
Dengan kondisi tubuh hampir membeku dan sangat lemah YoLang berusaha bangkit, dia mengalirkan sisa-sisa energinya untuk dapat duduk bersila dan segera bermeditasi mengumpulkan kekuatan dengan mulai menyerap energi Alam dan energi Spiritual. Sehari berlalu nampak sosok bocah itu masih dalam posisi duduk bersila fokus melakukan meditasinya dimana barusan dia melalui pertarungan phisik maupun pertarungan jiwa sampai energi spiritualnya sampai habis, kemudian di sela-sela meditasinya terdengar ledakan energi dari dalam tubuhnya,...
Bhuumm...
Bhuumm...
Dua kali ledakan energi menandakan kenaikan 2 tahap tingkatan, saat ini YoLang berada di tingkat Coklat Akhir (Alam Fana) atau tingkat Pembentukan Qi tahap Puncak (Alam Tinggi/Alam Kultivator), masih bermeditasi YoLang melihat kedalam tubuhnya bahwa seluruh titik Meridiannya telah berwarna Putih Cerah menandakan tingkat kekuatan Hawa Murninya (Tenaga Dalam) sudah berada di Puncak sedangkan Danau Energi Dantiannya perlahan bertambah luas sehingga daya tampung energinya semakin besar.
Lima jam telah berlalu dan YoLang telah selesai menstabilkan aliran energi dalam tubuhmya dan perlahan dia membuka matanya, berdiri dan menuju pintu kamar kedelapan dan membuka pintunya kemudian memasuki ruang kamar tersebut yang tampak sepi hanya ada 2 buah tong kayu tersisa, YoLang berpikir dan mengambil keputusan menghancurkan tong kayu sebelah kanan,
Brraaaakkkkk...
Whuuzz...
Sebuah pusaran angin yang besar, hampir memenuhi ruangan tersebut muncul dihadapannya dan dengan siaga dia menunggu apa yang akan terjadi, segera dia mengalirkan seluruh kekuatannya di seluruh tubuhnya. Pusaran angin mulai mengecil tapi tingkat putarannya semakin cepat sehingga hanya terlihat seperti sebuah tiang awan yang bergerak mengarah kearahnya,...
"Langkah Cahaya"
YoLang bergerak dengan gesit secepat cahaya menghindar terjangan pusaran angin tersebut yang telah berubah bentuk menjadi sebuah tiang awan, terus menghindar, meloncat, bersalto, bergulingan dan berputar seperti gasing menjauhi tiang awan tersebut. YoLang mulai kehabisan akal karena tidak ada teknik lain yang dapat melumpuhkan pusaran angin yang kencang itu, akhirnya dia mengambil keputusan melawan putaran angin tersebut dengan putarannya. Dia mulai bersiap dengan mengalirkan seluruh energi Alamnya kebagian pinggangnya untuk mendukung putaran tubuhnya, kemudian mengalirkan energi spiritualnya membungkus dan melindungi tubuhnya serta untuk membantu kecepatan putarannya. Dengan segera dia berputar dengan cepat hingga terlihat seperti putaran gasing berbentuk gumpalan cahaya, bergerak memasuki pusat pusaran angin tersebut kemudian menyatu dan terjadilah dua putaran yang berlawanan ditengah ruangan itu.
Whhuuuzzz...
Swiiiinngg... swiiiinngg...
Mulai kelihatan dominasi putaran gumpalan cahaya mengalahkan pusaran angin, saling beradu berjam-jam dan akhirnya pusaran angin lenyap tak berbekas dan tampaklah sosok anak kecil jatuh terduduk dengan kepala tertunduk lemah. YoLang masih terduduk diam,..
"Betapa susahnya menjadi Dewa harus berdarah-darah begini... Hhuuhhhš„µ...", batin sang bocah.(wuauuw .... si bocah ngarep jadi Dewa) š š¤
Memang sungguh tak masuk akal untuk seorang anak kecil yang belum berusia 6 tahun di Alam Fana ini mampu melewati latihan tingkat Dewa serta memiliki kemampuan bertahan dan bertarung setara Dewa, seperti yang disampaikan oleh gurunya Dewa Cahaya bahwa dialam fana ini YoLang sudah tidak memiliki lawan lagi.
"Kenapa sebagian pemahaman yang diberikan oleh guru belum terbuka...? padahal tingkatku sekarang sudah Coklat Akhir...!", kata YoLang dalam hati.
"Apa yang kurang ya...? tingkat Hawa Murniku sudah batas puncaknya...ah... coba lagi mungkin harus...?", katanya dalam hati sambil merenung.
Sambil berposisi Lotus YoLang kembali melakukan meditasi menyerap energi Alam (energi Bumi dan Langit) karena beberapa meridiannya terlihat kekurangan hawa murni dan energi Spiritual untuk mengisi Dantiannya yang sudah berbentuk seperti Danau agar kembali penuh. Dengan Teknik Pusaran Cahaya miliknya proses penyerapan berlangsung sangat cepat, juga jarak jangkauan penyerapan bertambah luas saat ini dia bisa menyerap energi yang berada sejauh 50km dari posisinya demikian juga dengan teknik tersebut dia dengan sesuka hati mengolah dan menjadikan/mengubah energi yang diserap sesuai dengan jenis energi yang diinginkannya (energi Alam diolah dan diubah menjadi energi Spiritual atau sebaliknya)
Merasa sudah seharian penuh dia melakukan penyerapan energi, rasa lapar dan haus dia penuhi dengan merubah energi spiritual menjadi Nutrisi, rasa kantuk diredamnya, beberapa luka gores, luka bakar dipermukaan kulitnya mulai menutup sembuh walau masih terlihat bekas bekas lukanya, diwajah, didada, ditangan juga disepasang kakinya kemudian melihat kedalam tubuhnya semua titik meridiannya bercahaya putih dan berkelap kelip menandakan luapan energi hawa murni demikian juga Danau Dantiannya dipenuhi riak-riak kecil kemudian bergelombang dan semakin besar sampai menjadi badai energi, luapan energi yang besar dalam tubuhnya menciptakan ledakan yang besar juga dan...
Bhhuumm... Ungu Awal
Bhhuumm... Ungu Mahir
Bhhuumm... Ungu Akhir
Bhhuumm... Hitam Awal (Penyempurnaan Qi tahap puncak Ranah Alam Tinggi).
Akibat kenaikan tingkat, aliran energi dalam tubuhnya menjadi kacau kembali dan tidak stabil, terasa sakit yang amat sangat diseluruh tubuhnya karena aliran darahnya juga menjadi lebih cepat, terlihat jaringan pembuluh darah arteri dan kapiler membesar jelas terlihat di permukaan kulitnya urat-urat menyembul keluar berwarna kebiru-biruan (Keberuntungan membawa kesengsaraan)
Sambil menahan sakit, juga YoLang merasakan pusing dan mual karena dalam pikirannya kini muncul begitu banyak tulisan, gambar dan suara-suara bergema, keringat bercucuran membasahi pakaiannya, tubuhnya bergetar menahan sakit, wajahnya menjadi jelek mengkerut menahan rasa pusing dan mual. Sambil berkonsentrasi dia mulai mencerna satu persatu pengetahuan yang baru saja terbuka dalam pikirannya, sekarang pengetahuan yang diberikan oleh gurunya Dewa Cahaya telah terbuka semua, terdapat 2 teknik baru dan berbagai pengetahuan tingkat tinggi tentang Alam Semesta. 4 hari sudah YoLang berada didalam ruangan kamar kedelapan dan kondisi keluatannya kembali dalam posisi puncak.
"Aku harus segera menuntaskan misi dalam Gua Jiwa ini... dan kembali kepondok untuk mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan yang baru itu...!", katanya dalam hati.
Tekadnya kembali dan dengan segera menuju pintu kamar kesembilan/terakhir.
Krieeekkk...
Pintu terbuka dan didepannya tampak sosok gurunya yang sedang duduk bersila seperti sedang bermeditasi.
"Salam Guru...!", sapanya ketika berhadapan dengan sosok gurunya.
".." hening, tidak ada jawaban.
Takut mengganggu meditasi gurunya YoLangpun ikut duduk berposisi lotus seperti gurunya, sambil dia mencoba memahami pengetahuan baru dalam kepalanya.
Whhuuuzzz...
Bhhuukk...
"Siapa kau...! beraninya masuk ketempatku dan mengganggu tidurku...?", kata sosok gurunya yang terlihat marah.
"Maaf guru...! ta.. tapi ini...! aku YoLang... murid guru sendiri...!", kata YoLang sambil membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.
"Aku tidak mengenalmu... dan kau sudah berani memasuki tempatku... artinya kau sudah siap menerima kematianmu...!", kata sosok menyerupai gurunya.
"Ampun guru...! bukankah guru yang menyuruhku kesini...?", katanya sambil mulai bimbang dan menyelidiki siapa sebenarnya sosok didepannya itu.
" Hmm... Coklat Awal...! masa kekuatan guru seorang Dewa serendah itu...? (mulai sombong𤪠karena sudah bisa menggunakan tekniknya Mata Cahaya walau belum sempurna) apa ini orang lain...? atau hanya bayangan guru untuk mengujiku...!", bergumam YoLang dalam hati.
"Banyak tingkah...! serahkan nyawamu...! akan kuberikan kematianmu dengan cepat tanpa siksaan...!", kata sosok gurunya sambil menyerang dengan tangan kosong.
Hiaattt...
whuzzz... whuzzz...
YoLang dengan cepat menghindar membuat pertahanan diseluruh tubuhnya dari energi spiritualnya,...
"Langkah Cahaya"
Whhuuzzz... whhuuzzz...
Serangan bertubi-tubi dan bertenaga dengan cepat mendarat disekujur tubuh YoLang,
Bhuukk... dheess... plaakk...
Bhuukk... dheess... plaakk...
Kembali YoLang terlempar kedinding...
Aduhhhh...
Hoeekkk...
"Ampun guru... itu sakit... huh... hah...!", kata YoLang mengaduh sambil memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
"Aduhh...! cepat sekali... dan kelihatannya guru bersungguh-sungguh menghajar kukali ini...", katanya dalam kesakitan.
Hiiaaattt...
Whhuuzz... whhuuzzz...
Degghhh...
Brruuaakkk...
Kembali serangan datang dari sosok sang guru dan sebuah tendangan dengan telak mengenai perutnya dan kembali YoLang terlempar membentur dinding ruangan kamar kesembilan itu, tapi YoLang segera bangkit berdiri dan dengan tekniknya Langkah Cahaya untuk menghindar tanpa menyerang karena takut dan sungkan sebab yang dihadapinya adalah sosok gurunya.
"Ayo lawan aku...! atau serahkan kepalamu....", kata sosok tersebut menantang.
Sambil memegang perutnya yang kesakitan YoLang mulai memusatkan seluruh kekuatannya dikedua tangan dan kakinya...
"Langkah Cahaya"
Whuuzz... whuuzz...
Duk.. duk.. plak.. bug.. bug.. dak..
Whuuzz...
Pertarungan mulai terlihat serius karena saling jual beli pukulan, dan suara tangan dan kaki beradu semakin cepat terdengar...
"Hmm... ternyata berisi juga kau Bocah!...", kata sosok gurunya.