
"Kamu nggak hamil kan Sa??"
Deg....
"H-hamil??"
Tubuhnya yang sejak tadi sudah terasa lemas itu langsung limbung ke belakang.
"Kamu nggak papa??" Namun secepat kilat Adam berhasil menahan tubuh Riasan hingga akhirnya Raisa jatuh ke dalam pelukan suaminya itu.
"Kita pulang aja ya, kayaknya kamu nggak baik-baik aja"
Riasan sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya. Lehernya seakan di tahan oleh seutas tali karena pertanyaan Adam tadi.
Dia benar-benar melupakan satu fakta itu, bahwa bisa saja benih Adam memang telah berkembang di dalam rahimnya.
Raisa memaki dirinya sendiri kenapa satu bulan ini di buat terlena akan hal itu. Raisa lupa, tak mengingat sedikitpun. Bahkan tidak sadar jika waktu datang bulannya sudah lewat sekitar dua minggu yang lalu.
"Bisa jalan??" Tanya Adam lagi namun Raisa hanya diam.
Hap...
Tanpa aba-aba, sekarang Raisa sudah berakhir di gendongan Adam. Pria itu menggendong Raisa ala bridal style, keluar dari restoran itu dengan puluhan pasang mata yang menatap mereka.
Apa yang dilakukan Adam ini juga tak mendapat protes dari Raisa, dia justru merasa nyaman. Rasa mual yang sejak tadi ia rasakan mendadak hilang karena mencium parfum Adam yang sudah akrab dengan hidungnya itu.
Adam membantu Raisa duduk di kursinya, tak lupa memasangkan sabuk pengaman pada tubuh yang lemah itu.
Raisa yang sejak tadi berdoa agar debaran jantungnya tidak di dengar oleh Adam, kini hanya bisa pasrah saat wajah Adam berada tepat di depannya dan begitu dekat saat memasangkan sabuk pengaman itu. Tak peduli lagi tentang Adam yang akan mendengar detak jantungnya atau tidak.
"Kita ke rumah sakit ya??" Adam belum masuk ke mobil dan masih berada di damping Raisa.
"Nggak mau, aku mau pulang. Pingin tiduran aja, nanti juga sembuh" Tolak Raisa dengan manja, jelas untuk pertama kalinya di depan Adam.
"Tap..."
"Please Mas" Raisa menatap Adam dengan tatapan memohon.
"Baiklah" Setelah itu Adam berjalan memutar untuk duduk di balik kemudinya.
"Gimana kalau aku benar-benar hamil??"
"Apa aku siap??"
"Itu tandanya aku akan terus terikat dengan dia" Raisa menoleh menatap Adam yang fokus pada jalanan di depannya.
"Terus apa dia akan menerima anak ini nantinya??"
"Ya Allah, salahkah aku jika aku berharap tidak ada nyawa di dalam rahimku saat ini?? Bukan aku menolak rezeki Mu, tapi aku belum siap. Apalagi tentang dia dan segala masa lalunya"
Raisa mencoba memejamkan matanya, mencoba menghilangkan sakit kepalanya, namun justru otaknya terus memaksanya berpikir atas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika benar dia hamil saat ini.
"Bangun Sa, kita sudah sampai" Adam turun lebih dulu dan ingin menggendong Raisa kembali seperi tadi.
"Aku bisa sendiri" Tolak Raisa dengan halus, namun terkesan dingin menurut Adam.
Langkah Raisa yang masih terlihat lunglai itu hanya di ikuti Adam dari belakang tanpa Adanya protes dari lelaki itu. Dia tampak begitu sabar mengikuti Raisa dengan tas perempuan di tangan kanannya.
Raisa sempat terkejut saat Adam tiba-tiba berlutut di depannya, membantunya melepas hellsnya yang sebenarnya bisa saja di lepaskan oleh Raisa dengan mudah.
Raisa ingin menolak namun dia justru di buat bungkam oleh pesona Adam yang ia lihat dari posisinya saat ini. Adam begitu tampan walau di lihat dari atas. Kulit wajahnya yang halus meski tak seputih pria-pria Korea idola Raisa, justru membuat Adam begitu mempesona.
"Kenapa bisa seganteng ini?? Pantesan Stevi sama Fani tergila-gila sama ni orang"
"Kamu istirahat dulu, aku akan panggilkan dokter Wira"
Deg...
Raisa mendadak ketakutan, dia takut jika dokter Wira akan memberikan kabar yang sampai saat ini masih mencoba untuk di tampik oleh Raisa.
"Nggak udah, aku nggak papa beneran" Tolak Raisa dengan tegas, kali ini tak semanja tadi yang sebenarnya sedikit membuat Adam terkejut.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit!! Mau pilih yang mana??" Tampa Raisa sangka ternyata Adam membalasnya dengan lebih tegas, tidak!! Mungkin bisa lebih ke galak daripada tegas.
"Ya udah terserah" Putus Raisa. Menurutnya itu akan lebih baik daripada harus ke rumah sakit.
"Aku kenal dokter Wira, mungkin aku bisa meminta bantuannya untuk segala kemungkinan yang terjadi"
Adam kembali ke kamar tak berselang lama, namun dia membawa segelas ari putih di tangannya.
"Minum dulu"
Meski Adam masih terlihat dingin, dengan wajahnya yang tanpa ekspresi itu, Raisa merasa senang karena secuil perhatian yang tak terlalu kentara itu.
"Makasih" Cicit Raisa.
"Hemm"
"Kamu tidak ke kantor lagi??" Raisa melihat jam di pergelangan tangan Adam dengan sekilas.
"Enggak"
Sudah..
Itu saja jawaban Adam...
Membuat Raisa mendadak malas menanyakan alasan mengapa pria itu tidak kembali ke kantor.
"Ah sudahlah, kepala gue terlalu pusing buat mikirin hal nggak penting kaya gitu"
Tok.. Tok..
"Mas Adam, dokter Wira sudah datang"
Setelah sekitar setengah jam Raisa hanya di temani patung bernyawa itu, akhirnya Bi Asih mengetuk pintu kamar Raisa.
"Persilahkan masuk Bi"
"Selamat siang Pak Adam" Dokter Wira telah lebih dulu muncul dari belakang Bi Asih.
"Selamat siang dokter, maaf mengganggu waktu dokter" Karena tadi saat Adam menelpon, ternyata hari ini dokter Wira sedang mengambil cuti.
"Tidak ada yang mengganggu, ini memang sudah pekerjaan saya"
"Terimakasih kalau begitu. Silahkan dokter"
Adam membawa dokter Wira mendekat pada Raisa.
"Kenapa Raisa?? Ada yang tidak beres pada badanmu??"
"Nggak tau dok, rasanya pusing dari tadi pagi"
Dokter Wira sudah memasang stetoskop pada telinganya, namun mata Riasan mendadak menatap Adam dengan sebuah arti.
"Baiklah aku tunggu di luar"
Dokter Wira hanya tersenyum, dia maklum dengan pasangan muda itu.
Meski sebenarnya Adam ingin mendengar sendiri bagaimana keadaan Raisa, namun dia tetap memilih mengalah keluar. Adam tau jika Raisa masih malu walau status mereka sudah suami istri.
Lima belas menit berlalu, hingga suara decitan pintu yang terdengar membuat Adam langsung berdiri menghampiri dokter Wira.
Sungguh demi apapun, ternyata Adam begitu menginginkan jawaban yang sejak tadi terus ia panjatkan kepada Sang Maha Kuasa.
"Bagaimana dokter?? Apa Raisa hamil?? Soalnya gejalanya menunjukkan seperti wanita hamil muda"
Jangan tanya Adam tau dari mana gejala-gejala seperti itu. Ternyata diam-diam dia mencari tau semua yang berhubungan dengan Ibu hamil.
Kalian semua jangan terkejut, jika ternyata Adam begitu menginginkan benihnya tumbuh di rahim Raisa.
Namun rasa penasaran Adam itu di seakan di jawab dengan wajah bersalah milik dokter Wira.
"Maaf, Raisa hanya kelelahan saja"
Deg....
Harapan yang telah Adam bangun setinggi mungkin, telah runtuh begitu saja. Adam seperti merasa telah kalah sekalah-kalahnya, padahal dia sadar jika dia sendiri yang membuat harapan itu.
Dokter Wira menepuk bahu Adam setelah melihat kekecewaan di wajah Adam.