
Sinar mentari perlahan mulai menyinari Daratan Tengah, Benua Pulau Hijau, di Kota Klentang, menyadarkan seorang bocah berusia 5,6 tahun dari meditasinya sementara disudut lain dalam pondok itu sosok sang guru juga sedang bermeditasi.
YoLang turun dari pondok dan melakukan perenggangan otot kemudian mulai berlatih menyempurnakan 2 teknik Pedang Cahaya yaitu teknik Tebasan Seribu Pedang dan teknik Hujan Pedang, karena kesempurnaan dua teknik ini dengan menggunakan energi Spiritual sedangkan teknik Mata Cahaya dan Langkah Cahaya telah dia sempurnakan sebelumnya. Dengan menggunakan energi spiritualnya YoLang sudah bisa melihat semua isi didalam tubuhnya juga dia sudah bisa menggunakan cincin jiwanya makanya dia mulai berlatih dengan menggunakan Pedang Cahaya pemberian gurunya si 'Bocah Tampan' julukan sang 'Dewa Cahaya'.
Sing....sing.... Hiiiiaaaatttt.... Wuuuzzzz.... sing..... wuzzz....
Suara tebasan pedang sangat jelas terdengar karena YoLang berlatih dengan menggunakan kekuatan energi Spiritualnya,
Hujan Pedang.....!!! Hiiiiaaaatttt....... Niat Pedang........!!! Wuz... wuz... wuz... wuz...
Sing... sing... sing... sing...
Teriakan semangat YoLang berlatih dan suara desiran energi tebasan dan tusukan puluhan pedang energi.
Plok... plok... plok...
"Bagus muridku... diusiamu saat ini sudah bisa membuat energi pedang sebanyak itu...? sungguh menakjubkan... hahaha... apabila 'Kaisar Dewa' melihatnya dia akan muntah darah...!", kata sang guru.
Hal ini sangat fantastis karena Dewa Cahaya sendiri hanya bisa membuat 5 energi pedang diusia yang sama dengan YoLang dengan tingkatan Jendral Awal (sama dengan tingkat Hitam Mahir dialam fana), 2 tingkat diatas YoLang saat ini.
"Ikuti aku muridku... kita jalan-jalan melihat pemandangan...", kata sang guru.
"Baik guru...! murid mengikuti...", kata sang murid kemudian berlari menyusul gurunya yang sudah berlari menuju sungai.
"Gunakan seluruh kemampuanmu... jangan seperti keong...!", kata Dewa Cahaya.
Whhhuuuzzz...
Whhhuuuzzz...
Dua sosok melintas, melompati tembok paviliun dan menuruni bukit menuju sungai tempat dimana sebelumnya YoLang mengambil batu mereka berlari susul menyusul tapi kalau ada orang melihat mereka bukan berlari tapi terbang. Dengan kemampuannya sekarang dia sudah dapat mengimbangi gurunya tapi,...
Whhhhuuuuzzzz.....
Dewa Cahaya melesat lebih cepat lagi meninggalkan YoLang sampai selisih jaraknya 1 kilometer dan terus bertambah...
Whhhhuuuuzzzz.....
Tak mau kalah YoLang menambah kecepatannya mengejar sang guru, apa mau dikata bayangan gurunya tidak terlihat lagi dengan menggunakan teknik 'Mata Cahaya' baru dia bisa melihat gurunya sudah berada jauh melewati hutan seberang sungai dan masih terus berlari. YoLang mengejar dan menambah lagi kecepatannya, melewati sungai dan memasuki hutan menuju kearah gurunya berlari. 5 menit kemudian dia sudah berlari sejauh 10 kilometer meninggalkan sungai dan berada ditengah hutan, dia mencoba mencari arah dimana gurunya berada dengan teknik 'Mata Cahaya' namun usahanya sia-sia. Ketika dia masih terus berlari dengan kecepatan penuh dia mendengar suara...
"Terus ketimur... dan mengarah kegunung... aku tunggu dekat air terjun...!", kata pesan suara itu.
YoLang memandang kearah timur dan melihat lokasi gunung yang disebutkan gurunya, jaraknya hampir 10 kilometer dari tempat dia berdiri saat ini dan dengan segera YoLang bergegas dengan kecepatan penuh mengarah lokasi yang dimaksud gurunya. Dengan nafasnya yang kembang-kempis dan keringat bercucuran sampailah YoLang didekat air terjun dimana gurunya berada dan terlihat sedang tidur dengan santainya diatas sebuah batu datar,...
"Hmm... sudah lumayan... muridku...!", kata sang guru santai.
"Haaahhh...! napas mau putus begini cuman dibilang lumayan...? aduh mak..!", kata YoLang dalam hati.
"Baik guru...!", kata YoLang.
Whuuzz...
Dengan sekali hentakan kaki YoLang telah sampai disebuah batu dibawah air terjun dan langsung masuk ke air...
Byuuurrrr...
Shhuutt... shhuutt... Dua buah kerikil melesat menuju kepala dan leher YoLang yang sedang berendam...
Whuuzz... whuuzz...
Dengan cepat YoLang menghindar memiringkan tubuhnya kedepan dan kearah samping...
"Masukkan kepalamu kedalam air... fokus dan konsentrasilah...! bertahan sampai batas kemampuanmu didalam air...!", kata Dewa Cahaya sang guru.
20 menit kemudian
Byuuurrrr...
"Hahh... hahh... hahh...!", suara tarikan nafas satu-satu terdengar.
YoLang menyembul dari dalam air dengan nafas yang hampir habis dalam paru-parunya, tapi...
Shuutt... shuutt... shuutt...
Dengan cepat kepala itu masuk kembali kedalam air untuk menghindari timpukan kerikil dari gurunya.
30 menit kemudian Byuuurrrr...
"Hah... hah... hah...!",
dan kembali...
Shuutt... shuutt... shuutt...
Kepala itu masuk kembali kedalam air dengan cepat.
Hampir 1 jam Byuuurrrr...
"Hah... hah... hah... hah...",
"Cukup... naiklah dan duduk diatas batu itu...(menunjuk kesebuah batu datar tepat dibawah air terjun) alirkan Energi Spiritualmu dikepala dan pundakmu... kemudian bermeditasilah...!", kata sang guru sambil tidur tiduran diatas batu datar.
Disisi lain YoLang senantiasa mengikuti perintah gurunya dengan patuh.