
Raisa langsung menghambur ke pelukan Papanya setelah dia berhasil keluar dari ruangan Adam sendirian.
Tangis Raisa kembali pecah. Sesungguhnya di balik sikap keras kepalanya itu, dia tak sekuat itu. Dia tetap wanita yang memiliki hati mudah rapuh.
"Hiks..hiks.."
"Raisa harus gimana Pa?? mas Adam tidak mau memaafkan Raisa"
Satya mengusap punggung putrinya, dia ikut merasakan sakit mendengar tangisan pilu Raisa.
"Kamu harus sabar, Papa yakin kalau Adam bukannya marah sama kamu. Tapi dia hanya kecewa, dia butuh waktu Sa"
Raisa semakin tergugu di pelukan Papanya. Dia tau kalau rasa kecewa itu pasti hilangnya akan sangat lama. Karena dia sendiri pernah mengalami kekecewaan yang sebenarnya tak bertuan.
"Kamu harus perbaiki diri kamu, buktikan pada Adam jika kamu benar-benar menyesal dengan perbuatan mu. Papa yakin lambat laun Adam akan memaafkan mu"
Raisa mengangguk dengan yakin, meski sebenarnya ingin menyerah karena tak kuat dengan rasa sakitnya. Tapi dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan maaf dari Adam. Apalagi dengan rasa cinta yang Adam miliki untuknya, Raisa yakin dia bisa mendapatkan hati Adam kembali.
"Maafkan Mama sayang, Mama sudah mengecewakan kalian berdua. Kamu pasti marah sama Mama kan karena Mama udah menyakiti Papa"
"Bantu Mama berjuang mendapatkan maaf dari Papa ya sayang" Raisa mengusap perutnya yang membuncit itu dengan lembut.
Sore harinya, Raisa diijinkan pulang karena memang dia tidak mengalami hal yang serius. Dia hanya syok saja, hingga membuatnya sedikit terguncang. Meski begitu, dokter tetap mewanti-wanti Raisa untuk menjaga kandungannya.
Untuk ke dua kalinya Raisa ingin masuk ke dalam ruangan Adam. Dia tidak akan pulang ke rumah sementara Adam masih terbaring di dalam sana. Rencananya Raisa ingin menginap di Rumah sakit untuk menemani Adam.
"Loh Mas, mau kemana??" Baru saja Raisa masuk, dia sudah melihat Adam yang telah rapi dengan baju kasualnya. Bukan lagi menggunakan baju rumah sakit seperti tadi pagi.
"Dia ngotot mau pulang, katanya sudah sembuh" Jawan Pria yang belakangan ini Raisa ketahui bernama Rudolf itu.
"Tapi Mas, kamu kan belum sembuh. Sebaiknya kamu di rawat di sini dulu" Raisa mendekati Adam yang tampak kesusahan memakai sepatunya.
"Apa peduli mu??"
Deg...
Langkah Raisa terhenti, suara yang berat dan dingin itu kembali terdengar kembali setelah beberapa bulan menjadi hangat.
"Aku bantuin ya Mas" Raisa mencoba acuh, dia menunduk untuk membantu Adam menali sepatunya.
"Jangan mendekat!!"
Raisa sudah merasa seperti virus yang tidak diinginkan siapapun untuk mendekati tubuh mereka.
Penolakan itu begitu menyakitkan, Raisa sampai meringis menahan sesak di dadanya.
"Pak Rudolf, tolong antar Nona ini pulang. Saya bisa pulang sendiri"
Setelah mengatakan hal yang lebih menyakiti Raisa itu, Adam langsung berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Raisa dan Rudolf berdua di ruangan itu.
Raisa hanya mengangguk lemah. Mau apa lagi dia sekarang kalau tidak pulang ke rumahnya. Mau menyusul Adam juga dia tidak tau Pria itu pergi kemana.
Mungkin menunggu Adam di rumahnya akan lebih baik daripada dia harus mencari Adam yang tak tau di mana. Dia juga memikirkan keadaan anak dalam kandungannya yang sempat dia abaikan.
Raisa tiba di rumah hanya di sambut Bi Asih. Meski dia tau kalau Papanya ada di rumah, namun dia tidak melihat munculnya Satya saat ini. Raisa pikir mungkin saja Papanya itu juga mendiamkannya seperti Adam saat ini.
"Non Raisa, Non nggak papa kan?? Mbok khawatir sekali saat mendengar Non dan Mas Adam masuk Rumah sakit" Bi Asih yang sudah merawatnya dari kecil itu mengusap-usap lengan Raisa.
"Raisa nggak papa kok Bi" Senyum tipis Raisa terlihat sangat di paksakan.
"Terus Mas Adamnya mana??" Bi Asih melihat ke belakang yang tak ada siapapun, Rudolf saja sudah menghilang tanpa Raisa sadari.
"Emm, Mas Adamnya, loh Mbak Wati, itu barang-barang Mas Adam mau di bawa kemana??" Perhatian Raisa teralihkan pada Mbak Wati yang turun dari lantai dua membawa koper milik Adam serta beberapa jas milik Adam yang di tenteng di tangannya.
"Anu Non, itu, Emmm Mas Adam minta Embak buat memindahkan semua bajunya ke paviliun lagi" Mbak Wati tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi dia bisa membaca situasi saat ini jika hubungan kedua orang itu sedang tidak baik-baik saja.
"Di pindahkan?? Tapi kenapa Bi??" Raisa mencelos saat ini. Adam benar-benar menciptakan jarak di antara mereka. Kalau seperti ini, Raisa tidak yakin jika Adam akan memaafkannya kali ini.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan??"
Raisa memegang kepalanya yang sebenarnya terasa pusing sejak tadi.
"Loh Non, kenapa Non?? Ayo duduk dulu" Bi Asih langsung sigap memegangi Raisa saat melihat wanita hamil itu tampak limbung.
"Raisa nggak papa kok Bi, cuma pusing aja" Raisa berjalan tertatih di bantu Bi Asih untuk menuju sofa.
"Jangan banyak pikiran Non. Ingat, kalau Non sedang hamil saat ini"
Raisa hanya menanggapi ucapan Bi Asih dengan senyum miris. Bagaimana dia tidak banyak pikiran, apa yangs edang di alaminya saat ini menyangkut begitu rumit, menyangkut perasaan, pernikahan, masa depannya dengan Adam.
Hanya satu hal yang Raisa sadari, semua itu terjadi karena salahnya. Keras kepada dan egois membuatnya terbelenggu dalam maslaah yang ia buat begitu rumit dengan sendirinya.
Tapi perhatian mereka teralihkan pada suara langkah kakinya semakin mendekat. Seseorang yang sejak tadi tunggu Raisa telah kembali.
"Mas Adam??" Gumam Raisa. Dia lalu melepaskan diri dari Bi Asih untuk menghampiri suaminya itu.
Tapi apa yang terjadi?? Sakit bukan main Raisa rasakan saat Adam berlalu begitu saja di depan Raisa. Pria itu benar-benar seperti tidak menganggap keberadaan raisa di sana.
Adam terus berjalan menuju paviliun belakang, tampa menyapa dan menegur Raisa dan Bi Asih yang telah ia lewati begitu saja.
Tes..
Air mata yang mulai gugur menjadi bukti betapa hancurnya Raisa saat ini.
"Yang sabar ya Non" Bi sekarang tau kalau majikannya itu sedang ada masalah. Tapi dia tidak berhak bertanya lebih jauh lagi.
"Nggak papa Bi, Raisa emang salah, jadi pantas saja kalau sekarang Mas Adam bersikap seperti ini" Raisa menyusut air matanya dengan kasar, kemudian membawa segenap rasa penyesalan itu menuju kamarnya.