Titisan Dewa

Titisan Dewa
Petualangan diMulai


"Meteor Petir Pemusnah"


Hiiiiaaaattt...


Shuuuttt... Dhuuuaaarrr...


Shuuuttt... shuuuttt...


Bhoomm... bhoomm...


"Hujan Amarah Petir"


Hiaaattt...


Shut... shut... shut... shut


Jleeb... jleeb...


Dhuaarr... dhuaarr...


Suara desingan anak panah spiritual mengenai batu-batu sungai dilapangan latihan kemudian hancur menjadi butiran debu, peningkatan kekuatan YoLun begitu mengagumkan membuat yang melihat dia berlatih sampai terperangah dan mulutnya terbuka membentuk huruf 'O'. Didalam menara Meditasi/Kultivasi terlihat 3 sosok sedang menyerap energi spiritual, terlihat pakaian mereka sudah basah oleh keringat yang keluar dari seluruh tubuh mereka, karena ketiganya bermeditasi dalam menara lantai 3 yang memiliki tekanan energi spiritual seberat 70 Kg. PiYo, MaiLang dan Maya dengan wajah yang sudah terlihat kemerahan seperti tomat masak, tapi masih terlihat fokus dengan meditasi mereka. Sebelumnya mereka dapat bertahan dilantai 2 selama 24 jam tapi saat ini dilantai 3 mereka baru memasuki selama 2 jam dengan keadaan yang mulai goyah, YoLang yang melihat ketiga orangtuanya penuh semangat tersenyum puas. Kemudian YoLang menuju kearah 'Gua Jiwa' tempat latihan untuk menempa ketahan jiwa karena didalamnya selain mendapat tekanan energi spiritual juga terdapat 'Formasi Ilusi' dengan beberapa boneka kayu yang akan menyerang siapa saja yang memasukinya, dan terlihat 2 sosok gadis kecil yang sedang membantai boneka-boneka kayu Ilusi sampai hancur berkeping-keping kemudian lenyap, Mayang dan LoryMei yang memiliki teknik pedang tingkat Surgawi dan memegang senjata tingkat Ilahi dengan begitu mudahnya melewati rintangan Gua Jiwa dalam waktu singkat.


"Hmmm... aku harus membuat dengan yang baru untuk kedua gadis kecil itu... dan yang itu untuk ayah dan ibu serta ibu Maya saja...!", katanya dalam hati.


"Enmm... lebih baik lakukan sekarang dari pada lupa...!", bergumam dia dalam hati, karena terpikir olehnya untuk mengatur waktu didalam dunia jiwa dan membuat beberapa Array/Formasi dibeberapa tempat. Segera YoLang melesat keatas langit dunia jiwa dan setelah merasa berada diketinggian yang cukup dimulai membuat rangkaian formasi yang rumit, ribuan titik yang saling terhubung membentuk garis-garis yang saling-silang kemudian dia mulai mengerahkan energi spiritualnya dan memikirkan tentang putaran poros dunia jiwanya, setelah itu dia mulai menambah kecepatan putaran poros dunia jiwanya dan diikuti dengan perputaran matahari dan bulan sehingga lebih cepat dan setelah mengunci formasi waktu yang dibuatnya dia melemparkan formasi tersebut keatas langit kemudian menyebar dan membungkus keseluruh wilayah dunia jiwanya.


Tanpa disadari oleh semua penghuni, waktu dunia jiwa telah berputar 24 kali lebih cepat sehingga perbandingan waktu menjadi 1 jam didunia luar sama dengan 1 hari didunia jiwa. Kemudian YoLang membuat lagi formasi waktu yang khusus mengabaikan pertambahan usia manusia dan hewan akibat perbandingan waktu yang dibuatnya, dan hanya akan berpengaruh pada tumbuhan dan aktivitas manusia didalamnya. Dan yang terakhir dia membuat Array/Formasi Pelindung tingkat Ilahi atas dunia jiwa miliknya sehingga siapapun tidak akan bisa melihat dan keluar masuk dari dan kedalam dunia jiwanya kecuali sang Kaisar Dewa dan keLima Gurunya. Setelah itu dia kembali keIstana Naga Emas untuk menemui orang-orang terdekatnya,...


"Ayah... Ibu...! sebaiknya kita keluar dulu untuk mempersiapkan perjalanan kita ke daratan selatan... sekalian memberi kabar kepada kakek dan nenek buyut... juga menitipkan paviliun kita kepada yang ayah percayai untuk menjaganya...!", kata sang putra.


"Ohh iya... baiklah... bawa kami keluar...!", jawab PiYo. dan...


Whhuuzz... whhuuzz... whhuuzz...


Tiga sosok itu menghilang dan tiba-tiba sudah berada diruangan tengah paviliun mereka.


"Istriku... kamu bereskan persiapan dirumah ini... aku akan kekediaman Walikota bertemu ayah dan ibu kemudian kepaviliun kakek dan nenek untuk mengabari mereka...!", kata PiYo kepada MaiLang.


"Baik suamiku... dan kamu nak... apa yang akan kamu lakukan...!", tanya MaiLang kepada YoLang.


"Aku akan kedesa YaoYo... sekalian melihat dan memastikan keadaan mereka... apakah akan baik-baik saja jika ditinggalkan selama kita ke daratan selatan...!", jawab YoLang.


"Hmm... ya sudah segera kau pergi...! dan cepatlah kembali...!", kata MaiLang kemudian berlalu.


Segera mereka bergerak untuk melakukan tugas masing-masing, YoLang yang akan kedaratan utara, tepatnya desa YaoYo dengan menggunakan teknik teleportasi hanya membutuhkan waktu 1 menit telah berada dihalaman Wisma miliknya yang sekarang telah dirawat dan menjadi tempat tinggal Anbin bersama ayah dan ibunya. Kemudian YoLang memasuki wisma dan mendapatkan keluarga tersebut sedang mengatur gudang herbal dibagian belakang Wisma.


"Salam paman... bibi dan saudara Anbin... bagaimana keadaan kalian...?", tanya YoLang ketika melihat ketiganya.


"Ehhh... tuan muda... kami baik-baik saja...", sambut ayahnya Anbin.


"Hei saudara Yo... bagaimana kabarmu... hehehe... saudari iparku baik-baik saja...?", sambut Anbin dengan rentetan pertanyaan.


"Hehehe... saudaraku Anbin... YoLun baik baik saja... dia sementara latihan tertutup jadi tidak bisa ikut kesini... bagaimana apakah kalian senang tinggal didesa ini...?", tanya YoLang.


"Ahhh... saudaraku... kami tinggal didesamu ini sangat nyaman... karena kami sudah seperti satu keluarga besar dengan semua penduduk desa ini... aku dan ayahku sudah diterima diperguruan... dan kami juga sudah mendirikan Toko Kecil yang menjual perabotan... dan saya sudah berjanji untuk merawat Wismamu ini dengan baik...!", kata Anbin menjelaskan keadaan mereka.


"Baik... aku segera kegedung Klan MU untuk memberitahu kakek MuChin... aku pergi dulu saudaraku...", kata Anbin kemudian pergi.


"Paman.. bibi... nanti tolong bantu aku untuk menyiapkan teh hangat saat pertemuan nanti...!", kata YoLang.


"Baik tuan muda... akan kami siapkan...!", jawab keduanya.


YoLang memanfaatkan waktu luangnya dengan meracik seluruh herbal yang berada dalam gudang menjadi Pil... dan melihat sekeliling Wisma juga kereta gerbong miliknya yang terparkir disamping wisma dan melihat bahwa kesemuanya benar-benar terawat dengan baik. Sambil menunggu kedatangan para petinggi Klan Mu, YoLang juga membuat turunan beberapa teknik sederhana dan senjata tingkat Kuno untuk dia tinggalkan kepada Anbin dan kedua orangtuanya, kemudian memasukkan semua barang-barang tersebut kesebuah cincin jiwa dasar-4 yang akan dia berikan kepada Anbin. Hari mulai gelap ketika dia melihat sekelompok orang memasuki halaman Wisma Pendiri Desa, YoLang yang sejak siang hari sudah berada didalam wisma langsung berdiri dan menyambut para tetua Klan Mu itu,...


"Salam para tetua sekalian...! mari silahkan masuk dan duduklah... kita bicara diruangan ini saja...!", sambut YoLang dengan sopan dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Salam tuan muda... terimakasih...!", jawab paman MuDhong mewakili.


"Baiklah... pertama saya ingin mengetahui dari para tetua sekalian sekiranya ada masalah atau sesuatu yang mendesak...?", tanya YoLang tanpa membuang-buang waktu.


"Sampai saat ini belum ada tuan muda... semua berjalan dengan baik... dan desa kita ini sudah dikenal diseluruh wilayah daratan utara ini... penginapan sudah kita tambah menjadi dua gedung penginapan... karena banyak pendatang dan petualang yang menginap didesa kita ini...! karena mereka tertarik dengan Pil-pil buatan tuan muda yang kami jual diToko Obat milik Klan MU...!", jelas kakek MuChin.


"Kawasan Danau Es juga sudah menjadi daya tarik para penduduk kota tuan muda... banyak dari kota Banto bahkan kota Lamur yang datang untuk berwisata dan istirahat dikawasan danau...!", sambung paman MuDhong.


"Hmm... bagus... bagus...! kakek MuHoa... digudang sudah saya bereskan silahkan dilihat nanti... kemudian kepada semuanya... kedatangan saya kesini sebenarnya untuk memberitahukan bahwa saya akan kedaratan selatan... untuk menemani nenek buyutku yang akan berkunjung kepada keluarganya yang berasal dari sana... dan dalam waktu yang kemungkinan agak lama... untuk itu saya kesini menanyakan apabila ada kebutuhan yang mendesak...!", kata YoLang menjelaskan.


"Kami rasa belum ada yang mendesak... dan tuan muda tidak usah mengkuatirkan kami... kalau juga terjadi sesuatu yang mendesak kami bisa memanggil tuan muda dengan kalung pemanggil yang tuan muda berikan ini...!", kata kakek MuChin.


"Ohh... iya... kakek coba saya pinjam kembali kalung-kalung yang saya berikan...!", katanya tiba-tiba teringat bahwa kalung-kalung tersebut masih ditingkat Langit dan jangkauannya masih dalam satu benua saja, untuk itu akan dia tingkatkan menjadi kalung pemanggil tingkat Surgawi.


"Nah selesai... kalung-kalung itu sudah saya tingkatkan menjadi kalung pemanggil tingkat Surgawi agar jangkauannya lebih jauh...!", kata YoLang menjelaskan.


"Ahhh... terimakasih tuan muda... dengan begini sudah tidak ada yang perlu tuan muda khawatirkan...!", kata kakek MuChin sang Patriak Klan Mu.


"Mmm... bagus... kepada para tetua saya berterimakasih sudah mau menerima saudaraku Anbin dan kedua orang tuanya... saya tetap menitip mereka kepada para tetua sekalian...!", kata YoLang kepada mereka.


"Ahh... tuan muda adalah pendiri desa ini... sudah sewajarnya saudara tuan muda menjadi saudara kami juga... tidak perlu dipermasalahkan akan hal itu...!", jawab paman MuDhong mewakili mereka.


"Baiklah saya menjadi tenang sekarang... dan saudaraku Anbin... didalam cincin jiwa ini ada bekal untukmu dan orantuamu... pelajari dan kuasai semua itu... dan saya harus cepat kembali kekota Klentang masih ada yang harus saya kerjakan disana sebelum berangkat kedaratan selatan... baik aku pergi...!", kata YoLang yang tidak mau menunggu lama kemudian berpamitan dan menghilang...


Whhuuuzzz...


YoLang kembali kepavilun keluarga dikota Klentang dan melihat sudah berkumpul kedua buyutnya dan kedua orangtuanya diruangan tengah paviliun mereka,...


"Salam kepada kakek dan nenek...!", kata YoLang menyapa kedua buyutnya itu.


"Ahh... cucuku kamu sudah kembali...? bagaimana kita berangkat sekarang...? kakekmu sudah menyiapkan kereta gerbong terbaik yang kita miliki... juga dengan kuda-kuda terbaik... perbekalan sudah disiapkan dan cukup untuk kita gunakan sampai diKota Polak daerah perbatasan...!", kata LinMei nenek buyutnya.


"Hmmm... baiklah bersiap saja... kita segera berangkat... tapi sebelumnya coba nenek kembali mengingat-ingat tentang daratan selatan itu seperti apa... contohnya kota Polak terdapat hutan misterius... atau sungai... gunung atau apa saja yang nenek ingat dengan baik...!", kata YoLang sambil tersenyum, karena dia merencanakan hal lain yaitu mengambil ingatan sang nenek buyut untuk dia jadikan tempat teleportasi.


"Hmmm... suamiku... kamu masih ingat kawasan hutan dengan sungai tempat kita bermalam itu...?", kata LinMei kepada Surapong.


"Ahhh... itu... ya... sungai yang banyak batu berwarna putih seperti batu karang...?", jawab Surapong yang kembali mengenang masa mudanya bersama LinMei saat berpetualang didaratan selatan.


"Iya... hehehe... waktu itu si Pendekar Belati Emas terpeleset dan tercebur kedalam sungai... hahaha...", kata LinMei dan tertawa mengingat kelucuan yang terjadi saat itu,


Dan tanpa mereka sadari YoLang mulai mengambil seluruh ingatan kedua buyutnya tentang lokasi kawasan hutan dan sungai berbatu putih itu kedalam pikirannya. kemudian mengeluarkan LoryMei, Mayang, ibu Maya dan YoLun dari dalam dunia jiwanya untuk bersama-sama naik kegerbong kereta kuda yang akan mengantarkan mereka menuju daratan selatan. Setelah menitipkan paviliun kepada paman Wei sebagai kepala penjaga gerbang dan bibi Yul sebagai kepala pelayan paviliun 2 buah kereta kuda dengan gerbong perlahan mulai bergerak meninggalkan kota Klentang menuju kearah selatan.