan Gilbert, lagipula Naura sudah tidur di kamarnya! Dan Lindsey pun ikut senang jika Emilia pergi kencan dengan Gilbert, tentu saja Lindsey mengizinkan bahkan akan membantu Emilia untuk merias wajahnya.
Setelah membuka paperbag yang didalamnya berisi gaun dan sepatu cantik pemberian Gilbert, Emilia datang ke kamar Lindsey untuk dirias wajahnya agar lebih cantik dan fresh malam ini.
"Bagaimana kau suka dengan make up diwajah mu?"
"Aku sangat menyukainya Sey, ini membuat wajahku kelihatan lebih muda!"
"Iya kan, wajahmu kan sudah cantik jadi tidak perlu polesan yang tebal! Sekarang berangkat lah sana, semoga kencan kalian sukses ya!"
"Terimakasih kau memang atasanku yang paling pengertian," ujar Emilia.
Emilia keluar dari dalam kamar Lindsey lalu turun ke lantai satu rumah! Di sana Gilbert sudah menunggu Emilia dibawah tangga, melihat Emilia yang memakai gaun secantik itu dan wajahnya memakai riasan yang pas membuat Gilbert tak bisa berhenti untuk menatap wajah cantik Emilia.
"Kau cantik sekali Mil,"
"Terimakasih Bert, Lindsey yang merias wajahku!"
"Wajahmu tanpa dirias pun sudah cantik kok!"
"Sudahlah jangan lihat wajahku terus, aku malu tau,"
"Iya, iya, ya sudah ayo kita pergi!" Gilbert menggandeng tangan Emilia.
Keduanya pergi untuk makan malam, dan disana Gilbert memutuskan untuk mengatakan maksud dirinya mengajak Emilia berkencan.
"Mil, kau pasti tau aku selalu diam-diam melirik kearah mu, atau aku selalu melempar senyuman padamu!"
"Iya, aku tau dan itu membuat ku salah tingkah setiap kali bertemu denganmu!"
"Maaf ya kalau kau tidak nyaman, tapi begitulah caraku menyampaikan perasaan yang aku rasakan! Meskipun dulu awak pertemuan kita tidak mengenakan, tapi jujur aku menyukaimu Mil,"
"Apa kau yakin kau menyukai ku?"
"Iya sangat yakin, aku ingin menikahi mu Mil, mau kah?" Gilbert mengambil kotak dari saku jas yang dia kenakan, kotak berisi cincin itu Gilbert sodorkan kearah Emilia.