Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Periksa kandungan


"Udah Mas, udah kenyang" Raisa menolak suapan Adam yang hanya tinggal dua atau tiga sendok buburnya saja.


"Sekali lagi, tinggal dikit" Bujuk Adam dengan sendok yang sudah di depan mulut Raisa. Istrinya itu meminta dengan manja untuk di suapi olehnya. Adam sama sekali tak keberatan, justru dia suka Raisa yang seperti itu kepadanya.


"Udah ah Mas, mual kalau kekenyangan"


"Ya udah, minum dulu terus obatnya juga di minum. Mas siapin ya??"


Raisa hanya bisa mengangguk tak bisa menahan senyumnya. Dia teramat bahagia kini, meski untuk mendapatkan momen seperti ini, dia merasa bersalah pada bayi dalam kandungannya.


Jika saja semalam, janinnya tidak bisa di selamatkan, dia pasti akan hidup dalam penyesalan seumur hidupnya.


"Mas" Panggil Raisa pada Adam yang berdiri di sampingnya sedang menyiapkan obat. Sementara Yuli sudah keluar sejak tadi katanya ingin mencari udara di luar sana.


"Hemm"


"Emm, sekarang gimana kabarnya Rio dan Papanya??" Raisa sedikit takut menanyakan itu pada Adam. Karena menurutnya itu hal yang sensitif bagi Adam.


Raisa penasaran dengan orang-orang yang sudah mencoba mencelakai suaminya.


"Mereka udah di dalam sel sekarang. Tinggal nunggu sidang aja. Pak Aryo juga sedang dalam penyelidikan terkait kasus pajak. Jadi prosesnya cukup lama"


"Hah, kenapa bisa??" Raisa benar-benar tidak tau karena Papanya tidak pernah memberitahunya sama sekali. Sedangkan Raisa juga tidak pernah melihat berita karena dirinya sudah terlalu fokus pada masalahnya sendiri.


"Pak Aryo di duga tidak pernah membayar pajak semua pabrik, perusahaan dan usahanya hingga triliunan rupiah. Ada juga yang menemukan bukti kalau Pak Aryo bekerja sama dengan orang pajak untuk memanipulasi semuanya"


"Dan satu lagi yang harus kamu tau, kalau Om kamu ikut terlibat dengan mereka saat malam itu"


"Apa???!!!" Raisa membekap mulutnya sendiri.


"Tapi Om kamu itu cerdik, dia menghilangkan bukti keterlibatannya dengan Rio dan Papanya. Tapi saat ini Papa sama Pak Rudolf sedang mencari bukti untuk membawa Pak Sandi menyusul komplotannya"


Raisa masih tidak percaya jika Omnya sendiri yang mencoba membuat Adam dan dirinya hampir celaka.


Om yang terlihat sangat baik kepadanya itu, rasanya tak mungkin melakukan hal sekeji itu.


"Tapi mana mungkin kalau Om Sandi kaya gitu Mas"


"Kamu boleh nggak percaya. Tapi Papa sudah tau niat buruk Pak Sandi sejak lama. Papa tau kalau Pak Sandi sangat berambisi untuk menguasai harta Papa. Terlebih lagi, Pak Sandi merasa kalau semua yang Papa miliki itu hasil dari warisan yang di bagi kepada mereka berdua tidak rata. Padahal Papa kamu membangun usahanya sebelum warisan itu di berikan"


Raisa baru sadar satu hal, mengingat semua ucapan Omnya waktu menemuinya di rumah waktu itu.


Semua yang Sandi bicarakan itu lebih terkesan menghasut Raisa untuk tidak mempercayai Adam. Dan Raisa baru sadar akan hal itu.


"Nggak papa kalau kamu masih nggak percaya Ca. Memang dia itu manipulatif sampai kamu tidak bisa membedakan mana sifatnya yang sebenarnya"


"Aku percaya Mas"


Adam sampai menoleh pada Raisa karena jawaban Raisa itu.


"Waktu itu Om Sandi pernah datang ke rumah pagi-pagi sekali. Katanya dia mau ketemu Papa tapi nggak ada jadi dia ketemu sama aku. Tapi semua yang dia bicarakan justru kaya sengaja menghasut aku biar makin nggak percaya sama kamu Mas" Raisa mengusap rambutnya dengan kasar.


"Maafin Ica ya Mas, waktu itu Ica sempat termakan omongannya" Sesal Raisa lagi.


"Sudah jangan bahas itu. Mas udah maafin kamu kok. Sekarang minum dulu obatnya"


Raisa menerima beberapa kapsul obat yang sepertinya akan susah Raisa telan karena bentuknya yang cukup besar.


Beberapa saat kemudian masuklah perawat yang mengatakan jika dokter kandungan sudah tiba. Dan saat ini Raisa sudah di bawa ke ruang periksa yang lengkap dengan alat USG.


Dokter akan memastikan lagi jika kandungan Raisa benar-benar tidak ada masalah setelah pendarahan tadi malam.


Adam tentu saja setia mendampingi Raisa. Bahkan tangannya saja tak lepas menggenggam tangan Raisa sejak tadi.


Dokter mulai memutar-mutar alatnya di atas perut Raisa. Mencari dimana letak janinnya bersembunyi.


"Gimana dokter??"


Adam ikut menatap layar yang menunjukkan gambar yang menurutnya tak jelas sama sekali.


"Ini janinnya ya Pak. Memang kondisinya masih rentan dan lemah. Yang penting untuk beberapa hari ke depan harus bedrest dulu ya, juga jangan banyak pikiran takutnya terjadi pendarahan yang berakibat fatal. Seminggu lagi saya periksa lagi, baru saya bisa menganalisa lebih lanjut"


"Boba kita dengarkan detak jantungnya dulu"


Suara detak jantung dengan ritme yang cepat tidak seperti detak jantung orang dewasa.


Adam merasa merinding pada seluruh tubuhnya. Tak menyangka jika sekarang darah dagingnya benar-benar ada di dalam rahim Raisa, hidup dan bernyawa.


"Anak kita sayang" Bisik Adam membuat Raisa menitikkan air matanya penuh haru. Pertama dia bisa mendengarkan detak jantung anaknya membuatnya mengucap ribuan kata maaf di dalam hatinya. Rasanya seperti mimpi baginya.


"Untuk jenis kelaminnya" Dokter itu menjeda kalimatnya sebentar, sambil kembali menempatkan alat yang dipegangnya pada bagian perut yang dia inginkan.


"Laki-laki, lihat Pak, Bu. Kelihatan jelas kan ini ada monasnya" Kursor yang ada di layar monitor itu menunjuk anggota tubuh yang kecil mungil tidak seperti Ajun milik Adam.


"Anak kita cowok Ca" Adam tak maslaah mau anaknya laki-laki atau perempuan. Tapi mengetahui jika anaknya laki-laki, entah mengapa dia begitu bahagia.


"Iya Mas. Kamu senang??"


"Hemm, Mas senang sekali"


Cup...


Adam mengecup pelipis Raisa tak peduli pada dokter dan perawat yang ada di sana menatap mereka dengan senyum tipis.


Bagi dokter dan perawat itu, apa yang dilakukan Adam dan Raisa adalah hal yang biasa.


Adam mendorong kursi roda Raisa untuk kembali ke kamar rawatnya setelah selesai di periksa dokter kandungan tadi. Kondisinya yang masih lemah dan harus bedrest membuatnya tidak di perbolehkan untuk berjalan dengan kakinya sendiri.


Meski begitu, senyuman di bibir keduanya tak pernah luntur sejak keluar dari ruangan dokter tadi.


Keduanya benar-benar merasakan kebahagiaan yang membuncah setelah merasakan kesakitan yang mendalam.


Saling mencintai namun saling menyakiti. Layaknya itu yang pantas di sematkan pada mereka berdua.


Kesalahpahaman yang di sebabkan oleh ego mereka akhirnya luntur juga. Dengan sebuah teguran yang hampir merenggut dua nyawa sekaligus.


Sungguh Tuhan sebenarnya tidak akan pernah main-main dengan segala peringatan dan kuasanya.


"Mas, kita di sini dulu ya. Di kamar terus suntuk" Raisa menghentikan Adam ketika sampai di taman kecil yang Entrada di tengah-tengah rumah sakit itu.


Rumah sakit kecil namun suasananya begitu asri dan bersih.


"Ya udah kita di sini dulu sepuluh sampai lima belas menit tapi habis ini kamu harus istirahat ya??"


"Iyaaa"


Adam mengunci kedua roda Raisa lalu beralih duduk pada bangku yang ada di samping Raisa.


Belum sempat Adam membuka suaranya lagi, matanya telah menangkap seseorang yang dia kenal.


"Ayu??" Gumam Adam membuat Raisa menoleh.


"Siapa Mas??"


"Ayu!!" Adam tak menyahut Raisa tapi justru memanggil Ayu agar mendekat ke arahnya.


"M-mas Adam?? Ngapain di sini??" Gugup wanita yang tak pernah berhenti berharap untum di nikahi Adam itu.


"Kamu yang ngapain di sini??" Adam menatap Ayu dengan tajam.


Raisa yang hanya duduk di kursi rodanya kini mendongak menatap kedua orang di sisi kanan dan kirinya dengan bergantian.


"Apa maksud Mas Adam?? Mana mungkin aku ngikutin Mas Adam ke sini" Ayu membuang tatapannya ke segala arah.


"Jangan bohong kamu!!"


"Sekarang aku tanya sama kamu. Kenapa kamu bisa tau kalau aku nginap di hotel waktu itu??"


Wajah Ayu benar-benar memucat, tak mengira jika Adam akan mengungkit saat Ayu datang menemui Adam waktu itu.