Cassanova Penikmat Sepupu

Cassanova Penikmat Sepupu
Bab 104


Domanick terkulai lemas dipagi hari akibat perbuatan Lindsey sejak semalam.


Pagi-pagi sekali Lindsey sudah bersemangat dan membangunkan Domanick, karena agenda keduanya di pagi hari ini adalah sarapan lalu setelahnya ada hal yang akan keduanya lakukan yang membuat Lindsey sampai excited sekali!


Keduanya akan snorkeling di pantai dan berenang langsung dengan jarak yang sangat dekat dengan banyaknya ikan lumba-lumba! Sungguh hal yang sangat Lindsey dambakan sejak dulu.


"Kak cepat bangun!" Lindsey menggoyangkan tubuh Domanick karena suaminya itu tidak kunjung bangun.


Domanick yang masih sangat lemas dan kelelahan pun masih malas membuka kedua matanya!"


"Sey Kakak masih ingin tidur,"


"Tidak bisa, kita sudah kesiangan nih! Ayo dong Kak, katanya mau ajak aku snorkeling untuk melihat lumba-lumba dengan jarak dekat dan memegangnya!" Lindsey terlihat cukup kesal karena Domanick yang masih enggan untuk bangun.


"Kalau begitu, jangan menyentuhku lagi sampai pulang dari sini!"


Mendengar ancaman itu Domanick langsung beringsut dan kedua matanya segar kembali.


"Iya iya oke Kakak mandi sekarang,"


"Nah gitu dong!"


Lindsey tersenyum karena berhasil membuat Domanick akhirnya bangun juga. Keduanya sarapan bersama sambil menikmati suasana sekitar hotel!


Barulah setelah itu Domanick dan Lindsey pergi menuju kapal kecil yang akan membawa keduanya ketengah laut karena di sana adalah spot terbaik untuk snorkeling berenang bersama dengan lumba-lumba.


Sebenarnya lebih asik bila diving di pantai ini, tapi berhubung Lindsey tidak bisa jadi Domanick memilih untuk tidak melakukannya dan hanya akan snorkeling itupun memakai harus memakai pelampung demi safety saat keduanya berada di air.


Kapal kecil yang memuat keduanya pun tiba di tengah-tengah laut! Tidak perlu menunggu lama untuk melihat lumba-lumba berenang di sini karena mereka banyak sekali kita jumpai bila berkunjung ke Maldives!


"Wah kak lihat, itu lumba-lumbanya banyak sekali mereka saling meloncat seperti sedang lomba!"


"Iya karena kau tidak pandai berenang, itu berarti kau kalah dengan lumba-lumba!" Domanick mengambilkan pelampung untuk Lindsey lalu membantu Lindsey memakainya.


"Yey, setiap orang itu memiliki bakat dan kemampuannya masing-masing kak! Mungkin lumba-lumba ahli berenang dan melompat, tapi belum tentu lumba-lumba itu memiliki keahlian yang aku punya!"


"Memang apa keahlian mu itu sayang?"


"Ahli membuat mu lemas di ranjang!" Lindsey mencium pipi Domanick lalu tertawa setelah mengatakan hal itu.


Ckckckck...


"Kau nakal ya sekarang!"


"Biarin!" menjulurkan lidah.


Domanick pun selesai memakaikan pelampung pada Lindsey, sekarang tinggal memakai alat snorkelingnya saja.


"Dengar, ini lautan bukan kolam berenang jadi begitu kau melompat saat ombak menghantam tetap tenang dan rilex oke!"


"Oke, tapi pegang terus tangan ku!"


"Iya iya, Kakak akan pegang erat tangan mu, untuk bisa menyelam dan melihat biota dibawah laut pelampung mu akan kakak buka nanti, dan kau jangan panik karena kepanikan bisa membuat mu tenggelam nantinya!"


"Hmm, baiklah!"


"Kau siap melompat?"


Byurrr...


Keduanya melompat dari atas kapal dan mulai merasakan dinginnya air, saat keduanya baru saja melompat lumba-lumba ikut mendekat karena setiap ada kapal insting lumba-lumba itu berpikir bahwa wisatawan membawa makanan untuk mereka.


Hal itu membuat Lindsey dan Domanick dihampiri banyak sekali lumba-lumba, mereka berputar-putar dan itu membuat Lindsey merasa sangat senang memilih tempat bulan madu di sini.


Tak seperti Domanick dan Lindsey yang melewati pagi hari dengan suka cita! Di kediaman Domanick, Gilbert sedang memarahi Emilia karena dia bangun kesiangan.


"Ingat kau jangan pernah bangun kesiangan lagi!"


"Baik Tuan maaf,"


"Bagiamana bisa aku sudah menyewa jasa pengasuh, tapi tetap saja aku yang memandikan Naura memakaikan pakaian padanya! Lalu tugas mu apa disini?* Gilbert terus merutuki Emilia.


Dan sebagai orang yang bersalah karena kesiangan, Emilia pun hanya menundukkan wajahnya dan tidak berani menyelak perkataan Gilbert.


"Dady cepat kita berangkat, nanti Nola b8sa telat daftal sekolahnya!"


"Iya sayang, ayo kita berangkat!"


"Tuan, apa boleh aku mandi dulu?"


"Apa mandi? Kita ini sudah telat, dan kau masih mau mandi?"


"Tapi aku tidak pernah berpergian tanpa mandi terlebih dahulu!"


Terdengar suara petir dan cuaca pun mulai mendung di pagi hari ini.


"Kau mandi di jalan saja!" ujar Gilbert yang memiliki ide.


"Mandi dijalan?"


"Sudah ayo kita berangkat!"


Naura, Gilbert dan Emilia berangkat bersama menunju sekolah Naura. Benar saja dugaan Gilbert, hujan pun turun saat keduanya masih dalam perjalanan menuju sekolah.


"Tuan, kapan aku bisa mandi dulu?"


"Kau mau mandi?"


"Iya, kata Tuan nanti aku bisa mandi di jalan?"


"Nah, kalau begitu kau turunlah disini dan kau mandi!" Gilbert menepikan mobilnya.


"Memang disekitar sini ada toilet?"


"Siapa bilang kau akan mandi di toilet! Keluar dan mandi dengan air hujan," Gilbert berusaha menahan tawanya.


"Nyesel aku percaya dengan mu, Tuan!" Emilia mengerucutkan bibirnya.


Tuan Gilbert mah suka gitu masa cewek cantik dan seksi suruh mandi air hujan tega banget