
Pagi harinya YoLun yang ditemani paman MuDhong sudah berada di restoran hotel tempat mereka menginap, sambil berbasa basi YoLun menanyakan keberadaan sang pemilik Hotel tersebut kepada seorang pelayanan dan mengutarakan maksudnya untuk bertemu,...
"Bibi... saya YoLun dan ini paman saya MuDhong... kami yang menginap di lantai 3... apakah kami bisa bertemu dengan pemilik Hotel ini...?", tanya YoLun sopan.
"Ohh... nyonya Lun... baik akan saya sampaikan kepada tuan Alex pemilik 'Hotel Nyaman' dan Restoran ini... silahkan dinikmati hidangannya... saya akan kembali segera...", kata sang pelayan kemudian berlalu untuk menemui sang pemilik Hotel yang dipanggil sebagai tuan Alex.
"Baik terimakasih bibi...", kata YoLun.
Sambil menikmati hidangan sarapan yang disediakan pihak Hotel, YoLun dan paman MuDhong menanti kedatangan tuan Alex sang pemilik 'Hotel Nyaman'. Sementara itu YoLang yang berada didalam kamarnya sedang membuat sketsa diatas sebuah lembaran kertas berukuran besar, dia membuat peta kawasan kediaman KLan Rhu dan kelompok Sekte yang berada diarea bagian luar Hutan Bintang karena jaraknya dengan batas pinggiran Hutan hanya sejauh 5 kilometer sedangkan untuk mencapai are bagian dalam masih harus masuk sejauh 40 kilometer lagi dan area inti Hutan Bintang berada sejauh 60 sampai 70 kilometer. YoLang membuat sketsa tersebut secara rinci tempat-tempat kediaman para pemimpin KLan Rhu dan kedua Sekte tersebut, gudang-gudang penyimpanan, penjara para tawanan dan jalan menuju lokasi ruang rahasia bawah tanah serta tempat-tempat penjagaan dimana terdapat puluhan anggota kelompok itu yang berjaga.
Tidak berapa lama kemudian datang sosok pria dewasa dengan pakaian rapi dan terlihat mewah berjalan menuju meja dimana YoLun dan paman MuDhong sedang menyantap sarapan mereka, setelah sampai dengan hormat dia menyapa YoLun dan paman MuDong,...
"Maafkan saya mengganggu sarapan tuan dan nyonya... Saya Alex pemilik Restoran dan 'Hotel Nyaman' ini... bolehkah saya duduk bergabung dengan tuan dan nyonya...?", kata tuan Alex dengan sopan.
"Ahh... mari silahkan tuan Alex... kenalkan saya YoLun dan ini paman saya MuDhong... tidak apa-apa kan kalau kita berbincang sambil kami sarapan...!", kata YoLun sopan.
"Tidak masalah saya juga akan menikmati teh hijau hangat... silahkan lanjutkan sarapan tuan dan nyonya...", kata tuan Alex kemudian seorang pelayan membawakan sepoci teh hijau hangat beserta 3 buah cangkir antik yang terlihat mewah.
"Kami adalah keluarga pedagang besar... kami dari kota Duma di Daratan Atas... kami kesini dalam rangka penjajakan perluasan bisnis kami di Kota Rata ini... sebelumnya kami sudah singgah di Kota Merah dan melihat potensi bisnis disana juga sangat menjanjikan kemudian kami kesini...", kata paman MuDhong memulai perbincangan mereka.
"Wah... bagus tuan MuDhong dan nyonya YoLun berencana membuka bisnis dikota ini... sebenarnya prospek bisnis barang-barang dagangan dikota ini sangat maju... hanya saja para pedagang lagi menurun keinginan mereka untuk berdagang dan juga kurangnya para pendatang dan petualang yang ingin tinggal dan menetap disini... hal ini disebabkan sudah puluhan tahun kami para pebisnis dan pedagang mendapat banyak gangguan dan tekanan dari sebuah kelompok yang sejak dulu sudah terkenal suka berbuat seenaknya... sementara penguasa kota juga tidak mampu menghadapi mereka...", kata tuan Alex menjelaskan keadaan mereka.
"Ohh begitu...? tapi selama 3 hari kami menginap disini... kami tidak melihat terjadinya tindakan kekerasan...? apakah mereka datang dalam jangka waktu tertentu...?", tanya YoLun menggali informasi.
"Ahh... iya... bagi mereka yang membayar keamanan sebulan sekali pasti akan mendapatkan kunjungan dari kelompok itu sebulan sekali... tapi ada juga pedagang yang membayar uang keamanan setiap harinya... contohnya para pedagang dipasar... karena modal mereka yang kecil maka mereka hanya mampu membayar uang keamanan perhari...", kata tuan alex menambahkan.
"Hmm... apa mereka termasuk kelompok bandit...? berapa banyak anggota mereka...!", tanya YoLun.
"Sepengetahuan saya mereka adalah sisa-sisa anggota sebuah Klan Kuno yang sudah lama menghilang dan jumlahnya ada 20 sampai 30 orang... mereka hanya mengenalkan diri mereka dengan sebutan penjaga keamanan Kota...", kata tuan Alex melanjutkan penjelasannya.
"Banyak juga anggota mereka...! tapi tuan Alex apakah mendapat gangguan selama menjalankan bisnis diKota ini...?", tanya YoLun.
"Ya... selama saya membayar uang keamanan... mereka tidak akan mengganggu bisnis Hotel dan Restoran saya ini... hanya saja pendapatan yang sangat sedikit ada kalanya tidak akan mencukupi untuk membayar gaji para pekerja dan pelayan serta uang keamanan itu...", kata tuan Alex menambahkan.
"Hmm... saya sebenarnya sudah sejak lama ingin pindah dari kota ini... tapi sayang... tidak ada yang mau membeli properti saya... kalau tuan dan nyonya berminat...! bisa kita bicarakan gedung Hotel dan Restoran ini...", kata tuan Alex menawarkan.
"Ahh... tuan Alex serius...? berapa nilai yang tuan Alex tawarkan...?", kata YoLun menyambut tawaran tuan Alex tersebut.
"Dua tahun lalu saya membuka harga 200 juta koin emas... sekarang saya turunkan sedikit dengan nilai 180 juta koin emas... ya... hitung-hitung untuk mengembalikan modal saya...", kata tuan Alex.
"Hmm... nilai seperti itu harus saya bicarakan dengan suami saya... nah itu dia datang...", kata YoLun dan melihat sang suami sedang menuju kearah mereka.
"Ehh.... sayang...! kemarilah dan kenalkan ini tuan Alex... pemilik Restoran dan 'Hotel Nyaman' ini... tuan Alex ini suami saya YoLang...!", kata YoLun yang memperkenalkan mereka.
"Salam tuan Alex... bagaimana hari tuan...!", kata YoLang ketika duduk dan bergabung.
"Ahh... baik-baik saja tuan YoLang... silahkan sambil sarapan dulu tuan...! kami sebelumnya sudah membicarakan masalah properti saya ini... dan saya sudah menyampaikan soal nilai jual properti saya kepada istri tuan...!", kata tuan Alex kepada YoLang.
"Ohh... begitu...? hmm... baguslah jika sudah ada penawaran seperti itu... bagaimana istriku apa kamu benar-benar berniat untuk melakukan bisnis di Kota Rata ini...?", tanya YoLang kepada sang istri yang sedang memainkan drama mereka.
"Iya... saya serius suamiku... tapi nilainya cukup besar dan harus dengan persetujuanmu...! nilai penawaran dari tuan Alex sebesar 180 juta koin emas...! bagaimana...?", kata YoLun.
"Apakah sudah tidak bisa turun lagi nilainya tuan Alex...? karena kami serius dengan masalah ini...!", kata YoLang.
"Maaf tuan YoLang dan nyonya YoLun... seandainya 2 tahun lalu nilai itu saya turunkan... maka sudah sejak itu saya dan keluarga saya pindah dari Kota ini... jadi nilainya sudah seperti itu dan tidak bisa turun lagi...!", kata tuan Alex menegaskan.
"Baiklah... tapi bagaimana dengan pengurusan surat-suratnya...?", tanya YoLang.
"Ahh... kalau itu saya yang akan mengurus dan menanggung biayanya... saya hanya memerlukan identitas tuan dan nyonya saja...", kata tuan Alex.
"Baiklah... saya setuju... nanti urusan keuangan silahkan dengan istri saya...! hehehe... ", kata YoLang.
Proses transaksi jual beli berlangsung hari itu juga, dan seluruh pekerja dan pelayan masih tetap bekerja dengan tuannya yang baru. YoLang mulai melakukan renovasi terhadap gedung Hotel tersebut, lantai 3 dijadikan tempat gerbang teleportasi dan kamar-kamar para pekerja, pelayan dan anggota Pasukan Naga. Sementara itu dilantai 2 sebagian dijadikan kantor dan sebagian lagi dijadikan 2 buah kamar besar untuk kediaman YoLang dan anggota keluarganya, serta beberapa kamar untuk para perwiranya dan dilantai 1 berubah menjadi tempat Perusahaan Dagang JinLong dan Paviliun Naga Emas sementara itu Restoran yang berada disamping gedung Hotel berubah menjadi sebuah toko besar yang akan menjual berbagai macam barang dagangan. Dengan berdirinya perwakilan Perusahaan Dagang serta Paviliun Naga Emas maka bertambah lagi jaringan bisnis keluarga dan Markas Naga Emas milik YoLang di Benua Pulau Hitam.