Titisan Dewa

Titisan Dewa
Menemukan Keluarga Yang Hilang


YoLang dan YoLun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengelilingi daratan utara tersebut dari atas langit, selain luasnya yang tidak terlalu besar juga karena kekuatan Jula yang sudah bertambah sehingga semakin cepat dia mengantar tuan dan nyonya-nya berkeliling,...


"Hmm... tidak ada sesuatu yang menarik didaerah ini suamiku...! apa sebaiknya kita menyusul saudariku dan adik ipar...?", tanya sang istri.


"Kamu benar sayang...! ayo Jula... segera susul Juli...!", kata YoLang mengarahkan Jula untuk terbang mengarah ke selatan.


Dengan jangkauan kesadaran spiritualnya yang luas hingga mencapai 100 kilometer YoLang bisa merasakan keberadaan semua makhluk hidup yang berada dibawah mereka, dan dia juga bisa merasakan pancaran jenis aura-aura dari tubuh setiap orang yang dirasakannya. Aura hitam yang menandakan adanya sifat jahat dan keinginan membunuh atau sudah banyak membunuh, aura merah menandakan orang memiliki sifat pemarah dan arogan dan memiliki kekuatan yang besar dan ada juga aura berwarna hijau menandakan seseorang yang berkepribadian yang baik, sopan dan halus tutur katanya kemudian tubuh yang mengeluarkan aura berwarna putih yang sangat jarang ditemukan karena orang-orang beraura seperti ini adalah orang-orang yang sudah dan sedang menyucikan diri dari segala perbuatan duniawi aktivitas mereka sehari-hari hanya bermeditasi. Ada juga pancaran aura berwarna kelabu yang menandakan orang tersebut sudah lama menderita kelemahan tubuh atau sakit berat dan sulit untuk disembuhkan, dasar-dasar pengetahuan itulah yang dipakai YoLang untuk menentukan seseorang bisa untuk dijadikan sebagai anggota keluarga atau bawahan untuk mengikutinya.


YoLang telah mengirim pesan spiritual kepada Mayang dan LoryMei agar mereka menyusuri kawasan pinggiran daratan atau pantai sementara dia akan berkeliling bagian tengah daratan dimana terdapat hamparan hutan yang sudah tandus karena pohon-pohonnya telah ditebang dan dijadikan perahu atau rumah tempat tinggal, dan beberapa saat kemudian YoLun tersentak dari lamunannya karena merasakan sebuah aura yang terasa dekat dengan pribadinya,...


"Suamiku kearah sana...! aku merasakan ada sesuatu yang dekat dengan diriku disana...!", kata sang istri sambil menunjuk kearah samping kanan mereka.


"Baik sayang...! hmm... sepertinya ada seseorang yang sedang sakit keras disana...! ayo Jula percepat...!", kata YoLang.


Whhuusss...


Kemudian mereka berputar-putar diatas sebuah pemukiman kecil yang berjumlah 18 buah rumah tinggal yang sederhana dan adanya keberadaan sosok-sosok manusia yang mendiami pemukiman itu sejumlah 25 orang, kemudian mereka turun dan segera mendatangi sebuah kediaman sederhana dimana terdapat sosok yang dirasakan oleh YoLun sangat dekat dengannya...


"Disini...!", kata YoLun setengah berbisik kepada sang suami.


"Hmm... masuk saja...! aku merasakan ada seorang wanita dewasa yang sedang terbaring sakit didalamnya...!", kata YoLang ikut berbisik.


"Baik mari kita masuk...!", kata YoLun.


Tok... tok... tok...


"Ada siapa diluar ya...?", suara seorang pria dari dalam.


"Permisi...? salam paman...! kami sedang tersesat... bolehkah kami menumpang...?", kata YoLun yang masih diluar dan belum dibukakan pintu.


Krriiieeekkk...


"Hmm... kalian siapa...? dari mana malam-malam begini...?", tanya seorang pria tua yang membukakan pintu.


"Maaf paman...! kami lagi mencari sumber air bersih... tapi kami tersesat sampai kesini...!", jawab YoLun.


"Hmm... masuklah...! dan silahkan duduk...", kata sosok pria itu.


"Maaf paman...! nama saya PingYu dan ini suami saya YoLang... kami dari dalam perjalanan ke benua besar untuk mencari sanak keluarga dan leluhur keluarga kami disana...!", kata YoLun memulai pembicaraan mereka.


"Hehh...! PingYu...? mmm... berapa usiamu sekarang...? tanya sosok pria dewasa itu.


"Maaf paman...! umur saya 19 tahun dan keluarga saya bermarga Lun...! ayah saya LunPing...!", kata YoLun/PingYu menjelaskan.


"Hahh... dimana ayahmu LunPing...? apakah dia masih hidup...? aku ini pamannya Lun Wei...! astaga...! kamu si Lun kecil...? pantas wajahmu mirip ShingYu... di...dimana mereka nak...?", kata Lun Wei terkejut sekaligus senang atas pertemuan itu.


Whuuuzzz...


YoLang yang sudah mengirimkan pesan suara kedalam dunia jiwa dimana sang ayah mertua sedang bermeditasi didalam Istana Naga Emas agar bersiap ditarik keluar karena ada sesuatu yang penting, dan kemudian dihadapan mereka LunPing sudah berdiri dan menatap sosok didepannya,...


"Ahh... paman Wei...! akhirnya kami menemukan kalian disini...!", kata LunPing kemudian mendapatkan pamannya itu.


"Astaga LunPing...! aku tidak menyangka kalian masih hidup...! ahh... duduklah dulu nanti kita akan bicara...! aku bangunkan dulu bibimu AngYue...! dia sedang tidak enak badan dan sedang ditemani sepupumu LunYue...!", kata LunWei kemudian masuk kedalam kamar.


"Akhirnya kita menemukan sebagian dari mereka...!", kata YoLun senang.


Beberapa saat kemudian keluar 3 sosok dari dalam kamar dan terlihat seseorang wanita tua yang dalam keadaan tubuh yang lemah dan sedang digandeng oleh seorang wanita dewasa seumuran LunPing, kemudian mereka duduk saling memperkenalkan diri dan mulai berbagi cerita,...


"Saudara sepupuku LunDa dan keluarganya tinggal disebelah rumah ini...? LunYue... kamu panggilkan pamanmu Lunda kesini...! juga bawa suami dan anakmu...!", kata LunWei yang adalah adik dari kakeknya LunXiao


keluarga kakek LunWei adalah adik dari kakek LunXiao yang telah pergi keBenua Besar sebelum terjadinya petaka 15 tahun lalu, sedangkan kakek LunDa adalah sepupu kakek LunXiao, 2 keluarga ini berada di kota Arung untuk mengurusi bisnis pengiriman dan penerimaan barang dari benua besar untuk diperdagangkan di daratan utara tempat keluarga LunPing tapi mendapat musibah yang diakibatkan oleh Assosiasi Matahari Merah. Beberapa saat kemudian berdatangan kakek LunDa dan istrinya AngFei dan anak mereka yang sudah berkeluarga yaitu LunAng dan istrinya YinYin, kemudian LunYue datang bersama suaminya ChaoMing dan anak mereka CaoYue, pertemuan yang tidak disangka ini membuat mereka senang dan juga bersedih setelah mendengar ada beberapa anggota keluarga mereka yang menjadi korban pada saat penyerangan oleh anggota Assosiasi Matahari Merah 15 tahun yang lalu.


"Hahh... kejahatan mereka sudah tak terampuni...! benar-benar biadab....! saat kejadian itu kami melarikan diri membawa semua harta keluarga kita...! sampai dibenua pulau merah dan mulai berdagang disana... tapi akhirnya diketahui dan kembali dikejar oleh mereka sampai kami terdampar didaratan ini...!", kata LunDa menceritakan kisah perjalanan hidup mereka.


"Sudahlah...! sekarang ini paman berdua bersama semua anggota keluarga sebaiknya ikut dengan kami...! menantuku YoLang sudah membuat pemukiman ditepi pantai dan juga memiliki sebuah kapal layar yang akan membawa kita keBenua Besar...!", kata LunPing.


"Ohh... begitu...? baguslah...! kita tidak susah-susah lagi mencari tumpangan kesana...! harta kami sudah habis hanya untuk mencari tumpangan untuk kebenua besar dan selalu gagal oleh para perompak dan bajak laut...!", kata LunWei.


"Ayo bersiap...! aku akan segera memindahkan kita semua ke pemukiman yang kami buat dipinggir pantai...!", kata YoLang setelah dia mengobati nenek AngYue yang menderita penyakit paru-paru.


Setelah mengumpulkan sisa-sisa harta mereka dan memberitahukan kepergian mereka kepada orang-orang dipemukiman itu, YoLang memindahkan mereka semua kepemukiman yang dibuatnya bersama YoLun, Mayang dan LoryMei. Ketika hari sudah pagi YoLang dan ketiga gadis kembali melanjutkan pekerjaan mereka dibantu dengan LunPing dan keluarga lainya yang menyiapkan perabotan rumah, YoLang sudah pada tahap akhir pembuatan dermaganya dengan membuat lantai dermaga dari potongan-potongan papan kayu yang dia ambil dari hutan didalam dunia jiwanya. Setelah menyelesaikan pembuatan dermaga dan 5 buah rumah berukuran besar YoLang mengirim LoryMei dengan Juli untuk menyusul kapal Naga Laut dan membawa mereka ketempat pemukiman, dan Dia melanjutkan membuat tembok perlindungan yang kokoh disekeliling area pemukiman mereka.