
Raisa yang panik melihat baju suaminya penuh darah langsung berjalan mendekat. Dia ingin memastikan apa darah itu keluar dari luka Adam atau justru Adam mempunyai luka yang baru. Raisa sangat khawatir saat ini.
Tapi gerakan tangan Raisa harus terhenti karena Adam justru menghindar dan masuk ke dalam kamar mandi.
Wanita yang masih memakai mukena putihnya itu hanya menatap nanar ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup beberapa detik yang lalu.
"Hufff, sabar Raisa. Semua memang salah kamu jadi jangan pernah menyalahkan dia atas sikapnya itu"
Sambil menunggu Adam mandi, Raisa merapihkan mukenanya. Dia juga menyiapkan teh hangat serta kotak obat yang mungkin saja Adam butuhkan untuk mengobati lukanya.
Hampir tiga puluh menit Raisa menunggu, akhirnya Adam keluar juga. Adam muncul dari balik pintu hanya denhan handuk yang membelit sebatas pinggangnya saja.
Glek...
Raisa mengalihkan pandangannya dari perut dan dada Adam yang tak tertutup kain itu. Memang baru kali ini dia melihat Adam yang berte**njang dada seperti itu, selain kejadian malam itu. Tapi waktu itu dia tidak begitu memperhatikannya.
Dan sekarang Raisa tau kenapa alasannya Adam tidak pernah membuka bajunya di depan Raisa. Itu pasti karena semua luka yang Adam miliki itu. Raisa juga baru saja melihat dari ekor matanya jika di pinggang depannya ada sebuah goresan memanjang hampir sampai ke pusar.
Raisa beralih mengambil secangkir teh yang ia siapkan tadi. Membawanya mendekat pada Adam yang masih mengusap rambutnya dengan handuk secara berlahan.
"Minum teh dulu Mas. Ini masih hangat" Raisa menyodorkan tehnya, tanpa mau mendongak menatap lawan bicaranya.
"Letakkan di sana" Pria itu bahkan berkali-kali lipat lebih dingin dari pada sebelum mereka menikah.
Tangan Raisa rasanya kaku ketika ingin menarik tangan yang sudah terlanjur terulur untuk memberikan suaminya segelas teh. Penolakan demi penolakan kini terus Raisa rasakan.
Suasana di kamar yang tak terlalu besar itu kini semakin mencekam karena keduanya yang saling terdiam. Raisa yang tak tau harus apa dan Adam yang sudah tak peduli lagi.
Pria itu kini justru duduk di sisi ranjangnya yang menghadap langsung ke lemari kaca di depannya dan membelakangi Raisa yang terus berdiri sejak tadi.
Tak ada kata-kata lagi yang terucap dari bibir Raisa sekalipun itu kata maaf. Wanita hamil itu justru mendekati Adam bersama kotak obat yang sudah sejak tadi Raisa siapkan.
Mata yang biasanya jernih itu kini terbiasa buram tertutup air mata. Seperti saat ini, Raisa tak kuasa menahan tangisnya karena melihat luka Adam yang sudah tidak di tutup perban itu kembali mengeluarkan darah. Luka itu sedikit terbuka, jahitannya bahkan seperti ada yang terlepas menimbulkan luka baru di sekitarnya.
"Mas lukamu, kita ke Rumah sakit aja ya??"
Adam mengangkat wajahnya menatap Raisa dari cermin di depannya.
"Tidak perlu"
"Tapi ini bisa infeksi, kamu belum benar-benar sembuh" Raisa menahan tangisnya sampai suaranya lirih dan bergetar.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di luar sana Mas?? Kenapa kamu bisa kaya gini??" Raisa hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Dia takut Adam semakin marah kepadanya karena banyak bertanya.
"Tidak perlu sok peduli, lebih baik Nona urus diri Nona sendiri"
Adam justru meraih kotak obat yang di bawa Raisa, lalu mulai mencoba mengobati lukanya sendiri.
"Tidan usah repot-repot" Sinis Adam membuat Raisa kesal.
Bukannya takut dan mundur membiarkan Adam mengobati lukanya walau terlihat sangat kesusahan. Raisa justru merebut pinset dari tangan Adam itu.
"Ck" Terdengar decakan kesal dari Adam tapi Raisa tak peduli. Dia mulai membersihkan luka Adam yang darahnya masih merembes keluar meski sudah di basuh dengan air.
Tanpa rasa jijik Raisa dengan telaten mengobati luka yang tidak bisa di bayangkan rasa sakitnya oleh Raisa.
Raisa sendiri heran karena Adam tak bereaksi apapun, padahal pasti sangat perih jika luka itu terkena cairan alkohol.
Dengan terus menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan isakannya, Raisa mulai menutup luka itu dengan perban.
Tes..
Setitik air mata itu menetes di punggung Adam. Membuat pemilik punggung itu sedikit terkejut lalu menatap Raisa melewati pantulan cermin di depannya.
Melihat Raisa menahan tangisnya tangisannya seperti itu, tentu saja membuat Adam ingin menarik Raisa ke dalam pelukannya, namun itu dulu. Sedangkan untuk saat ini, rasanya Adam tak ingin melakukan apapun. Dia sudah terlanjur sakit hati, atau mungkin mati rasa.
"Luka ini" Raisa menyentuh bekas luka Adam yang ada di bahu dengan lembut.
"Maafin Ica ya Mas. Semua luka ini Mas dapat hanya karena melindungi ku"
"Tidak perlu berterimakasih Nona, pekerjaan saya memang resikonya seperti ini. Jadi sudah tugas saya melindungi Nona"
Raisa sebenarnya sangat risih saat Adam terus memanggilnya seperti itu.
Namun sekarang Raisa juga bisa menyimpulkan satu hal, yaitu tentang perasaan Adam kepadanya. Memang seperti yang Adam katakan tadi jika itu memanglah tugas dan resiko dari pekerjaannya. Tapi di balik itu, tidak akan ada orang yang rela berkali-kali terluka hanya untuk melindungi wanita keras kepala seperti Raisa, kecuali tanpa rasa cinta di dalamnya.
Grepp...
Raisa memeluk leher Adam dari belakang dalam kondisi berdiri sementara Adam masih duduk dengan tenang di ranjangnya.
Dia kembali menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya selama ini.
"Maafkan Ica Mas, Ica emang nggak tau diri. Ica sampai tidak pernah menyadari perasaan Mas Adam karena Ica sudah terlanjur menutupnya dengan kebencian. Meski sebenarnya hati ini tidak bisa mengingkari jika selama ini Mas Adam tetap pemilik hati Ica" Raisa semakin memeluk leher Adam dengan kuat meski pria itu terus tak bergeming.
Seharusnya seperti ini yang Adam inginkan dari, pelukan hangat dari wanita yang ia cintai di saat dirinya terpuruk dan membutuhkan sandaran. Tapi tidak untuk saat ini.
Mendapatkan pelukan dari Raisa yang begitu hangat itu justru terasa menyakiti hatinya.
Adam tersenyum sinis mendengar ungkapan hati Raisa. Kedua pasang mata itu saling bertatapan melalui cermin di depan mereka. Tidak lama, hanya beberapa detik sampai akhirnya Adam meraih tangan Raisa lalu menyingkirkannya dari lehernya. Lalu bangkit menjauh dari Raisa.
"Terimakasih sudah repot-repot membersihkan luka saya. Tapi Nona tidak perlu mengatakan kebohongan tentang perasaan Nona pada saya hanya karena merasa bersalah sama saya. Sungguh saya tidak butuh"
Adam berlalu ke kamar mandi lagi untuk mengganti bajunya setelah berhasil membuat Raisa membisu.