Titisan Dewa

Titisan Dewa
Pesta Pernikahan 2


Suasana pesta langsung heboh dengan kedatangan seorang Bocah 5,6 tahun yang datang dengan menunggang kuda sendirian, memakai pakaian laksana seorang pangeran dengan jubah berwarna putih, usia memang belum genap 6 tahun tapi tampang dan postur tubuhnya seperti anak usia 12 tahun, dengan senyum sumringah dia menghampiri keempat buyutnya membungkuk hormat dan mencium telapak tangan mereka. Kemudian menuju kakek dan neneknya yang berjumlah 8 orang selanjutnya ayah dan ibunya tercinta, dia sujud dengan satu kaki dan mencium telapak tangan mereka, selanjutnya memberikan hormat menundukkan kepala kepada semua paman bibinya.


Sebelum datang ke paviliun kakek Ratong, YoLang telah menyembunyikan tingkat kekuatannya dan terlihat hanya pada tingkat Kuning Akhir dan dengan tekniknya 'Mata Cahaya' dia mengetahui semua tingkatan kekuatan mereka dansiapa yang sakit atau apa yang sedang dipikirkan oleh masing-masing yang berada didalam ruangan itu.


"YoLang...! kemarilah cucu buyutku...!", kata LinMei.


"Ya... nenek buyut...!", katanya dan berjalan menuju sang buyut.


LinMei Menepuk-nepuk bahu sang cucu buyut dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang...


"Ketampananmu mirip kakek buyutmu waktu muda dulu... jadi kamu juga harus menjadi kuat bahkan lebih kuat dan sakti dari siPendekar Belati Emas itu...! hehehe...!", goda nenek buyutnya sambil menarik sang bocah kepangkuannya.


"Haiss... yut... jangan dipangku... aku sudah besar... malu aku dilihat JieTien dan LenMa...!", kata YoLang protes.


Hahaha....


Suara gelak tawa para hadirin dalam ruangan itu...


"Wah...! cucuku tingkat kekuatanmu cepat sekali naiknya... sekarang Kuning Akhir...! sudah sama dengan murid dalam perguruan...!", kata Ratong.


Struktur dan Tingkatan Murid 'Perguruan Belati Emas'


Murid Luar : Putih Awal - Kuning Mahir


Murid Dalam : Kuning Akhir - Hijau Akhir


Murid Inti : Biru Awal - Biru Akhir


Murid Elite : Merah Awal - Merah Akhir (sudah merangkap Pelatih)


"Ahh... ini karena aku rajin latihan kek...! juga aku meditasinya dekat hutan... hehehe...", kata YoLang.


"Kamu memang jenius cucuku... itu bekas lukamu biar kakek obati nanti...!", kata Builang sang Tabib.


"Ya.. nanti kakek buatkan beberapa Pil Energi dan Pil Stamina untukmu biar tambah kuat...!", kata Roulang sang Alkemis.


"Terimakasih semuanya...!", kata YoLang.


"Paman Randang... nanti kalau mau berburu ajak aku ya...? sekalian mau latihan tangkap kijang...!", kata si Bocah.


"Baik... siapkan dirimu... 2 bulan didepan kita berburu...!", kata Randang.


"Kami juga ikut...!", kata JieTien dan LenMa bersamaan.


Hahaha...


suara tawa hadirin


"Kalian berdua... tunggu saja dirumah... siapkan bumbu daging yang enak...!", kata YoLang.


Canda dan tawa dalam ruangan paviliun keluarga Ratong dan Jamilah semakin ramai dengan kehadiran YoLang, pujian mereka kepadanya tidak membuat dia besar kepala, karena dengan pengetahuan yang dimilikinya YoLang sudah bisa bersikap untuk bagaimana menghadapi segala pujian. Ada satu prinsip yang dipelajarinya tentang 'padi semakin berisi akan semakin menunduk' karena ketika tetap menegakkan kepala kita dihadapkan dengan banyak cobaan seperti 'pohon ketika semakin tinggi akan lebih banyak angin yang menerpanya'.


Walau diusianya yang masih dibawah enam tahun YoLang sudah banyak mendapat tempaan hidup didalam latihannya, karena didalam setiap latihannya mengandung pelajaran kejiwaan seperti menahan sakit, menahan nafsu, berserah pada keinginan alam, menahan tekanan dari luar dan lainnya. Latihan tersebut selain menempa phisik tubuhnya juga menguatkan jiwanya, dengan proses penempaan yang berulang ulang akan membuat pondasi yang kokoh seperti batu karang dipinggir pantai yang setiap saat diterpa gelombang kecil sampai badai tapi tetap kokoh berdiri.


Pesta masih berlangsung para pria dewasa bersahut-sahutan dengan cawan anaknya dan wanita-wanita berkumpul di satu sisi dengan gosipan keseharian mereka, dan disisi lain dua sosok yang adalah sepasang pengantin baru terlihat mencari celah untuk segera keperaduan mereka tapi ditahan oleh seorang bocah...


Tingkatan Cincin Jiwa


Dasar - 1 \= 1 meter persegi.


Dasar - 2 \= 5 meter persegi.


Dasar - 3 \= 20 meter persegi.


Dasar - 4 \= 50 meter persegi.


Dasar - 5 \= 100 meter persegi.


Tinggi \= 1 Km.


Dewa \= 100 Km.


Surgawi \= Seluas Benua.


untuk tingkat Dewa dan Surgawi memiliki ruang khusus untuk makhluk hidup.


Cincin jiwa tingkat dasar bisa digunakan oleh para pembudidaya 'Hawa Murni' dialam Fana, cincin-cincin tersebut sudah berada dalam cincin jiwa (tingkat Surgawi) milik YoLang dari pemberian gurunya Dewa Cahaya dengan jumlah ratusan. Didalam cincinnya itu juga terdapat tumpukan koin emas dan koin platinum setinggi gunung, berbagai jenis batu, Pedang Cahaya dan berbagai jenis senjata tingkat Kuno, Dewa dan Surgawi (diatas Dewa seperti pedang cahaya) dan beberapa stel pakaiannya.


"Wah...! terimakasih nak...! kamu baik sekali cincinnya sangat bagus dan cantik...", kata Randang dan Rose.


"Ini namanya cincin jiwa paman...! bukan hanya sebagai hiasan tapi juga berfungsi sebagai tempat menyimpan barang... sebagai tanda kepemilikan teteskan darah masing-masing keatas cincin itu... kemudian untuk menggunakannya alirkan hawa murni kecincin melalui jari dimana letak cincin itu... hanya perlu fokus untuk melihat atau mengambil barang didalamnya dan untuk memasukkan barang fokuskan juga dengan barang yang akan kita masukkan kedalam cincin... cincin jiwa tingkat dasar level-3...!", kata YoLang menjelaskan kepada Ratong dan Rose.


Setelah itu dia juga memberikan kepada semua keluarga inti sama dengan yang diberikan kepada Ratong dan Rose, hanya kepada 2 anak perempuan (sepupunya) JieTien dan LenMa yang menerima cincin jiwa tingkat dasar level-2, dan khusus kepada ayah ibunya tercinta dia memberikan yang tingkat Tinggi, dan pada setiap cincin telah terisi 1 juta koin emas.


"Satu permohonanku kepada semuanya... untuk merahasiakan pemberianku ini... cukup kita saja keluarga ini yang mengetahuinya karena ini sesuai dengan pesan guruku... jika tidak nantinya akan menyulitkan bahkan membahayakan diriku...!", pinta sang Bocah.


"Baiklah cucu buyutku... dan terimakasih kamu sudah begitu baik kepada kami semua... tapi apakah isinya sama semua...? dan siapakah gurumu ini...? aku ingin mengenalnya...!", kata Surapong.


"Aku bertemu guruku 3 bulan yang lalu... ketika aku sedang mencari udang disungai dekat paviliun... katanya aku berbakat dan kemudian mengangkatku sebagai muridnya... dia seorang pengelana dari benua lain... karena dia seorang alkemis makanya dia sangat kaya... dan juga guruku tidak mau dikenali oleh siapapun kecuali keinginannya sendiri...!", jelas sang bocah tersenyum karena ngecap.


"Apa saja teknik yang sudah kau terima...? bolehkah kami melihatnya...?", kata Putong.


"Kakek buyut Surapong Hitam Mahir... nenek buyut LinMei Ungu Akhir... Kakek buyut Manlang Ungu Mahir... kakek Ratong Ungu Awal...! hehehe...", kata YoLang sambil terkekeh karena dengan teknik Mata Cahayanya dia bisa lebih dari itu, membaca pikiran mereka satu persatu juga bisa dilakukannya.


"Ehh... Adik sepupu...! kau harus ajari kami juga teknik itu...!", kata LenMa dan JieTien bersamaan.


"Beres kakak sepupuku yang cantik-cantik...". kata si Bocah.


Kehebohan demi kehebohan terjadi akibat ulah si Bocah tanpa mereka sadari malam semakin larut dan satu persatu kereta kuda keluar dari komplek Paviliun kakeknya Ratong dan nenek Jamilah juga dimana menjadi tempat tinggal pamannya yang baru menikah Randang dan Rose, mereka kembali kepaviliun mereka masing masing untuk beristirahat. Sementara PiYo, MaiLang dan YoLang yang sudah ikut naik kereta tiba dipaviliun mereka,...


"Ayah... ibu... putramu langsung pamit akan kepondok untuk lanjut latihan... dan ini untuk modal ayah ibu...!", kata sang putra sambil mengirim beberapa ratus keping Platinum kecincin ayah bundanya.


"Nak...! apa tidak istirahat dikamarmu saja dulu malam ini... jangan latihan terus... istirahat juga perlu... ingat nak... kamu masih anak-anak...!", kata MaiLang.


"Ennnmm.. baiklah ibu... ayah... malam ini putramu akan tidur dan beristirahat disini...!", kata sang putra menurut.


Mengikuti keinginan ayah bundanya YoLang langsung menuju kamarnya setelah pamitan kepada mereka, didalam kamarnya dia tidak beristirahat tapi melakukan meditasi untuk melanjutkan pemahamannya tentang pengetahuan baru didalam kepalanya agar secepatnya dia dapat menguasainya