
"Tentu untuk bertemu dengan ku Tuan Adam yang terhormat"
Adam menoleh mencari sumber suara lain yang ada di sama.
"Siapa kalian??"
Adam yang masih mencerna apa yang terjadi, terlihat kebingungan karena dia tiba-tiba di kepung banyak orang.
Mereka semua, orang-orang yang mengepung Adam masih diam namun menatap Adam dengan senyuman meremehkan.
"Siapa mereka semua Sa??" Adam menggenggam tangan Raisa dengan erat karena tak ingin mereka semua menyakiti Raisa. Namun Adam jaga masih mengira itu semua adalah bagian dari kejutan yang ingin di berikan Raisa karena Raisa masih terlihat tenang saat ini.
"Bagaimana Tuan Adam?? Apa kau suka dengan kejutannya??" Lagi-lagi suara itu tak menunjukkan rupanya di mana.
"Apa maksudnya ini Sa??" Adam masih kebingungan. Namun sedetik kemudian, Adam merasakan tangan Raisa yang lolos dari genggamannya. Istrinya itu justru berlahan menjauh dari Adam. Melewati orang-orang yang mengepung Adam itu dengan santai tanpa mau menoleh sedikitpun pada Adam.
"Maafkan aku Mas" Raisa tak berani menoleh sedikitpun ke belakang.
"Sebenarnya siapa kalian??" Tangan Adam sudah mengepal kuat. Matanya juga tak lepas dadi Raisa yang keluar dari kerumunan itu.
"Kau tidak usah pura-pura tidak tau Tuan Adam yang terhormat. Kau kemarin bahkan datang menghampiri ku dengan sombongnya"
Tatapan Adam tertuju pada sosok pria yang mulai terlihat dari kegelapan.
"Aryo Dewangga??" Gumam Adam.
"Apa mau mu??" Adam menatap penuh kebencian pada pria yang tak lagi muda itu. Apalagi dia juga mendekat ke arah Raisa berdiri saat ini.
"Mau ku?? Kenapa kau tidak tanyakan saja kepada istrimu ini?? Bukankah dia yang mengantar mu ke sini??"
Adam menggeleng menatap Raisa. Seakan masih menolak apa yang telah ada di pikirannya saat ini.
"Jadi sebenarnya Om adalah orang yang terus mengirim ku pesan-pesan itu??" Raisa juga tak percaya jika otak dari rencananya yang sedang ia jalani itu adalah Ayahnya Rio. Pria itu yang membimbing Raisa untuk menyusun kejutan itu untuk Adam.
"Hemm, benar sekali. Apa kau terkejut Nona Raisa?? Apa sekarang kau menyesal telah menjebak suamimu sendiri ke dalam kandang singa??" Pria itu tersenyum dengan licik.
"Jangan bilang kalian menipuku selama ini?? Kalian sengaja mempengaruhi ku menghancurkan Papa melalui aku dan Mas Adam kan??"
"Hahahahahaha...." Suara tawa seseorang yang sangat Raisa kenal muncul dari belakang Aryo.
"Rio??"
"Kenapa kamu baru sadar Raisa?? Ternyata otak bodoh mu itu masih berfungsi juga. Gimana rasanya di adu domba dengan suami mu sendiri??"
Deg...
Raisa langsung menoleh pada Adam yang masih di kepung orang-orang suruhan Aryo.
"Mas" Raisa ingin kembali mengakhiri Adam namun dia terlanjur di tarik oleh Rio.
"Lepaskan dia!!" Kemarahan yang sejak tadi Adam pendam akhirnya meledak juga setelah dia berhasil mencerna semua yang mereka bicarakan.
Adam bergerak maju namun tetap tahan orang yang berjumlah sekitar lima belas orang itu.
"Mau apa lo tukang pukul?? Mau menyelamatkan istri yang tega menjebak lo ini?? Asal lo tau Adam Lesmana, lo udah di tipu istri lo sendiri. Dia yang bawa lo ke sini atas arahan dari gue. Hahahaha...." Tawa Rio mengakhiri kalimatnya itu.
"Sa??" Adam menatap nanar ke arah Raisa. Dia masih berharap jika apa yang Rio katakan itu salah.
"Maafkan aku Mas" Lirih Raisa penuh sesal. Dia tidak tau jika akhirnya akan seperti ini. Dia benar-benar merasa menjadi orang yang paling bodoh saat ini.
"Hahahahaha... Lihatlah Raisa, lihat wajah kecewa suami mu itu. Apa kau yakin akan mendapat maaf darinya setelah kau setega ini demi mendapatkan bukti yang kita iming-imingi??" Kini Aryo menunjukkan kebengisannya. Ayah dan anak itu memang sama-sama memilki sikap sebusuk itu.
"Lepaskan dia b****sek!!" Geram Adam.
Tapi apa yang terjadi, kemarahan Adam itu justru di sambut dengan tawa sinis oleh Rio.
"Kenapa?? Lo masih peduli sama dia setelah apa yang dia lakukan sama lo?? Dia yang dengan pintarnya membangun kepercayaan lo selama ini hanya untuk memuluskan rencananya demi menghancurkan lo, dan sekarang setelah lo melihat kebusukan istri lo ini, lo masih mau melindunginya??"
"Bahkan sampai sekarang, dia masih percaya kalau lobhanya menginginkan harta Papanya aja"
"DIAM!!" Teriak Raisa dengan penuh penyesalan.
Ya dia menyesal...
Bodoh memang..
Raisa mengutuk dirinya sendiri...
Dia mulai menangis, menyesali apa yang telah dia lalukan. Dia menyadari kesalahan-kesalahannya yang membuat dia dan Adam terjebak di dalam situasi saat ini.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan??"
Semua pasti tau jika dada Adam dalam keadaan bergemuruh saat ini.
Kecewa...
Benci...
Apalagi menatap Raisa saat ini, wanita yang amat dicintainya itu. Entah perasaan apa yang hinggap di hati Adam saat ini setelah mengetahui jika Raisa masih sangat membencinya hingga tega bersekongkol dengan musuh Papanya sendiri demi menghancurkannya.
Namun dia masih berusaha menekan amarahnya itu. Dia sadar jika dia sendiri saat ini. Sementara tubuhnya yang kemarin baru saja babak belur belum sembuh sepenuhnya.
"Baiklah kalau kau ingin tau apa niat kami sebenarnya. Cukup cerdas juga kau ternyata" Sinis Aryo lalu mendekat ke arah Adam dengan sebuah map di tangannya.
Brakk...
Dilemparnya map itu ke kaki Adam dengan begitu tidak sopannya.
"Tandatangani berkas itu, serahkan semua saham yang kau miliki di di SW. Group dan juga semua harta yang kau miliki!!" Tegas Aryo tak tau malu.
"Tidak!! Jangan!!" Teriak Raisa lagi.
"Awwww!!" Rio meringis kesakitan karena Raisa mengigit tangannya. Dan dengan mudahnya Raisa bisa lolos dari Rio untuk menghampiri Adam.
Namun itu tak berselang lama karena anak buah Rio dengan cepat menangkap Raisa kembali.
"Akhhhh, Mas Adaaammm!!" Pekik Raisa.
"Lepaskan tangan kotor mu itu dari istri ku!!" Adam yang sudah tidak bisa bersabar lagi menghajar satu per satu orang yang menghalanginya untuk menghampiri Raisa.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"Mas Adaammm!!" Raisa semakin histeris melihat Adam yang di serang dari berbagai sisi. Meski Raisa tak meragukan kemampuan suaminya itu, tapi Adam terlihat kewalahan menghadapi orang sebanyak itu.
"Mas maafkan aku Mas" Meski penyesalan itu sepertinya tak ada gunanya lagi, tapi Raisa tetap saja tidak bisa berhenti meminta maaf kepada Adam. Dengan mudahnya otak bodohnya itu terhasut dengan orang-orang seperti Rio dan menentang hatinya sendiri yang sebenarnya memilih mempercayai Adam.
"Sudahlah Raisa, tak ada gumamnya lagi maaf mu itu. Aku yakin setelah ini Adam akan membencimu"
Raisa menggeleng dalam tangisannya. Dia tidak sanggup menerima kenyataan yang mungkin saja akan terjadi itu.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Raisa rasanya sudah tak kuat lagi melihat Adam berkali-kali terjatuh. Tendangan dan pukulan itu bertubi-tubi mengenai tubuhnya yang sudah tampak lemah itu.
"Berhenti, tolong berhenti!!" Lirih Raisa meski permintaannya itu tak akan di gubris oleh Rio ataupun Aryo.
"Aakhhhhh!!!!" Dengan wajah yang penuh dengan darah dan luka, tangan yang sudah lebam karena terus menghajar puluhan orang itu, Adam berhasil bangkit lagi lagi. Dia telah menumbangkan semua anak buah Rio.
Pria yang sudah begitu terluka baik hati maupun tubuhnya itu mendekat ke arah Raisa yang telah beralih di tahan Rio.
Kakinya yang terlihat pincang itu di seret semakin mendekat pada Raisa dengan tatapan nanar.
Sementara Rio dan Aryo tampak panik karena tak menyangka jika Adam berhasil melumpuhkan semua anak buahnya.
"Berhenti di sana atau gue akan memotong urat leher wanita yang sangat lo cintai ini di depan mata lo sendiri" Rio mengacungkan pisau ke arah Adam.
Namun satu hal yang membuat Raisa membeku saat ini. Tentang Rio yang mengatakan jika dirinya adalah wanita yang sangat Adam cintai.
"Jangan macam-macam" Desis Rio.
"Gue nggak main-main!! Cepat tanda tangani berkas itu sebelum gue bertindak nekat!!" Ancam Rio.
Mata Adam dan Raisa saling bersinggungan, namun hati Raisa mencelos saat melihat tatapan dingin dari Adam. Tatapan tang beberapa bulan ini sudah tidak ia lihat lagi dari Adam.
Bughh....
"Akkhhh, wanita s*alan!!"
Raisa sengaja menyikut perut Rio dengan kencang hingga dirinya bisa lepas dari pria itu. Dia ingin segera berlari ke arah Adam namun terlihat Rio sudah mengibaskan pisaunya.
"RAISA AWAS!!"
Sreetttt....
"Aakkhhhh...!!