
Bukan Lindsey tidak mau menuruti permintaan Larisha, tapi seperti diawal Lindsey katakan pada Domanick bahwa dia tidak mau sampai salah mengambil keputusan karena terburu-buru, jujur saja kalau untuk kembali menikah dengan Domanick, Lindsey belum terlalu siap dan masih sedikit ragu.
"Mom, bukan Lindsey tidak mau tapi bisakah memberikan waktu untuk Lindsey berpikir secara matang?"
"Baiklah Sey momy akan memberikan waktu sesuai yang kau butuhkan! Tapi Sey harus ingat ya, kalau kami semua menantikan jawaban dari Sey,"
"Iya aku mengerti mom,,"
Sejak tadi Domanick sibuk mengobrol dengan para tamu yang turut hadir memberikan ucapan duka pada Domanick, baru sekarang dia lengang dan Domanick segera mencari keberadaan Lindsey.
Tiba didepan pintu kamarnya yang terbuka, Domanick melihat Larisha tengah memeluk Lindsey yang sedang duduk dibibir ranjang, entah apa yang sedang keduanya bicarakan Domanick tidak dapat mendengarnya!
Tok.
Tok.
"Ladies boleh aku masuk?"
Larisha melepaskan pelukannya dari Lindsey.
"Momy tinggal ya Sey!"
"Iya mom,"
Melihat Domanick sudah datang Larisha memilih meninggalkan kamar agar Domanick dan Lindsey memiliki waktu untuk bersama.
"Bagaimana apa area inti mu masih sakit?" duduk dibibir ranjang.
"Sudah tidak,"
"Kita makan malam diluar yuk!"
"Kak aku harus pulang! Perusahaan membutuhkan aku, maaf aku tidak bisa lama-lama menemani mu,"
"Pulang? Sekarang juga?"
"Iya aku akan minta Gilbert untuk antar aku,"
"Kenapa harus meminta Gilbert antarkan memang dia siapa mu?"
"Lalu aku pulang bagaimana kak?"
"Aku yang akan mengantar mu sayang! Kan ada momy Risha dan Dady Lan yang menginap disini jadi Naura aman,"
"Kakak kan sedang dalam keadaan berkabung,masa pergi-pergi!"
"Apa boleh Kakak jujur ya meskipun ini terkesan jahat,"
"Apa?"
"Kakak tidak sedang berkabung tapi kakak happy Raline pergi,"
"Hustt kau jahat sekali kak,"
Ckckck...
"Kau seksi sekali kalau tidak pakai b r a begini,"
"Ah? Apa terlihat jelas?"
Lindsey memang tidak memakainya karena benda keramat itu masih terapung di kolam renang.
"Hmm pucuknya lucu terlihat menjendol," goda Domanick.
Kesal terus dilihat bagian semangka import miliknya dan Domanick lagi-lagi dalam suasana apapun tetap saja otak me sumnya bekerja dengan baik, Lindsey mencubit otot perut Domanick.
"Ah kalau dicubit kakak makin pengen Sey,"
"Tidak untuk sekarang kak, ayo cepat antar aku pulang!"
"Hmm baiklah tapi gigit dulu sekali ya!" tanpa basa-basi Domanick menggigit tipis pucuk yang berkedok dari balik kaos berwarna putih itu.
"Sstthhh emtth,"
"Oke kita pulang sekarang!" hanya meminta jatah sedikit saja, Domanick melepaskan pucuk semangka import milik Lindsey.
Padahal hanya pucuknya saja yang dilahap sedikit tapi sudah berhasil membuat bagian bawah Lindsey sangat lembab oleh ulah Domanick. Keduanya pergi meninggalkan kamar dan tanpa ragu Domanick merangkul pundak Lindsey melewati sepanjang ruangan rumah mewah itu.
Tanpa disadari oleh keduanya ada salah satu informan David yang bekerja pada Domanick sebagai security depan rumah!
Setelah membukakan gerbang untuk akses mobil Domanick keluar meninggalkan rumah! Security tersebut menelpon David.
"Halo Tuan,"
"Bagaimana apa Lindsey masih belum.pupang dari rumah Nick?"
"Oke terimakasih informasinya!" David menutup teleponnya.
Lagi-lagi Lindsey kembali dekat dengan Domanick, kenapa dirinya selalu saja kalah dari Domanick dari dulu hingga sekarang! Para wanita tak pernah meliriknya ketika Domanick ada, dan sekarang wanita yang sangat diinginkan oleh David tapi malah Domanick juga mengambilnya.
"Kenapa kau memilih bersama dengan laki-laki bajingan itu Sey? Jelas-jelas dia sudah memiliki anak dari wanita lain, kau rela hidup dengan laki-laki macam dia? Aku jauh lebih baik untuk mu Sey, lihat aku sekali saja Sey!"
David merasa sangat putus asa kali ini, tidak tau apa yang harus dilakukan untuk kembali mendekati Lindsey bila kini Lindsey lebih dekat dengan Domanick.
Padahal selama ini David sudah berkorban untuk bolak balik hampir setiap hari untuk mendatangi Lindsey, orangtua keduanya pun sebenarnya sudah menjodohkan tapi Domanick seolah tembok besar yang menghalanginya untuk bersatu dengan Lindsey.
"Besok aku akan datang untuk menghasut pikiran Lindsey, Domanick tidak pantas untuk Lindsey!" gumam David.
Sepanjang perjalanan menuju kota tempat tinggal Lindsey, Domanick hanya diam seperti banyak sekali pikiran dikepalanya.
"Kakak sakit?"
"Hmm,"
"Sakit apa? Kalau begitu aku turun disini saja kak, aku bisa naik taxi!"
"Sey memangnya kakak orang gila yang menurunkan wanita yang kakak cintai dijalanan begini,"
"Lalu kakak sakit apa?"
"Pikiran,"
"Pikiran?"
"Kakak ingin kembali menikahi mu Sey, kakak sangat mencintai mu! Tapi kakak yakin kau pasti akan menolak, semua gara-gara Raline dan Naura! Entahlah tapi kakak ingin sekali menitipkan Naura pada momy dan Dady agar kita bisa bersama!"
"Stop!"
"Kenapa?"
"Aku bilang stop!" Lindsey terlihat marah.
Domanick pun menepikan mobilnya dan tidak mengerti kenapa Lindsey marah.
"Ada apa Sey?"
"Kakak sadar baru saja yang kakak katakan? Naura itu tanggung jawab kakak, mana bisa kakak melepas tanggung jawab begitu saja! Dulu juga ketika kakak sudah mengetahui bahwa Raline mengandung anak kakak, Kakak tetap lari kan dari tanggungjawab? Apa itu juga berlaku padaku?"
Lindsey tidak habis pikir setelah lari dari tanggungjawab tidak memberikan peran sebagai ayah sejak Naura dalam kandungan hingga anak itu usia 3 tahun sekarang, dan setelah ibunya meninggal dunia Domanick masih sempat-sempatnya berpikiran akan menitipkan Naura pada kakek neneknya agar Domanick bisa hidup bebas dan memulai dari awal dengan Lindsey.
Menurut Lindsey jelas itu pemikiran yang keliru dan jahat bagi Naura yang tidak tau apa-apa.
"Please sayang jangan marah! Kakak hanya ingin hidup bahagia bersama mu Sey, menikah lah dengan kakak," Domanick memohon.
"Aku perlu waktu untuk memikirkan ini matang-matang, dan aku juga perlu membicarakan ini dengan orangtuaku kak!"
"Lalu hubungan kita ini apa Sey? Masa gantung? Kering nanti!"
"Apa ya?" Lindsey pun bingung sendiri.
"Pokoknya kau milik kakak sekarang dan tidak ada yang boleh mendekati mu, kau paham?"
"Bagaimana kalau kita pacaran dulu? Ya itu itung-itung mengenal satu sama lain sekalian aku memastikan kalau tidak ada lagi Raline-Raline berikutnya?"
"Hah pacaran?"
Seumur-umur Domanick tidak pernah mengucapkan kata itu? Benar-benar kata asing, seorang Cassanova yang bebas tebar benih ke sana kemari tanpa embel-embel kaya pacaran, kini Lindsey mengajaknya berpacaran! Bukankah ini sesuatu yang konyol?
"Bukankah pacaran itu seperti di drama-drama romantis? Atau itu untuk istilah anak sekolah?"
"Kenapa kakak tidak mau?"
"Mau lalu apa orang berpacaran bisa bebas menyentuh tubuh pacarnya?"
"Tentu saja, bahkan di drama romantis ketika keduanya memutuskan berpacaran mereka akan beradegan ciuman mesra,"
"Seperti ini?" Domanick meraih pinggul Lindsey dan juga ceruk leher gadis itu secara tiba-tiba.
Cup...
Bibir keduanya menempel Domanick menye sap bibir Lindsey.
♥️♥️♥️
Iya seperti itu bang Nick kalau habis memutuskan pacaran ya begitu 😃