Titisan Dewa

Titisan Dewa
Menderita 2


Selesai berlari keliling lapangan, YoLang jatuh terduduk didepan gurunya dengan napas memburu dan seluruh pakaiannya sudah basah oleh keringatnya.


"Cukup berlarinya untuk hari ini muridku... pergilah mandi dikolam itu biar badanmu segar kembali... tapi tadi waktu berjalan dekat kolam batu giokku terjatuh dan masuk kedalam dikolam... nah sambil mandi kau tolonglah gurumu ini menemukan kembali giok-giok kesayanganku itu... semuanya ada 10 buah...", kata sang guru memperlihatkan wajah sedih.


"eennn... setiap kau menemukan 2 buah batu giok didasar kolam langsung datang serahkan kepadaku... ingat setiap 2 buah...! segeralah muridku hari mulai gelap...!", kata sang guru berkilah sambil tersenyum.


😫😩😓 YoLang hampir menangis, mengingat kedalaman kolam yang 3 meter.


"Jangan tunjukkan kepalamu kepermukaan sebelum menemukan 2 buah batu giok kesayanganku... giok-giok itu adalah hadiah dari 'Kaisar Dewa' untukku jadi kau harus menemukan mereka semua...", kata sang guru.


Hari hampir gelap, 10 buah batu giok telah ditemukan.


"Ayo muridku kita beristirahat di pondokmu...", kata siBocah Tampan sambil memanjat tali naik keatas pondok.


"Ahh... aku lupa... muridku...! bawa naik 2 buah batu yang 5kg dan 7kg...!", katanya setelah sampai di pondok.


Walau telah kelelahan YoLang tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya karena dia telah bersumpah dan berjanji untuk mengikuti semua perintah sang guru, didalam pondok keduanya duduk bersila berposisi lotus sambil menstabilkan aliran darah dan energi didalam tubuh kemudian beberapa saat...


"Bagaimana muridku...? mudahkan latihan tadi...? nanti selama sebulan kedepan dari pagi sampai sore kau ulangi setiap hari... sekarang kau kembalilah kepaviliun untuk makan setelah selesai kembalilah kesini aku tunggu...", kata sang guru.


"Baik guru... makanan guru nanti aku bawakan kesini...!", kata sang murid.


"Ahh... tidak usah kau pikirkan tentang hal itu... 1 tahun tidak makan, minum dan tidur gurumu ini sudah biasa... itu karena energi spiritual bisa diolah menjadi nutrisi buat kebutuhan tubuh...", kata sang guru menjelaskan.


"Baiklah guru... murid pergi dulu...!", kata sang murid kemudian turun dan menuju paviliun keluarganya.


Seperginya sang murid kembali siBocah Tampan mulai membuat sesuatu, lampu minyak dikeluarkan dari dalam lampion kemudian mengikatnya keujung sebuah kayu sepanjang 30cm setelah itu dia turun mengumpulkan banyak batu kecil sebesar kelereng dan kembali naik keatas pondok. Sambil bersenandung dia menanti kedatangan sang murid, 30 menit kemudian sang murid tiba menenteng keranjang buah...


"Guru...! ini ada kiriman dari ibu untuk guru...!", kata YoLang sambil meletakkan keranjang penuh buah anggur, apel dan mangga disamping gurunya. (sedikit nyogok biar nggak berat-berat latihannya).


"Hmm... sampaikan terimakasihku pada ibumu muridku... kamu padamkan semua lampion diluar gubuk ini... terlalu terang nanti memancing datangnya kelelawar darah...!", kata Dewa Cahaya


"Baik guru...!", katanya sambil beranjak keluar gubuk dan melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya.


"Tadi aku diserang oleh beberapa ekor... uhh... sangat ganas...! mungkin ada sarangnya dipohon pohon sekitar sini... cobalah kau periksa muridku dan bawalah lampu minyak ini... tapi ujung sebelahnya kamu gigit yang kuat biar tidak lepas...!", kata gurunya menjelaskan.


"Baik guru...!", kata YoLang kemudian mengambil kayu yang ujung sebelahnya terdapat lampu minyak, kemudian berjalan keluar pondok...


"Tunggu...! kamu berjalan mengikuti bentangan tali itu... hati-hatilah...!", kata sang guru.


Sambil menggigit batang kayu yang ujung sebelahnya terdapat lampu minyak YoLang mulai berjalan diatas tali yang mengitari pondok, terdapat 5 bentangan yang harus dilaluinya dan masing-masing bentangan ada 7 sampai 10 meter...


"Bentangkan tanganmu dan konsentrasilah pada tali dan lampu minyak... jangan sampai jatuh... waktumu 20 menit...", kata gurunya.


Akhirnya sampailah dia diseberang dan melanjutkan dengan bentangan kedua, dia terus melangkah dengan perlahan sampai pada bentangan terakhir tubuhnya oleng dan terjatuh, untunglah dia masih sempat meraih bentangan tali,...


"Slamat... slamat...!", katanya dalam hati.


Tapi sayang lampu minyaknya jatuh kebawah...


"Wah... turun...! dan ambil kembali lampu minyak itu...", kata gurunya.


"Lakukan lagi dari awal...! tadi kamu gagal...!", kata Dewa Cahaya.


YoLang kembali berjalan diatas bentangan tali dan putaran kedua ini berhasil.


"Wah... terlalu lambat... hasilnya 28 menit... coba lagi dan kali ini lakukan agak cepat tapi fokus...!", kata sang guru sambil memberi arahan kepada muridnya.


"Baik guru...!", jawab sang murid sambil melangkah melakukan putaran ketiga.


Putaran ketiga berhasil 24 menit Putaran keempat berhasil 20 menit


Putaran kelima mulai lancar dan dengan entengnya dia melangkah melintas diatas bentangan sampai pada bentangan ketiga tiba-tiba,...


Shhuuuttt... tuk...


1 buah batu sebesar kelereng menimpuk punggungnya...


"Mmmmhhh... mmmhhhmm...", hanya suara itu yang terdengar, karena mulutnya sedang menggigit kayu.


Bentangan keempat terjadi lagi,...


Shhuuuttt... tuk...


Shhuuuttt... tuk...


Bentangan kelima sama...


Shhuuuttt... tuk...


Shhuuuttt... tuk...


Shhuuuttt... tuk...


"Bagus muridku...! kamu berhasil... besok waktumu 15 menit dan setiap bentang akan ada kelelawar darah minimal 3 ekor yang akan menyerangmu...!". kata sang guru sambil memainkan kedua alis matanya keatas kebawah.