Titisan Dewa

Titisan Dewa
Cerita Anbin


Kamar penginapan murah terlihat mewah untuk ukuran sebuah penginapan karena terlihat sebanding dengan sebuah kamar VIP di sebuah hotel demikian juga dengan taripnya. Dalam pikiran YoLang mencermati keadaan, jika ini hanya untuk menghindari pajak yang tinggi karena kalau hanya penginapan murah pajaknya pasti kecil.


Malam tiba, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian YoLang keluar dari kamar penginapan untuk melihat-lihat situasi kota, melihat sebuah toko pakaian dan tertarik dengan jenis pakaian yang dijual,


"Selamat datang di toko pakaian kami tuan muda...", kata seorang pelayan.


"Kak... pakaian yang ini berapa harganya...?, tanya YoLang.


"Yang itu murah adik ganteng... ada yang digantung didalam... kualitasnya yang terbaik dari bulu domba... silahkan dilihat...", kata gadis pelayan.


YoLang melihat beberapa pakaian yang cocok dengannya kemudian juga untuk adik dan ayah ibunya, pakaian khas utara untuk cuaca dingin, pakaian berjubah dari tenunan bulu domba.


"Berapa semuanya kak...? 4 stel pakaian kecil laki-laki... dan masing-masing 2 stel ukuran lainnya... ", kata YoLang.


"Semuanya ada sepuluh potong... totalnya sejumlah 420 koin emas tuan muda...!", kata sang pelayan.


"Tolong dibungkus kak... dan ini... sisanya buat kakak saja...", kata YoLang kemudian membayar 500 koin emas.


Betapa senangnya gadis pelayanan itu mendapat tips senilai 2 potong pakaian kualitas terbaik, belum bonus penjualan yang akan diterimanya, karena jarang orang belanja dengan nilai ratusan koin emas ditoko itu.


"Saudara YoLang...!", sebuah suara yang dikenalnya.


"Ehh... saudara Anbin... dari mana...?", kata YoLang.


"Dari rumah...aku mau beli beras dan bahan makanan lainnya buat besok... tadi aku belum sempat belanja karena mengurusi pembayaran pajak dan pembebasan ayahku... dan sekarang sudah kembali kerumah lagi menemani ibuku...", kata Anbin.


"Ahh... syukurlah kalau begitu... ikuti saya dulu saudara Anbin... temani aku makan...! kakekku lagi istirahat di penginapan...", kata YoLang.


"Baik... aku akan menemanimu saudara YoLang...", katanya sambil menunjukkan jalan kearah sebuah restoran.


Setelah masuk kedalam restoran, berdua memilih meja yang berada dekat dengan jendela menghadap jalan, kemudian memanggil pelayan,...


"Selamat datang direstoran kami tuan muda...", kata pelayan restoran itu.


"Bibi... tolong sediakan makanan terbaik untuk kami berdua...", kata YoLang.


Setelah memesan makanan,...


"Apa rencanamu selanjutnya saudara Anbin...? tanya YoLang membuka percakapan.


"Aku masih bingung saudara YoLang... umurku baru 8 tahun... belum ada tempat yang akan menerimaku sebagai pekerja... karena batasan umur yang termuda 12 tahun... baru bisa diterima bekerja...!", kata Anbin berkeluh kesah Anbin.


"Tapi... aku sudah siapkan setengah dari pemberianmu untuk modal usaha ayahku... dan sebagian lagi aku serahkan pada ibuku untuk kebutuhan hidup kami... dan aku akan membantu ayahku nanti...!", kata Anbin menjelaskan.


"Usaha jenis apa yang kalian rencanakan...?", tanya YoLang.


"Ayahku seorang tukang kayu... jadi ayahku akan membuat perabotan rumah... dan aku yang akan menjajakannya berkeliling... dan juga bisa menerima pesanan...", kata Anbin dengan serius.


Ditengah percakapan mereka berdatangan tiga orang pelayanan membawa makanan dan mengaturnya dimeja mereka berdua.


"Selamat menikmati tuan muda...", kata pelayan tersebut kemudian berlalu.


"Ayo mari kita santap makanan ini...", ajak YoLang.


Sambil mereka makan YoLang kembali bertanya mengetahui situasi kota,...


"Betul saudara YoLang... peraturan kota tidak terkecuali... semuanya harus bayar pajak termasuk yang tidak punya usaha... namanya pajak tinggal...!", kata Anbin menjelaskan.


"Hmm... saudara Anbin belajar beladiri juga...?", kata YoLang karena melihat tingkat beladiri Anbin Kuning Awal.


"Ahh... itu 2 tahun yang lalu... waktu ayahku masih bekerja di keluarga Seng... salah satu keluarga elit dikota Lamur ini... ayahku yang membuat Gedung Perguruan keluarga itu (Klan Seng)... dan aku diberikan kesempatan belajar dasar-dasar beladiri disitu selama kurang lebih 2 tahun... setelah ayahku tidak lagi bekerja... akupun berhenti berlatih karena harus bayar...", kata Anbin.


"Kalau Perguruan lain apakah bayar juga kalau ikut berlatih...!", tanya YoLang menyelidik.


"Dikota Lamur ini ada 6 Klan dan 1 Sekte... walaupun muridnya tidak banyak... mungkin murid sekte 'Tendangan Utara' saja yang jumlah muridnya lebih dari 50 orang... dan untuk menjadi murid harus mengikuti tes dan membayar biaya latihan setiap bulannya... kemudian untuk murid-murid dari Klan Bao, Cun, Seng, Li, Tang dan Ming jumlahnya dibawah 30 orang... karena mereka perguruan keluarga... jadi mereka tidak menerima murid yang tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka...!", kata Anbin menjelaskan.


"Saudara Anbin masih mau belajar...?", kata YoLang.


"Itu adalah keinginanku yang tertunda... karena aku bercita-cita untuk menjadi pelindung keluargaku kelak...", kata Anbin.


"Baik... aku akan membantu mewujudkan cita-citamu... tapi sebelumnya bantulah dulu ayah dan ibumu... setelah ibumu sembuh dan ayahmu sudah lancar dengan usahanya baru kau datanglah keKota Klentang didaratan tengah... carilah pamanku disana namanya Ratong ketua Perguruan 'Belati Emas'... berikan lencanaku ini kepadanya dan terimalah ini... (sekantong koin emas) sebagai tambahan modal untuk rencanamu dan ayahmu memulai usaha...!", kata YoLang.


"Ahh... saudara YoLang kau sangat baik... bantuanmu tak terhingga sampai aku tak bisa membalasnya... aku berjanji akan mencarimu kedaratan tengah... apakah kau akan kembali besok...?", tanya Anbin kemudian.


"Belum besok kami akan melanjutkan perjalanan keKota Banto...", kata YoLang.


"Ahh... saudaraku...! kalian berhati-hati jika melewati kawasan Danau Es... karena disana disebut orang 'Kawasan Misterius'... karena beberapa kali ada petualang dan pemburu yang menghilang disana secara misterius", kata Anbin mengkhawatirkan.


"Oh... begitu... baiklah kami akan berhati-hati dan terimakasih perhatiannya saudara Anbin...", kata YoLang menutup pembicaraan.


"Bibi... kami sudah selesai berapa biayanya...?", tanya YoLang.


"20 koin emas tuan muda...", kata sang pelayan.


YoLang memberikan 25 koin emas kepada pelayanan tersebut, mereka keluar restoran dan berpisah arah dengan Anbin. YoLang segera kembali kepenginapan untuk beristirahat karena dia dan gurunya berencana untuk berangkat subuh nanti.


Hari masih gelap dan cuaca masih terasa dingin menusuk kulit hingga terasa sampai ke daging, terdengar suara kokok ayam jantan saling sahut menyahut seakan memanggil sinar mentari pagi. Sementara itu terlihat 2 sosok bayangan melesat dengan cepat meninggalkan kota Lamur menuju arah utara, dengan kecepatan penuh YoLang dan gurunya berencana untuk segera sampai dikawasan Danau Es untuk melihat kemisteriusan kawasan itu.


"Berhenti dulu guru...! ada sesuatu yang aneh diarah sebelah kiri kita...", kata YoLang.


"Coba kau periksa dulu muridku...", kata gurunya.


Segera YoLang melesat kearah dimana dia merasakan adanya pancaran aura yang aneh, dan setibanya disana dia melihat 2 buah kereta kuda yang sudah hancur dan tulang manusia berserakan, kemudian dia kembali mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk menyelidiki keadaan sekitar sampai sejauh 5 kilometer tapi tidak ada sesuatu yang menarik, aura yang dia rasakan berasal dari tumpukan kayu kereta kuda yang sudah hancur itu.


Dia mengumpulkan semua tulang belulang yang berserakan, kemudian membuat lobang sedalam 2 meter dan menguburkan tumpukan tulang tersebut dan selanjutnya dia mulai memeriksa sisa-sisa kereta yang dirasakannya memancarkan aura aneh...


"Mmm... ternyata ini...! Kayu Besi berumur 500 tahun... bagus untuk dibuat batang senjata Tombak", katanya dalam hati.


"Berarti ini rombongan pedagang kaya yang dirampok... karena kedua bentangan kayu depan kereta tempat kuda diikat terbuat dari kayu yang kuat dan susah dicari...", bergumam YoLang dalam hati.


Segera dia mengambil 4 batang kayu sepanjang 2 meter dari tumpukan bekas 2 buah kereta kuda itu dan memasukkannya kedalam cincin jiwanya. Lalu dia kembali menemui gurunya untuk melanjutkan perjalanan mereka, tanpa istirahat mereka berdua mengerahkan kekuatan ilmu meringankan tubuh mereka sehingga hanya terlihat lesatan cahaya menuju arah Danau Es, perjalanan biasa ditempuh selama 3 hari, dengan berkuda bisa 2 hari tapi YoLang dan gurunya sudah mencapai yang disebut orang sebagai 'Kawasan Misterius' hanya dalam waktu setengah hari saja.


Dari tempat mereka lokasi Danau Es berada disebelah kanan sejauh 1 kilometer, YoLang mulai memeriksa kawasan misterius ini dengan kesadaran spiritualnya seluas 5 kilometer. Dia merasakan ada pergerakan kelompok manusia sebelah barat danau dan ada beberapa orang sebelah utara danau.


"Guru kita beristirahat didekat danau saja...", ajak YoLang kepada gurunya.


"Ayo... jalan...", kata sang guru singkat.


Dengan santai berdua menuju danau sambil mengumpulkan beberapa potong kayu kering, sesampainya ditepi danau mereka duduk disebuah batang kayu yang sudah tumbang dan melintang diatas tanah dekat danau kemudian YoLang membuat api untuk memanggang daging untuk makan siang mereka (didalam cincin jiwa YoLang sudah menyiapkan beberapa bahan makanan dan bumbu masak termasuk alat masak)