Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Munafik


Pagi harinya, Raisa terus saja menekuk wajahnya. Tak mengeluarkan kata sedikitpun, dan hanya memberikan lirikan tajam pada Adam ketika pria di dampingnya itu mencoba merayunya.


"Udah dong Sa marahnya, kan aku udah bilang nggak sengaja. Namanya orang tidur mana sadar" Bujuk Adam karena Raisa terus menatapnya dengan aura permusuhan.


"Bohong!! Pasti sengaja kan?? Emang dari awal niat mau tidur seranjang karena mau peluk-peluk kan??" Raisa memicing tak terima.


"Tapi kamu suka kan?? Buktinya kamu nggak nolak. Malah peluk-peluk sampai pagi"


"Dih, kalau kamu peluknya nggak kenceng banget aku juga udah bisa lepas kali!!"


Raisa langsung memalingkan wajahnya menghadap ke luar. Melihat jalanan yang cukup padat untuk menyembunyikan rasa malunya.


Perdebatan mereka itu hanyalah seputar pelukan tadi malam. Di mana Raisa yang tak bisa lepas dari pelukan Adam sampai pagi.


Semua protes yang Raisa lakukan itu hanyalah bentuk dari rasa malunya saja, bukan marah karena Adam yang memeluknya sembarangan. Pasalnya Raisa juga menikmati hangatnya pelukan itu.


Tapi tidak mungkin jika dia secara gamblang mengakui itu di depan Adam. Mengingat kecaman yang selalu ia tunjukkan pada laki-laki itu. Raisa takut jika Adam tau dia menjilat ludahnya sendiri.


"Jadi aku yang salah ya??"


"IYA!!" Geram Raisa.


"Ya udah deh, aku minta maaf. Tapi nanti malam aku peluk lagi ya??"


Ternyata kata maaf yang Adam ucapkan itu bukanlah benar-benar permintaan maaf karena penyesalan. Hanya sebuah kata untuk semakin menggoda Raisa.


"Dih Ogah!!!!"


Sikap Raisa yang terlalu gengsi itu membuat Adam terus saja menggodanya. Menurutnya menggoda Raisa adalah hiburan tersendiri untuknya. Dia bisa tertawa dan tersenyum melihat tingkah Raisa yang absurd dan susah di atur seperti itu.


Perdebatan tak penting mereka itu akhirnya berhenti saat mereka memasuki area pabrik. Sebuah kawasan perindustrian yang begitu luas karena di dalamnya terdapat beberapa pabrik yang tergabung dalam satu wilayah.


Sementara Adam sendiri memegang pabrik tekstil yang sangat besar, sebuah garmen juga sebuah garmen wash. Sementara untuk yang lainnya masih ada pabrik serat alam yang memproduksi kapas, rami, sutra dan juga wol. Kemudian masih ada lagi pabrik industri makanan yang letaknya tak jauh dari sana. Dan itu semua ada dalam naungan SW Gruop atau Satya Wicaksana Group.


Raisa berjalan cepat mendahului Adam yang ada di belakangnya. Sikapnya itu jelas tak pantas karena saat ini mereka sedang bekerja maka posisi Raisa hanyalah seorang PA, dan sayangnya Raisa tak peduli soal itu.


Tapi karena heels yang di pakainya cukup tinggi juga kepalanya yang mendadak pening, Raisa hampir tersungkur karena hellsnya tersangkut pada besi saluran air.


"Aaa!!" Raisa sudah berteriak dan memejamkan matanya, tangannya pun memegang perutnya secara tak sadar.


Namun Raisa tak merasakan badannya membentur lantai, dia hanya merasakan tubuhnya melayang dengan sesuatu yang menahan pinggangnya.


Perlahan Raisa membuka matanya, jantungnya yang masih berdetak dengan kencang tak bisa membuatnya langsung tersadar jika posisinya saat ini ada dalam pelukan suaminya.


"Hati-hati, makanya jangan pakai sepatu tinggi seperti ini di pabrik. Bahaya kan??" Ucap Adam begitu sekat denhan wajah Raisa.


Raisa masih membeku menatap wajah Adam yang begitu dekat saat ini.


"Sa??"


Raisa langsung menjauh dari Adam, merapikan bajunya kembali sebagai alibi untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Kalau nggak pakai hells mana cantik" Gerutu Raisa tak setuju dengan pemikiran Adam.


"Kamu cantik dengan apapun yang kamu pakai"


Raisa menatap Adam dengan aneh, pria itu semakin pandai merayu.


"Ck, pagi-pagi udah gembel aja" Cibir Raisa kemudian berjalan masuk lebih dulu. Meski kedua pipinya yang memerah tidak bisa bohong tentang perasaannya saat ini.


"Ayolah Sa!! Masa di gombalin kaya gitu aja baper!!" Pikiran Raisa kembali mempengaruhi hatinya.


*


*


*


Hari ini Adam tak begitu sibuk, tidak banyak menerima klien penting. Hanya satu saja pagi tadi, itu pun dari buyer salah satu brand dari luar negri untuk mengkonfirmasi jumlah barang yang akan di produksi di garmen milik Satya.


Setelah itu, Adam hanya di sibukkan dengan berkas-berkas laporan ekspor yang harus di selesaikan minggu ini yang sempat terkendala masalah karena barang yang di produksi tidak mencapai terget. Ada juga barang yang harus di kebalikan karena kesalahan kecil dari bagain packing.


Namun kesalahan sekecil apapun dari titik paling bawah maka akan berdampak besar di bagian akhir atau saat pengiriman berlangsung. Apalagi pengiriman yang di lakukan itu bukanlah produk lokal melainkan produk luar yang menjalin kerja sama dengan garmen milik Satya.


"Sudah saya sampaikan pada semua kepala gedung kalau satu minggu ini, semua karyawan dilemburkan sesuai dengan perintah Pak Adam" Lapor Raisa saat baru saja masuk ke dalam ruangan Adam.


"Bagus, aku harap kita bisa menyelesaikan target minggu ini dengan tepat waktu. Kalau tidak, minggu selanjutnya kita juga akan kembali keteteran. Karena dari faktor mesin juga stok kain semuanya baik dan lancar. Titik masalahnya hanya ada pada kinerja operator yang kurang maksimal"


Raisa mengangguk, setelah satu bulan ini menjadi PA Adam dan sering sekali terjun ke pabrik langsung, itu membuat Raisa mulai paham bagaimana sistem kerja di pabrik seperti itu.


"Kamu boleh kembali ke mejamu"


"Baik Pak"


Tapi Raisa malah menjatuhkan dirinya di sofa ruangan Adam. Menurutnya kerjanya sudah selesai saat di suruh keluar tadi jadi dia saat ini berlagak menjadi anak dari pemilik perusahaan SW Group.


"Ternyata rasanya hamil kaya gini. Kelihatan sehat tapi pusing, lemes mau ngapa-ngapain nggak enak"


"Ini juga, baru jalan sebentar aja lecet kaya gini"


"Sudah ku bilang, nggak usah pakai hells. Adam tiba-tiba sudah berjongkok di depan Raisa, mengangkat satu kaki Raisa ke pangkuannya.


"Eh, mau ngapain??" Raisa ingin menarik kakinya namun berhasil di tahan Adam.


"Mau oles salep, emangnya mau apa lagi??" Adam menunjukkan salep yang telah ia bawa.


Melihat itu Raisa hanya diam menurut, melihat Adam yang mengoles tumitnya yang terluka.


"Besok pakai yang nyaman aja. Kerja di sini nggak kaya di kantoran yang duduk diam di ruangan ber AC"


"Iya-iya bawel banget sih"


Tak....


"Awwww!!!" Raisa meringis memegang bibirnya yang di sentil Adam.


"KDRT ya!!" Geram Raisa.


"Makanya yang sopan sama suami!! Di kasih tau yang bener kok ngeyel. Apa milih di ci...." Raisa lebih cepat membekap bibir Adam dengan tangannya sebelum kata mengerikan itu keluar.


"Iya maaf, udah ah. Aku mau keluar, cari makan siang"


Raisa memakai hellsnya lagi, mungkin untuk hari ini dia harus terjebak dengan sepatu yang dulu disukainya itu dan kini malah begitu menyakiti.


"Ck, kaya dia aja" Gumam Raisa tiba-tiba sambil melirik Adam.


"Apa Sa??" Asma kurang jelas mendengar apa yang Raisa katakan.


"Nggak papa, kamu mau makan apa?? Biar aku belikan sekalian??" Ucap Raisa berjalan menjauh dari Adam yang masih berjongkok.


"Aku ikut"


"Hah?? Nggak usah ah!!" Tolak Riasa.


"Sekalian aku temenin beli sepatu yang nyaman aja"


Raisa menghela nafas beratnya lalu hanya pasrah saat Adam justru meraih tangannya dan menariknya keluar.


Raisa yang pasrah terus memandang tangannya yang di genggam Adam itu. Dia heran kenapa dia sendiri tak menolak genggaman pria itu.


"Apa gue semunafik itu??"


Adam dan Raisa tiba di rumah makan yang tak jauh dari pabrik. Di dalam sana juga banyak karyawan yang makan di sama.


Tangannya terus menggenggam tangan Raisa meski sudah masuk ke dalam rumah makan itu.


"Lepas dong Mas, malu di lihat orang" Bisik Raisa.


"Justru kita harus terlihat mesra di depan banyak orang" Jawab Adam dengan santai.


"Ck.. bilang aja cari kesempatan"


"Kesempatan memang harus di ambil saat ada peluang"


"Nyebelin!!"


Rumah makan yang menyediakan menu ramah di kantong itu sama sekali tak membuat Raisa protes. Jika dulu Raisa hanya mau makan di tempat yang mewah dan mahal, maka kali ini dia menurut apa kata Adam. Apalagi mencium bau daging ayam dan bebek yang di goreng serta aroma sambal yang pedas membuat Raisa tak bisa menolak.


"Yakin kamu mau habisin ini semua Sa??" Adam ragu melihat pesanan Raisa yang lebih pantas di makan tiga orang.


"Iya, emangnya kenapa?? Nggak boleh?? Atau nggak mau bayarin?? Tenang aja, aku ada uang kok, kemarin kan baru gajian"


"Bukan gitu Sa, aku takut kamu sakit perut"


"Enggak, udah deh aku lape.."


"Mas Adam??"


Ucapan Raisa harus terhenti karena datangnya seseorang yang akan membuat makanan yang di pesan Raisa tadi tidak akan habis satu porsi pun.


*


*


*


Sekarang tebak lagi coba, siapa itu yang datang?? 😆😆😆