Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Sakit


Dilema, satu kata yang bisa memporak-porandakan perasaan Raisa. Kenapa?? Karena Dilema itu memberikan pilihan pada Raisa. Pilihan yang membuatnya terjebak dalam lingkaran keputusannya sendiri.


Kita mulai dari awal, di saat Raisa melangkah lebih maju untuk mengambil keputusan demi pernikahannya yang tak ingin hancur dalam beberapa hari saja. Keputusan yang tak mudah juga Raisa ambil, dimana dia meminta waktu pada Adam untuk berubah.


Kemudian di saat semuanya mulai berjalan, justru datang beberapa hal yang membuat keputusannya itu seakan ingin goyah.


Kedatangan wanita yang bernama Ayu itu, wanita yang terlihat sangat dekat dengan Adam. Kemudian pesan dari orang misterius yang akan membantunya untuk mengungkap tabir buruk Adam.


Sedangkan kini, Adam sering kali menunjukkan sikap hangat, perhatian dan tanggungjawabnya kepada Raisa.


"Apa gue harus ambil keputusan untuk percaya sama dia??"


"Tapi semua yang gue lihat seakan membantah kalau percaya sama dia itu salah besar"


Raisa merasa, setelah dirinya terlibat dengan Adam, hidupnya justru tak tenang. Perasannya selalu dihantui rasa was-was dan juga tidak adanya kepercayaan kepada orang di sekitarnya.


Adam yang terlihat baik di mata Papanya, berbeda jauh dengan Adam yang ada di depan Raisa. Dan kini, hidupnya telah terikat dengan pria itu. Cara untuk lepas hanya ada satu, yaitu mempercayai orang misterius itu.


Tapi kembali pada dilema tadi, Raisa masih sangat berat untuk menentukan sebuah pilihan. Karena pilihan itu tidak akan pernah menjanjikan kebahagiaan kalau belum dicoba. Sedangkan Raisa takut untuk mencobanya, karena dia tidak yakin, apa yang akan dia pilih akan sesuai dengan harapannya.


Tapi, menemukan kebusukan Adam adalah tujuannya, sedangkan ada sebagian dari dirinya yang mengatakan untuk percaya pada Adam.


Sejak mendapat telepon dari orang misterius itu, Raisa sama sekali belum masuk kembali ke ruangan Adam. Hingga waktu sudah mendekati waktu pulang kantor.


Raisa juga enggan untuk masuk ke dalam sana menanyakan Adam akan pulang jam berapa.


Sementara Gaby, jangan tanya sekretaris satu itu. Dia sudah bersolek dari tadi. Dia ingin selalu tampil cantik ketika nanti berpapasan dengan banyak karyawan.


"Bu Raisa, Pak Adam udah selesai belum ya??"


Raisa hanya melirik Gaby "Mana saya tau"


"Bukannya tadi mereka sok mengumbar kesosweetan, kenapa sekarang acuh tak acuh kaya gini. Dasar pasangan aneh"


"Ya udah, kalau gitu, saya tanya Pak Adam dulu ya Bu"


"Hemm"


Gaby berjalan dengan pinggulnya yang bergerak ke kiri dan kanan secara berlebihan menurut Raisa.


Tangan Gaby yang mengetuk pintu ruangan Adam tak luput dari padangan Raisa.


Namun Raisa tak mendengar sahutan sari dalam, begitu pun Gaby yang masih berdiri di depan pintu.


"Pak Adam?? Saya masuk ya??"


Ucap Gaby sedikit lantang, tapi lagi-lagi tak ada sahutan.


"Bu??" Gaby menatap Raisa.


Wanita cantik itu juga ikut penasaran, dia perlahan mendekati Gaby.


"Nggak dengar kali" Sahut Raisa.


"Coba Bu Raisa aja yang periksa. Takutnya ada apa-apa sama Pak Adam di dalam"


Raisa menuruti apa kata Gaby, dia langsung membuka pintu ruangan Adam tanpa permisi.


Matanya tentu langsung menjurus pada meja milik Adam, tapi kosong. Orangnya tidak ada di sana.


"Itu Bu" Tunjuk Gaby pada sosok yang tengah berbaring pada sofa dengan kakinya yang menggantung karena tak muat di tampung sofa itu.


"Kamu pulang aja, biar saya bangunin"


"Baik Bu" Gaby menurut meski menggerutu dalam hati.


"Padahal kan mau lihat Pak Adam saat tidur itu gimana wajahnya yang tampan itu. Dasar pelit, nggak mau berbagi rejeki!!"


Raisa mendekati Adam yang berbaring dengan satu lengannya menutupi keuda matanya.


"Pak Adam!!" Raisa sengaja memanggilnya seperti itu karena masih berada di kantor.


"Pak Adam??" Lagi, namun tak ada sahutan.


Raisa semakin mendekat, mencoba menyentuh tangan Adam untuk membangunkannya.


"Pak Ada...kamu sakit??" Raisa terkejut karena melihat wajah Adan yang memucat.


"Mas Adam??" Raisa terlihat panik sampai berlutut di sisi sofa.


"Aku haus" Raisa menatap bibir Adam yang tampak pucat dan kering. Padahal tadi saat makan siang saja Asma terlihat baik-baik saja.


"Iya bentar" Raisa langsung beranjak mengambil satu botol kecil air mineral yang memang tersedia di sana.


"Ini, ayo bangun dulu" Raisa menunggu Adam yang mencoba duduk dengan pelan. Matanya yang sudah tidak tertutup tangan terlihat sangat sayu.


"Makasih ya"


"Hemm" Raisa lalu meraih kembali botol minuman itu.


"Kamu kenapa nggak bilang kalau kamu sakit??"


"Emangnya kamu peduli??"


Riasan langsung membuang wajahnya, bukan karena tersinggung namun karena malu atas pertanyaan Adam.


"Ya udah, ayo pulang aja tapi kita mampir rumah sakit dulu"


Raisa mencoba menghindar, dia memilih mengambil ponsel dan kunci mobil Adam yang ada di mejanya.


"Aku nggak papa kok Sa"


"Udah deh nggak usah ngeyel!! Kemarin aja kamu maksa aku kan??"


Raisa kembali mendekat pada Adam, meraih lengan pria itu untuk membantunya berdiri. Sejak tadi memang Raisa melihat Adam yang begitu lemas. Tak yakin jika pria itu bisa dengan mudah berdiri sendiri.


"Pulang aja, nanti panggil dokter Wira" Adam masih berusaha menolak.


"Ck, ya udah ayo!!"


Raisa membantu Adam dengan memegang lengan suaminya itu hingga sampai ke mobil.


"Biar aku aja yang bawa"


"Tapi Sa.."


"Udah deh, nurut aja kenapa sih!!"


Adam yang memang tak berdaya hanya bisa menuruti apa kata Raisa. Meski sebenarnya dia tidak tega membiarkan Raisa mengendari mobil untuknya.


Sepanjang perjalanan Adam hanya bisa memejamkan matanya, karena semuanya seperti terbalik saat dia membuka matanya.


Raisa kembali membantu Adam saat tiba di rumah, pria berbadan tinggi, gagah, berotot itu kini tak berdaya sama sekali. Jika musuh melihat keadaan Adam seperti itu, maka dengan sangat mudah Adam akan dilumpuhkan.


"Bi, Bi Asih!!"


"Iya Non??" Bi Asih berlari dari belakang.


"Loh Mas Adam kenapa Non??" Bi Asih terlihat khawatir dengan keadaan Adam yang pucat dan lemas seperti itu.


"Tolong panggil dokter Wira ya Bi, katakan sama dokter Wira untuk secepatnya ya Bi"


"I-iya Non"


Raisa kembali berjalan membawa Adam naik ke ke kamarnya. Badan Adam yang tinggi itu membuatnya begitu kesusahan.


"Hufff, sampai juga"


Raisa melempar tasnya ke Semarang Arah, dia membantu Adam melepaskan sepatunya. Membuka jas dan melonggarkan dasi Adam.


"Ya Allah Mas, ini udah basah banget ganti aja ya?? Aku bantu lepas" Raisa memegang kemeja Adam yang basah oleh keringat.


Tanpa menunggu jawaban dari Adam, jemari lentik Raisa mulai melepas kemeja Adam dari Atas.


Satu..


Dua..


Hap...


Tangan Raisa di tahan oleh Adam. Matanya yang sayu itu menatap tangan kanan Raisa yang ada dalam genggamannya.


"Sa"


"Ya??"


"Kenapa kamu nggak pernah pakai cincin nikah kita??"