Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Wanita tak punya malu


Stevi terus saja menatap kagum pria yang sejak tadi hanya fokus pada tanaman buncis di depannya. Tangannya yang memegang gunting itu terus saja membersihkan daun-daun kering serta ranting yang tak berguna. Pria itu sama sekali tak peduli dengan wanita cantik yang terus saja mengekornya.


"Mas Hanif nggak capek?? Nggak mau minum dulu??" Stevi menyodorkan botol air mineral pada Hanif.


Tapi sepertinya Stevi harus menelan pil kekecewaan karena Hanif hanya meliriknya saja lalu melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Waktu juga sudah sore, jadi dia juga harus cepat.


Namun bukan Stevi namanya kalau sudah menyerah begitu saja. Dia seakan menjadi gadis yang tak tau malu. Wanita dua puluh dua tahun yang tampak cantik dengan lesung pipit di pipi kanannya itu sudah menetapkan pilihannya pada sosok Hanif. Petani sederhana yang begitu tampan menurut Stevi.


Stevi mengikuti Hanif yang bergerak semakin menjauh. Menyusuri tanaman buncis yang di tanam berbaris memanjang.


"Mas Hanif, kata Mas Adam kamu belum punya pacar kan?? Jadi boleh dong kalau aku jadi salah satu kandidatnya"


"Aku bisa kok hidup di kampung temenin Mas Hanif. Hidup sederhana kaya gini nggak papa asal sama kamu" Ucap Stevi dengan malu-malu.


Hanif masih tak bergeming namun telinganya tetap mendengarkan wanita yang menurutnya tak punya harga diri itu.


Sejak pertama kali mereka bertemu, Hanif sudah risih sendiri karena Stevi terus mengikutinya setiap waktu. Tidak seperti Fany yang lebih pendiam dan tidak banyak tingkah seperti Stevi.


Seperti sekarang ini, Stevi sudah mengikutinya sejak tadi siang tadi. Bukan hanya sekali, tapi sudah berkali Hanif mengusir Stevi dari sana, sampai akhirnya Hanif lelah sendiri dan tak menggubris Stevi sejak tadi.


"Tapi maaf, Mbak ini bukan wanita kriteria saya. Bukannya saya sombong tapi saya memang tidak suka wanita agresif seperti Mbak ini"


Ada sedikit rasa pedih seperti di cubit dalam hati Stevi. Tapi wanita itu langsung mengabaikannya begitu saja.


"Loh emangnya kenapa kalau agresif Mas?? Jaman sekarang, kalau wanita nggak bertindak cepat, kadang laki-lakinya yang kelamaan. Bisa-bisa kita nggak nikah-nikah dong!!"


"Stop Mbak!!" Hanif sampai menggeram pada Stevi. Dia kini menatap Stevi dengan tajam. Dia tak menyangka jika ada wanita sebebal Stevi.


"Saya nggak suka Mbak ada di dekat saya terus-terusan kaya gini. Jujur saya nggak suka sama Mbak, jadi saya mohon jaga sikap Mbak itu" Hanif langsung berbalik meninggalkan Stevi yang mematung menatap kepergiannya. Hanif tau kata-katanya itu akan menyakiti perasaan Stevi. Tapi dia tidak peduli, dia merasa memang harus tegas sejak awal.


Lain halnya dengan Hanif yang merasa dirinya sedikit kejam pada Stevi, wanita itu justru mengulas senyum tipisnya.


"Nggak papa Stev, dia belum tau aja pesona lo kaya gimana. Jangan patah semangat buat dapetin manusia langka itu!!" Stevi menyemangati dirinya sendiri.


Memang sepertinya dia telah menemukan ujung dari pencarian cintanya. Dia sudah menetapkan jika Hanif adalah pria yang akan dia jadikan sebagai pelabuhan cintanya nanti.


Meski Hanif hanya seorang petani, tapi Stevi yakin dia bisa hidup bahagia dengan Hanif dengan kesederhanaan. Kelak dia juga bisa membantu hanif dengan memulai usaha kecil-kecilan di lota kelahiran Adam itu.


Stevi juga tidak takut dengan orang tuanya yang pastinya akan mempertanyakan pekerjaan Hanif nantinya. Meski orang tuanya kaya raya tak jauh berbeda dengan Papanya Raisa, tapi orang tuanya itu tidak pernah mematok kriteria menantu. Papanya hanya meminta Stevi untuk mencari pria yang bertanggung jawab dengan cinta yang begitu besar.


"Kamu kenapa Nif?? Kok mukanya di tekuk kaya gitu?? Ada masalah??"


Yuli yang sedang merekap pesanan di temani dengan Fany menatap curiga pada Hanif.


"Engga Mbak, capek aja" Matanya sekarang justru terarah pada Fany yang sempat meliriknya sekilas dan kini kembali fokus pada ponselnya.


Harusnya wanita seperti Fany itu yang Hanif inginkan, pendiam, penuh kelembutan dan sopan santun. Bukan seperti Stevi yang bar-bar dan tak tau malu.


Hanif menggelengkan kepalanya. Menampik pikiran yang cukup aneh itu karena ingin memiliki Fany.


"Loh Mas Hanif di sini juga?? Aku kira udah pulang" Hanif makin tersadar mendengar karena mendengar suara yang sangat amat mengganggunya beberapa hari ini.


"Aku pulang dulu Mbak" Hanif tak menyahuti Raisa, dia justru pamit pada Yuli dan bergegas dari bangunan kecil yang sering di sebut kantor oleh para pekerja di sana.


*


*


*


Sementara itu di salah satu kamar yang ada di sebuah rumah tengah-tengah perkebunan itu, terjadi suasana yang amat sangat canggung di malam yang dingin ini.


Dua insan yang menjadi penghuninya sama-sama diam sejak mereka keluar dari kamar Mandi beberapa jam yang lalu.


Mereka diam dengan rasa malunya masing-masing. Si istri merasa malu karena dirinya yang terang-terangan menginginkan sentuhan dari suaminya. Sementara suaminya, malu karena tak bisa menahan h*sratnya di saat istrinya sedang sakit seperti itu.


"Mas"


"Yank"


Ucap mereka berbarengan dengan bumbu-bumbu canggung di campur malu.


"Mas dulu aja"


"Kamu dulu aja"


Lagi-lagi mereka berdua mengeluarkan suara berbarengan.


"Hahahaha...."


Pasangan itu justru tertawa bersama karena kekonyolan mereka itu.


"Kamu mau ngomong apa yank?? Mas dengerin kamu dulu" Adam memiringkan tubuhnya agar bisa leluasa menatap Raisa yang berbaring di sampingnya. Tak ada alasan lagi untuk mereka tidak tidur seranjang setelah apa yang mereka lalukan di kamar mandi tadi sore.


"Emm" Raisa menimbang-nimbang apa yang akan ia ucapkan.


Adam masih menunggu Raisa yang tampak ragu itu.


"Maaf ya Mas, Ica belum bisa istri yang baik karena nggak bisa melayani Mas" Raisa menunduk malu dan Adam pun paham tentang melayani yang di maksud Raisa.


"Sayang, dengarkan Mas" Adam meraih tangan Raisa yang berada di atas perut buncit itu.


"Istri yang baik itu bukan di ukur dari itu saja. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menjadi istri yang baik. Kamu percaya sama Mas, kamu nurut sama Mas, dan kamu mencintai Mas dengan begitu besar juga sudah bisa di sebut istri yang baik di mata Mas"


Raisa sungguh merasa begitu bodoh karena pernah menyia-nyiakan pria sebaik itu.


"Dan Mas minta maaf karena tadi bisa lepas kendali seperti itu. Maafin Mas karena udah buat kamu nggak nyaman ya??" Adam merasa tak tau diri, hubungannya baru saja membaik tapi dia sudah berani menyentuh istrinya seperti itu.


Raisa menggeleng, dia kembali tersipu malu karena mengingat ciuman panas mereka tadi.


"Mas sama sekali nggak buat Ica terganggu kok, karena Ica juga ingin sendiri, bahkan lebih dari itu" Raisa mengecilkan suaranya di akhir kalimatnya.


"Apa??"