Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Pembalasan


"Sudah aku bilang Mas, kalau aku sama sekali nggak terlibat dengan Arya dan anaknya itu!! Mana mungkin aku tega melakukan itu sama ponakan aku sendiri!!"


"Kenapa Mas lebih percaya sama omongan mereka dari pada Adik Mas sendiri?? Tidak ada buktinya juga kan??""


Sandi terlihat emosi dengan Satya yang tiba-tiba datang kerumahnya dan menuduhnya seperti itu. Walau Sandi memang sebenarnya terlibat, bahkan terlibat terlalu dalam, namun setidaknya dia tetap harus mengelak dari tuduhan Satya.


Dia sudah menutupi kebusukannya dengan tak terlibat sedikitpun saat penganiayaan dan penjebakan yang di lakukan Aryo dan Rio.


Dia juga sengaja menghampiri Satya untuk mengelabuhi Satya agar dia terlihat seperti tak ada hubungan dengan mereka.


"Terserah kamu mau mengelak seperti apa San. Mas juga memang belum ada bukti, tapi Mas yakin kalau kamu memang terlibat" Satya sudah tidak bisa lagi berpura-pura tidak tau jika Adiknya selalu mempunyai niat licik kepadanya.


"Aku nggak nyangka kalau Mas tega menuduhku seperti ini" Sandi menatap nanar pada Kakaknya itu.


"Sudahlah San, tidak perlu pura-pura lagi. Aku tau kalau kamu selama ini mengincar pabrik peninggalan Ayah kan??"


"Mas!!" Sandi terlihat tak terima.


"Kenapa?? Memang benar kan??" Satya tersenyum sinis melihat adiknya yang begitu munafik itu. Tak terima dengan tuduhan yang dia berikan namun sesungguhnya berhati busuk.


"Sandi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini?? Warisan yang di berikan Ayah pada kita itu sudah sama rata. Dulu kamu juga tidak menginginkan pabrik yang sekarang aku pegang. Dan sekarang setelah pabrik ini berkembang pesat, kamu mah mengambilnya seolah-olah aku yang mendapatkan bagian lebih banyak begitu??"


"Kamu harusnya sadar San, perusahaan kamu tidak bisa berkembang dengan baik itu karena apa?? Kamu perbaiki apa yang kurang dari mu, bukan terus-terusan berpikir picik seperti ini"


"Mas menghinaku??" Mata Sandi sudah terlihat mengkilat.


"Bukan menghina, Mas hanya berusaha menyadarkan mu"


"Alah buls*it!! Jangan mentang-mentang kamu sekarang kaya raya ya Mas!! Semua itu nggak akan kamu dapat kalau nggak ada warisan dari Ayah!!" Tangan Sandi sudah mengepal kuat. Ingin melayangkan tinjunya pada Satya.


"Kamu salah San!! Sebelum aku mendapatkan warisan dari Ayah, aku sudah membangun usaha retail ku yang sekarang sudah berkembang pesat dan ada di seluruh indonesia. Kalau kamu tidak percaya bisa cek sendiri, sejak kapan aku membangunnya. Aku memang dulu senagaja menyembunyikannya dari Ayah karena Ayah tidak yakin dengan usahaku waktu itu"


Sandi di buat malu dengan ucapan Kakaknya. Dia memang tau usaha retail yang dimiliki Satya. Tapi waktu itu, Satya mempublikasikan perusahannya itu dua tahun setelah Ayah mereka meninggal. Jadi Sandi mengira usahanya itu di bangun dengan uang Ayah mereka.


"Aku pergi dulu, dan ingat San!! Aku tidak akan berhenti mencari bukti keterlibatan kamu. Aku tidak peduli mah kamu Adikku atau bukan. Kejahatan tetap kejahatan, dan aku akan pastikan kamu menyusul Aryo dan Rio!!"


Satya berbalik meninggalkan Sandi yang benar-benar marah saat ini. Nasehat yang di berikan Satya tak bisa masuk ke dalam hati Sandi kemudian menyadarkannya. Apa yang di katakan Satya justru menumbuhkan bibit-bibit kebencian yang baru.


"Kamu akan hancur di tanganku sendiri Mas!!" Tangan Sandi mengepal kuat dengan rahangnya yang mengeras, serta matanya yang memicing tajam menatap kepergian Satya dari jendela di sampingnya.


"Bagaimana Pak??"


Rudolf yang sejak tadi hanya menunggu di dalam mobil atas perintah Satya pun membuka suaranya.


"Dia tetap saja tidak mengakuinya, tapi tidak masalah. Kau harus tetap mencari bukti tentang keterlibatannya itu"


"Baik Pak"


Satya menatap jalanan yang sudah gelap di sampingnya. Sesungguhnya dia menyayangi Sandi karena memang hanya dia keluarga yang ia punya. Tapi sifat Sandi yang iri dengki itu membuatnya harus bertindak tegas pada Adiknya itu.


"Aku tidak takut dengan ancaman mu itu Satya!!" Aryo menatap Satya dengan senyuman sinisnya. Meski pria itu sudah berada di balik jeruji besi, namun Aryo tetap saja tak mengurangi kesombongannya.


"Kalau kau ingin menghukum ku, hukum juga adik mu itu. Dia juga termasuk dalang dari semua ini!! Pria licik itu sengaja bermain bersih agar kejahatannya tidak terbaca oleh mu. Tapi justru aku yang di kambing hitamkan olehnya!!"


"Itu salah mu sendiri, kalau kau tau dia itu licik, kenapa kau masih berhubungan dengannya!!" Satya tidak membela Sandi, namun dia tidak suka mereka bekerjasama. Satya hanya ingin memecahkan mereka berdua. Karena sepertinya Sandi juga diam-diam akan membantu Aryo keluar dari penjara.


"Itu karena Adikmu itu berjanji akan mendukungku dalam pemilu yang akan datang. Dia akan mendukung ku dengan penuh setelah berhasil menyingkirkan mu!!" Aryo mencengkeram dengan kuat jeruji besi yang mengurungnya.


"Hahahahaha....." Satya tertawa terbahak-bahak.


"Dasar bodoh!! Kalian itu merencanakan sesuatu yang jahat dengan begitu rapi. Tapi kalian tidak tau yang kalian lawan itu siapa?? Sekarang apa yang kau dapat??"


"Apa setelah ini kau bisa menempati posisi ku?? Kau hanya akan bermimpi Aryo, karena nyatanya kau mendekam si sini. Dan aku tentunya tidak akan membiarkan mu bebas dengan mudah"


Aryo terdiam namun auranya sudah memancarkan kebencian dan dendam yang mendalam.


"Harusnya kau bersaing dengan sehat, rebut posisiku dengan cara yang benar. Sekarang kau malah seperti ini, jadi nikmati saja penderitaan mu di sini"


"S*alan kau Satya!!"


Satya hanya hanya tersenyum mengejek kemudian berbalik meninggalkan penjara yang pengap itu.


"Oh ya satu lagi, setelah ini kau akan menerima kabar yang lebih membahagiakan lagi"


"Maksud mu??" Aryo menatap Satya dengan bingung.


"Apa hartamu yang berlimpah itu benar-benar bersih??"


Aryo langsung membelalakkan matanya, sudah langsung pahan apa yang Satya maksud.


"Kau yang melaporkan ku??"


"Tentu bukan aku, tapi melihat kau mendadak di tangkap atas kasus penganiayaan, tentunya orang pajak tidak akan tinggal diam" Setelah itu, Satya benar-benar pergi meninggalkan Aryo yang mulai berteriak seperti orang kesetanan.


"SATYAAA!!!"


"Awas kau Satya!!!"


Sampai saat ini Satya terus saja di ganggu oleh orang-orang yang tak menyukainya seperti Aryo dan asiknya sendiri.


Mereka sangat berambisi untuk menjatuhkan Satya daro posisinya. Bahkan mereka tega melibatkan Raisa dan Adam yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah itu.


"Kalau seandainya kita tidak bisa menemukan bukti tentang keterlibatan Pak Sandi bagaimana Pak??" Rudolf tau jika Sandi orang yang licik, pasti pria itu sudah bertindak serapi mungkin.


"Maka kita perlu cara yang lain" Rudolf mengangguk menatap sorot mata Satya dari kaca spion, seolah dia tau apa yang di maksud oleh Satya.