Titisan Dewa

Titisan Dewa
Perguruan Belati Emas


Seminggu setelah panen Piyo berkunjung kerumah Pamannya Ratong ayah Randang, seorang ahli dan guru beladiri yang juga sebagai kepala rumah beladiri (perguruan) di desa Klentang. Nama Perguruan diambil dari julukan kakeknya Surapong yaitu 'Perguruan Belati Emas' dan rata rata murid diajarkan teknik (jurus) dengan menggunakan Belati sebagai senjata, tapi ada juga yang lebih menguasai senjata lain seperti Randang anak paman Ratong yang ahli menggunakan senjata Tombak serta Tulong dan Bua lebih ahli menggunakan senjata Pedang, hanya PiYo yang menguasai senjata Belati. Dengan tingkat Coklat Ahli paman Ratong memimpin 'Perguruan Belati Emas', hampir semua pemuda dan anak laki-laki serta perempuan didesa Klentang datang belajar dan berlatih ilmu beladiri diPerguruan Belati Emas dan mereka tidak dipungut biaya sepeserpun walau terkadang ada yang memberi secara sukarela.


Tok... tok... tok...


"Salam... Paman... Bibi...!", kata PiYo ketika tiba didepan pintu rumah kediaman paman Ratong.


Tok... tok... tok...


Krriiieeeek...


"Salam bibi... maaf aku baru datang berkunjung...", kata Piyo saat melihat sosok wanita paruh baya yang membuka pintu rumah.


"Ahh... nak Piyo... kamu disini sekarang nak...! mari masuk dan duduklah sesukamu...!", kata bibi Jamilah istri paman Ratong.


"Bi... Paman sama Randang kemana...?", kata PiYo bertanya kepada sang bibi.


"Mereka lagi di tempat latihan...! nanti kamu susul saja kebelakang...", kata bibinya.


"Baiklah bi...! saya langsung saja kesana...", kata PiYo.


PiYo berjalan menuju bagian belakang rumah dan memperhatikan kondisi kediaman keluarga pamannya ini, gedung perguruan berjarak 50 meter dibelakang kediaman paman Ratong dan keluarganya. Gedung perguruan yang tidak terlalu besar itu terdapat beberapa ruangan didalamnya, ada ruang untuk penyimpanan senjata dan ada juga sebuah ruangan untuk menyimpan perlengkapan latihan lainnya, disudut lain terdapat ruangan perpustakaan tempat kitab-kitab teknik (jurus) dan ada satu ruangan besar tempat latihan sekaligus tempat latih tanding para murid.


Disamping kanan gedung terdapat sebuah lapangan tempat latihan dan penempaan tubuh, kemudian bagian belakang terdapat kolam ikan yang dikelilingi pohon pinus sekaligus tempat para murid bermeditasi. Ditempat meditasi terlihat juga adanya batu batu datar berjejeran dengan jarak 5 meter yang diletakkan mengelilingi lapangan latihan itu, PiYo telah berkeliling hampir kesemua kawasan perguruan 'Belati Emas' tapi tidak menemukan pamannya atau saudaranya Randang. Dia terus berjalan kesamping dan akhirnya menuju kekolam yang berada dibagian belakang gedung kemudian melihat dua sosok pria sedang fokus bermeditasi, tidak ingin menggangu PiYo juga ikut duduk bermeditasi tidak jauh dari kedua sosok tersebut. Beberapa saat kemudian dia mendengar pamannya Ratong sudah selesai dengan meditasinya. PiYo bangun dari meditasinya kemudian berdiri dan berjalan mendekati pamannya...


"Salam paman...!", sapa PiYo sopan sambil menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menyilang didepan dada dan kedua telapak tangan menyatu tanda hormat seorang pendekar.


"Nak PiYo...! apakah sudah lama menunggu...?", kata pamannya.


"Ahh... baru saja paman...!", kata PiYo.


"Ehh... i... iya... terimakasih paman...! baru minggu yang lalu naiknya... itu juga karena bantuan Pil Energi dari paman Roulang...", kata PiYo namun kaget karena pamannya bisa tau tingkatnya padahal dia belum memberitahu.


Dalam hatinya dia berpikir apakah pamannya memiliki teknik membaca tingkat beladiri seseorang...?


"Hehehe... paman tau apa yang kamu pikirkan nak...!", kata paman Ratong.


Whhuuuzzz...


"Hei... saudaraku...! kamu disini... mana saudariku MaiLang... mmm... tidak ikut...?", kata Randang yang tiba-tiba datang sambil melompat mendekati tempat ayahnya dan PiYo berada.


"Heeiiit...! (sambil membuka jurus dan menghindari tabrakan) hampir saja kena hahaha...! kau bikin kaget saja saudara Randang...", kata PiYo kemudian mengambil posisi normal lagi.


"Saudarimu tidak boleh lelah... karena dia lagi mengandung anakku...!", kata PiYo sambil memainkan kedua alis matanya.


"Iya... iya... aku segera menyusul liat saja tidak lama lagi...!", kata Randang sambil mengedipkan sebelah matanya kearah PiYo.


"Buktikan...! betul tidak paman... hehehe...", kata PiYo menggoda Randang.


"Betul itu nak PiYo... tapi kalau tahun ini belum juga... terpaksa pamanmu akan menggunakan belati pemberian kakekmu untuk menyembelih seekor burung...! hahahaha...", kata pamannya bercanda.


"Ahh... tenang saja... akan aku buktikan... aku tinggal dulu saudaraku... lanjutlah dengan ayahku...!", kata Randang sambil berlalu menuju rumahnya.


"Ayo nak... kita bicara didalam gedung perguruan saja...", kata pamannya sambil berjalan menuju gedung.


Sesampainya mereka berdua duduk dibangku dimana biasanya murid-murid duduk, tapi hari ini bukan jadwal latihan jadi tidak ada seorang murid yang berlatih. Hari latihan bagi para murid sudah dijadwalkan 2 hari setiap minggunya, selebihnya mereka bisa berlatih mandiri dirumah masing-masing.