
Setelah selesai menyerap inti hewan buas dan menstabilkan energi mereka, keempat sosok pria dewasa itu bangun dari meditasinya, PiYo, Tulong dan Bua sekarang berada ditingkat Coklat Awal sedangkan Randang berada ditingkat Coklat Mahir.
"Selamat ayah... dan paman bertiga... sekarang semua sudah ditingkat Coklat...!", kata YoLang.
"Ahh... terimakasih putraku ini juga karena inti meteor dan inti hewan buas pemberianmu itu...", kata PiYo.
"Oh... iya Ayah... Paman... aku sudah berburu dihutan selama dua hari ini...!", kata YoLang sambil mengeluarkan tumpukan bangkai hewan buas dan inti hewan dari dalam cincin jiwanya.
"Wah... kamu berpesta sendiri nak membantai hewan-hewan ini... tapi yang itu lain...? Ular apa itu nak...?", kata paman Randang sambil menunjuk seekor ular berwarna kuning.
"Ini hewan siluman tingkat rendah... dan intinya aku simpan buat ibu nantinya... sedangkan yang lain silahkan buat paman bertiga... juga masih ada hewan hidup dalam cincinku...", kata YoLang menjelaskan sambil menyerahkan puluhan inti dan bangkai hewan buas.
"Baiklah... nak... biar semua inti hewan buas ini untuk keluarga besar kita... dagingnya saja yang akan dijual di pasar kota (Kota Klentang yang dulunya berstatus Desa) karena harganya lumayan...", kata Tulong.
"Untuk hari ini aku bermaksud melihat-lihat inti hutan... ayah dan ketiga paman carilah hewan buas tingkat 7 keatas karena hanya ditingkatan itu hewan buas memiliki inti hewan...!", kata YoLang.
"Selain itu tanaman herbal juga perlu... bagaimana kalau aku ikut kamu nak...!", kata Bua.
"Boleh... jadi paman Bua ikut aku keinti hutan terlarang... kemudian ayah bersama paman Randang dan paman Tulong ke area dalam...", kata YoLang.
Berangkatlah mereka dengan dua kelompok, kelompok ayahnya berburu hewan buas tingkat 7 sampai 9 juga mengumpulkan tanaman herbal kemudian YoLang dan pamannya Bua ke bagian area inti/hutan terlarang. Hal ini dilakukan karena tanaman herbal banyak juga terdapat di area inti hutan sedangkan yang mengerti banyak soal tanaman herbal adalah pamannya Bua.
Menuju area inti YoLang menyesuaikan kecepatan berlarinya dengan pamannya Bua, dan 1 jam kemudian sampailah mereka berdua dipinggiran area inti, YoLang mulai mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk mencari lokasi hewan buas atau tanaman yang memancarkan energi, cahaya ataupun bau yang pekat (tanaman herbal).
"Ikut saya paman...! ada sesuatu disana...", kata YoLang sambil menunjuk arah kanan depan.
"Pimpin jalannya nak...!", kata Bua sambil melihat kekiri dan kekanan mencari keberadaan tanaman herbal.
"Ini paman...!", kata YoLang sambil menunjuk lumut yang menempel disebuah batang pohon besar.
"Auuw... herbal langka...! ini namanya 'Lumut Embun Es'... bahan utama untuk membuat Pil Obat penyambung tulang... hahaha... beruntung kita mendapatkannya...!", kata paman Bua dengan gembira.
"Ahhh... itu juga 'Jamur Darah'... wah... banyak sekali herbal langka disini...!", kata paman Bua selanjutnya.
"Baiklah paman fokus melihat tanaman herbal dan aku dengan hewan buas, bagaimana...?", kata YoLang.
"Ya itu lebih bagus... ayo jalan...!", kata Bua setelah mengambil dua herbal langka tersebut.
Bergegas mereka menuju lokasi hewan buas setelah YoLang merasakan keberadaan hewan hewan tersebut, sementara ditempat lain PiYo, Randang dan Tulong berhasil menemukan beberapa ekor hewan buas tingkat-7 dan banyak tanaman herbal. Dilokasi Bua dan YoLang berada saat ini dua ekor serigala hewan buas tingkat-9, tanpa berlama lama dengan 2 kali tebasan dua ekor serigala itu tergeletak ditanah.
"Kamu lanjut saja nak... biar paman yang mengumpulkan inti dan bangkai hewan buas itu... ", kata paman Bua.
"Baiklah paman...!", kata si bocah.
Sambil berjalan diikuti paman Bua dari belakang, mereka menuju kearea lebih dalam dari hutan dan mendapati dinding tebing membentang sepanjang bukit didepan mereka.
"Hati-hati paman... jangan jauh dariku didalam gua itu ada beberapa hewan siluman tingkat menengah...!", kata YoLang.
"Wah... bahaya nak...! hewan siluman tingkat menengah sangat kuat apa kita mampu menanganinya...?", kata paman Bua dengan gelisah.
"Tenang paman... panen inti hewan buas sudah berada didepan mata...!" kata YoLang sambil memainkan alis matanya keatas dan kebawah.
Perlahan mereka memasuki gua tempat hewan siluman berada dan bau amis kotoran hewan tercium oleh mereka berdua, sesaat nampak didepan mereka 4 ekor serigala darah yang gigi taring bagian atas keluar sepanjang 10 centimeter dan menghadang YoLang dan pamannya Bua,
Grrrrr... grrrrr... grrrrr... grrrr...
"Nanti bantu aku paman...! bunuh serigala yang sekarat...!", kata YoLang sambil mengeluarkan Pedang Cahayanya.
"Langkah Cahaya"
Hiaaatttt...
Whuuzzz... whuuzzz....
Chraasss... nguuiikkk...
Chraasss... nguuiikkk...
Chraasss... chraasss...
4 ekor serigala darah tumbang oleh kerjasama mereka berdua, kemudian pamannya Bua mengumpulkan dan memasukkan bangkai hewan siluman kedalam cincin jiwa dan YoLang terus memasuki dalam gua yang semakin gelap karena semakin jauh dari mulut gua dan dia melihat dinding dan dilangit langit gua seperti lampu berkelap-kelip menyerupai kunang kunang, yang ternyata adalah tanaman herbal 'Lumut Embun Es'.
"Nak... kamu lanjut kedalam biar paman yang mengambil lumut embun es itu...", kata Bua
"Oke paman...!", kata YoLang sambil berjalan terus memasuki kedalam gua.
Dengan kekuatan spiritual elemen apinya dia membuat obor penerangan sambil melangkah masuk kedalam gua, karena dia masih merasakan aura hewan siluman didalamnya dan sampailah dia diujung gua yang ruangannya agak luas dimana terdapat seekor ular besar berwarna putih dan bersisik dengan 2 tanduk dikepalanya sedang melindungi sebuah benda seperti bola bercahaya.
Siluman Ular Putih yang sedang melindungi inti hewan siluman yang ternyata adalah inti dari pasangannya yang telah tewas, karena terlihat juga disekitar ular itu terdapat kulit ular lain yang bersisik persis sama dengan kulit sosok ular yang berjaga itu. (sisik kulit siluman ular sangat kuat dan bagus untuk bahan baju pelindung/pakaian perang)
Zzzzzzzz... zzzzzzz
"Langkah Cahaya"...
Dengan pedang cahaya ditangan YoLang mulai beraksi,...
Tring... tring... trang...
zzzzzz... zzzzzz... zzzzzz
Trang... tring... trang...
Beberapa tebasan pedang YoLang mendarat di tubuh ular itu tapi tidak dapat membuat tubuh sang ular tergores,
Hiaaattt....
Whuuuzzz... tring... trang...
Plaaakkk... bhuukkk...
"Aduuuh... Brruuukkk..."
Terkena satu sambaran ekor ular membuat YoLang terpental ke dinding gua, dia merasakan nyeri dibagian punggungnya dan cepat berdiri kemudian dengan Langkah Cahaya dia menghindar karena serangan patukan ular disertai semburan racun sedang mengarah kepadanya.
Zzzzzzz... zzzzzzz...
Croooottt.....
Kehabisan akal YoLang menghadapi siluman ular itu karena senjatanya tidak mempan untuk menggores apalagi memotong tubuh sang ular!, sambil terus menghindar dia memikirkan teknik yang bisa melumpuhkan ular tersebut.
"Elemen Es"
Bruuuussshhhh...
Kabut Es keluar dari telapak tangannya dan membungkus tubuh siluman ular putih tersebut sampai membeku kemudian sambil melompat dia menuju kearah kepala ular dan,
Hiiaaaattttt...
"Cahaya Menggenggam Bulan"
Sekilas keluar sinar putih dari telapak tangannya dan sinar putih tersebut memasuki tubuh sang ular, dengan posisi kaki YoLang kearah langit langit gua dia mengarah kebawah sambil tangannya menempel dikepala siluman ular putih kemudian dia menyerap energi kekuatan sang ular, sampai tubuh sang ular terlihat hampir kering kemudian terkulai lemas dan tewas. Pamannya Bua menyaksikan pertarungan si bocah sampai terkagum kagum.
"Kau hebat nak... paman bangga memiliki keponakan sepertimu...!", kata Bua.
"Terima kasih paman... itu kebetulan saja karena ularnya dalam kondisi terluka mungkin habis berkelahi dengan hewan siluman yang lain...", kata YoLang merendah.
"Oh iya paman... sisik ular itu diambil juga karena bagus untuk bahan pembuatan baju pelindung...!", kata YoLang.
Perburuan dalam gua siluman membuat YoLang dan paman Bua keluar gua dengan senyum bahagia karena selain mendapat 2 buah inti hewan siluman tingkat menengah juga sisik sisiknya mereka juga mendapatkan banyak tanaman herbal langka.