Titisan Dewa

Titisan Dewa
Benua Pulau Merah


Perjalanan dilaut yang lama membuat beberapa anggota keluarga mulai terlihat bosan, tapi tidak dengan LoryMei, Mayang dan PingYu/YoLun mereka bertiga tetap melakukan meditasi disaat tidak melakukan hal lain yang berhubungan dengan pelayaran. YoLang mulai membuat tempat latihan dibagian buritan kapal yang tempatnya masih terlihat luas, dia membuat miniatur alat latihan penguatan tubuh dan beberapa peralatan untuk mengangkat beban dan sebuah menara meditasi yang hanya terdiri dari 2 lantai, yaitu lantai 1 yang tidak memiliki tekanan energi spiritual dan lantai 2 dengan tekanan spiritual tingkat rendah.


Setelah selesai membuat tempat latihan tersebut, YoLang melihat semangat para anggota keluarganya bangkit kembali, hal ini karena terlihat mereka dengan semangatnya berlatih dari pagi sampai sore hari ditempat latihan yang dibuat YoLang. Tidak hanya mereka saja tapi paman AmPhong dengan anggota keluarganya juga ikut melatih diri ditempat latihan itu, karena merasa sangat bermanfaat bagi tubuh dan juga meningkatkan kekuatan mereka.


Waktu terus berlalu tak terasa sudah 2 bulan mereka mengarungi lautan dan tanpa hambatan yang berarti mereka telah melewati hampir seluruh waktu perjalanan mereka menuju keBenua Pulau Merah, dan dalam waktu itu terlihat peningkatan anggota keluarga YoLang terutama keluarga Lun. Sang ayah mertua sudah meningkat kekuatannya demikian juga dengan LunGon serta istrinya AngNie dan yang lebih mengejutkan adalah peningkatan kekuatan hewan peliharaan YoLang dan istri-istrinya yaitu Rajawali Dua Alam, Jula siHitam dan Juli siPutih telah menerobos kekuatan puncak ranah Alam Tinggi/Alam Kultivator dan memasuki ranah baru yaitu ranah Dewa Tyrant-1 sedangkan kedua junior mereka yang sudah berumur 1 tahun yang diberi nama Zhu dan Zhi sudah mulai berlatih terbang, dan tiba-tiba terdengar suara seseorang dari tempat pengawas diatas tiang utama,...


"Daratan...! ada daratan...! kita sudah sampai...!",


Dengan segera semua orang yang mengikuti pelayaran itu berhamburan keluar untuk melihat apa yang dikatakan sang pengawas dari menara pengawas yang berada di tiang utama kapal, dan mereka melihat di kejauhan mulai nampak sebuah daratan besar yang ditandai dengan gunung dan perbukitan yang berjejeran. LunGon sebagai kapten kapal segera memerintahkan untuk mengurangi kecepatan kapl dengan menurunkan beberapa layar bantu dibagian depan dan belakang,...


"Turunkan juga dua layar besar...! dan kendalikan layar utama...!", kata sang kapten yang selama 2 bulan pelayaran mendapat pelatihan dan ilmu pelayaran dari paman AmPhong yang sudah berpengalaman selama 15 tahun baik berlayar maupun membuat kapal.


"Siap-siap... beberapa jam lagi kita akan merapat dipelabuhan kota 'Air Asin'...", kata sang kapten.


'Benua Pulau Merah' adalah salah satu benua yang terdekat dengan benua Pulau Hijau dengan luasnya yang hampir 2 kali lipat, benua merah hanya terdiri dari 2 daratan yaitu Daratan Atas dan Daratan Bawah. Daratan Atas berada dibagian utara benua, terdapat sebuah kerajaan besar bernama 'Kerajaan WuYang' yang berada dikota 'Nagari' sebagai ibukota kerajaan, dan juga terdapat 4 kota besar yaitu kota 'Batu' berada dibagian tenggara, kota 'Rawa' dibagian timur laut, kota 'Bening' berada dibagian barat laut dan kota 'Sompoi' yang berada dibagian barat daratan atas ini. Sedangkan daratan bawah dikuasai oleh 'Kerajaan FuYang' dan sebagai ibukota kerajaan adalah kota 'Awan' yang berada ditengah daratan bawah kemudian ada kota 'Air Asin' sebagai kota pelabuhannya dan kota 'Minyak' disebelah timur dan ada kota 'Mantul' dibagian tenggara selanjutnya disebelah barat terdapat kota 'Tude' sebagai kota nelayan karena dikota ini terdapat pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh dan dibagian barat laut terdapat kota 'Loya' sebuah kota dengan mayoritas penduduknya adalah para pedagang dan saudagar kaya yang berasal dari benua besar dan dikota Loya inilah letak dari Pelabuhan Besar benua Pulau Merah. Pelabuhan tempat dimana para saudagar kaya dan pedagang besar dari benua besar merapatkan kapal-kapal dagang mereka juga menjadi tempat masuknya para petualang dari benua lain.


Kota 'Air Asin' tempat kapal Naga Laut merapat berada dibagian timur benua pulau merah, dan menurut penuturan paman AmPhong untuk menuju tempat asalnya yaitu kota Sompoi yang berada di daratan atas membutuhkan waktu yang lama sekitar 2 bulan lebih karena harus melewati 'Hutan Besar' yang terdapat ditengah benua merah, hutan yang luasnya sepertiga dari luas pulau benua merah itu juga merupakan daerah dataran tinggi dengan 3 buah gunung tertinggi dan juga kawasan perbukitan dimana letak kota Awan sebagai kota Kerajaan FuYang berada. Hutan Besar ini juga yang membatasi daratan atas dan daratan bawah, terdapat 2 sungai besar yang mengalir dari Hutan Besar ini yaitu sungai yang pertama adalah 'Sungai Molobar' yang menuju kearah timur dan bermuara dekat kota Rawa kemudian 'Sungai Malabor' yang melewati kota Awan dan bermuara dipantai barat benua merah dekat dengan kota Tude. Jalan termudah bagi YoLang dengan kapalnya Naga Laut adalah dengan mengitari daratan bawah dengan kapal layar untuk sampai di kota Loya yang hanya membutuhkan waktu selama 20 hari, kemudian dari kota Loya menggunakan jalan lintas menuju kota Sompoi dengan menempuh waktu selama 5 hari.


"Bagaimana tuan muda...? saya menyarankan untuk melewati laut saja...! sambil mengasah ketrampilan berlayar bagi anggota keluarga tuan muda...", kata paman AmPhong kepada YoLang.


"Ya... saya juga berpikiran demikian... hmm... hanya saja saya tertarik dan ingin melihat keberadaan Hutan Besar yang paman sampaikan itu...", kata YoLang.


"Ahh... tuan muda... Hutan Besar tidak jauh dari tempat kami...! kota Sompoi berada dekat dengan pinggiran Hutan Besar... tempat kami mengambil bahan kayu untuk membuat kapal layar... yaitu pohon 'Kayu Maha Dewa' kayu terkuat sebagai bahan pembuatan kapal... hanya saja kami harus mencari yang umur pohonnya diatas 100 tahun...! dan itu sudah sulit didapati...! mungkin masih banyak tapi berada dikawasan 3 gunung tinggi yang letaknya berada di bagian dalam Hutan Besar dan untuk mencapai kawasan tersebut melewati banyak rintangan selain banyak tebing dan jurang yang dalam juga banyaknya hewan buas...!", kata paman AmPhong menjelaskan.


"Kami menggunakan kereta penarik dari lokasi dimana kami menebang pohon tersebut... kemudian membawanya kesebuah sungai kecil yang mengalir mengarah kekota Sompoi...", jelas paman AmPhong.


"Ohh... begitu...? baiklah kita lanjutkan pelayaran kita menuju kota Loya... kemudian menggunakan kereta gerbong menuju kota Sompoi...", kata YoLang.


"Ahh... tidak perlu tuan muda... kita akan langsung kekota Sompoi...! karena disana keluarga kami mempunyai dermaga sendiri... tempat kami membuat kapal layar dan bisa untuk jadi tempat berlabuh kapal 'Naga Laut' ini... hehehe...", kata paman AmPhong.


"Mmm... baiklah... kapten LunGon angkat jangkar kapal dan bersiap berlayar...!", kata YoLang.


"Siap kakak ipar...! hanya saja para wanita lagi turun dan melihat-lihat kota...! sebaiknya kita tunggu mereka...", jawab sang kapten.


"Aissshhh... dasar perempuan...! tempat mereka pasti tidak jauh dari toko pakaian dan toko perhiasan...! coba check saja kekota... pasti kalian akan menemukan mereka disana...!", kata YoLang.


"Hahaha... biasalah tuan muda para wanita memang begitu... dimana-mana pasti keinginannya sama... mempercantik diri... hehehe...", kata paman AmPhong bercanda.


"Adik Gon... sekalian saja periksa perbekalan kita... kalau ada yang kurang segera penuhi lagi...!", kata YoLang.


"Sudah kakak... tadi saya sudah meminta paman LunFai dan paman LunFei untuk membeli perbekalan tambahan...!", jawab LunGon.


"Bagus... paman AmPhong nanti temani adik Gon untuk melapor pelayaran kita selanjutnya kepada penguasa pelabuhan... sekalian mencari siapa tahu ada penumpang atau barang yang akan dikirim kekota Loya...?", kata YoLang.


"Baik tuan muda... ayo kapten kita turun dan mengurusnya...", jawab paman AmPhong sambil mengajak LunGon.