Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Awal kebencian


"Kamu dari mana Sa??"


Sejak tadi Adam mencari Raisa yang tak ada di kamarnya saat dia kembali.


"Dari dapur Mas" Jawab Raisa tanpa memandang Adam, dia justru berjalan menuju meja riasnya.


"Kamu lapar?? Mau makan sesuatu??" Kini Adam yang mencoba mendekati Raisa.


Mengetahui istrinya itu sedang hamil dan bisa saja lapar sewaktu-waktu, tentu saja membuat Adam begitu khawatir.


"Enggak, cuma haus aja kok"


Raisa terpaksa berbohong, karena nyatanya dia bukan dari dapur tadi bersembunyi untuk menghindari Adam yang keluar dari ruang kerja Papanya.


"Kamu kenapa?? Ada yang sakit??" Adam merasakan keanehan pada Raisa dari caranya berbicara yang sedikit acuh.


Adam mencoba meraih wajah Raisa, rasanya ingin sekali menyentuh wajah ayu itu. Namun tangan Adam yang sudah mulai mendekat terpaksa harus berhenti karena di cegah oleh Raisa.


"Aku nggak papa kok Mas"


"Hanya hatiku saja yang sakit"


Raisa menatap Adam dengan tatapan yang sangat sulit di artikan oleh Adam.


FLASHBACK ON


Raisa kini berubah menjadi pendiam sejak mendengar pembicaraan Ibu dan anak waktu itu. Dia juga secara terang-terangan menghindari Adam yang dulu sering kali menemaninya belajar.


Dirinya masih tak menyangka jika Adam, pria yang terlihat penuh kasih sayang, hangat, dan terlihat tulus itu hanya mengincar hartanya saja.


Gadis 17 tahun itu tentu saja sudah mengenal apa itu cinta. Perasaan yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Perasaan yang tumbuh dengan sendirinya tanpa dia undang itu.


Rasa kagum itu lama kelamaan berubah menjadi rasa cinta untuk Adam, pria dewasa yang menjadi bodyguard Papanya itu.


Tapi tiba-tiba rasa benci itu telah mengalahkan segalanya. Termasuk perasaan asing yang telah di bangun Raisa selama ini.


Dia sama sekali tidak menyangka, jika kebaikan Adam selama ini mempunyai tujuan tertentu. Kepercayaan Raisa pada pria itu mulai pudar. Namun rasa cinta itu justru membuatnya semakin membenci Adam.


Tidak, dia lebih membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menghilangkan rasa cinta itu meski sudah tau jelas apa tujuan Adam selama ini.


Raisa terus menekan perasaannya dengan mencoba menghindari Adam, menolak segala bantuan yang pria itu berikan. Pokoknya Raisa terus saja menolak apapun yang berhubungan dengan Adam.


Termasuk kali ini, Raisa ingin sekali membeli bakso kesukaannya yang tak jauh dari rumahnya. Dia diam-diam pergi dari rumah tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Adam dan juga pengawal lainnya.


Rumah yang tampak sepi memberi kesempatan Raisa untuk pergi sendirian meski Papanya sudah sering melarangnya.


Raisa berjalan melewati taman kecil yang tak jauh dari rumahnya. Taman yang tampak asri dengan pepohonan dan juga bunga-bunga saling bermekaran.


Kaki Raisa terus berjalan menikmati sore hari yang tidak terlalu panas seperti udara kota Jakarta pada biasanya. Hingga matanya menangkap sosok yang begitu ia kenali dari kejauhan.


Bukan hanya sendiri, pria itu bersama seorang wanita yang belun pernah ia lihat sebelumnya.


"Mas Adam?? Sama siapa dia??"


Raisa yang sangat penasaran, memilih mendekat dengan perlahan. Bersembunyi di balik pohon yang cukup dekat dengan mereka.


Mata Raisa membola saat wanita itu justru masuk ke dalam dekapan Adam.


Bunga-bunga yang tumbuh dalam hati Raisa untuk Adam sempat layu karena pernyataan Ibunya Adam beberapa saat lalu, kini benar-benar gugur.


Ternyata pria yang dicintainya itu telah memiliki tambatan hati dan bahkan sudah memiliki restu dari orang tua mereka.


Raisa yang sudah tak tahan lagi memilih pergi dari sana. Membawa rasa sakitnya sendirian.


Tapi kini dia menyadari sesuatu, keputusannya untuk membenci Adam adalah hal yang tepat. Selain karena niat busuk pria itu, namun itu juga satu-satunya cara untuk membentengi dirinya sendiri dari perasaan cinta yang berakhir menyedihkan itu.


Sejak saat itu, Raisa gadis yang ceria berubah menjadi gadis angkuh dan keras kepala. Semua itu ia lalukan untuk melindungi hatinya sendiri.


Apalagi tujuan terbesarnya adalah untuk membongkar niat buruk Adam pada Papanya dan seluruh harta yang di miliki Papanya.


FLASHBACK OFF


Dan belakangan ini Raisa baru tau jika wanita itu bernama Ayu. Wanita yang beberapa hari lalu ia temui lagi setelah lima tahun berlalu.


Siapa sangka ternyata Adam dan Ayu masih berhubungan selama ini setelah Raisa berusaha untuk tidak mencari tau tentang Adam setelah peristiwa menyakitkan itu.


"Hey, kenapa melamun??" Raisa baru sadar ternyata Adam sudah berjongkok di bawahnya.


"Enggak" Raisa membuang semua masa lalu dari pikirannya itu.


Dia kemudian mengambil sesuatu dalam laci meja riasnya. Sebuah kotak kecil yang ia gunakan untuk menyimpan sesuatu.


"Ini, waktu kamu tanya kan kenapa aku nggak pakai cincin pernikahan kita??"


Adam melihat cincin yang di ambil Raisa dari kotak itu.


"Sekarang, pakaikan lagi Mas"


Adam menerima cincin itu dari tangan Raisa. Cincin yang di berikan Adam sebagai pengikat di antara mereka.


"Maaf ya, kemarin aku sempat melepasnya"


"Iya nggak papa. Aku tau kalau kamu belum siap dengan pernikahan kita ini"


Raisa benci saat Adam memberinya senyuman lembut seperti saat ini. Membuat Raisa tak bisa membedakan senyuman itu palsu atau benar-benar tulus.


"Ayo pakaikan" Raisa mengulurkan tangan kanannya untuk Adam.


"Iya baiklah"


Tangan dengan jari yang lentik itu di raih oleh Adam. Memilih jari manis dari Raisa untuk menyematkan cincin dengan batuan kecil melingkari seluruh permukaan cincin itu.


"Semoga cincin ini tidak akan pernah lepas dari jari mu ya Sa. Semoga Allah selalu melindungi pernikahan kita, Aamin"


Raisa hanya diam tanpa menjawab apapun, namun kalimat sederhana yang mengandung harapan besar itu telah berhasil mengaduk-aduk hati Raisa.


Cup...


Raisa memejamkan matanya saat Adam mencium punggung tangannya dengan begitu lembut.


"Maafkan aku Mas Adam"