Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Dia wanita itu kan??


Lain halnya dengan Raisa yang sedang bergelut dengan pikiran dan hatinya sendiri karena pesan dari orang misterius yang lagi-lagi mengganggunya. Adam justru sedang di sibukkan dengan masalah yang ternyata tak cukup mudah di selesaikan itu.


Masalah yang tidak hanya satu saja namun telah berakar di pabrik pengolahan makanan milik Satya yang terletak di Jawa tengah itu teleh berakar ke mana-mana.


Adam sempat pesimis jika dia bisa menyelesaikan sua itu sebelum satu minggu karena dia tidak ingin mengecewakan Raisa. Dia ingat janjinya pada Raisa yang akan menemani istrinya untuk melihat anak mereka.


"Silahkan lewat sini Pak" Beryl membawa Adam masuk ke dalam gudang yang ukurannya hampir sebesar lapangan bola. Tumpukan karton berisi produk yang telah siap kirim memenuhi hampir seluruh ruangan besar itu.


Adam di temani Beryl beserta dua orang staf gudang serta manager pemasaran juga berkeliling melewati tumpukan barang yang di tata rapi itu.


"Apa ini??" Tunjuk Adam pada tumpukan yang tinggi dan besar dan di tutup oleh terpal.


"Oh, i-ini barang yang baru produksi kemarin Pak" Ucap salah satu staf gudang.


"Kenapa harus di tutup??"


"Maaf Pak, sebenarnya di bagian sini atapnya bocor dan kita belum sempat memperbaikinya. Mau di pindah juga belum ada tempat lain lagi. Semuanya sudah penuh. Bagian yang luang di sana juga baru di transfer tadi pagi" Manager pemasaran itu menjelaskan dengan senyum lebarnya.


Kening Adam berkerut, menatap ketiga orang di hadapannya dengan penuh selidik.


"Buka"


"Maksudnya Pak??" Manager itu tampak gugup di tatap seperti itu oleh Adam


"Saya minta ini di buka, saya mau lihat"


Beryl segera mencari gunting untuk membuka tali yang mengikat kain terpal itu. Dengan di bantu dua staf gudang itu, Adam akhirnya bisa melihat apa yang terlihat seperti di sembunyikan itu.


Serekkk.....


Tumpukan barang siap kirim itu terpampang di depan Adam. Dari banyaknya tumpukan itu, Adam bisa memperkirakan jiak jika jumlahnya mencapai 500 karton lebih.


Adam semakin mendekat, mengamati satu persatu barang yang sudah dalam kemasan kardus itu.


Tak berapa lama, Beryl bisa melihat senyuman sinis dari Adam.


"Siapa yang bertanggungjawab atas pengiriman barang di sini??"


"S-saya Pak" Satu dari staf gudang tadi sedikit maju ke hadapan Adam.


"Sudah berapa lama kerja di sini??"


"Lima tahun Pak??"


"Lima tahun dan masih belum paham metode pengiriman yang benar??" Adam masih sangat tenang dalam ucapannya.


"M-maksud Bapak??"


"Kalian pikir saya bodoh?? Kalian kalau mau bohong sama saya, atau mau merugikan perusahaan jangan tanggung-tanggung!!"


Beryl yang belum paham dengan apa yang terjadi masih diam dalam kebingungan.


"Dan kau" Adam mendekat pada Manager pemasaran yang juga bertugas mengawasi pengiriman barang di pabrik makanan instan itu.


"Kau pikir saya percaya dengan penjelasan mu tadi?? Mana ada atap di sini bocor sedangkan ini musim kemarau!! Tidak ada juga genangan air di sini atau bekas tetesan air sama sekali. Harusnya minimal kamu siram dulu bawahnya, biar saya percaya" Sarkas dari Adam membuat ketiga orang itu gemetar.


"M-maaf Pak, sebenarnya ini barang peninggalan Manager yang sebelumnya. Saya baru memegang posisi ini dua bulan ini. Dia tidak bertanggungjawab dengan meninggalkan beban ini sama saya Pak. Sebelumnya saya juga tidak tau kalau masih ada tinggalan kadaluarsa seperti ini" Jelas Manager itu.


"Lalu kau, apa penjelasan mu tentang ini?? Bukannya sudah lima tahun di bagian gudang??"


"M-maaf Pak, kami hanya mengikuti instruksi dari atasan kami waktu itu. Dua bulan yang lalu, produk ini mulai memakai kemasan yang baru, sedangkan permintaan dari customer menginginkan kemasan baru. Sementara di dalam gudang masih banyak sekali kemasan yang lama. Jadi kami hanya mengikuti perintah untuk meninggalkan kemasan lama dan menunggu permintaan selanjutnya"


Penjelasan staf gudang itu membuat Adam naik darah.


"Kalau atasan mu salah dan bodoh seperti itu kenapa kau mengikutinya??" Geram Adam.


"Maaf Pak"


"Lalu kalian kemanakah yang lainnya??"


"K-kami jual murah Pak"


"APA!!!" Kemarahan Adam sudah pada puncaknya.


"Kalian menjual barang tak layak jual ini dan mempertaruhkan nama baik perusahaan??"


"Kami minta maaf Pak, tolong jangan pecat kami"


"Baguslah kalau kalian punya pikiran kalau saya akan memecat kalian, karena itu memang yang akan saya lalukan pada karyawan yang tak berkualitas seperti kalian" Tanpa harus pikir panjang lagi Adam mengambil keputusan itu. Tak ada gunanya juga mempertahankan karyawan yang merugikan perusahaan dengan pikiran seperti itu.


"Tapi Pak.."


"Pak Beryl, urus pemecatan mereka tapi pastikan mereka bertanggungjawab dulu dengan semua ini" Adam tak melirik sekalipun pada wajah memelas tiga orang itu. Adam tetap melenggang pergi membawa kemarahannya.


Adam mencoba mendinginkan kepalanya dengan mengirim pesan pada Raisa setelah beberapa panggilannya tak di angkat oleh istrinya. Dia hanya ingin memastikan keadaan Raisa di sana baik-baik saja sebenarnya.


"Kemana Raisa sebenarnya??" Adam duduk di loby hotel dengan kedua tangannya memijat kepalanya yang terasa pening. Adam sebenarnya kembali merasakan mual dan muntah pagi tadi. Badannya yang terasa tidak nyaman itu harus di tambah sesuatu yang menguras emosinya membuatnya memutuskan untuk kembali ke hotel.


"Mas Adam" Adam mendongak menatap wanita yang tiba-tiba datang dan meletakan segelas kopi hitam di hadapannya.


"Ngapain ke sini lagi??" Tanya Adam dengan sinis.


"Mas, aku cu..."


"Ayu, ucapan ku kemarin harusnya kamu paham kan?? Apa kamu mau dengar lagi??" Adam berdiri berhadapan dengan Ayu tang tingginya sama dengan Raisa.


"Tolong Yu, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah punya istri dan sebentar lagi aku juga akan punya anak. Aku sudah bahagia dengan hidup ku saat ini. Jadi aku mohon kamu mengerti"


"Lupakan semua yang pernah di janjikan Ibu, lagipula itu juga akan sia-sia aja kalau kamu terus mengharapkannya"


"Mulai sekarang jangan temui aku lagi. Tolong mengerti sebelum aku benar-benar tidak menganggap mu sebagai teman ku lagi"


Adam berbalik ingin meninggalkan Ayu yang membeku tanpa sepatah kata pun. Adam sudah habis kesabaran setelah kemarin tiba-tiba Ayu menghubunginya ingi bertemu. Adam juga tidak tau darimana Ayu tau dia sedang berada di kota kelahirannya itu.


"Tunggu Mas!!" Adam berhenti tanpa berbalik.


"Kenapa kamu nggak pernah mau terima aku di hati kamu?? Apa karena istri kamu itu?? Dia wanita itu kan?? Dia wanita yang kamu cintai selama ini??"


Deg...