
Raisa memandang Adam yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dari sorot matanya itu, Raisa ingin menebak jika pria itu tengah kecewa dengan kabar yang mungkin saja sudah ia dengar dari dokter Wira. Salahkah jika Raisa menganggap Adam tengah kecewa?? Tapi tatapan pria itu jelas sekali menyiratkan akan hal itu.
"Apa benar dia kecewa??"
"Apa dia mengharapkan aku benar-benar hamil??"
Pria itu mendekat ke arahnya dengan diam tanpa suara.
"Kamu sudah lebih baik??" Adam menelisik wajah Raisa. Jika Adam tidak salah, mata istrinya itu terlihat sembab dan sedikit basah.
"Hemm, setelah tadi dokter Wira menyuntikkan obat yang nggak tau itu apa" Raisa tak bernai menatap Adam.
"Kalau gitu, istirahat lagi. Aku keluar dulu"
Raisa hanya diam saja saat Adam membantunya merapikan selimutnya.
Raisa bahkan melihat seulas senyum miris dari bibir Adam sebelum pria itu berbalik meninggalkan kamarnya.
"Jangan pergi Mas!!" Ingin sekali Raisa berteriak untuk menghentikan langkah kaki Adam. Namun nyatanya suaranya tercekat tak bisa keluar.
Tes....
Air mata Raisa yang tadi sempat ia sapu dengan buru-buru sebelum Adam masuk ke kamar, sekarang kembali menetes. Bahkan lebih deras dari sebelumnya.
Perasaanya sudah tak menentu saat ini. Raisa hanya bisa menangis dalam diam, menutup wajahnya dengan selimut. Berharap Adam tidak masuk lagi ke dalam kamar saat ini.
*
*
*
Keesokan harinya, saat Adam keluar dari kamar ganti dan sudah rapi dengan baju kantornya. Penampilannya yang kini sudah menanggalkan baju-baju serba hitamnya membuat Adam terlihat berbeda, namun tetap mempesona.
Raisa sering kali terlalu beberapa detik melihat pria yang jauh dari kriterianya itu. Seperti saat ini, dia yang masih terbaring di tempat tidur terus memandang Adam.
"Kamu belum enakan??"
"Belum, hari ini nggak ke kantor dulu nggak papa kan??" Raisa memejamkan matanya saat parfum Adam menyapa indra penciumannya. Membuat otak Raisa bekerja dengan liar karena mimpi kemarin pagi melintas lagi di pikirannya, dimana Adam mengungkungnya di bawah tubuh kekar itu.
"Tidak papa, pastikan kamu sehat dulu baru ke kantor"
"Aku berangkat dulu" Adam mengulurkan tangannya untuk Raisa.
"Hati-hati, maaf nggak bisa siapin sarapan" Tanpa ragu Raisa menerima uluran tangan Adam itu. Mengecup punggung tangan Adam dengan lembut.
"Tidak papa"
Serrr...
Seluruh tubuh Raisa berdesir hebat saat Adam mengusap lembut pucuk kepalanya.
Wajah Raisa memerah dan terasa panas sementara pelakunya sudah melesat pergi dari kamar Raisa.
"Hemmbbb.."
Raisa membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang sudah ia tahan sejak tadi kini tak bisa lagi ia bendung.
Dia memang sengaja menahan mualnya karena tak ingin Adam melihatnya masih dalam keadaan seperti itu. Raisa takut jika Adam berpikir lagi kalau Raisa benar-benar hamil.
"Hoek.. Hoek..."
Raisa kembali memuntahkan angin saja. Perutnya yang kosong itu tentu saja tidak mengeluarkan apa-apa.
"Gue harus cepat pergi mumpung dia udah berangkat" Ucapnya Raisa menatap dirinya dengan yakin pada pantulan cermin di kamar mandinya.
*
*
*
Raisa memakai topi dan kacamata hitamnya saat tiba di depan sebuah rumah sakit. Dia akhirnya menuruti perintah dokter Wira untuk datang ke rumah sakit memeriksakan keadaannya lebih lanjut.
"Huffftt...." Entah apa maksud dari helaan nafas berat itu. Tapi perlahan Raisa melangkah semakin dalam ke Rumah sakit tempat dokter Wira praktik itu.
Raisa sudah menunggu di depan ruangan yang bertuliskan dokter spesialis itu. Berusaha setenang mungkin di saat dia hanya seorang diri meski di sekitarnya datang bersama orang yang mereka cintai.
"Nyonya Raisa!!" Setelah lebih dari tiga puluh menit akhirnya nama Raisa di panggil juga.
Meski dia sudah tau keadaan tubuhnya sendiri, namun Raisa tetaplah merasa takut.
"Silahkan berbaring Nyonya"
Raisa sudah melepas topi dan kacamatanya, tak peduli lagi jika perawat dan dokter yang ada di dalam ruangan itu mengenali dirinya,
"Nyonya, coba lihat ke layar. Gambar yang saya tunjuk dengan anak panah ini adalah janinnya. Masih sangat kecil sekali dan masih sangat rentan. Jadi harus benar-benar di jaga ya, jangan terlalu lelah dan stres karena itu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang janin"
"Tentu Nyonya, ini buktinya"
Setelah itu Raisa tak banyak bertanya, lebih tepatnya tidak bisa lagi berkata-kata selain mendengarkan nasehat dokter.
Setelah keluar dari ruangan itupun Raisa hanya bisa terus mengulas senyumnya. Perasannya yang begitu bahagia membuatnya menghentikan senyumnya itu.
"Bagaimana hasilnya??" Raisa terkejut karena tiba-tiba dokter Wira muncul di sdepannya.
"Sesuai yang dokter katakan, keadaannya juga sehat dan masih sangat kecil"
Dokter Wira ikut senang mendengar kehamilan Raisa itu.
"Tapi saya sarankan, kamu tetap harus memberi tahu Pak Adam Sa"
Raisa langsung terdiam, mengingat permintaannya kepada dokter Wira kemarin.
"Kamu udah tau kalau kamu.." dokter Wira menggantung ucapannya.
"Belum, tapi perasaan ku saja dok"
Dokter Wira mengangguk-angguk setelah memeriksa detak jantung serta denyut nadi Raisa.
"Sepertinya firasat kamu memang benar Sa, lebih baik besok kamu datang ke Rumah sakit dan temui dokter kandungan. Untuk memastikan saja. Aku yakin kalau Pak Adam pasti akan sangat senang"
"Dokter" Raisa memegang tangan dokter Wira.
"Aku mohon jangan kasih tau Mas Adam dulu. Aku belum siap"
"Maksudnya??" Dokter Wira tentu saja bingung dengan permintaan Raisa.
"Dokter tau kan kenapa aku harus menikah sama Mas Adam??" Dokter Wira mengangguk.
"Jadi jangan katakan tentang kehamilan ku ini ya dok??"
Dokter sempat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju meski dengan sangat berat.
"Terimakasih dokter" Mata Raisa berkaca-kaca.
"Tapi kamu harus janji kalau kamu besok harus datang ke Rumah sakit untuk melihat keadaannya di dalam sana"
Raisa mengangguk dengan patuh atas perintah dokter Wira itu, sampai akhirnya dia tiba di sini saat ini.
"Kenapa?? Kamu masih berat??" Tanya dokter Wira yang tak di jawab apapun oleh Raisa.
"Apa yang kamu takutkan Sa?? Aku bisa lihat sendiri bagaimana kecewanya dia saat aku mengatakan kalau kamu tidak hamil. Aku yakin kalau dia sangat mengharapkan kamu hamil Sa"
Raisa kembali diam, karena kemarin dia bisa melihat sendiri kekecewaan itu dari mata Adam.
"Dia pria baik Sa, dia berhak tau tentang ini. Sekali lagi, selamat atas kehamilan kamu. Jaga baik-baik" Ucap dokter Wira segera pergi dari sana.
"Apa aku harus memberi tahu Mas Adam?? Benarkah dia mengharapkan kehadirannya??" Raisa mengusap lembut perut ratanya.
Raisa kini telah tiba di pabrik tempat dia biasanya bekerja setiap harinya. Dia hanya menuruti kata hatinya yang membawanya datang ke sana untuk menemui Adam.
"Mungkin memang benar kalau aku harus memberi tahunya"
Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, Raisa masuk ke dalam gedung kantor yang hanya berlantai dua itu. Menuju ruangan yang sudah sangat dia hafal.
"B-bu Raisa?? Bu Raisa ke sini?? Kata Pak Adam, Bu Raisa sakit??" Gaby terlihat gugup melihat kedatangan Raisa yang tiba-tiba.
"Sekarang sudah lebih baik" Jawab Raisa sambil menuju pintu ruangan Adam.
"Tunggu Bu, Pak Adam sedang ada tamu" Ucapan Gaby berhasil menghentikan Raisa.
"Tamu??"
Cklek...
Suara pintu yang terbuka dari dalam membuat Raisa mengabaikan Gaby yang ingin memberitahu siapa orang yang menemui Adam, karena seingatnya, tidak ada tamu yang membuat janji dengan Adam hari ini.
Deg....
Seorang wanita keluar dari pintu di depannya. Seorang wanita yang pernah ia lihat beberapa tahun yang lalu.
Gerakan di depannya terlihat sepeti slowmotion saat wanita itu melewatinya begitu saja. Dengan senyuman yang manis dan terlihat polos seperti yang pernah ia lihat dulu.
"Dia??"
*
*
*
Wah wah, kira-kira siapa wanita itu yaa?? Apa hubungannya dengan Adam dan Raisa??