Titisan Dewa

Titisan Dewa
Rencana keSelatan


Enam bulan telah berlalu dan tepat hari ini usia YoLang genap 9 tahun, LoryMei 6 tahun dan Mayang 5 tahun. Tingkat kekuatan YoLang bertambah 2 tahap dan saat ini dia berada di tingkat Holy Tyrant tahap-4, sedangkan LoryMei dan Mayang sama-sama di tingkat Nirwana Akhir dan untuk kedua Rajawali karena mendapatkan sumberdaya yang rutin dari YoLang selama periode ini kenaikan tingkat kekuatan mereka cukup drastis yaitu 2 tingkat dalam 6 bulan ini dan sekarang kedua Rajawali itu berada di tingkat Nirwana Awal.


"Jula... Juli... anak kalian terlihat sehat... tenang saja persiapan udang sungai untuk makanan mereka banyak...", kata YoLang melihat sepasang anak Rajawali yang baru menetas 2 minggu yang lalu dan Warna bulunya juga sama mengikuti warna bulu kedua induknya.


Khaakkk... khaakkk...


Sementara itu dibawah pondok tepatnya di lapangan latihan terdengar dentingan suara pedang beradu,...


Ting... ting.. traaang... triiing


Hiiiaattt... tring... tring...


Hiaaaat... triiiing... ting... traaang...


Teriakan semangat dan suara kedua bilah pedang beradu sambil memercikkan api dari Mayang dan LoryMei yang sedang berlatih, tiada kata lelah dan beristirahat, kekuatan kedua gadis kecil ini telah melebihi kekuatan YoLang saat umurnya sama dengan mereka.


"Sudah... cukup... bersihkan diri kalian dan setelah itu lanjutkan latihan penguatan pondasi tubuh dan kekuatan jiwa...", teriak YoLang dari atas pondok Rajawali.


"Iya kak..." jawab keduanya sambil pergi menuju pondok mereka.


Demikian juga YoLang setelah selesai dengan para Rajawali dia kembali ke pondoknya untuk membersihkan diri, didalam pondok dia kembali mulai berpikir untuk mengajak kedua gadis kecil itu berburu dihutan agar mereka mendapat pengalaman bertarung tapi dia mengingat bahwa siPutih yang sedang mengurus anak-anaknya yang masih kecil baru berumur 14 hari,...


"Apakah lebih baik aku menghubungi guru...? hmm... ahh... tidak aku harus bisa sendiri...!", dia bergumam dalam hati.


YoLang sebenarnya mendapat ide untuk mengajak kedua gadis kecil itu berburu kehutan untuk mendapatkan pengalaman atau ke alam tinggi bersama para Rajawali selain untuk mencari pengalaman juga sekaligus mereka bisa menerima Pembaptisan Petir karena sudah mencapai kekuatan puncak Alam Fana, hanya saja untuk pergi ke Alam Tinggi/Alam Kultivator dia belum bisa, karena untuk menggunakan teknik teleportasi antar alam seperti gurunya dia harus sudah berada di puncak Alam Dewa yaitu tingkat True God sedangkan untuk berpindah tempat dialam Fana sudah dapat dia lakukan hanya saja dia belum pernah menggunakannya karena dia lebih suka berjalan, berlari atau menggunakan teknik meringankan tubuhnya untuk mengasah kemampuannya serta menambah pengalamannya.


Akhirnya YoLang memutuskan untuk berpetualang kedaratan Selatan, untuk itu dia akan bertanya kepada buyutnya Surapong dan LinMei yang punya pengalaman didaerah daratan selatan. YoLang segera menuju kepaviliun kakek Putong dimana buyutnya Surapong dan LinMei tinggal, sedangkan kakek Putong dan nenek Muning mendiami gedung Walikota karena saat ini dia menjabat sebagai Walikota kota Klentang. Hari sudah gelap tapi sosok anak muda itu memacu kudanya menuju paviliun dimana buyutnya tinggal dan sesampainya disana dia menitipkan kudanya kepada penjaga dan masuk kedalam paviliun.


"Salam kakek buyutku... nenek buyut yang cantik...", sapa YoLang hormat dan mendekat kemudian mencium kedua telapak tangan buyutnya.


"Eh... YoLang...! angin apa yang membawamu kemari...? hehehe... sibocah gerhana sudah berubah jadi sosok anak muda sekarang...", sambut kakek buyutnya Surapong.


"Ahh... kebetulan kamu jarang-jarang kesini nak... ayo kita makan malam bersama... itu sudah siap...", sela nenek buyutnya LinMei.


Bertiga mereka menikmati makan malam sambil berbincang ringan sekedar melepas kerinduan kedua buyutnya kepada YoLang,


"Nak... lama tidak bertemu... aku sudah tidak bisa melihat tingkat kekuatanmu sekarang...!", kata Surapong membuka pembicaraan dimeja makan.


"Sudah dipuncak kek... hanya aku sembunyikan dengan teknik", kata YoLang.


"Mmm... seharusnya aku masih bisa melihat tingkatmu kalau tingkatanmu dipuncak... kan hanya selisih dua tahap denganku... ini kakek lihatnya hanya jurang yang dalam...?", kata Surapong.


"Puncak Alam Tinggi kek... hehehe...", kata YoLang.


"Hah...? Saint Puncak...?", terkejut kedua buyutnya mendengar, seandainya mereka tau sang cucu buyut sudah berada dua tingkat diatas itu mungkin seketika mereka akan pingsan.


"Kamu memang anak yang diberkati cucuku... ingat pergunakan kekuatanmu dengan bijak... jangan pernah menindas orang lain...!", pesan nenek buyutnya LinMei.


"Aku akan mendengar petuah kakek dan nenek buyut...", kata YoLang.


Mereka telah selesai dengan acara makan malamnya tapi tidak beranjak dan masih dengan perbincangan keadaan keluarga, kemudian YoLang menceritakan kisah petualangannya ke daratan utara, bertemu Anbin, bibi Maya serta putrinya Mayang dan cerita tentang desa YaoYo, kemudian dia mengungkapkan rencananya berpetualang kedaratan selatan. Nenek buyutnya sangat antusias mendengar rencana cucu buyutnya berencana keselatan, kemudian LinMei menceritakan keadaan didaratan selatan yang diketahuinya karena dia berasal dari sana, dan pertemuan dengan suaminya Surapong juga berawal didaratan selatan.


Daratan Selatan adalah daratan terluas di benua Pulau Hijau ini, memiliki satu kerajaan kecil bernama Kerajaan Mola dengan pusat kerajaan berada di Kota Wui, disana juga terdapat beberapa kota yaitu 2 kota besar dan 2 kota kecil dengan puluhan desa yang kesemuanya berada dibawah pemerintahan Kerajaan Mola. Kota Arung salah satu kota terbesar di daratan selatan setelah Kota Kerajaan berada disebelah barat yang juga sebagai kota Pelabuhan tempat para pedagang dan Petualang/Pendekar dari benua lain berdatangan, kemudian Kota Nipah berada disebelah selatan terkenal dengan kota penghasil ikan karena disana tempatnya para nelayan. 2 kota kecil lainnya yaitu Kota Bagu dekat dengan Hutan Mogabon hutan terbesar di benua Pulau Hijau dan Kota Polak yang berada dekat dengan perbatasan daratan tengah.


"Hehehe... cucuku... kalau kau kesana sebut saja namaku... pasti mereka gemetar mendengarnya... hehehe...", kata Surapong dengan sombongnya.


"Nak... nenek juga ingin ikut keselatan... sudah puluhan tahun tidak bertemu keluarga nenek disana...! bagaimana suamiku...?", kata LinMei sambil minta persetujuan Surapong suaminya.


"Hmmm... bagus juga... kapan rencanamu kesana cucuku...?", tanya Surapong.


"Secepatnya kek... menunggu LoryMei dan Mayang selesai dengan latihan tertutupnya...!", kata YoLang.


"Oh iya kakek... nenek... ini Pil 'Balik Bumi' untuk meningkatkan kekuatan kakek dan nenek sampai tingkat puncak... dan ini Pil tingkat Legenda hanya khusus untuk keluarga kita saja...", kata YoLang sambil memberikan masing-masing 1 botol giok berisi 10 butir pil.


"Ahh... cucu yang berbakti... terimakasih cucuku...", kata Surapong.


Malam telah larut dan YoLang berpamitan kepada kedua buyutnya untuk pulang, setelah mendengar kisah tentang daratan selatan dari nenek buyutnya LinMei seakan menambah semangatnya untuk segera berpetualang kesana, berbagai ide dan rencana kembali berputar didalam kepalanya,...


"Hmmm... sebulan sepertinya sudah cukup bagi kedua Rajawali junior... ah... nanti saja", gumam YoLang dalam hati sambil memacu kudanya menuju paviliun kediaman keluarganya.


Setibanya di paviliun dia bertemu ayah dan ibunya yang masih duduk diruangan tengah,


"Salam ayah ibu...", sapa YoLang.


"Dari mana kamu nak...?", tanya MaiLang.


"Dari rumah kakek buyut Surapong... ada perlu sedikit...", jawab sang putra.


"Itu adikmu dan Mayang bagaimana...? apa mereka sudah menguasai pemberian guru-gurumu...? ", tanya PiYo.


"Mereka masih berlatih dengan keras ayah... ibu... tenang saja ada aku yang mengawasi mereka...?", kata YoLang selanjutnya.


"Ahh... baiklah... tugasmu menjaga mereka dengan baik...!", kata PiYo dengan tegas.


"Baik ayah... ibu... aku pamit kepondok dulu mau meditasi disana...!", kata YoLang kemudian berlalu menuju pondoknya yang berada dibelakang paviliun keluarga berjarak sekitar 200 meter.


Mendekati pondok YoLang mengedarkan kesadaran spiritualnya memeriksa keberadaan adiknya dan Mayang yang terlihat sedang bermeditasi kemudian memeriksa keadaan disekitar pondok dengan jarak jangkauan seluas 5 kilometer, setelah dia merasa semuanya dalam keadaan aman dia masuk kedalam pondok untuk bermeditasi. Belum 5 menit dia melakukan meditasi dia mendengar suara dari pondok para Rajawali,


Khhaaakkk... Bhuummm...


Khhaaakkk... Bhuummm...


Bergegas dia keluar kemudian dengan menggunakan tali dia memanjat naik menuju pondok diatas pohon,...


"Selamat Jula... Juli... kalian berdua naik lagi 1 tahap... bagus... bagus...", kata YoLang senang karena kedua Rajawali Dua Alam itu naik tingkat kekuatannya sekarang berada di tingkat Nirwana Mahir.


"Ini... makanlah... kemudian telan juga pil stamina ini... terus istirahat...!", kata YoLang sambil memberikan 2 potong daging dan pil stamina masing-masing 2 butir kepada kedua Rajawali tersebut kemudian memeriksa dua ekor anak Rajawali kecil yang bersembunyi dibawah perut siPutih.


Khaaakkk...


Khaaakkk... (mengucapkan terimakasih kepada tuannya)


Setelah itu YoLang kembali kepondoknya untuk melanjutkan meditasinya yang tertunda sambil dia berpikir untuk secepatnya meningkatkan kekuatan kedua Rajawali Dua Alam tersebut untuk sampai ke tingkat Tyrant (Tingkatan awal Alam Dewa), Agar mereka bertiga bisa bersama-sama pergi ke Alam Dewa untuk menerima Kesengsaraan Petir atau Pembaptisan Kekuatan Alam Tinggi sebagai pertanda mereka telah melampaui Puncak Kekuatan Alam tinggi dan memasuki tahapan awal kekuatan Alam Dewa.


Sedangkan untuk Mayang dan adiknya akan dia bawa sendiri ke Alam Tinggi untuk menerima kesengsaraan Petir saat kekuatannya sudah di tahap puncak Alam Dewa yaitu tingkat True God karena di tingkat itulah dia sudah bisa menggunakan teknik Teleportasi antar Alam.