
"Yank"
"Buka pintunya dong yank"
Adam terus mengetuk pintu kamarnya karena Raisa yang sudah lebih dulu menguncinya dari dalam.
Dia tau kalau sekarang istrinya itu pasti marah karena cemburu. Entah apa yang Raisa pikirkan sampai mengunci pintu kamarnya seperti itu. Padahal Adam merasa tidak melakukan apapun dengan Ayu.
"Yank, Mas mau masuk. Bukain pintunya dong" Adam masih terus berusaha mengetuk pintu kamarnya. Berharap jika pintu itu segera di buka dari dalam.
"Ono opo to Dam?? Ini sudah mau maghrib" Widodo dan yang lainnya merasa terusik dengan suara dan ketukan pintu yang sejak tadi Adam lakukan.
"Raisa kayaknya marah karena Ayu tadi datang ke sini Mas. Padahal aku nggak merasa melakukan apa-apa sama Ayu. Tapi tadi Raisa ada di sana langsung pergi dan mengunci pintu kamarnya kaya gini" Jelas Adam dengan tampang memelas.
"Wah cemburu itu Dam" Widodo memasang wajah prihatinnya.
"Ada kunci cadangannya kan Mbak??" Adam berganti menatap Yuli.
"Emm kunci ya??" Yuli tampak berpikir.
"Kayaknya hilang Dam, maaf ya" Yuli terlihat merasa bersalah.
"Hilang Mbak?? Terus aku gimana dong??" Adam mulai terlihat frustasi.
"Ya kamu tinggal rayu Raisa aja biar mau buka pintunya to Dam. Maaf Mbah nggak bisa bantu apa-apa" Mbah Welas menahan senyumnya lalu meninggalkan Adam yang bersandar pada pintu dengan lemas.
"Semangat yo Dam" Widodo sengaja menampakkan senyum mengejeknya sebelum mengikuti Mbah Welas pergi dari sana.
"Mbak ndak melu-melu yo Dam" Yuli pun bukan harapan Adam sepertinya.
Sementara kedua sahabat Raisa hanya mengedikkan bahu mereka lalu pergi dari sana dengan senyum menjengkelkan menurut Adam.
"Sayang, buka dong. Mas juga mau sholat loh yank"
"Sebenarnya kamu kenapa sih yank?? Marah sama Mas karena tadi ketemu sama Ayu??"
"Tapi Mas kan nggak ngapa-ngapain yank"
"Dia cuma minta maaf karena dari dulu udah berharap lebih sama Mas. Sekarang dia udah nyerah kok yank. Dia cuma mau bilang itu aja" Adam masih bingung di mana letak kecemburuan Raisa tadi. Apa yang membuat istrinya itu semarah itu sampai tak mengijinkan Adam masuk ke dalam.
"Udah magrib juga yank, kita sholat jamaah ya. Buka pintunya"
Sudah setengah jam di sana, tapi Raisa sama sekali tak mau membuka pintu, bahkan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.
Adam akhirnya memutuskan untuk pergi sholat maghrib lebih dulu di mushola rumahnya. Mungkin setelah itu dia akan kembali membujuk istrinya untuk membuka pintu.
"Sudah menyerah Dam??"
Adam yang baru keluar dari mushola langsung mendapat cibiran dari Widodo. Pria yang rambutnya mulai beruban itu duduk di depan mushola dengan kopi di tangannya.
"Jangan ngejek Mas" Adam duduk di kursi samping Widodo.
"Loh, ngejek darimananya to?? Wong Mas mu ini cuma tanya"
Adam bersandar dengan lemas. Ternyata saat istrinya merajuk seperti itu tidak enak sama sekali.
"Tapi kenapa Raisa cemburu ya Mas?? Kan aku udah jelasin kalau Ayu cuma minta maaf aja"
"Lha kamu peluk dia enggak??"
"Edan, yo enggak lah Mas!!"
"Tak kasih tau yo Dam, perempuan itu sensitif sekali. Sekecil apapun yang kita lakukan ndak akan luput dari matanya. Apa yang kita anggap biasa saja, bisa jadi itu masalah besar buat mereka. Jadi ingat-ingat aja apa yang kamu katakan apa kamu lakukan tadi"
Mendengar itu, Adam langsung meraup wajahnya. Tapi dia juga masih ragu, apa penyebab Raisa marah itu karena dia berjabat tangan dan tersenyum pada Ayu.
Tapi jika Raisa melakukan hal yang sama pada pria lain. Adam juga pasti akan merasa cemburu.
Apalagi sekarang Raisa sedang hamil, pasti dia begitu sensitif.
"Ya udah Mas, aku ke dalam dulu"
"Semangat yo Dam" Seru Widodo sambil terkikik melihat kelakuan pasangan suami istri itu.
Tok..tok..tok..
"Yank, kamu dengar Mas kan?? Buka pintunya ya, kita bicara baik-baik"
"Mas minta maaf kalau tadi sama Ayu udah bikin kamu marah"
"Kaku juga belum makan loh yank, nanti kamu sakit"
Adam terus mencoba merayu Raisa agar membuka pintu kamarnya.
"Malam ini kamu tidur di luar aja!! Aku juga udah makan diambilkan Mbak Yuli, jadi nggak usah berisik!!"
Adam sempat terkejut karena sahutan tiba-tiba dari dalam itu.
"Yank, jangan gitu dong. Mas minta maaf, jangan marah kaya gini. Mas nggak mau tidur di luar sendirian"
Tapi sudah tidak ada lagi sahutan dari dalam. Suasana kembali hening selain suara Adam yang terus merengek dengan manja. Hilang sudah wibawa Adam sebagai bodyguard yang gagah dan di menyeramkan.
Tiba-tiba Adam juga menyalahkan Yuli yang mungkin saja mengambilkan makan malam Raisa saat dia sholat tadi
Semua orang di rumah itu tidak ada yang mendukungnya sama sekali. Tidak ada yang peduli kepadanya di saat dia memohon pada istrinya untuk sekedar masuk ke kamar.
Hari semakin malam, setelah sholat Isya, Adam juga langsung kembali lagi ke depan kamarnya. Berharap istrinya itu berubah pikiran dan membukakan pintu untuknya.
"Yank" Adam terus saja memanggil Raisa. Mau menelepon istrinya itu juga tidak bisa karena ponselnya tertinggal di dalam.
Bukan ingin mengganggu Raisa yang mungkin juga sudah terlelap di dalam sana. Tapi Adam hanya ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja.
Sebenarnya bisa juga dia mendobrak pintu itu dari tadi. Tapi Adam tidak ingin membuat Raisa ketakutan karena bertindak anarkis.
Meski tak ingin menyerah, akhirnya Adam memilih menarik kursi mendekat ke pintu. Duduk bersandar, bersedakap serta menyilangkan kakinya. Mencoba memejamkan matanya karena sudah menjelang tengah malam.
Namun banyaknya nyamuk, juga rasa tak nyaman apalagi tak berada di sisi Raisa membuatnya tidak tenang. Sekarang Adam merasa tak bisa tidur jika tidak mendekap tubuh istrinya itu.
Adam kembali berdiri, mengetuk pintu kamar itu lagi dan lagi. Tak peduli lagi jika Raisa sudah tertidur di dalam sana.
"Sayang, buka dong. Mas nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu"
"Kamu tega sama Mas yank??" Lima menit Adam berdiri di sana hingga Adam mendengar suara langkah kaki mendekat.
Cklek.....
Pintu yang sudah sejak maghrib tadi tertutup kini akhirnya terbuka.