Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Kesempatan


Adam langsung berlari menuju tempat dimana Raisa kini telah di pindahkan. Tak peduli dengan baju kotornya yang di lihat orang-orang, yang penting dia harus melihat sendiri kondisi istrinya.


Yuli yang ikut berlari mengejar Adam tampak kewalahan mengikuti kaki panjang pria yang di anggap adiknya sendiri itu.


Begitu melihat nama pada pintu ruangan itu, Adam langsung masuk tanpa permisi.


Pertama yang ia lihat adalah sosok wanita yang terbaring dengan mata tertutup dengan begitu damai seolah tak merasakan sakit sama sekali.


Wajah yang tadi pucat pasi kini terlihat lebih cerah meski tak secerah biasanya.


"Sayang" Adam meraih satu tangan Raisa yang tergeletak lemas di sisi tubuhnya. Sementara yang satunya lagi terpasang jarum infus di punggung tangannya.


"Sayang, maafin Mas ya??" Adam kembali menghujani wajah Raisa engan kecupan hangatnya.


Baru saja Adam di buat jantungan karena dokter yang menangani Raisa memperlihatkan wajah tak mengenakkan kepadanya. Pikiran Adam yang sudah kacau tentu saja berpikir yang tidak-tidak.


"Keluarga Ibu Raisa??" Adam langsung berlari mengaliri seorang pria dengan jas putih itu.


"Saya suaminya dokter, gimana keadaan istri dan anak saya?? Istri saya nggak papakan dokter?? Anak saya gimana??"


"Sabar Dam" Yuli terus memegang lengan Adam karena tak ingin Adam lepas kendali.


Dokter laki-laki yang sudah keriput itu tampak sendu dan itu membuat jantung Adam semakin berdetak tak tenang.


"Saya menyayangkan sekali hal ini bisa terjadi di usia kandungan yang udah menginjak empat bulan. Apalagi dari keterangan yang saya dapatkan tadi kalau pasien tidak mengalami benturan yang mengakibatkan pendarahan seperti ini"


"Jadi sebenarnya keadaan istri saya gimana dokter??"


Penjelasan dokter yang berbelit-belit tak langsung pada intinya membuat Adam kesal sendiri.


"Beruntung sekali nyawa Ibu dan janinnya masih bisa di selamatkan"


Adam langsung terhuyung ke belakang, badannya terasa ringan sekali saat ini. Rasa lega sekaligus penuh syukur lepas begitu saja.


"Alhamdulliah, terimakasih Ya Allah"


"Pasien bisa sewaktu-waktu mengalami hal seperti ini lagi jika dirinya merasa tertekan atau memiliki beban pikiran yang terlalu berat. Dan saya harap hal seperti ini tidak akan terulang kembali karena resikonya lebih besar dari sekedar keguguran. Bisa saja Ibunya tidak bisa ikut di selamatkan"


Deg...


"Betapa bodohnya aku" Adam sadar jika dia terlalu hanyut dalam kekecewaannya sampai tidak memikirkan akan terjadi hal-hal seperti ini.


"Sekarang pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat inap meski belum sadarkan diri tapi kondisinya stabil. Dan untuk beberapa hari ke depan, pasien harus bedrest dulu"


"Terimakasih dokter, kalau gitu saya mau lihat istri saya dulu" Adam langsung berlari menuju resepsionis untuk menanyakan di mana kamar istrinya itu.


"Kamu hampir saja buat Mas gila Ca. Mas nggak tau lagi harus gimana kalau sampai kehilangan kalian"


Tangan Adam berpindah ke perut Raisa yang masih buncit. Masih terdapat satu nyawa di dalamnya yang kini masih bisa di selamatkan atas kemurahan hati Tuhan yang memberikan kesempatan untuk Adam.


"Sayang, maafin Papa ya?? Papa nggak bisa jadi Papa yang baik buat kamu juga suami yang baik buat Mama"


"Tapi Papa janji, setelah ini Papa akan jaga kalian dengan lebih baik lagi. Papa nggak akan biarin kamu dan Mama kaya tadi lagi" Adam mengusap air matanya yang kembali meleleh.


Yuli yang sudah tiba di sana sejak tadi, tetap berdiri di dekat pintu. Dia tidak mau mengganggu Adam saat ini. Dia membiarkan Adam meluapkan perasaannya pada istrinya yang masih menutup matanya itu.


"Cepat bangun sayang, Mas mau minta maaf" Adam membawa tangan Raisa ke pipinya. Mencium telapak tangan Raisa dengan lembut.


"Ini baju ganti untuk Adam" Widodo sudah kembali dengan baju Adam yang tadi di antar Hanif.


"Iyo, makasih Mas"


"Dam, ganti bajumu dulu. Tadi Hanif sudah antar bajumu ke sini"


Adam menggeleng tanpa menoleh pada Yuli sama sekali. Matanya tetap menatap istrinya yang masih betah menutup mata.


"Ganti dulu baju mu yang kotor itu to. Kamu ndak mau to kalau nanti Raisa bangun dan lihat kondisi kamu yang berantakan koyo ngene??"


Adam masih diam beberapa derik, namun kemudian bergerak melepaskan tangan Raisa dan berjalan ke kamar mandi membawa baju gantinya.


Tak butuh waktu lama bagi Adam, karena dia memang ingin menjadi orang pertama yang Raisa lihat saat bangun nanti.


"Mbak sebaiknya pulang saja sama Mas Dodo. Aku di sini sendiri nggak papa kok" Adam memasukkan kembali bajunya yang kotor ke dalam paper bag yang di gunakan untuk mengantar pakaian bersihnya tadi.


"Mbak meh nemenin kamu di sini Dam"


"Tapi Simbah gimana Mbak??"


"Ada teman-teman istrimu, jadi nggak usah khawatir"


Adam tak bisa lagi menyuruh Yuli pulang kalau begitu.


Dia kembali duduk di sisi istrinya, dan bertekad tidak akan pernah pergi dari sana sedikitpun.


"Kamu sudah hubungi mertua kamu Dam"


Adam sedikit terperanjat, dia sampai lupa kalau dia belum memberikan kabar tentang keadaan Raisa saat ini.


"Belum Mbak. Mungkin besok pagi"


"Apa karena kondisi Raisa saat ini yang belum sadar sama sekali??"


Adam membenarkan ucapan Yuli, sejujurnya dia takut menerima kemarahan Satya. Dia juga memikirkan sakit jantung yang di derita Satya.


"Sebenarnya ada apa to antara kamu sama istrimu??"


Adam sebenarnya ragu, tapi akhirnya dia menceritakan semuanya pada Yuli.


"Ya Allah gustiiiiii" Yuli menatap nanar pada sepasang suami istri itu.


"Raisa memang salah Dam, tapi dia ndak sepenuhnya salah to"


Adam mengangguk, menyetujui apa kata Yuli. Dan dia baru sadar saat ini setelah semuanya terjadi.


"Alhamdulillah Allah masih kasih kamu kesempatan untuk bertemu dengan istri dan calon mu Dam"


"Iya Mbak, setelah ini aku nggak akan menyia-nyiakan mereka lagi. Cukup kemarin aku jadi pengecut"


Adam kembali menatap wajah istrinya. Tanya sedikitpun berniat untuk melepaskan genggaman tangan Raisa.


"Cepat bangun sayang, Mas mau minta maaf sama kamu" Bisik Adam pada wanitanya, wanita yang begitu ia cintai dan juga telah ia sakiti.


"Mas mencintai mu sayang"


Cup...


Sebuah kecupan yang syarat akan cinta dan penyesalan didaratkan pada kening Raisa.


Kini Adam telah berjanji, sampai kapan pun juga dia tidak akan pernah meninggalkan Raisa dalam kondisi apapun. Cinta yang selama ini ia pendam akan ia curahkan semuanya untuk Raisa.


Dia hanya punya Raisa dan anaknya di dunia ini. Adam tidak ingin kembali hidup sendirian lagi seperti dulu.