
Pagi pagi sekali YoLang telah bersiap, dia menuju kedapur untuk menemui kakak Lun yang dia tahu masih berada di dalam kamarnya,...
Tok... tok... tok...
"Kakak Lun...!", kata YoLang.
Kriiieeeekkk...
"Eh... tuan muda...? mau kemana...? masih pagi sekali... sebentar saya buatkan tehnya dulu...!", jawab dan pelayan.
"Hmmm... kakak... inikah tempat tidurmu...? mmm...", guman YoLang dalam hati sambil melihat kondisi dalam kamar tidur kakak Lun-nya yang bedanya bagai langit dan bumi dengan kamar miliknya dan kamar kakek Yao, kemudian memikirkan sebuah ide...
"Ikut saya kak...!", kata YoLang sambil menarik tangan kakak Lun dan membawanya keruangan utama dimana 3 buah kamar besar dan isinya mewah berada, kemudian membuka kamar yang diperuntukan untuk kakek Yao dan membawa kakak Lun masuk.
"Mulai saat ini... kamar ini milik kakak Lun...! pindahkan semua barang kakak kekamar ini... dan ini perintah...! jadi jangan membantah...! sekarang lakukan...!", kata YoLang sambil menatap kakak Lun-nya yang terlihat wajahnya memucat, bingung dan terkejut tapi mendengar kata perintah dia segera melakukan seperti yang dikatakan YoLang.
YoLang tetap berada didalam kamar kakek Yao yang sekarang resmi menjadi kamar kakak Lun-nya, menunggu sang kakak kembali membawa barang-barangnya dan terlihat sang kakak masuk kedalam kamar membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah tas kulit kayu berisikan peralatan rias wanita yang seadanya.
"Ambil semuanya kakaaak...! kosongkan kamar belakang itu dari barang-barang yang kakak miliki...! bawa dan taruh disini semua...!", kata YoLang.
"Ini sudah semuanya tuan muda...yang tersisa disana tinggal kasur, guling, bantal dan meja kursi... kan disini juga ada...?", jawab kakak Lun yang terlihat sewot.
"Hahhh... baiklah... bereskan barang kakak dan tempatkan dalam lemari itu... setelah itu buatkan saya teh hijau hangat karena mau keluar sebentar... dan kakak jangan kemana- mana tunggu saya kembali...!", kata YoLang sambil menatap kakak Lun-nya yang melintaskan sebuah ide dikepalanya.
"Hmmm... baik tuan muda...!", jawab kakak Lun-nya kemudian membereskan barang-barangnya yang tidak seberapa dan setelahnya kedapur membuatkan teh untuk tuan mudanya.
YoLang duduk disofa ruangan tamu wismanya menunggu para pemuda yang akan mengantarnya kelokasi temuan kayu jati tua yang spesial itu, karena selain berniat memindahkan beberapa pohon jati untuk ditanam didalam dunia jiwa miliknya, juga memikirkan jika benar dibawah hutan itu terdapat tambang yang melebihi tambang emas.
"Ini tehnya tuan muda... silahkan diminum...", kata kakak Lun.
"Ahhh... terimakasih kakak...sini duduklah... temani saya minum teh...!", ajak YoLang.
"Kak... satu lagi permintaan saya... kalau hanya ada saya dan kakak... panggil saya adik atau YoLang saja... kata tuan muda kakak gunakan jika ada orang lain... dan ini perintah... jangan protes...!", kata YoLang.
"Baiklah... tu.. tu... adik Yo... saya menurut saja...!", kata kakak Lun terbata-bata karena gugup.
"Hehehe... itu baru enak saya mendengarnya... ini baru kakak saya yang cantik...!", kata sang adik Yo sambil mencolek pipi kakak Lun-nya dan sang kakak hanya tersipu malu dan wajahnya bersemu merah seperti tomat matang.
"Nah... itu mereka datang... aku pergi dulu ya kak... ingat jangan kemana-mana tunggu saya kembali... karena aku tidak akan lama...!", kata YoLang sambil meminum teh buatan kakak Lun-nya sampai habis.
"Selamat pagi tuan muda... kami siap berangkat...!", kata seorang pemuda melihat YoLang telah berdiri didepan pintu.
"Ayo pimpin jalannya...!", kata YoLang yang tak mau berlama-lama.
Kemudian mereka segera bergerak, berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan kekuatan tenaga dalam mereka sedangkan YoLang dengan teknik Langkah Cahayanya merasa seperti berjalan saja untuk mengimbangi kecepatan keempat pemuda itu, 2 jam kemudian mereka telah tiba dilokasi tersebut dan YoLang mulai mengedarkan kesadaran spiritualnya kesekeliling hutan dengan radius 1 Km dan merasakan puluhan batang pohon kayu jati yang sudah berumur diatas 80 tahun, bahkan ada 3 batang pohon yang umurnya diatas 100 tahun dan ratusan batang pohon yang masih muda. Dengan kesadaran spiritualnya dia mengetahui bahwa semua bagian inti kayu telah berisi cairan logam baja karbon yang akan menyatu dengan inti kayu, kemudian mengalihkan kesadaran spiritualnya kebawah sambil menempelkan tangannya ke tanah dan terus memeriksa sampai kedalaman 100 meter dan melihat kandungan batu hitam mengkilat menyebar dibawah tanah.
"hmmm... harta terpendam hehehe...!", gumamnya dalam hati.
"Coba kalian cari beberapa bibit pohon untuk ditanam disekitar danau... saya akan melihat disana...!", kata YoLang kepada keempat pemuda itu.
"Baik tuan muda...!", kata mereka serempak.
Kemudian YoLang menuju lokasi dimana dia merasakan keberadaan 3 pohon kayu jati yang umurnya sudah diatas 100 tahun.
Setelah menemukan pohon-pohon itu segera YoLang memindahkan ketiga pohon besar itu beserta puluhan pohon-pohon muda disekitarnya kedalam hutan yang berada didalam dunia jiwanya.
Kreeeekkkk... kreeeeekkkk...
Whuuuuzzzz.... whuuuuzzzz....
Setelah itu dia menandai lokasi hutan itu seluas1 km, dan segera memanggil keempat pemuda tadi.
"Bagaimana... dapat berapa bibit pohon...?", tanya YoLang.
"Lumayan tuan... semuanya ada 129 pohon", kata seorang pemuda.
"Baik kita kembali... dan kalian sering-sering lewati hutan ini sekaligus patroli... agar jangan ada orang luar desa yang mengetahui... kemudian segera tanam bibit-bibit pohon itu disekitar danau...!", perintah YoLang kepada mereka.
"Baik tuan muda... sebaiknya kami langsung kearah danau untuk menanam bibit pohon ini... dan tuan muda kembali kewisma untuk siap-siap menghadiri acara siang nanti...!", kata seorang pemuda.
"Ya... benar... silahkan kalian jalan dulu... aku mau membuat tanda dihutan ini...!", kata YoLang sambil menyuruh mereka jalan duluan, agar mereka tidak melihat dia menggunakan teknik teleportasinya dan setelah mereka menjauh...
Whuuuuzzzz...
Tok... tok... tok...
"Kakak...!", kata YoLang.
"Kriieeekkk...
"Ehhh... tuan mu... adik Yo... sudah selesai urusannya...?", kata kakak Lun yang masih terlihat gugup memanggil dengan kata adik.
"Belum... masih ada lagi satu urusan penting... pejamkan mata kakak jangan buka mata sebelum saya perintahkan...!", kata YoLang kemudian memegang tangan kakak Lun yang sudah menutup mata...
Whuuuuzzzz...
Seketika mereka berdua telah berada diujung kota Banto.
"Buka matanya kak...!", kata YoLang dengan masih menggandeng tangan kakak Lun.
"Ehhh... kita dikota adik Yo...? untuk apa...?", tanya sang kakak bingung.
"Ikuti saja adikmu ini kakak jangan banyak protes...!", kata YoLang dengan terus berjalan memasuki gerbang kota Banto menuju toko pakaian dan tak lupa membayar 5 koin emas kepada penjaga gerbang kota.
Kemudian mereka berdua memasuki toko pakaian yang agak besar, kakak Lun yang sepanjang jalan digandeng YoLang hanya menuruti langkah kaki sang adik.
"Selamat datang ditoko kami tuan muda... nona...!", sambut pelayan toko.
"Tolong tunjukkan pakaian yang cocok untuk kakakku ini...!", kata YoLang.
"Baik mari ikuti saya nona...!", kata sang pelayan.
Kakak Lun hanya menurut saja kemudian memilih pakaian yang cocok dengannya mulai pakaian sederhana sampai pakaian mewah diambilnya masing-masing 1 stel, tanpa sepengetahuannya YoLang telah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan masing-masing jenis dari pakaian sederhana, pakaian tidur, pakaian hangat, pakaian mewah untuk pesta serta pakaian yang dilengkapi dengan jubah serta perlengkapan pakaian wanita lainnya semua masing-masing 10 stel dan berlainan warna kemudian memasukkan semuanya kedalam cincin jiwa tingkat dasar-5 yang sudah disiapkan YoLang.
Setelah membayar mereka berdua pindah ketoko perhiasan dan YoLang membelikan beberapa perhiasan mewah untuk kakak Lun-nya, setelah merasa cukup mereka kembali ke wisma dengan teknik teleportasi.
"Ayo kakak... pakai yang terbaik kita segera ketempat pesta rakyat...!", kata YoLang kepada kakak Lun.
"Baiklah adik Yo...!", kata kakak Lun sambil masuk kekamar barunya.
YoLang sendiri berganti dengan pakaiannya yang terbaik, baju berjubah warna putih dibagian leher terbungkus dengan bulu angsa putih dan dijubah bagian belakang terdapat sulaman seekor naga emas yang sedang terbang. kemudian keluar kamar menunggu kakak Lun-nya siap. Kakak Lun keluar kamar dengan pakaian bagus tapi dari pandangan YoLang pakaiannya biasa-biasa saja, maka YoLang segera mengeluarkan sebuah cincin jiwa dasar-5 yang berisi puluhan stel pakaian kemudian memasang cincin itu kejari kakak Lun-nya.
"Kak... ini cincin jiwa namanya... bisa untuk menyimpan barang... nah didalam cincin ada pakaian yang mirip dengan yang aku pakai ini... jadi kakak masuk lagi dan pakai pakaian itu...!", kata YoLang kemudian mengajarkan kakak Lun cara menggunakan cincin jiwa.
"Adik Yoooo...!", teriakan kakak Lun dari dalam kamarnya.
"Kenapa kakak...!", kata YoLang seketika kaget mendengar teriakan kakak Lun dan tanpa permisi langsung memasuki kamar kakaknya yang sedang berganti pakaian dan melihat kakaknya yang terlihat kaget dan bingung karena melihat isi cincin jiwa pemberian YoLang.
"Ahhh... saya kira kakak pingsan... hehehe... itu hadiah buat kakak... nah ambil pakaian yang mirip dengan yang aku lalu pakai... biar kelihatan kita kompak sebagai kakak dan adik...!", kata YoLang sambil menatap kakak Lun yang masih bingung dan tanpa sadar dengan keadaanya.
"Ini semua buat aku...? adik Yo...?", kata kakak Lun masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya didalam cincin jiwa pemberian YoLang kemudian mendekat dan memeluk YoLang sambil berterimakasih dengan mengecup pipi sang adik.
"hehehe... ya sudah cepat ganti pakaiannya... nanti kita terlambat kak...!", kata YoLang yang merasa terkejut juga mendapat perlakuan sang kakak yang tiba-tiba dan seketika mereka tersadar...
"Ahhhhh... adik cepat tutup matamu...!", kata kakak Lun-nya tersadar bahwa dia dalam keadaan sedang mau berganti pakaian, dan dia melihat YoLang menutup matanya ditambah dengan kedua telapak tangan menutup mukanya dan dengan cepat dia memakai dalaman yang sesuai kemudian membungkus tubuhnya dengan pakaian mewah warna putih yang diinginkan YoLang untuk dipakainya.
"Sudah kak... lama sekali...!", kata YoLang tak sabar untuk membuka matanya.
"Su... sudaaaah... huhhhh...!", kata kakak Lun terlihat kesal.
"Waaah... kakak berubah jadi tuan putri... pakai perhiasannya kak... biar tambah cantiknya... dan kakak tidak boleh jauh-jauh dari samping saya... itu perintah...!", kata YoLang tegas sambil terpukau menatap kecantikan kakaknya, rambut panjang, kulit putih seperti giok, muka lonjong, leher jenjangnya terbungkus bulu angsa putih dan yang membuat YoLang terpesona dengan lesung dipipinya jika tersenyum.
"Kak... kakak seperti Putri...!", kata YoLang yang masih terpana dan tanpa sadar dia mendekat kearah kakak Lun-nya dan membalas perbuatan kakaknya tadi kepadanya.
"Ehhh... adik...! hmmm... terima kasih sudah memperhatikan kakak...!", kata kakak Lun kemudian membalas pelukan dan ciuman sang adik dengan penuh kasih dan merasa ada getaran aneh didadanya.
"Sama-sama kak... ayo kita minum teh hangat sambil menunggu jemputan...!", kata YoLang kemudian melepas pelukannya dan sekali lagi mencium kakak Lun-nya yang terlihat sedang memejamkan mata.
"Ayo... Putri Utara... kita kepesta...!", ajak YoLang sambil menggandeng tangan sang kakak keluar kamar.