Titisan Dewa

Titisan Dewa
Menyerang Markas Klan Pintu Dewa 2


Kedatangan paman MuDhong dan rombongannya menambah situasi lebih tenang bagi anggota 'Klan Pintu Dewa' karena mereka merasa bahwa semakin banyak tetua yang hadir bersama mereka maka keadaan mereka akan menjadi lebih aman, melihat kedatangan rombongan kedua paman Wang Yhu memulai lagi sandiwaranya...


"Ahh... tetua keempat... sudah lama aku menunggumu dikubah perlindungan kawasan danau...! mana racunnya...? persediaan kami sudah habis... makanya aku menyusul kesini bersama tetua ketiga... dan tetua kedua kenapa mengikuti kami kesini... siapa yang mendampingi anggota kita disana...?", tanya paman Wang Yhu yang sedang menyamar menjadi tetua pertama.


"Tenanglah tetua pertama... situasi disana baik-baik saja...malam begini tidak ada yang berani melintas dikawasan danau merah...! saya kesini karena ada perlu dengan leluhur... dan setelah itu akan segera kembali kekawasan danau...!", kata paman MuDhong ikut bersandiwara dihadapan tetua kelima dan anggota Klan Pintu Dewa lainnya.


"Ohh... tetua kedua tenang saja...! saya sudah memerintahkan anak buah kita untuk memanggil leluhur kesini... tetua pertama dan tetua kedua silahkan beristirahat dulu... biar aku dan tetua ketiga serta tetua keempat yang akan mengurus para penyusup...! tikus-tikus kecil seperti mereka bukan hambatan buat kami...!", kata tetua kelima yang tidak curiga.


"Ahh... baiklah...! kami pergi dulu... dan sebaiknya kalian menyisir setiap sudut perkampungan ini... mereka tidak jauh dari lokasi penjara bawah tanah...! pasti masih disekitar situ... cari dengan teliti dan jangan lewatkan satu incipun dalam pencarian kalian...!", kata paman Wang Yhu sebagai tetua pertama.


"Ayo... kita segera melakukan pencarian...", kata para anggota klan yang semuanya saat itu sedang berkumpul dibagian tengah perkampungan tersebut.


Suasana gelap malam berubah ramai dengan banyaknya lampu obor yang dibawa para anggota klan dala mencari penyusup yang telah membebaskan tawanan, sementara itu YoLang masih mengawasi sosok terkuat dalam markas klan itu yang terlihat masih sibuk meracik obat diruang Alkemis. paman MuDhong dan Wang Yhu berjalan mengarah kebagian rumah yang berukuran besar karena mereka berdua merasakan ada 2 sosok yang tingkat kekuatannya berada diatas tingkat kekuatan tetua kelima, dan disisi lain para perwira Pasukan Naga masih bersiaga menunggu saat yang tepat untuk mulai beraksi. YoLun yang mengawasi semua pergerakan yang terjadi dalam markas 'Klan Pintu Dewa' itu, dia mengirim pesan suara kepada YoLang untuk menanyakan tindakan mereka selanjutnya karena melihat sebuah kesempatan saat suasana kepanikan dalam markas masih berlangsung sehingga akan membuat mereka lebih mudah untuk melumpuhkan para anggota klan tersebut.


"Hmm... baiklah lumpuhkan yang bisa dilumpuhkan... dan segera masukkan kedalam ruang dimensi cincin jiwa...!", pesan suara yang dikirimkan YoLang juga diterima oleh semua perwira dan paman MuDhong.


Seketika secara bersamaan mereka mulai menyerang para anggota Klan Pintu Dewa tersebut, YoLun yang berada diatas atap sebuah rumah dengan kecepatan petir menyerang kelompok tetua kelima...


"Langkah Petir"


Whhuuzz... Whhuuzz... Whhuuzz...


"Hujan Amarah Petir"


Whhuuss... Whhuuss... Whhuuss...


Jdeeerrr... Jdeeerrr... Jdeeerrr...


3 orang anggota tetua kelima roboh tak bergerak bersimbah darah diatas tanah,...


"Penyusup berada disini...! serraaaanngg...!!", teriak tetua kelima yang berhasil menghindar serangan petir YoLun. Kemudian membalas dengan serangan tombaknya...


"Ilmu Tombak Dewa Merah"


Chiiiaaattt...


Whhuutt... Whhuutt... Whhuutt...


"Jarum Merah Mencari Jiwa"


Shuutt... Shuutt... Shuutt... Shuutt...


Melihat serangan tombaknya tidak mengenai sasaran sang tetua kelima kembali mengerahkan serangan senjata rahasianya berupa jarum beracun yang mengarah ketubuh YoLun.


"Langkah Petir"


Whhuuzz... Whhuuzz... Whhuuzz...


"Siluman Jari Petir"


Wreeett... Dhhuuaarr...


Wreeett... Dhhuuaarr... Aduuhhh...


Wreeett... Dhhuuaarr... Aahhkkk...


"Bajingan... setan j4l@ng... mampuslah kau...!", teriak kesakitan tetua kelima karena terkena serangan spiritual YoLun.


Karena masih memiliki kekuatan tetua kelima kembali melancarkan serangan rahasianya...


"Kabut Racun Dewa Merah"


Chhiiaattt...


Whuuusss... whuuusss... whuuusss...


Dengan tenangnya YoLun menghadapi serangan racun kabut merah itu karena dia telah menelan pil anti racun buatan YoLang yang adalah pil tingkat surgawi yang dapat menghilangkan pengaruh segala bentuk racun di Alam Kultivator ini, kemudian melihat kesempatan YoLun mengerahkan serangan spiritual pamungkasnya...


"Meteor Petir Pemusnah"


Hiiiaaattt...


Tangan kanan YoLun terlihat menggengam sambil mengarah keatas langit dan tangan kirinya menyilang didepan dada, kekuatan spiritualnya mengalir dengan deras melalui tangan kanan dan terlihat diatas langit telah membentuk sebuah awan hitam dan seketika Petir Spiritual buatan YoLun melesat turun menyambar tubuh tetua kelima...


Ddrrreeettt...


Jeedddeeerrr...


Bhhooommm...


Aarrggkkhhh...


Tanpa ampun tubuh tetua kelima hancur menjadi kabut darah terkena sambaran petir spiritual serangan dari YoLun, terlihat sebuah lobang besar berdiameter 10 meter membentuk diatas tanah bekas berdirinya tetua kelima akibat sambaran petir spiritual itu. Ditempat lain paman Wang Yhu dan paman MuDhong sudah terlibat pertarungan seru dengan masing-masing melawan para tetua lainnya mereka adalah tetua keenam dan tetua ketujuh yang keduanya berada ditingkat Kaisar Puncak, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kedua paman itu untuk segera mengakhiri pertarungan mereka karena selisih tingkat kekuatan bagai langit dan bumi. Paman MuDhong yang sudah berada ditingkat Dao-2 dan paman Wang Yhu yang sudah berada ditingkat Dao-1 dengan teknik tingkat Surgawi ciptaan YoLang, tanpa ampun mengerahkan kekuatan spiritual mereka,...


"Pedang Langit Membelah Bumi"


Hiiiaattt...


Whhuuusss...


Ayunan pedang paman Wang Yhu dari atas langit tegak lurus kebawah, sambil mengeluarkan Energi Spiritual yang besar sampai menciptakan sebuah ledakan saat mengenai tubuh tetua ketujuh...


Dhhuuaarr...


Aahkkk...


Tubuh tetua ketujuh berubah menjadi kabut darah dan meninggalkan jejak seperti saluran air dengan lebar 2 meter sepanjang lintasan Energi Bilah Pedang Spiritual yang dilayangkan oleh paman Wang Yhu, sementara itu disi lain paman MuDhong dengan teknik pamungkasnya,...


Hiiiaaattt...


Swiinngg... Swiinngg... Swiinngg...


Dhuuaarr... Dhuuaarr... Dhuuaarr...


Aarrgghhkk...


Dengan keadaan yang sama tubuh tetua keenam hancur menjadi kabut darah tak berbekas, situasi yang sama dialami oleh para perwira Pasukan Naga yang lain mereka semua menyelesaikan pertarungan mereka dengan cepat dan hanya meninggalkan bekas-bekas pertarungan serta potongan-potongan tubuh yang berserakan diatas tanah dalam kawasan markas Klan Pintu Dewa tersebut. Sosok terakhir yang sebelumnya sedang meracik Pil dalam ruang Alkemis terlihat tersadar dan melesat keluar ruangan Alkemis dan melihat kekacauan yang terjadi dalam perkampungan itu yang telah porak-poranda dan banyak potongan tubuh berserakan diatas tanah. YoLang dengan cepat keluar dari persembunyiannya dan mencegat sosok terkuat itu,...


"Siapa kamu...! kenapa menyerang markas Klan kami...?", kata sosok yang disebut sebagai leluhur itu.


"Siapa aku tidak penting...! yang terpenting siapa kalian...? mengapa berada didaratan ini dan membuat tindak kejahatan...!", kata YoLang bertanya balik.


"Brengseeekkk...! lihat yang kalian lakukan...! kediaman kami telah hancur berantakan... kalian harus membayar semua ini dengan nyawa kalian...! para tetua keluar semua... dan habisi para tikus-tikus jelek ini...!", kata sang leluhur yang belum tau situasi yang telah terjadi.


"Hahaha... berteriaklah sekuat-kuatnya orang tua...", kata YoLang.


"Bajingan...! kemana para tua bangka itu...!", katanya marah.


"Mereka telah lebih dahulu menuju alam bawah... dan mereka sedang menunggu kedatanganmu orang tua...! hehehe...", kata YoLang mengulur waktu karena sedang menyerap ingatan dan pikiran sang leluhur.


"Hei bocah jelek...! kau apakan semua anggota Klanku ini hahh...!", katanya dengan emosi yang semakin naik.


"Tidak aku apa-apakan orang tua...! mereka saja yang terlalu bernafsu untuk segera pergi ke Alam Bawah...! hehehe...", kata YoLang yang hampir selesai menyerap seluruh ingatan sang leluhur.


"Kadal lidah bengkok...! anak tidak tau tata krama... terimalah ini...!", kata leluhur itu sambil mengirimkan serangan rahasia berupa kabut beracun.


"Kabut Racun Dewa Merah"


Hhiiaattt...


Whuuusss... whuuusss... whuuusss...


Melihat serangan rahasia itu YoLang bergerak dengan kecepatan cahaya...


"Langkah Cahaya"


Whuuzz... Whuuzz... Whuuzz...


Kemudian YoLang menarik semua kabut beracun yang dikirimkan oleh leluhur tersebut dan mengumpulkannya ditelapak tangannya,...


"Cahaya Meraih Bintang"


Whhhuuuzzz...


"Nih... terima kembali racunmu...!", kata YoLang sambil mengirim serangan balik dengan racun pemiliknya disertai pukulan kekuatan spiritual...


"Meteor Menerobos Awan"


Whhhuuusss...


Bhhoommm...


"Aduhh... bajiiingaaannn...! hahh...!", kata sang leluhur yang mendapat serangan balik dari YoLang dengan racunnya sendiri. Dengan emosi yang tinggi dia menarik pedang keluar dari sarungnya.


Sriiinngg...


"Bersiaplah kau anak muda...!", kata sang leluhur melanjutkan dengan pedang terhunus.


"Ilmu Pedang Dewa Merah"


Chhiiiaaattt...


Swiinngg... Swiinngg... Swiinngg...


Dhuuaarr... Dhuuaarr... Dhuuaarr...


Dengan teknik meringankan tubuh tingkat surgawi miliknya YoLang dapat menghidari serangan pedang spiritual sang lelulur itu,...


"Langkah Cahaya"


Whhuuzzz... Whhuuzzz... Whhuuzzz...


Pedang Cahaya senjata tingkat Ilahi pemberian gurunya Dewa Cahaya yang sangat jarang digunakan YoLang akhirnya keluar dari tempat penyimpanannya, dengan suara mendengung dan memancarkan cahaya putih kemilau Pedang Cahaya segera mencari mangsa...


Srrriiinnnggg...


Whhhuuunnnggg...


"Tebasan Seribu Pedang"


Hiiiaaattt...


Dengan sekali ayunan Pedang Cahaya mengeluarkan ratusan bilah pedang spiritual menghujam tubuh sang leluhur...


Swiiinngg... Swiiinngg... Swiiinngg...


Bhhoomm... aahhk...


Bhhoomm... aahhkk...


Bhhoomm... hhooeekkhh...


Tanpa bisa menghindar dari terjangan ratusan bilah pedang spiritual leluhur Klan Pintu Dewa tersungkur diatas tanah dengan tubuh yang sudah tidak berbentuk lagi dan jiwanya telah meninggalkan raga menuju kealam bawah, YoLang segera memasukkan kembali Pedang Cahaya kedalam sarungnya dan menyimpan kembali kedalam cincin jiwanya.