Titisan Dewa

Titisan Dewa
Menandai Benua Pulau Merah


Dua hari kemudian kapal layar Naga Laut terlihat telah mengembangkan ketiga Layar utamanya dan mulai bergerak keluar dari dermaga pelabuhan kota Air Asin, dengan komando sang kapten kapal LunGon mereka kembali berlayar mengelilingi pinggiran daratan bawah benua pulau merah. Pelayaran kali ini kapal Naga Laut mengangkut banyak barang dagangan para pedagang dan semua kamar penuh dengan para penumpang yang akan menuju kota Loya, YoLang sangat senang karena mendapat muatan barang dan penumpang dikapalnya dan berharap sang Naga Laut akan semakin dikenal dibenua pulau merah sehingga dapat mendatangkan keuntungan buat anggota keluarganya yang mengelola usaha pelayaran tersebut.


Dengan harta yang dimilikinya saat ini YoLang bisa saja membuat lagi beberapa kapal layar untuk tambahan armadanya, tapi dia masih berpikir untuk lebih fokus pada petualangannya serta peningkatan kekuatan semua anggota keluarga yang ikut bersamanya dalam petualangan ini. YoLang juga merencanakan untuk meningkatkan kemampuan kapal Naga Laut dengan membuat tempat para pendayung dikedua sisi kapal, jumlah pendayung yang dia rencanakan dimasing-masing sisi kapal berjumlah 20 orang. Dia juga sudah berniat untuk membuat beberapa meriam bola api dari bahan logam yang dia miliki didalam dunia jiwa, demikian juga dengan badan kapal akan dia lapisi dengan logam besi baja hitam yang sangat keras dan kuat.


Dengan bantuan paman AmPhong serta anggota keluarganya dia merasa yakin bahwa rencanannya itu akan terwujud. Demikian juga dengan tambahan-tambahan tersebut YoLang meyakini bahwa kapal Naga Laut bisa mengarungi Samudera dan menuju Benua Besar, dan bisa menantang badai maupun menghadapi para bajak laut ditengah samudera. Ditengah pelayaran mereka dia mulai mendiskusikan rencananya dengan paman AmPhong,...


"Paman... untuk mengerjakan tambahan bagian bawah kapal yang saya sampaikan sebelumnya berapa lama...? dan apakah bahan ditempat paman tersedia...?", tanya YoLang.


"Hmm... kalau untuk menambah ruangan untuk tempat para pendayung tidak membutuhkan waktu yang lama tuan muda... kita hanya membuka dinding kapal kemudian memasang ting-tiang penyanggah lalu membuat tempat para pendayung... sedangkan untuk melapisi badan kapal dengan bahan besi baja...? saya tidak dapat memprediksi lama pengerjaannya...! karena untuk membuat dinding badan kapal dari bahan logam adalah sesuatu yang baru bagi kami... karena kami semua hanya pandai membuat perahu yang dari bahan kayu...?", kata paman AmPhong menjelaskan.


"Paman... sebenarnya prinsip pembuatannya sama saja... hanya berbeda bahannya dari kayu...! menjadi besi...!, dan untuk proses pemasangan dan penyambungan bagian-bagian dinding kapal tersebut yang dari bahan besi baja akan saya bantu bersama keluarga saya...! saya hanya butuh bentuk dan ukurannya saja...! bagaimana...?", kata YoLang.


"Ohh... begitu?... baiklah... saya bisa mengerti...? nanti sesampainya kita didermaga pembuatan kapal akan kita diskusikan lebih lanjut...", kata paman AmPhong.


"Baik paman... saya kembali kekamar dulu...!", kata YoLang kemudian berlalu.


Didalam kamarnya YoLang kembali membuka gambar-gambar konstruksi kapal dan dengan pengetahuan yang dia miliki, ia mulai membuat sketsa bagian-bagian badan kapal yang akan dilapisi dengan bahan logam. Hal ini dilakukannya agar setibanya mereka ditempat paman AmPhong, dia tinggal membutuhkan ukuran dan bentuknya saja kemudian mulai membuatnya didalam dunia jiwa dimana bahan-bahan logam yang berlimpah berada. Sudah 10 hari kapal layar Naga Laut melintasi pinggiran benua Pulau Merah bagian selatan dan beberapa jam lagi mereka akan mendekati pantai kota Tude, YoLang yang ketika sampai di benua Pulau Merah baru menandai pelabuhan kota Asin didalam ingatannya, maka dari itu dalam pelayaran mereka menuju kota Loya dia telah menyempatkan diri untuk terbang bersama Jula siHitam untuk terbang dari kapal menuju daratan dan melihat dari ketinggian suasana serta keadaan kota Mantul dan sekitarnya kemudian menandai beberapa lokasi dalam ingatannya. Hal ini juga akan dia lakukan ketika akan melewati kota Tude, tapi kali ini dia mengajak sang istri dan calon istrinya untuk memantau kota Tude dan sekitarnya dari langit.


"Istriku tolong kamu panggilkan Mayang... aku akan mengajak kalian berdua jalan-jalan...! kita akan terbang ke daratan melihat pemandangan dari langit...! eenmm...?", kata YoLang kepada sang istri yang terlihat hanya berbaring ditempat tidur dengan tatapan menggoda.


"Wuuahh... bagus... seharusnya kamu mengajak kami berdua setiap ada waktu sayang...! tunggulah disini aku akan segera membawa adik Mayang kemari...!", kata YoLun begitu antusias mendengar perkataan sang suami kemudian berlalu untuk menemui Mayang yang saat ini sedang bersama ibunya Maya dikamar mereka dan beberapa saat kemudian YoLun dan Mayang datang,...


"Yeayyy... ayo kak...! kata kakak Lun kita akan terbang kedaratan...?", kata si calon istri yang terlihat senang sambil bergelayut disisi YoLang.


"Iya... aku sengaja mengajak kalian berdua... biar kita memiliki waktu untuk bersama sayang...!", kata sang suami kepada kedua istrinya, walaupun Mayang baru merupakan status karena masih belum mencukupi umurnya.


"Ayo bersiap... kenakan pakaian hangat kalian...! karena cuaca diluar sangat dingin apalagi malam begini...!", kata YoLang kemudian mengeluarkan Jula siHitam.


Whhuuuzzz...


"Jula... ayo kita terbang mengitari kota didaratan dan sekitarnya... aku mau menandai beberapa lokasi...!", kata YoLang kemudian mengajak kedua istrinya yang sudah mengenakan pakaian hangat mereka keluar dari kamar dan menuju kepinggir kapal.


Suara kepakan sayap sang Rajawali Dua Alam mengangkat 3 sosok diatas punggungnya keudara, Mayang duduk dibagian depan dan YoLun ditengah sedangkan YoLang duduk dibagian belakang. Beberapa saat kemudian mereka telah berada diatas Langit daratan bawah benua pulau merah dan dengan perlahan Jula terbang membawa mereka bertiga menuju keatas langit kota Tude, nampak wajah ceria dari kedua gadis yang duduk didepan YoLang. Mereka merasa senang bisa bersama dengan sang kekasih.


"Bagaimana perasaan kalian berdua...?", tanya YoLang kepada keduanya.


"Aku sangat senang kak...! bisa bersama kakak Lun dan kamu calon suamiku...! Ehh... kakak harus adil... kalau kakak Lun dipeluk seperti itu...! aku juga harus... hehehe...!", kata Mayang sambil menarik tangan YoLang membawa kedalam pelukannya.


"Hmm... baiklah... agar supaya adil begini...", kata YoLang kemudian mengangkat YoLun dan mendudukkannya diatas pangkuan pahanya sebelah kanan dan selanjutnya menarik Mayang dan membawanya diatas paha sebelah kiri kemudian melingkarkan tangannya dikedua pinggang kekasihnya itu.


"Nah... bagaimana...? sudah adil bukan...?", tanya YoLang kepada keduanya dan terlihat kedua kekasihnya bergelayut manja disisinya sambil kepala mereka bersandar didadanya yang bidang.


"Yeayy... kak... aku merasa nyaman kalau begini... enmm...? cchuupp...!", kata Mayang kemudian mencuri sebuah ciuman dipipi YoLang.


"Sabarlah sayang... tunggu 2 tahun lagi kamu sudah bisa tidur bersamaku...! selayaknya kita sebagai suami istri... enmm...?", kata Yolang mesra kepada Mayang, sementara itu terlihat YoLun memandang kedua pasangan itu sambil tersenyum dan berfantasi liar membayangkan bagaimana kalau mereka bertiga tidur bersama dimasa depan.


"Adik May... kamu tenanglah... suami kita ini pasti akan memberikan yang terbaik buat kita...!", kata YoLun sambil membisikkan sesuatu kepada Mayang dan menunjuk lengan sebatas telapak tangan Mayang.


"Haahhh... astaga besar sekali...! mmm... terus kak... apa itu muat kalau dengan punyaku...?", kata Mayang yang terkejut mendengar bisikan YoLun.


"Hmmm... kalian berdua sedang membicarakan apa...? lebih baik pegangan yang erat...! agar tidak jatuh kebawah...!", kata YoLang menengahi pembicaraan kedua istrinya itu.


"Suamiku... kamu perhatikan saja tempat yang akan kau tandai... kami istri-istrimu lagi membicarakan masalah perempuan... para pria tidak usah mencampurinya... hehehe... adik nanti saja kita bicarakan dikamar...!", kata YoLun sambil mengeratkan pelukannya karena mulai merasa dingin.


Jula sudah berada diatas langit kota tude mengitari kota itu sampai pinggiran hutan disekitar kota, YoLang yang berada diatas punggungnya terlihat sedang fokus menandai beberapa tempat yang mudah diingatnya. 20 Menit mereka berputar-putar diatas langit kota Tude dan sekitarnya kemudian atas perintah tuannya sang Rajawali perlahan bergerak kembali kearah dimana kapal Naga Laut sedang berlayar.


"Jula terbanglah perlahan...! biarkan kedua nyonyamu ini menikmati pemandangan dibawah...!", kata YoLang sambil mengeratkan pelukannya dikedua pinggang istri-istrinya.


Khaaakkk...


Jula siHitam kemudian mulai terbang secara perlahan, menunjukkan kepatuhannya atas perintah sang tuan. Dan YoLun dan Mayang yang sedang duduk diatas pangkuan sang suami terlihat senang menikmati pemandangan kota Tude dimalam hari yang dipenuhi dengan lampu-lampu penerangan, mereka berdua tak henti-hentinya berdecak kagum dengan apa yang mereka lihat dan sambil merasakan pelukan hangat yang diberikan sang suami tercinta.