
Dua titik hitam dilangit kota Wui terlihat melesat dengan cepat meninggalkan kota dan menuju kearah barat, diatas punggung Jula duduk sepasang kekasih yaitu YoLang dan YoLun sementara disisi lain terlihat sang calon istri Mayang dan ibunya Maya duduk dengan santai diatas punggung Juli. YoLang telah memerintahkan kepada kedua Rajawali untuk terbang tinggi sampai tidak terlihat oleh orang-orang dibawah mereka, hal ini untuk menghindari kehebohan karena diAlam Fana ini belum ada satupun para pembudidaya hawa murni yang memiliki tunggangan hewan buas seperti mereka.
Dalam perjalanan mereka tidak berhenti mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk memeriksa keadaan yang mereka lewati, dan mereka sedang berada diatas sebuah desa yang terlihat ramai karena banyak penduduk yang lalu-lalang dijalan lintas desa itu.
"Istriku... pertajam kesadaran spiritualmu saat melewati sebuah desa atau pemukiman penduduk... kamu pasti masih bisa merasakan aura kedua orangtuamu walaupun sudah lama tidak bertemu...!", kata sang suami.
"Baik suamiku...!", jawab sang istri kemudian menutup matanya dan lebih fokus dengan kekuatan spiritualnya mengingat wajah dan bentuk tubuh kedua orangtuanya.
"Hmm... aku belum merasakan keberadaan mereka sayang...! hahhh...!", kata sang istri yang terlihat kecewa belum menemukan yang dicarinya.
"Sabar sayang... kita akan berusaha untuk menemukan mereka... percayalah pada suamimu ini...!", kata YoLang menghibur sang istri.
Mendekati desa kedua mereka melakukan hal yang sama terlebih YoLun yang tidak melewatkan sejengkalpun daerah dibawahnya untuk dia periksa tapi tidak juga menemukan atau merasakan keberadaan keluarganya sampai mereka melewati desa ketiga dengan hasil yang sama, hal ini nampak diwajah YoLun yang kecewa dan sedih merasakan kehilangan harapan untuk bertemu kedua orangtuanya yang sejak usianya 5 tahun sudah terpisah. Masih terbayang dengan jelas dalam pikirannya ketika sosok seorang ibu yang sedang menggendongnya, membelainya ketika dia akan tidur dan memanjakannya ketika sedang makan bersama dan bagaimana senyum dan tawa seorang ayah terhadap putri kecilnya ketika sedang bermain dihalaman rumah mereka dikota Banto daratan utara.
"Hmm... suamiku bagaimana kalau sampai dikota kita tidak juga bisa menemukan keluargaku... Enmm... tidak... kita turun saja sambil bertanya-tanya kepada penduduk...?", kata YoLun memberikan usul.
"Boleh juga... kita mulai dari pinggiran kota saja... dan biarkan aku yang bertanya dan kamu fokus melihat dan merasakan jika ada aura yang sangat kau sukai atau pernah dekat denganmu...?", kata YoLang menjelaskan.
"Baik... ayo Mayang... Ibu Maya kita turun di hutan itu... kita akan melanjutkan dengan berjalan kaki memasuki kota...!", kata YoLun.
"Ayo Juli turunkan kami...!", kata Mayang kepada siPutih.
Kemudian mereka turun tidak jauh dari gerbang kota Arung setelah memasukkan Jula dan Juli kedalam dunia jiwa, mereka melangkah melewati gerbang kota setelah membayar biaya masuk kepada penjaga gerbang. YoLun yang tetap fokus dengan kesadaran spiritualnya mengikuti sang suami yang berjalan didepan mencari tempat berkumpulnya para penduduk untuk mereka tanyai, dan sasaran mereka adalah kedai kopi atau warung makan yang biasa dijumpai dipinggiran kota. Tanpa sungkan tapi sopan Yolang bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya, setiap ada kerumunan mereka mendekat dan setiap berpapasan dijalan dengan seseorang yang lebih tua, hingga akhirnya seluruh pinggiran kota Arung telah mereka telusuri tanpa membuahkan hasil.
"Hahh... kak kemana lagi kita harus mencari dan bertanya...? bagaimana kalau kakak berdua tetap menyusuri kota... aku dan ibu mencoba ke perpustakaan kota siapa atau ada jejaknya disana...?", kata Mayang mencari solusi dalam kejenuhan mereka.
"Ehh... adik... usulmu bagus sekali... karena setahuku setiap pemerintahan kota akan mendata setiap penduduknya... adik Mayang nanti coba cari data penduduk dari 30 tahun yang lalu...!", kata YoLun yang terlihat cerah kembali.
"Hmmm... baguslah... nanti kita bertemu di restoran dekat pelabuhan itu...!", kata YoLang selanjutnya.
Keempat sosok itu kemudian berpisah Maya dan putrinya Mayang mencari gedung perpustakaan kota disisi lain YoLang dan YoLun tetap berkeliling kesetiap sudut kota.
"Suamiku... kita lihat pelabuhan dulu... Aku belum pernah melihat kapal... hehehe...", kata YoLun.
"Hmmm... ayo... tapi kamu jangan jauh-jauh dari sampingku... banyak orang yang kasar dipelabuhan... jangan dilayani jika mereka berkata-kata tidak sopan kepadamu... biarkan aku yang menanganinya...! eemmm...?", kata YoLang memperingati sang istri kemudian menggandeng tangannya memasuki area pelabuhan kota Arung.
"Kamu memang suami yang terbaik...! hehehe... aku sampai bergetar melihat dan merasakan perlakuanmu padaku suamiku...! eemmm...?", kata sang istri manja sambil mengeratkan pegangan tangannya.
"Haisss... kamu itu istriku sudah kewajibanku berlaku seperti itu... eennmm...! siapkan dirimu nanti malam ada sesuatu yang baru akan kuberikan padamu...!", katanya setengah berbisik.
"Ehhh... suamiku tunggu...!", katanya tiba-tiba menarik tangan YoLang untuk berhenti.
"Ada apa sayang... kamu tidak sabaran...!",
"Bukan... bukan itu sayang...! coba kau perhatikan pemuda yang sedang memikul karung itu... aku merasakan auranya dekat denganku... ayo kita kejar dan bertanya... cepat sayang...!", kata sang istri terlihat penasaran dan tergesa-gesa.
"Mmm... ayo... kamu selidiki auranya dan kenali wajahnya... biarkan aku yang bertanya...!", kata sang suami.
Mereka berdua berjalan mengikuti seorang pemuda yang terlihat sebagai buruh pelabuhan, karena sang pemuda sedang memindahkan barang-barang dari kapal kesebuah gudang penampungan. Setelah melihat pemuda tersebut meletakkan karung yang dipikulnya, YoLang dan YoLun mendekat kemudian bertanya dengan sopan...
"Salam saudara...! saya YoLang dan ini istriku YoLun... jika tidak keberatan bolehkah kami menanyakan sesuatu kepada saudara...?", kata YoLang sopan.
"Ohhh... maaf saudara... saya masih sibuk ada beberapa karung lagi yang harus saya turunkan dari kapal... kalau terlambat diturunkan mandor saya pasti marah dan upah saya dipotong...!", kata sang pemuda yang menolak dengan alasannya.
"Emm... maaf... baiklah kami akan menunggu saudara selesai bekerja...!", kata YoLang kemudian.
"Maaf paman... bolehkah saya bertanya sebentar...?", tanya YoLang.
"Hemm... ada apa anak muda... jangan kau ganggu lagi anak buahku yang sedang bekerja... mengerti...!", kata sosok itu tegas.
"Ahhh.. maafkan kami paman... kami tidak bermaksud mengganggu... hanya ingin mengetahui nama pemuda tadi... karena kami sedang mencari saudara kami... dan wajah pemuda tadi ada kemiripan dengan saudara yang kami cari...!", kata YoLang beralasan.
"Ohhh... Itu... pemuda yang tadi namanya Gon... kami memanggilnya 'Gon siKuat'... dia adalah anak buahku yang terkuat dipelabuhan ini... dia bisa mengangkat 3 buah karung sekaligus makanya kami namakan dia 'Gon siKuat'...", kata sosok tersebut yang akhirnya diketahui bahwa dia adalah sang mandor dari pemuda yang namanya 'Gon siKuat'.
"Terima kasih paman... apa paman mengetahui nama keluarganya...?", tanya YoLang berikutnya.
"Hmm... selama ini kami hanya mengetahui namanya saja... tidak dengan nama keluarganya...!", jawab sang mandor.
"Ahhh... baiklah... terima kasih paman... kami permisi dulu...", kata YoLang menutup pembicaraan mereka kemudian berlalu dari tempat itu.
"Istriku... kita menunggu disana saja... sambil mengawasi pemuda tadi... nanti setelah dia selesai bekerja baru kita dekati untuk bertanya... atau kita ajak makan sekalian...? bagaimana menurutmu...! emmm...?", kata YoLang menghibur sang istri yang terlihat gundah.
"Suamiku... aku merasakan aura yang sangat dekat dengan pemuda itu... dan jantungku berdebar-debar entah kenapa...? aku juga sudah menandai aura tubuhnya...!", kata sang istri menjelaskan kegundahannya.
"Bersabarlah istriku...! ayo kita kewarung itu... pesankan teh hangat sambil kita menunggu pemuda yang tadi selesai bekerja...!", kata YoLang.
"Baiklah...", kata sang istri.
Sesampainya mereka diwarung yang masih sepi pengunjung itu, YoLun langsung memesan teh hangat 2 gelas dan beberapa potong kue untuk mereka berdua nikmati...
"Silahkan dinikmati anak muda...!", kata pemilik warung.
"Terimakasih paman... ahhh... enaakk... pengunjungnya memang kurang ya paman...?", tanya YoLang seadanya.
"Ahhh... tidak... sebentar lagi pasti ramai karena jam-jam seperti ini semua buruh lagi sibuk... apalagi ada beberapa kapal yang baru datang dari luar benua... pasti barang yang dibawa banyak... dan kalian berdua anak muda... apakah kalian akan bepergian menggunakan kapal...?", kata pemilik warung menjelaskan dan bertanya balik.
"Ohh... tidak paman... kami hanya jalan-jalan kesini melihat kapal... mmm... apakah paman mengenal pemuda yang namanya 'Gon siKuat'...? tanya YoLang mulai menyelidik.
"Ahhh... si Gon... dia adalah pemuda terkuat dipelabuhan ini... tenaganya tidak ada yang bisa melawan... dia anak yang baik dan pekerja keras...", kata sang pemilik warung.
"Hmmm... memang betul paman... saya tadi melihat dia memikul sebuah karung besar dengan sangat mudah... kalau saya mungkin sudah ambruk tertimpa karung itu hehehe... Istriku saja sampai terheran-heran melihatnya...!", kata YoLang seadanya.
"Ohhh... kalian berdua sepasang suami istri... saya kira kalian kakak beradik... ahhh... maafkan mata tua yang sudah rabun ini tuan muda dan nyonya...hehehe...", canda sang pemilik warung.
"Tidak apa-apa paman... kami belum lama menikah... paman apakah pernah mendengar tentang keluarga Lun...?", tanya YoLang mulai pada sasarannya.
"Uummm... 30 tahun hidup saya berjualan dipelabuhan ini... mmm... keluarga Lun belum pernah kudengar... Maafkan saya tuan muda dan nyonya... karena orang-orang dipelabuhan ini hanya mengenal namanya saja... jarang yang memakai nama keluarga... kecuali mereka yang saudagar kaya nama keluarga harus disebut didepan namanya...", kata pemiik warung menjelaskan.
"Ohh... begitu...? ahhh... kami sudah selesai paman... berapa biaya semuanya paman...?", tanya YoLang.
"Semuanya 2 koin emas tuan muda...",
"ini paman... dan terimakasih tehnya enak sekali... mmm... lebihnya untuk paman dan jangan sungkan... kami pamit...", kata YoLang berpamitan yang sebelumnya telah memberikan kepada sang pemilik warung dengan 50 koin emas.
"Woaahhh... terima kasih tuan muda... nyonya...", kata sang pemilik warung senang mendapat tips yang banyak.
YoLang melihat bahwa sang pemuda atau 'Gon siKuat' telah selesai bekerja dan sedang berjalan keluar dari pelabuhan, dan segera dia menyelesaikan acara minum teh diwarung itu untuk mengikuti sipemuda. Sambil menjaga jarak YoLang dan YoLun mengikuti sang pemuda yang terlihat memasuki sebuah kios makan kemudian melangkah lagi dan masuk kedalam toko obat, setelah itu terlihat dia tergesa-gesa menuju kesebuah pemukiman penduduk yang kumuh karena mereka melihat keadaan tempat tinggal para penduduk yang serba darurat bahkan ada dinding rumah yang hanya terbuat dari kardus tebal. YoLun tidak bisa membayangkan jika keluarganya tinggal ditempat seperti ini sedangkan dia bisa hidup nyaman didalam Istana Naga Emas milik suaminya, dan jika bepergian dia akan menginap disebuah penginapan dengan fasilitas kamar VIP. Berbagai pikiran yang timbul dalam benaknya membuat YoLun tambah gelisah dan merasa sedih memikirkan hal tersebut, tapi dia menguatkan hatinya dan terus berharap agar segera bertemu dengan ayah ibunya dan saudara-saudaranya yang lain.