Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Butuh waktu sendiri


"Maaf lama"


Raisa meletakkan file yang di butuhkan Adam tadi di depan Adam.


"Kamu kok pucat kaya gini, kamu kecapean ya?? Harusnya tadi biar Mas aja yang ambil" Bisik Adam dengan begitu khawatir karena melihat wajah Raisa yang berkeringat dan memucat.


"Saya nggak papa kok"


"Nggak papa gimana?? Kamu pucat kaya gini"


"Pak Adam sebaiknya Pak Adam fokus saja sama meetingnya, nggak enak di lihat orang banyak"


Adam akhirnya diam karena memang kekhawatirannya itu mengundang perhatian karyawannya serta Pak Basuki.


Pria yang masih begitu khawatir itu kembali fokus pada meetingnya dengan tangan yang selalu ia gunakan untuk menggenggam tangan Raisa di bawah meja.


Meeting yang harusnya sebentar itu terasa sangat lama bagi Raisa. Dia ingin segera pergi dari sana. Dia butuh waktu untuk sendiri. Menenangkan dirinya yang masih terkejut dengan apa yang ia lihat tadi.


Kertas yang ia lihat di laci kecil tersembunyi itu ternyata adalah dokumen yang sama seperti yang di kirim orang misterius itu.


Raisa sempat mengira jika foto dokumen yang dikirim orang itu hanyalah rekayasa atau editan saja. Raisa mencoba berpikir positif bahkan berharap semua itu memang ulah orang yang ingin menghancurkannya.


Tapi melihat sendiri dokumen yang terlihat sengaja di sembunyikan itu membuat Raisa semakin bimbang.


Dia melirik pria yang sejak tadi menggenggam tangannya dengan erat namun terasa lembut itu. Pria yang memberikan kehangatan namun menyimpan rahasia besar. Pria yang terlihat lembut namun sebenarnya menakutkan.


Raisa menatap pada tangannya yang berada dalam genggaman Adam.


"Seandainya saja semua ini tulus Mas, pastinya aku akan sangat bahagia" Ingin sekali air mata Raisa menetes saat ini. Namun sebisa mungkin dia menahannya karena tak mau orang-orang menatapnya curiga termasuk Adam.


Tak berselang lama, meeting pun selesai. Adam pun menyetujui semua keinginan Pak Basuki sebagai salah satu buyer lokal di garmen yang di pegang Adam saat ini dengan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.


"Terimakasih Pak Basuki"


"Sama-sama Pak Adam" Mereka bersua saling berjabat tangan begitupun juga Novi yang begitu senang bisa memegang tangan Adam.


Berbeda dengan tadi saat kedatangan mereka, jelas sekali jika Raisa terlihat mengakuisi Adam di depan Novi. Tapi kali ini, Raisa terlihat acuh tak aduh bahkan ketika Novi sengaja tersenyum menggoda pada Adam.


"Mas Adam" Raisa mengubah panggilannya setelah semua orang keluar dari ruang meeting itu.


"Kenapa?? Ada yang sakit??" Adam sampai berjongkok di hadapan Raisa yang masih duduk di kursinya.


"Cuma pusing dikit aja. Aku boleh pulang duluan ya??" Tidak mungkin Raisa terus bekerja dengan suasana hatinya yang buruk saat ini.


"Iya boleh, ayo Mas antar" Adam sudah berdiri, tangannya pun sudah meraih tangan Raisa.


"Enggak, aku pulang sendiri aja. Habis ini kamu masih ada meeting lagi kan??"


Adam tidak tega melihat Raisa pulang seorang diri, apalagi dengan wajahnya yang pucat seperti itu. Tapi klien yang akan Adam temui setelah ini termasuk sangat penting.


"Iya udah, tapi biar di antar supir kantor ya??"


Raisa terpaksa mengangguk daripada harus berdebat dengan Adam atau Adam tetap keras kepala untuk mengantarnya.


"Nanti kalau sudah sampai kabari Mas ya??" Adam mengusap pucuk kepala Raisa sebelum istrinya itu masuk ke dalam mobil yang sudah siap di depan loby.


"Iya" Jawab Raisa lemah.


"Pak Wahyu, titip istri saya ya. Jalannya nggak usah ngebut-ngebut" Adam menunduk untuk melihat supir kantor berusia lima puluhan itu.


"Siap Pak Adam"


Adam menatap mobil yang membawa istrinya semakin menjauh. Sedikit kecewa sebenarnya karena istrinya itu tak melihatnya sama sekali saat dia melambaikan tangannya tadi.


"Sebenarnya kamu kenapa Sa?? Kenapa kamu belum bisa terbuka sama aku??"


Dibalik sikap dingin yang di perlihatkan kepada orang-orang di luaran sana, Adam adalah orang yang perasa. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan istrinya. Mengijinkan Raisa pulang lebih dulu bukannya dia tak peduli, tapi Adak hanya ingin memberi Raisa waktu untuk sendiri.


"Pak, bisa antar saya ke suatu tempat??"


"Loh kemana Bu?? Nanti kalau Pak Adam marah sama saya gimana?? Kan tadi bilangnya pulang ke rumah" Supir yang tak lagi muda itu tentu saja takut dengan Adam.


"Nggak perlu takut Pak, nanti saya yang tanggung jawab"


Pak Wahyu sudah tak bisa membantah lagi, dia hanya bisa menuruti keinginan Raisa.


Kini Raisa menapakkan kakinya di sebuah tanah lapang yang menjadi rumah terakhir bagi umat manusia itu.


Dia berhenti di sebuah gundukan tanah yang tampak indah karena di tumbuhi rumput hijau yang tampak subur dan rapi.


"Mama, Raisa datang" Baru satu kalimat saja yang keluar, suara Raisa sudah bergetar.


Tangannya bergerak mengusap batu nisan berwarna hitam yang bertuliskan nama Sintia Dewi Wicaksana.


"Raisa kangen Mama" Bulir bening yang menetes dari mata Raisa menjadi bukti rasa rindunya kepada Sang Mama.


"Raisa kesepian di sini Ma"


"Seandainya Mama ada di sini, pasti rasanya tidak akan seberat ini Ma"


Tiba-tiba Raisa mengulas senyuman di tengah-tengah tangisannya.


"Raisa yakin, kalau dari atas sana, Mama bisa melihat apa yang sedang Raisa alami kan??" Raisa mengusap perutnya dengan lembut.


"Mama pasti senang kan mau punya cucu??"


"Tapi Raisa bingung Ma, Raisa harus bagaimana?? Keputusan apa yang harus Raisa ambil di saat hati dan otak Raisa tidak sejalan" Raisa terduduk di tanah, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Menangis tersedu-sedu sendirian di sana. Menumpahkan semua keluh kesahnya pada pusaran Mamanya.


Hampir dua jam Raisa berada di sana dengan posisi yang sama dan tak berniat untuk beranjak sedikitpun. Dia tak sadar jika seseorang di sana sedang kelimpungan mencarinya yang tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Huh..huh..huh..huh.."


Seorang pria dengan perawakan tinggi dan tampan itu masih mengatur nafasnya yang berantakan karena berlari dari jarak yang cukup jauh.


"Mas Adam??" Gumam Raisa.


Greppp....


Adam langsung bersimpuh memeluk Raisa. Wanita yang telah berhasil membuatnya kelimpungan seperti orang gila karena sejak dua jam yang lalu Raisa tak sampai di rumah juga tak bisa di hubungi. Pak Wahyu yang di tugaskan untum mengantar Raisa juga sudah pulang dan tidak bisa di hubungi.


"Syukurlah kamu baik-baik aja. Mas khawatir Sa" Raisa masih belum bereaksi apa-apa dengan pelukan Adam itu. Dia masih terlalu terkejut melihat wajah Adam yang terlihat seperti ketakutan itu.


Adam mengurai pelukannya, mencakup wajah sembab Raisa dengan kedua tangannya.


"Lain kali jangan kaya gini lagi ya?? Kalau kamu kamu ke sini, Mas bisa antar kamu. Tapi jangan buat Mas kelimpungan karena tidak bisa menghubungi kamu kaya gini" Raisa seolah terbius dengan mata penuh kecemasan dari Adam.


"Aku cuma kangen Mama" Cicit Raisa.


"Iya Mas tau, Mas cuma takut kamu kenapa-kenapa" Adam belum ingin melepas tangannya dari wajah Raisa.


"Iya maaf"


"Sekarang kita pulang ya??" Raisa hanya mengangguk dengan patuh.


Cup...


Adam mengecup kening Raisa sebelum tangannya berpindah pada tangan Raisa dan membantu istrinya itu berdiri.


"Raisa pulang dulu Ma" Ucap Raisa sebelum mengikuti pangkah Adam dengan tangannya yang tak di biarkan lepas oleh Adam.


"Maafkan aku Mas Adam"