Cassanova Penikmat Sepupu

Cassanova Penikmat Sepupu
Bab 40


Domanick ditelepon oleh Gilbert untuk datang ke rumah utama keluarga Limson.


"Apa katamu? Tapi kenapa ke rumah Dady Lan, Dady dan momy ku saja masih di Jerman untuk apa aku ke rumah utama?"


"Tuan tolong jangan banyak bertanya segera lah kemari karena keadaannya tidak sesederhana yang kau pikirkan!" Gilbert langsung menutup teleponnya.


Meskipun keheranan tapi rasa penasaran Domanick membuatnya segera meraih jas yang tergantung disamping kursi kerjanya, lalu keluar ruangan kerjanya dan langsung berjalan dengan buru-buru tanpa peduli saat itu Lindsey lewat didepan kedua matanya.


"Buru-buru sekali, mau kemana dia?" Gumam Lindsey.


Diloby utama Domanick lantas menghampiri supir kantor untuk mengantarnya ke rumah utama keluarga Limson, beruntung lah karena jalanan sama sekali tidak macet!


Setelah menempuh perjalanan kurang dari 40 menit, Domanick tiba di rumah utama keluarga Limson, kedatangan Domanick langsung disambut security yang berjaga dan para pelayan yang hanya menatapnya penuh tanya.


Langkah kakinya berjalan menyusuri setiap ruangan didalam rumah mewah tersebut hingga langkah kakinya terhenti di sebuah ruang keluarga, melihat orangtuanya dengan wajah penuh kekecewaan, disamping kirinya terdapat Gilbert, satu pria yang tak dikenal, dan betapa tercengangnya saat Domanick melihat Raline yang juga duduk disofa sambil memangku seorang balita cantik.


"Apa kabar Nick?" sapa Raline dengan wajah datar.


"Apa yang kau lakukan di rumah orangtuaku Raline?" pekik Domanick.


Tubuhnya bergetar hebat menyaksikan sosok yang dia hindari justru hadir kembali malah datang ke rumah orangtuanya.


"Momy dan Dady kembali dari Jerman kenapa tidak memberitahu ku?"


Tuan Lan bangkit lalu berdiri dihadapan Domanick dengan wajah yang tidak bisa diartikan apa yang sedang pria tua itu rasakan.


"Kau kenal wanita yang sedang duduk disamping asisten pribadi mu itu?"


Hanya bisa tertunduk lesu dihadapan Tuan Lan tanpa bisa menjawab apapun.


"Kau bisu? Atau mulutmu itu hanya bisa berbicara saat disumpal semangka besar?" bentak Tuan Lan dengan wajah penuh kemarahan.


"Aku mengenalnya dad," dengan suara pelan.


"Lalu anak yang sedang berada dalam pangkuan wanita itu? Dia anak mu atau bukan?"


Tak lantas menjawab, Domanick melirik kearah balita kecil yang tengah memandangnya penuh arti! Untuk pertama kalinya seorang anak bertemu dengan ayah biologisnya.


Wajah Naura bahkan lebih mirip Domanick dibandingkan dengan Raline, hanya bibirnya saja yang ikut ibunya sementara kedua mata, hidung dan bulu mata mirip dengan Domanick.


"Dad ini urusanku biarkan aku yang urus ini sendiri!"


"Laki-laki baji ngan!"


Bum..


Berkali-kali Tuan Lan meninju wajah Domanick, tapi Domanick hanya diam dan tidak menahan dia mengerti betul betapa kecewanya Tuan Lan padanya saat ini.


Sementara Larisha hanya menangis melihat pertengkaran anak dan ayahnya hingga Domanick harus dipukuli berkali-kali seperti ini.


"Aku tidak pernah melarang kau bermain-main dengan wanita, kau menyemprot benih dimana-mana! Tapi apa kau sudah kehilangan akal sehat mu Domanick? Kau menelantarkan anak kandung mu sendiri," sambil terus memukul bahkan menendang Domanick hingga Domanick jatuh tersungkur.


Gilbert sendiri tidak bisa berbuat apa-apa melihat suasana kacau di kediaman mewah ini. Domanick hanya diam dan menerima apapun yang dilakukan Tuan Lan terhadapnya. Bila begini terus Domanick bisa-bisa mati dihajar oleh Tuan Lan, akhirnya Gilbert memiliki inisiatif untuk menelpon Lindsey agar bisa menghentikan emosi Tuan Lan dan berhenti memukuli Domanick.


"Dad duduklah kita bicara dengan kepala dingin," Larisha meraih tangan Tuan Lan agar dia berhenti memukuli Domanick yang sudah tidak berdaya.


Setelah Tuan Lan bisa sedikit mereda dan duduk disofa, Raline berusaha membantu Domanick untuk bangun tapi uluran tangan Raline ditepisnya oleh Domanick.


"Enyah dari ku!" Domanick bangun sendiri lalu duduk disofa.


Mereka akhirnya duduk dalam satu ruangan.


"Jelaskan jangan diam saja!" pekik Tuan Lan.


"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya dad, aku tidak pernah mau bermain dengan wanita atau menganggap serius suatu hubungan, tapi wanita ini menjebak ku dia tidak meminum pengaman yang aku berikan, aku sudah bilang kalau itu hanyalah suka sama suka tidak lebih!"


"Lalu kau mengabaikan darah daging mu sendiri begitu?" kedua sorot mata Tuan Lan menyoroti tajam wajah babak belur Domanick.


"Aku akan bertanggungjawab pada biaya hidup anak itu!"


"Hei bodoh! Anak itu tidak butuh uang tapi dia butuh ayahnya, Dady ini laki-laki bejad dady akui itu tapi satu hal Nick Dady tidak pernah menelantarkan anak kandung Dady sendiri camkan itu!"


"Nick kasihan anakmu dia juga cucu kami!"


"Lantas aku harus bagaimana mom? Aku tidak mencintainya!"


"Lalu apa kau mencintai Lindsey?" tanya Larisha.


"Sedang berusaha!"


"Aku hanya ingin anak ini memiliki identitas negara secara jelas Nick, siapa ayahnya dia belum memiliki akta kelahiran dia juga belum tercatat dalam kartu keluarga siapapun! Naura sebentar lagi akan sekolah!" Raline berusaha secara lemah lembut menjelaskan.


"Satu hal Raline aku tidak akan pernah menikahi mu! Kau kan punya keluarga masukan saja anak itu kedalam kartu keluarga orangtuamu!"


Mendengar Domanick yang tanpa rasa penyesalan sama sekali membuat emosi Tuan Lan kian memuncak, Tuan Lan kembali bangkit lalu memukuli Domanick lagi.


"Kau menghamili wanita ini tapi kau meminta dinikahkan dengan Lindsey, laki-laki brengsek kau Nick!" Tuan Lan kembali meninju wajah Domanick.


Sementara Lindsey yang sudah menerima telepon dari Gilbert sejak tadi, baru saja tiba di kediaman Tuan Lan dan mendengar suara teriakan Tuan Lan yang kencang sekali.


Lindsey berlari dan mendapati Domanick sedang ditendang-tendang oleh Tuan Lan, bibir Domanick bahkan sudah berdarah.


"Dady Lan cukup!" Lindsey melindungi tubuh Domanick yang meringkuk dilantai.


"Apapun kesalahan kak Nick tolong jangan pukuli dia seperti ini Dad, Lindsey mohon!"


"Untuk apa kau membela laki-laki brengsek seperti laki-laki ini Lindsey? Kau tau dia menghamili wanita lain? Lihat itu, anak hasil hubungan suami mu dengan wanita itu!"


Rasanya seperti tersambar petir mendengar perkataan dari mertuanya mengenai kesalahan suaminya yang ternyata sangat fatal dan tidak mungkin bisa Lindsey terima.


Bisa Domanick lihat saat ini Lindsey terlihat sangat kecewa! Bahkan tidak pernah Domanick lihat tangan dan bibir Lindsey bergetar menahan amarah dan kesedihan akibat tertampar oleh kenyataan pahit ini.


Larisha menghampiri Lindsey meraih kedua tangannya.


"Sayang kau harus hubungi orangtuamu untuk pulang kesini secepatnya! Maafkan anak momy ya nak," Larisha memeluk Lindsey yang sejak tadi kedua matanya bahkan tidak berkedip karena terlalu shock mendengar kenyataan ini.