
"Sindrom ini bisa juga dinamakan kehamilan simpatik dimana suami juga merasakan gejala kehamilan yang di alami oleh istrinya"
Deg...
Raisa lemas, lututnya terasa tak ada tulangnya lagi. Dia bahkan ingin segera lenyap dari sana.
"Maksud dokter??" Tanya Adam, namun matanya terus tertuju pada Raisa dengan tajam.
"Sindrom ini biasa juga di sebut kehamilan simpatik, yaitu dimana suami ikut merasakan gejala kehamilan yang di rasakan oleh istri. Dan mungkin Pak Adam ini sedang mengalaminya mengingat kamu kan sedang hamil kan Sa" Dokter Wira dam Adam sama sama menatap Raisa. Jika dokter Wira menatap Raisa penuh dengan senyum, sedangkan Adam jangan tanyakan lagi. Dia sudah siap menelan Raisa hidup-hidup.
Lidah Raisa kelu, pita suaranya seolah hilang. Dia hanya bisa membuka tutup mulutnya saja tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.
"Bisa di jelaskan Raisa Wicaksana!!" Kilat mata Adam terlihat begitu menyeramkan di tambah dia manggil Raisa dengan nama lengkapnya.
"Saya permisi dulu"
Kali ini Raisa tak bisa menahan dokter Wira tetap di sana, meminta penjelasan kepada teman Papanya itu kenapa dia tidak bisa menjaga rahasia Raisa.
Sepertinya Raisa juga akan menarik ucapan terimakasih karena tadi dokter Wira sempat menyelamatkannya. Nyatanya dokter Wira malah mendorongnya ke jurang.
"Apa maksud mu menyembunyikan kehamilan mu??" Tanya Adam lagi karena Raisa tak kunjung mengeluarkan suaranya.
Mata Raisa yang indah dan di hiasi bulu mata yang lentik itu mulai berembun. Kedua tangannya menyatu, saling bergenggaman dengan erat karena terlalu takut menghadapi Adam yang mungkin saja amarah pria itu akan meledak sekarang juga.
"Kamu pikir aku ini bodoh, sampai kamu mau menyembunyikan calon anakku sendiri??" Adam menyibak selimutnya, bangkit dari ranjang yang empuk itu untuk menghampiri Raisa yang masih berdiri dengan kaku.
"M-maksud kamu?? J-jadi kamu udah tau kalau a-aku hamil??"
"Kamu mencoba membohongi orang yang salah Raisa!!
Raisa semakin mundur karena Adam semakin menekan ke arahnya.
"Aku tau bahkan sejak kamu pergi ke Rumah sakit menemui dokter kandungan!! Aku tau semuanya bahkan kamu yang meminta dokter Wira untuk berbohong PUN AKU TAU!!!!"
Deg....
Raisa memejamkan matanya, tak kuat menerima bentakan Adam.
"Kenapa hah?? Kenapa kamu sampai hati menyembunyikan janin itu dari Ayahnya sendiri?? Kamu pikir, aku tidak berhak tau tentang dia??"
Adam meraih kedua bahu Raisa agar wanita di depannya itu tidak terus-terusan mundur menghindarinya.
"Beri aku alasan Sa!! JAWAB JANGAN DIAM AJA!!"
"IYA!! EMANG AKU SENGAJA NGGAK MAU KASIH TAU KAMU!! PUAS KAMU!!" Teriak Raisa diiringi dengan suara tangisan yang mulai keluar.
Tangan Adam mendadak lemas, matanya menatap nanar pada Raisa. Kakinya melangkah ke belalang, memberi jarak antara dirinya dengan Raisa.
Begitupun Raisa, air matanya semakin deras keluar karena melihat kekecewaan di mata Adam. Untuk ke dua kalinya, Raisa melihat mata elang itu mengkilat karena berkaca-kaca.
"Tapi kenapa Sa??" Suara Adam yang sempat meninggi sekarang justru terdengar sangat lirih. Dan itu tanpa sengaja menggores hati Raisa.
Adam kira, dengan permintaan Raisa waktu itu, dia bisa benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga yang normal seperti pasangan lainnya.
Adam kira, Raisa benar-benar mau berubah meski sifatnya masih urakan dan sombong. Adam juga mengira, jika Raisa akan menerimanya sebagai seorang suami meski dengan perlahan.
Seperti Adam waktu itu, sikap dinginnya berubah drastis karena percaya dengan ucapan Raisa yang ingin meminta waktu padanya untuk berubah. Di tambah lagi, malam itu Raisa mulai memberikan secuil perhatian kepadanya dengan memberikan selimut kepadanya.
Sejak itulah, Adam juga mulai berubah. Dia tidak mau melihat Raisa berjuang demi rumah tangganya sendirian. Adam pun begitu, dia berdamai dengan keadaan dan mulai menerima Raisa.
Tapi nyatanya....
"Kenapa kamu bilang??" Raisa menatap Adam dengan berderai air mata.
"Ada banyak sekali beban di pikiran aku Mas!!"
Adam masih diam di hadapan Raisa, melihat istri cantiknya itu terus mengeluarkan air mata.
"Kamu menikahi aku karena tanggungjawab kan??Terus gimana kalau kamu tau aku hamil?? Aku takut kamu mengambilnya saat aku melahirkannya nanti"
"Aku yang tidak tau banyak tentang kamu, hanya berpikir bagaimana kalau kamu terpaksa terjebak di dalam pernikahan ini selamanya hanya karena anak ini"
"Aku hanya berpikir, jika di luar sana pasti ada wanita yang kamu cintai. Mungkin dengan aku menyembunyikan kehamilan ini, kita akan berce.."
Cup....
Tubuh Raisa terhuyung ke belakang karena Adam tiba-tiba langsung menubruk bibirnya. Bukan hanya itu, Adam bahkan mulai memainkannya dengan rakus hingga membuat Raisa memberontak, mencoba melepaskan diri dari Adam.
Sampai Adam merasakan Raisa kehabisan nafas, barulah dia melepaskan bibir manis itu.
"Sudah aku bilang, jangan pernah ucapkan kata lak nat itu!!" Adam terlihat sangat berapi-api.
"Memangnya kenapa?? Kalau emang di luar sana ada wanita yang kamu cintai. Lebih baik kita udahan aja. Lupakan permintaan aku kemarin yang mau mempertahankan pernikahan kita hanya demi Papa. Masalah anak ini, kamu nggak usah khawatir, dia tidak akan kekurangan kasih sayang" Raisa menuangkan semuanya dalam satu tarikan nafas.
"Wanita lain siapa maksud kamu?? Walau kita menikah karena skandal itu, tapi aku tidak pernah mempunyai wanita lain"
"Cihh.." Raisa membuang wajahnya.
Namun reaksi Raisa itu membuat Adam berpikir keras, apa yang bisa membuat Razia berpikir seperti itu.
Adam kembali melangkah maju mendekati Raisa, meraih kedua lengan istrinya lagi.
"Dengar Raisa, pernikahan ini bukan main-main. Dari awal aku menerima pernikahan ini, aku serius menjalani rumah tangga ini meski kamu belum bisa menerimanya. Hingga kemarin kamu meminta waktu untuk belajar menerima pernikahan ini hanya demi Papa. Tapi aku sudah senang mendengarnya, seperti ada titik terang kemana arah dari pernikahan kita"
"Aku dan Ayu itu tidak ada hubungan apapun. Aku tidak menjelaskan apapun tentang dia bukan karena aku ada apa-apa sama dia, tapi karena dia memang bukan siapa-siapa. Jadi percaya sama aku, kita jalani pernikahan ini sebagaimana mestinya, kamu mau kan??"
Raisa tak menjawab, dia hanya diam dengan menatap Adam dengan matanya yang masih terus berair. Tidak ada bantahan juga sanggahan dari ucapan Adam tadi yang berarti semua yang di katakan Adam itu benar.
Tangan Adam bergerak ke atas, menghapus sisa-sisa kesedihan Raisa di pipinya dengan mata mereka yang masih terkunci.
Tatapan yang di berikan adam amatlah dalam, sampai membuat Raisa diam mematung. Wajah Adam yang semakin mendekat pun tak di hindari oleh Raisa. Sampai bibir mereka kembali bertemu pun Raisa tak menghindar tak memberontak seperti tadi.
Dia sendiri juga heran kenapa tubuhnya menerima Adam begitu saja seolah Raisa benar-benar menginginkan suaminya itu.
Tangan Raisa justru melingkar di pinggang Adam yang masih berbalut kemeja.
Jika tadi adam melahap dengan rakus bibir Raisa, kini pria yang berstatus sebagai suami itu membimbing Raisa dengan gerakan yang lembut dan menghanyutkan.
Keduanya hanyut dalam permainan lidah itu sampai hampir lima menit bibir mereka masih saling bertautan.
"Emmbbb" Adam yang lebih dulu melepaskan tautan mereka. Pria itu langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Apa yang barusan gue sama dia lakukan??" Bukannya mengejar Adam, Raisa justru terdiam memegang bibirnya yang terasa kebas
*
*
*
*
*
*
*
Beberapa hari sebelumnya....
Adam sebenarnya khawatir meninggalkan Raisa yang masih sakit ke kantor. Namun hari ini ada pertemuan penting antara dirinya dengan salah satu buyer baru di pabriknya yang tidak bisa di undur lagi.
Maka dari itu, Adam mengutus salah satu anak buah Satya yang bisa Adam percaya untuk terus mengawasi Raisa di rumah.
"Halo?? Raisa kenapa??"
"Saya mau lapor Pak, Non Raisa pergi ke rumah sakit menemui dokter kandungan"
"Apa??"
"Benar Pak Adam, sekarang saya masih menunggu Non Raisa keluar dari ruang periksa"
"Bagus Awasi terus"
"Baik Pak"
Adam menggenggam ponselnya dengan kuat. Dia marah dan kecewa karena dibohongi oleh Raisa. Apalagi yang Raisa sembunyikan itu bukanlah hal yang kecil.
Adam bukanlah orang yang bodoh, meski dia laki-laki tapi dia tau benar apa saja tanda-tanda kehamilan karena dia langsung mencari tau di internet maupun pada sumber yang terpercaya setelah pernikahannya dengan Raisa.
Bahkan bila seorang suami yang ikut merasakan efek kehamilan istrinya saja Adam tau. Dan itulah yang Adam rasakan akhir-akhir ini.
Adam langsung berpikir jika kemarin dokter Wira berbohong juga atas keinginan Raisa.
Berselang satu hari setelah itu, Adam diam-diam menemui dokter Wira tanpa sepengetahuan Raisa.
"Wah apa yang membuat Pak Adam datang kemari?? Apa ada masalah kesehatan??" Sambut dokter Wira dengan ramah.
"Bukan dokter, saya hanya ingin menanyakan tentang kehamilan Raisa"
"Oh, jadi dia sudah memberitahu Pak Adam ??"
Adam langsung tersenyum licik karena bisa membuat dokter Wira buka mulut tanpa sadar.
"Kurang ajar rubah kecil itu berani membohongi ku"
"Belum"
"A-apa??"
"Jadi karena dokter Wira sudah ikut andil dalam kebohongan istri saya. Maka saya mau dokter Wira ikut tanggung jawab"
"Maksud Pak Adam??"
"Saya mau minta bantuan dari dokter"