Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Kita suami istri


Raisa kembali menatap cincin yang sudah dua hari ini tersemat di jari manisnya. Rasanya masih sedikit aneh ketika cincin itu melingkar di jarinya setiap hari, karena meski umur pernikahannya sudah hampir dua bulan, Raisa sengaja tidak memakai cincin itu sejak awal pernikahannya.


Baginya cincin itu seperti tak ada artinya. Jika yang memasangkan cincin itu pada jari manisnya saja tak mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Sampai saat ini pun Raisa masih memendam perasaannya sendiri. Entah kenapa, dia tak siap membuka rahasianya yang telah ia simpan dengan rapi saat ini.


Biarlah waktu yang berjalan membuktikannya. Mau perasaan Raisa yang terungkap lebih dulu, atau tabir Adam yang terbuka lebih dulu.


"Tapi pintar juga dia pilih cincin, cantik" Raisa mengangkat tangannya ke atas. Melihat jari-jarinya yang semakin cantik di hiasi cincin itu.


Raisa juga tak menyangka jika Adam menyiapkan cincin itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ukirannya saja pas di jari Raisa.


"Suka sama cincinnya??" Raisa terkejut karena melihat wajah tampan Adam muncul di sela-sela jarinya.


"Ngagetin aja!!" Raisa memalingkan wajahnya dari tubuh Adam yang basah penuh keringat membuat tubuh berototnya itu tercetak jelas dari kaos tanpa lengannya itu.


Adam memang selalu menyempatkan waktu untuk berolahraga demi menjaga bentuk tubuhnya itu. Karena tubuhnya yang prima memang sebagai penunjang pekerjaannya dari dulu.


"Kalau suka kenapa nggak di pakai dari dulu??"


"Lupa" Jawab Raisa jujur sambil melirik jari Adam yang juga tersemat cincin pasangan dari milik Raisa. Namu bedanya, cincin itu polos tak memilki tanpa batu seperti milk Raisa.


"Ya udah mulai sekarang jangan di lepas ya??" Adam mendekat mengacak rambut Riasa.


"Apaan sih!! Jadi nggak rapi kan!!" Kesal Raisa dengan bibirnya yang mengerucut.


Adam justru terkekeh melihat tingkah Raisa yang menurutnya menggemaskan itu.


"Bumil ngambekan ih" Ledek Adam.


"Biarin, mending mandi sana!!" Raisa ingin mendorong Adam untuk menjauh darinya. Karena dia tidak tahan dengan keberadaan pria itu di sampingnya. Namun tangannya malah sengaja di tahan Adam hingga tetap menempel pada perutnya yang berotot itu.


Raisa melotot merasakan perut yang keras itu. Ingin sekali menyingkirkan tangannya dari sana, namun tubuhnya bereaksi lain, tubuhnya justru berdesir dan merasa panas hanya karena menyentuh peut Adam itu.


Tanpa sadar ternyata Adam telah melepaskan tangannya sejak tadi, namun tangan Raisa justru tetap betah berada di sana. Bergerak-gerak dengan pelan mengusap otot perut milik suaminya itu.


"Hemm" Geram Adam membuat Raisa tersadar lalu menuhankan tangannya.


Untuk saat ini, Raisa ingin sekali lenyap dari sana betapa malunya dia karena tidak sadar dengan apa yang ia lalukan.


Jika saja bisa melepas wajahnya, pasti Raisa sudah melakukannya dan membuangnya sejauh mungkin.


Raisa berbalik membelakangi Adam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mau mandi bareng nggak??" Raisa di buat menegang karena Adam justru berbisik di telinganya pada saat Raisa sedang malu-malunya.


"Apaan siiihhh, sana" Raisa tak mau membuka wajahnya sama sekali.


"Kamu malu??"


"Kenapa malu?? Kita kan suami istri??"


Raisa berbalik dengan cepat namun lupa jika Adam sejak tadi terus berbisik di belakangnya menandakan kalau wajah Adam berada begitu dekat dengannya.


Dan benar saja, hidung Raisa langsung di sambut dengan hidung mancung milik Adam. Sampai Raisa menahan nafasnya karena benar-benar terkejut dengan wajah tampan di depannya itu. Jarak yang begitu tipis itu mungkin saja bisa menempel sempurna hanya dengan tertiup angin.


Mata Elang milik Adam mengunci mata bulat Raisa. Mereka berdua bahkan bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


Perlahan Raisa melihat mata Adam yang terpejam, di saat itu juga Raisa tau apa yang ingin Adam lakukan. Bukan hanya sekali juga dia merasakan bibir Adam yang mampu meluluhlantahkan hatinya itu.


Raisa bingung harus berbuat apa, ingin menolak karena tak ingin cinta yang sudah ia kubur timbul kembali. Dia tak ingin jatuh cinta sendirian lagi, tapi nyatanya dia tetap diam. Tak bergerak sama sekali, hingga ujung bibir Adam hampir menyentuh bibirnya jika saja ponsel Raisa tidak berbunyi.


Secepat kilat Raisa menjauh dari Adam. Tangan bergetarnya langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja riasnya.


"Ck.."


Raisa sempat mendengar Adam berdecak kesal sebelum pria itu melesat ke kamar mandi.


"Apa dia kecewa??" Tapi Raisa hanya mengedikkan bahunya lalu membuka sebuah pesan yang di kirim oleh nomor yang tidak tersimpan di ponselnya.


Raisa ragu membuka pesan itu. Lagi-lagi nomor tanpa nama. Raisa jadi teringat dengan ornag misterius itu. Apalagi kini Raisa menerima kiriman sebuah file yang enggan Raisa buka.


Dia takut jika dia berani membukanya, maka kenyataan-kenyataan lain akan terbuka di matanya. Sedangkan saat ini dia sudah mulai terbuai lagi dengan pesona suaminya. Kehangatannya, senyumannya, itu seperti Adam yang dulu sering bersamanya.


Rasanya tak sanggup kembali terjebak dalam dilema lagi. Raisa hanya ingin tenang sebentar saja tanpa memikirkan tujuan Adam yang sebenarnya.


Tapi kenapa orang misterius itu seolah tak ingin memberikan kesempatan untuk Raisa bahagia sedikit saja.


Tangan bergetar Raisa perlahan membuka file yang berisi foto itu. Foto dengan sebuah pesan...


"Ku kirimkan satu lagi bukti kebusukan suami mu itu"


Hanya membaca pesan itu saja Raisa sudah di buat ketakutan. Namun rasa penasarannya lebih besar saat ini.


Klik...


Raisa membuka foto itu. Sebuah dokumen dengan nama Papanya serta Adam tertulis di sana sebagai pihak pertama serta pihak ke dua.


Tertulis dengan jelas sebuah dokumen tentang penyerahan saham sebesar 45℅ di berikan oleh Satya kepada Adam.


Dada Raisa mendadak sesak, air matanya meluncur tak tertahankan lagi.


Raisa menoleh ke arah kamar mandi di mana Adam masih berada di dalam sana.


"Aku nggak nyangka Mas" Lirih Raisa memegang dadanya yang kesulitan bernafas.