
Hari masih pagi setelah membersihkan diri YoLang berkumpul dengan ayah ibunya diruang makan, walau masih berusia 5 tahun tapi sikap dan tutur katanya melebihi anak-anak seusianya.
"Nak... bagaimana latihanmu...?", tanya PiYo.
"Lumayan ayah... sudah 3 teknik yang aku kuasai... teknik pedang dari nenek buyut... teknik belati dari kakek buyut dan teknik meditasi dari guru...!", kata YoLang dengan polosnya.
"Gurumu...? guru yang mana nak...? setahu ayah... kakek...nenek dan buyut-buyutmu serta paman pamanmu tidak pernah mengangkatmu sebagai murid... walau mereka mengajarkan beberapa teknik kepadamu...!", kata PiYo.
"Kata guru ayah sudah tau... dan sudah pernah bertemu dengan ayah...!", kata bocah itu.
"Siapa namanya... mungkin ayah sudah lupa...", kata PiYo melanjutkan.
"siBocah Tampan nama guruku ayah...! dan guruku itu yang memberikan kalung dan cincin ini...!", kata YoLang sambil menunjukkan kedua artefak yang dipakainya.
Tersentak dan kaget PiYo mendengar sebuah nama yang selama ini berulang-ulang muncul dalam ingatannya, demikian juga halnya dengan MaiLang.
"Hmm... mereka sudah datang istriku...!", kata PiYo sambil menatap MaiLang.
"Kapan kau bertemu dengan gurumu itu nak...?", kata MaiLang menyelidik.
"Semalam bu...! ketika aku mulai bermeditasi...!", kata YoLang.
"Tenanglah istriku...! mereka tau caranya untuk melatih putra kita... karena mereka sendiri yang memilihnya...!", kata PiYo menenangkan sang istri kemudian menatap anaknya yang sedang makan dalam-dalam.
"Dan kau anakku...! berlatihlah dengan giat dan bersungguh-sungguh...! tapi juga jangan terlalu memaksakan diri... ikuti semua yang dikatakan oleh guru-gurumu dan yang terpenting harus kamu ingat selalu bahwa jangan pernah menceritakan kepada siapapun... kecuali ayah ibumu ini perihal guru-gurumu... latihan atau kejadian-kejadian aneh yang kau alami...!", kata PiYo dengan tegas.
"Baik ayah... ibu...! aku akan mengingat semua perkataan ayah dan ibu... dan aku ada satu permintaan ayah... ibu...!", kata YoLang.
"Apa permintaanmu itu nak...?", kata pasangan suami istri itu bersamaan.
"Dari yang kupelajari... untuk mendapatkan hasil meditasi yang baik maka sebaiknya meditasi dilakukan berada dekat dengan sumber elemen-elemen dasar yang ada di sekitar kita... seperti tanah, air, pepohonan dan cahaya matahari atau bulan... untuk itu aku menginginkan sebuah pondok diatas pohon yang berada disamping kolam...!", kata YoLang menjelaskan keinginannya.
"Baiklah nak... kami akan segera memanggil para tukang dan pekerja untuk membuatkannya untukmu...!", kata PiYo.
"Terima kasih ayah... ibu...! eeennn... ohh iya... hari ini aku sudah berjanji kepada kakek buyut untuk bertemu di perpustakaan Perguruan apa aku dibolehkan ke sana...?", kata YoLang.
"Boleh...! segeralah kau bersiap kau akan pergi bersama ayah kePerguruan...", kata PiYo.
Di perguruan YoLang bertemu dengan para buyutnya yang juga sebagai pelindung perguruan, Surapong dan LinMei buyut sebelah ayahnya serta ManLang dan Lenbi buyutnya sebelah ibu. Setelah meminjam beberapa kitab teknik tangan kosong, YoLang menjumpai para buyutnya yang sedang berkumpul di ruang Aula Perguruan. YoLang mendapat nasehat dan mendengarkan cerita dan kisah petualangan para buyutnya juga pada kesempatan itu YoLang meminta sebuah pedang kayu untuk dipakainya dalam latihan sebab senjata 'Pedang Cahaya' pemberian guru tampan belum bisa dipakainya.
Tiga hari berlalu masa pertumbuhan seorang anak kecil usia 5 tahun dipenuhi dengan latihan ilmu beladiri dan berbagai ilmu pengetahuan, berbeda dengan anak-anak seusianya yang sedang senang-senangnya menikmati masa bermain dengan sepuasnya. Sebuah pondok kayu yang berdiri diatas sokongan 4 batang pohon besar telah selesai dibangun atas permintaan seorang bocah berusia 5 tahun, nampak didalam seorang anak kecil duduk diam dengan posisi lotus sedang fokus memahami berbagai ingatan dari dalam kepalanya. Dengan penuh semangat dan gembira YoLang memulai proses meditasi ditempat barunya di sebuah pondok yang berada diatas pohon, dia hanya akan turun jika akan berlatih penguatan tubuh, tulang dan otot dilapangan latihan atau ada keperluan di paviliun ayah dan ibunya.