
Dulu Raisa sangat suka bermalas-malasan. Turun sari ranjang saja rasanya berat di pagi hari. Tapi sekarang, setelah beberapa hari mengurus dirinya sendiri, Raisa justru bingung harus melakukan apa. Paginya jadi ada yang kurang menurutnya.
Sejak tadi Raisa hanya berdiam di kamar. Ingin bersiap ke kantor pun masih terlalu pagi menurutnya.
"Siapin baju Mas Adam aja deh" Raisa baru ingat pesan suaminya tadi.
Dia berjalan menuju tuang ganti yang cukup besar di kamarnya itu. Dulu ruangan itu hanya terisi baju-baju mahal miliknya saja. Tapi kini terselip satu lemari yang di isi dengan baju pria milik Adam.
Raisa tersenyum miris, melihat baju mereka yang bersandingan, terlihat jomplang menurutnya. Baju Adam hanya sedikit, bahkan tak sampai seperempat dari milik Raisa. Bisa di lihat juga jika baju-baju itu tak memilki harga yang mahal. Pertanyaan-pertanyaan muncul lagi di benak Raisa.
"Sebenarnya kehidupan Mas Adam itu kaya apa?? Kenapa misterius sama sekali. Gue aja baru lihat Ibunya. Ayah, Adik atau Kakaknya gue nggak tau sama sekali. Waktu pernikahan kita juga nggak ada yang datang ke sini"
Pintu kamar yang terbuka menyadarkan lamunan Raisa. Dia yakin jika suaminya itu sudah kembali. Dia cepat-cepat mengambil setelah kerja dengan style yang biasa Adam gunakan.
"Sa??"
"Hemm, udah pulang??" Raisa berbalik dan mendapati Adam sudah ada di belakangnya tapi dia langsung membuang pandangannya ke arah lain.
Matanya tak kuat melihat Adam yang semakin seksi dengan baju yang basah karena keringat itu. Tak dapat di tampik jika Raisa begitu menyukai Adam yang selesai olahraga seperti itu.
"Astaga, kenapa ada manusia seseksi ini??" Raisa memilih meletakan baju Adam di atas meja kaca yang berisi aksesoris milik Raisa.
"Udah, Mas mandi dulu ya. Makasih udah siapin bajunya"
"Iya, udah sana cepetan. Habis ini gantian" Raisa tak mau menatap ke arah Adam sejak tadi.
Mendengar ucapan Raisa itu, Adam justru tersenyum jahil. Dia mendekati Raisa yang sejak tadi tampak menghindarinya.
"Mau apa??" Raisa was-was karena melihat Adam mendekat dari ekor matanya.
Adam mencondongkan tubuh tingginya untuk berbisik di telinga Raisa.
"Mau mandi bareng nggak??" Bisik Adam dengan suara rendahnya sampai membuat seluruh badan Raisa berdesir.
Namun melihat Raisa yang perlahan menatapnya dengan tatapan tajamnya. Membuat Adam mengambil langkah seribu sebelum amarah istrinya itu meledak.
"Bercanda sayang" Ucap Adam sambil berlari ke arah kamar mandi setelah sebelumnya memungut pakaian gantinya.
"Dasar buaya mesum!!" Umpat Raisa namun tak dapat di pungkiri jika Adam berhasil membuat hati Raisa berdebar-debar.
"Cih, apa tadi katanya?? Sayang??" Raisa mencoba menghentikan bibirnya yang terus tersenyum.
*
*
*
Siang ini jadwal Adam untuk meeting bersama Pak Basuki dari PT Arco Tama yang beberapa waktu waktu lalu tidak bisa hadir dan hanya di wakili oleh sekretarisnya saja yaitu Novi.
Wanita yang sempat membuat Raisa panas sampai Raisa harus bertindak konyol untuk menunjukkan pada wanita itu jika Adam adalah milikinya.
Yah kalian pasti masih ingat, saat Raisa yang pura-pura sakit kepala dan berakhir dengan mendapat obat ciuman yang memabukkan dari Adam.
Kini Adam, Raisa dan juga beberapa staf lainnya sudah menunggu kedatangan Pak Basuki di ruang meeting di lantai satu kantornya.
Tok..tok..
Gaby membuka pintu ruangan meeting yang terbuat dari kaca itu.
"Pak Basuki sudah tiba Pak" Ucap wanita seksi itu pada Adam.
Tak lama kemudian, Pak Basuki tentu saja di temani sekretaris yang saat ini menjadi kandidat wanita yang perlu di waspadai oleh Raisa, siapa lagi kalau bukan Novi. Juga ada satu orang pria yang Raisa tidak tau itu siapanya Pak basuki.
"Selamat siang Pak Basuki, akhirnya kita bisa bertemu juga" Adam berdiri menyambut Pak Basuki dengan menjabat tangannya.
"Maaf Pak Adam, kemarin saya tidak bisa datang karena istri saya sedang sakit" Pria berperut buncit dengan kepala botak itu memamerkan senyum lebarnya.
"Wah Pak Basuki ini terlihat sangat mencintai istrinya rupanya" Puji Adam.
"Wah jelas dong, walaupun sudah menikah lebih dari 20 tahun, hubungan saya sama istri tetap harmonis. Saya doakan Pak Adam dan juga Bu Raisa langgeng sampai akhir hayat nanti. Buktinya saja sekarang Bu Raisa selalu ada di dekat Pak Adam"
Pembicaraan kedua petinggi perusahaan itu hanya di dengar oleh bawahan mereka yang ikut tersenyum apabila keduanya tertawa bersama.
"Terimakasih doanya Pak Basuki, saya aminkan tentunya. Tapi memang benar, saya dan istri saya memang nggak bisa jauh. Makanya saya meminta istri saya ikut ke kantor supaya bisa melihat istri saya setiap saat, iya kan sayang??" Adam tiba-tiba menarik pinggang Raisa hingga tubuh keduanya saling menempel.
Namun Raisa tak menolak sama sekali, dia justru tersenyum licik sambil menatap Novi yang tampak tak suka dengan kemesraan mereka berdua.
"Iya dong Pak Adam. Lagipula, saya juga tidak mau kalau sampai suami saya ini di lirik wanita lain Pak Basuki. Soalnya jaman sekarang ini, kalau saya nggak bisa jaga suami, pasti akan banyak wanita di laur sana yang tergoda sama suami saya. Benar kan Pak??" Raisa mengatakan semua itu dengan wajah yang begitu cerah dan tidak tampak menyinggung siapapun. Namun tidak bagi Novi dan juga Gaby yang wajahnya sudah memerah karena merasa ucapan Raisa itu tertuju pada mereka.
Bahkan Raisa sengaja menyandarkan kepalanya pada dada Adam.
Sementara Adam justru menatap Raisa dengan tatapan kagumnya. Tak menyangka jika istrinya itu begitu piawai bersilat lidah.
"Hahaha benar sekali Bu Raisa. Pak Adam yang tampan ini pasti banyak sekali wanita yang menginginkannya di luaran sana"
"Betul sekali Pak Basuki, tapi sebaiknya sekarang kita duduk dulu" Raisa yang sudah sangat bosan dengan basa basi itu akhirnya memilih memotongnya lebih dulu.
"Mas suka kalau kamu agresif kaya gitu" Bisik Adam pada Raisa yang masih ada di pelukannya.
Sedetik kemudian Adam meringis karena mendapat hadiah menyakitkan di pinggangnya. Karena banyaknya orang di sana, Adam hanya bisa meringis menahan sakitnya cubitan Raisa.
"Di cubit sama istri ternyata lebih sakit dari pada di pukul sama sepuluh lawan" Gumam Adam yang di dengar Raisa, membuat pelakunya itu menahan senyumnya.
Meeting pun sudah berlangsung selama 15 menit tapi Adam pun menyadari masih ada file yang tertinggal di ruangannya.
"Sa, ada satu lagi file yang tertinggal di ruangan. Mas ambil dulu ya" Bisiknya pada Raisa.
"Nggak usah, nggak enak dong kalau kamu yang pergi. Biar aku aja"
"Tapi Sa.." Adam sebenarnya khawatir dengan istrinya yang sedang hamil muda itu karena harus menaiki tangga ke lantai dua untuk sampai ke ruangannya.
"Udah deh!!" Raisa pun pergi keluar dengan pelan agar tidak mengganggu jalannya meeting itu.
Raisa masuk ke ruangan Adam dengan terburu-buru, mencari file yang Adam maksud itu.
"Dimana sih??"
Raisa sudah mencari di meja kerja Adam, di meja dekat sofa pun tak ada.
"Di laci kali ya??" Raisa membuka satu persatu laci pada meja Adam, tapi tetap tidak ada hingga Raisa melihat sebuah laci yang letaknya ada di dalam laci yang lebih besar. Di laci kecil tersembunyi itu juga ada sebuah kunci yang menggantung di sana. Entah sengaja di tinggal atau memang ketinggalan tapi yang pasti bisa membuat Raisa penasaran.
Raisa yang memang sangat ingin tau segala sesuatu tentang Adam, tentu saja itu menjadi kesempatan baginya karena laci itu tampak mencurigakan.
Clik...
Raisa berhasil memutar kunci itu hingga lacinya bisa di buka.
Di dalam sana ada beberapa kertas yang tidak di pakaikan map karena pasti tidak akan muat.
Raisa mengambil salah satunya, membaca baris demi baris yang ada dalam kertas itu. Dari tatapan matanya, Raisa tampak mengenali surat itu hingga membuat tangannya mulai gemetar.