
Tiada kata untuk bersenang-senang yang ada berlatih dan bermeditasi dan hanya berhenti jika sudah tidak mampu lagi menggerakkan kaki atau tangannya, 2 bulan telah berlalu semua pengetahuan dari dalam kepalanya telah dipahaminya dengan sempurna sedangkan untuk 2 teknik terakhir baru dikuasai 60% dan selama kurun waktu 2 bulan itu YoLang hanya mengalami kenaikan 1 tahap tingkatan dan sekarang dia berada pada tingkat Hitam Mahir atau tingkat Jendral Awal jika di Alam Tinggi/Kultivator.
Duduk bersila dibawah guyuran air terjun sosok bocah dengan khusuknya menyerap energi Bumi dan Langit (energi Alam), sudah sejak pagi hari dia melakukannya dan melanjutkan kebawah air dan posisi ini dia lakukan dari sore sampai tengah malam secara berulang-ulang selama seminggu ini.
"Hahh... sedikit lagi... sebaiknya aku kembali kepondok...!", katanya dalam hati.
Whhuuuzzz...
Dengan menggunakan energi murninya dia melesat dengan cepat berlari menuju pondoknya, tiba dipondok dia langsung membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan yang baru kemudian menuju paviliun untuk menyiapkan beberapa hal. Karena besok YoLang bersama ayahnya dan ketiga pamannya akan berburu di Hutan Tembo (perbatasan daratan tengah dan utara), sesampainya dipaviliun dia menemui ayah bundanya...
"Salam... ayah ibu...!", katanya sambil mendekat dan mencium kedua telapak tangan orangtuanya.
"Bagaimana latihanmu nak...? eennnn... besok apa kamu jadi ikut...?", kata ayahnya.
"Suamiku... biarkan putra kita istirahat dulu... sepertinya dia kelelahan...", sanggah sang istri melihat putranya mendapat pertanyaan beruntun dari suaminya.
"Ya... aku baik baik saja ayah... ibu... dan besok tentu aku ikut berburu... sekalian mencari pengalaman... oh iya... ayah... aku membutuhkan alat tulis...!", kata YoLang.
"Ada diruangan baca... carilah disana...!", kata ayahnya.
Dia menuju ruang perpustakaan, YoLang berencana menulis beberapa teknik untuk kedua orangtuanya, karena dia mendapatkan ide disela-sela meditasinya. YoLang memikirkan masalah tingkat kekuatan ayah bundanya hingga mendorongnya untuk membuat beberapa teknik sederhana, berdasarkan teknik yang dimilikinya dan sudah dikuasainya. Didalam ruang perpustakaan YoLang mulai menulis teknik pertama yang dia namakan "Getaran Langit Bumi", teknik ini adalah gabungan dari teknik 'Pusaran Cahaya' dan 'Cahaya Menggenggam Bulan', teknik tingkat Dewa miliknya yang diberikan oleh gurunya Dewa Cahaya kemudian dia sederhanakan agar lebih mudah dipelajari oleh kedua orangtuanya. Teknik sederhana ciptaannya ini khusus sebagai teknik menyerap energi Alam, menyerap energi inti sebuah benda/inti hewan buas serta teknik untuk membangkitkan titik meridian yang belum terbuka.
Tingkat Teknik (Jurus)
- Tingkat Dasar
- Tingkat Lanjut
- Tingkat Bumi
- Tingkat Langit
- Tingkat Dewa
- Tingkat Kuno...
Teknik kedua adalah 'Teknik Mata Bintang' turunan atau teknik sederhana dari teknik 'Mata Cahaya' fungsinya sama hanya tanpa teknik membaca pikiran dan jangkauan penglihatan tidak sejauh teknik Mata Cahaya dan kedua teknik ini berada di tingkat Langit karena turunan dari teknik tingkat Dewa. Kedua teknik tersebut dibuatnya beberapa salinan karena dia berencana untuk memberikan kedua teknik ciptaannya untuk seluruh keluarga inti.
"Ayah... ibu... ini ada 2 teknik tingkat langit yang berguna untuk ayah dan ibu... juga sudah ada salinannya silahkan ayah berikan kepada keluarga besar kita yang membutuhkan...!", kata YoLang kemudian menuju kamar dan beristirahat.
Pagi harinya terlihat 5 orang penunggang Kuda yang sedang memacu kudanya dengan cepat menuju 'Hutan Tembo', terlihat ringkas pembawaan para penunggang kuda tersebut karena seluruh barang bawaan mereka sudah berada dalam cincin jiwa, perjalanan tidak sampai sehari karena beban bawaan kuda hanya penunggangnya saja tidak seperti sebelumnya punggung kuda bergelantungan keranjang bekal dan perlengkapan berburu. 14 jam kemudian mereka tiba ditepi hutan, sebelumnya tidak kurang dari 24 jam. Hari sudah gelap dan PiYo mengarahkan rombongannya menuju tempat biasa, karena ditempat itu sudah berdiri pondok perburuan mereka. Setelah sampai di pondok perburuan,...
"Saudara Randang dan Bua... carilah kayu bakar... dan kau putraku bantulah pamanmu Tulong untuk membersihkan pondok... biarkan ayah yang akan mengatur perbekalan...", kata Piyo memberikan instruksi.
"Baik komandan...! baik ayah...!", jawab mereka serempak dan segera bergerak sesuai instruksi.
Mengelilingi api unggun ditengah hutan, kelima sosok pemburu dan diantaranya terdapat seorang anak kecil, mereka sedang menyantap makan malam bekal bawaan dari rumah. Langit penuh dengan Bintang sesekali suara burung malam terdengar, sang bocah mengedarkan energi spiritualnya sejauh 10 kilometer untuk melihat keberadaan hewan/hewan buas dan dia menemukan beberapa babi hutan, burung dan kucing hutan. Tapi satu yang menarik perhatiannya yaitu sebuah tonjolan baru yang berada diarah timur sejauh 6 kilometer dari tempat mereka.
"Ayah dan paman bertiga... sebaiknya pelajarilah teknik yang kuberikan biar cepat naik tingkat... karena aku liat pondasi ayah dan paman bertiga sangat kuat dan kokoh... untuk naik beberapa tingkat tidak ada masalah...!", kata YoLang sang bocah.
"Ayah dan pamanmu sudah sepakat untuk mulai memahami teknik itu malam ini... nanti kamu beristirahat saja...!", kata ayahnya.
"Baik ayah... tapi sebelumnya aku mau memeriksa sekeliling pondok ini siapa tau ada hewan buas...!", kata sang bocah.
"Iya... tapi jangan jauh jauh masuk kedalam hutan berbahaya disana...!", kata paman Randang.
YoLang berlari dengan cepat menhauhi pondok berburu dan setelah tidak terlihat oleh ayah dan pamannya dia melesat,...
Whuuuuzzzz...
Secepat kilat dia menuju lokasi tonjolan batu yang dirasakannya, tak sampai semenit dia melihat dan mulai mengamati tonjolan batu tersebut. Dia meraba-raba permukaan batu kemudian mengedarkan energi spiritualnya kearah batu dan melihat kedalam bagian batu yang tertanam, besarnya kurang lebih seperti pondoknya yang diatas pohon dan menurut pengetahuannya batu tersebut adalah batu meteor yaitu pecahan sebuah bintang di luar angkasa dan terlempar ke benua ini. Batu meteor bagus untuk bahan pembuatan senjata tingkat langit atau legenda tergantung tingkat keahlian seorang master penempa, dan ditengah bongkahan meteor besar itu terdapat inti meteor berupa cairan bening memancarkan energi kekuatan yang sangat besar dan kuat.
"Hmm... rejeki buat ayah dan ketiga paman...!", katanya dalam hati.
Tanpa berpikir lama dia mengerahkan kekuatan energi spiritualnya,...
"Cahaya Meraih Bintang"
Derrrtttt... deerrrttt... deerrrttt...
Brruuuaaaakkkk....
Tanah bergetar dan sesaat kemudian sebuah bongkahan batu hitam mengkilat terangkat dari dalam tanah meninggalkan lobang besar disampingnya,...
Whuuuzzzzzz...
Seketika bongkahan sebesar pondok itu menghilang masuk kedalam cincin jiwa dan setelah itu dia kembali melesat menuju tempat ayah dan ketiga pamannya berada, YoLang mendekat kearah empat sosok yang sedang mengelilingi api unggun itu dan terlihat mereka sedang berusaha memahami teknik pemberiannya. Tidak mau mengganggu YoLang beranjak dan masuk kedalam pondok perburuan mereka, dia tidak tidur beristirahat tapi melakukan meditasi sambil mengedarkan energi spiritualnya untuk mendeteksi keberadaan hewan-hewan hutan disekitarnya sekaligus untuk berjaga-jaga dari serangan hewan buas.
Pagi menjelang suara burung dan hewan hutan sahut menyahut, YoLang keluar dari dalam pondok dan melihat empat sosok pria dewasa masih fokus dengan meditasinya. YoLang mendekat mengumpulkan bara api bekas api unggun semalam, menyiapkan sarapan pagi dengan memanggang beberapa potong daging rusa dan beberapa saat kemudian 4 sosok itu membuka matanya sambil merenggangkan otot-otot mereka,
"Ayah... paman semua... bagaimana...? apakah teknik yang kuberikan mudah dipahami...?", kata si bocah.
"Nak... ini teknik tingkat langit... kami belum sepenuhnya memahami teknik ini... baru sebatas penyerapan energi yang kami kuasai... sabarlah... kami akan berusaha...!", kata PiYo ayahnya.
"Baik ayah... kalau begitu mari kita sarapan dulu... mumpung masih panas...!", katanya sambil memikirkan sesuatu.
"Hmm... kalau begitu ayah dan ketiga paman sehabis sarapan sebaiknya melanjutkan memahami teknik itu... biar berburunya kita tunda sampai besok...! bagaimana...?", kata YoLang.
Karena mereka mengingat betapa pentingnya teknik tersebut jadi keempatnya mengiyakan anjuran sang bocah, YoLang berencana keempatnya tetap melakukan penguasaan teknik sementara dia yang akan melakukan perburuan. Setelah sarapan kembali terlihat empat sosok tersebut membuka tumpukan kertas yang terikat rapih oleh benang sutra berisikan teknik sederhana ciptaan YoLang.
Gerakan kedua telapak tangan terlihat sambil mengatur pernapasan keempat sosok pria dewasa itu mulai fokus dengan meditasinya, berulang-ulang mereka melakukan kegiatan tersebut sampai pada hari ketiga keempatnya telah menguasai teknik tersebut dan mulai menyerap energi alam disekitarnya. YoLang melihat bahwa mereka mulai menyerap energi maka dia langsung mengeluarkan inti batu meteor yang sudah dia keluarkan dari bongkahan besar batu meteor yang ditemukannya, kemudian meletakkan Inti Batu Meteor itu ditengah-tengah mereka.