
Untuk ke dua kalinya Raisa duduk di depan ruangan dokter kandungan. Namun untuk kali ini, Raisa tak sendiri, dia duduk bersama Adam. Yah, laki-laki itu benar-benar menemaninya. Duduk bersebelahan, bahkan Adam terus menggenggam tangan Raisa. Mereka sudah seperti pasangan pada umumnya yang menantikan kehadiran buah hati mereka dengan penuh cinta.
Memang penuh cinta untuk mereka sendiri maupun untuk calon anak mereka, meskipun tanpa mereka sadari. Bukan tanpa mereka sadari, tapi mereka yang tak mau menyadari. Ego mereka yang terlalu tinggi membuat hubungan mereka menjadi rumit dengan sendirinya.
Tak mau jujur dengan perasaan masing-masing, apalagi pikiran buruk yang selalu tertanam dalam diri Raisa untuk Adam adalah penyebabnya.
Entah sampai kapan hubungan yang seperti benang kusut itu akan berakhir hingga mereka saling mengetahui perasaan masing-masing.
Tak butuh waktu lama menunggu, Raisa kini sudah berbaring di ruang periksa. Bertemu lagi dengan dokter spesialis kandungan yang umurnya terlihat dua kali lipat dari umurnya.
Pandangan Adam juga mulai terarah pada layar monitor yang menampakkan objek kecil bergerak-gerak dengan aktif di dalan sebuah ruang geraknya.
"Ini Babynya sudah sangat aktif sekali ya Pak, tangan dan kakinya yang masih kecil-kecil gerak-gerak terus"
Adam tak bisa menahan harunya, melihat kehidupan baru yang berasal dari darah dagingnya telah tumbuh di rahim wanita yang ia cintai.
"Anak kita Sa" Bisik Adam sesekali mengecup pelipis Raisa.
Keduanya sama-sama bahagia, bahkan air mata yang merembes keluar saja mereka biarkan karena sebagai penanda kebahagiaan mereka.
"Gimana keadaan istri dan calon anak saya dokter??" Adam yang sejak tadi diam di sisi Raisa mulai terlihat tak sabaran setelah dokter itu menggunakan alatnya pada perut Raisa.
"Kandungannya cukup bagus Pak, tapi berat badan janinnya masih kurang ya untuk usia yang menginjak trimester ke tiga ini"
Raisa menjadi ketakutan mendengar hasil pemeriksaannya itu. Dia sendiri bingung kenapa hal itu bisa terjadi, padahal dia sudah mengkonsumsi vitamin dengan rutin juga memakan makanan yang sehat juga bergizi tinggi.
"Walau usia kandungannya sudah memasuki trimester ke dua, tapi ini masih sangat rentan ya jadi di jaga baik-baik. Pikiran yang terlalu berat juga sangat berpengaruh, termasuk pada berat badan janin yang kurang tadi. Jadi sebisa mungkin jangan terlalu banyak pikiran ya Bunda. Perhatikan juga makanannya, jangan makan yang mengandung banyak gula karena nanti justru Bunda yang bertambah berat badan, bukan janinnya" Adam menatap Raisa dengan nanar, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Lalu apalagi dokter??"
"Untuk saat ini hanya itu yang perlu di perhatikan lebih dulu Pak. Saya akan meresepkan Vitamin untuk Bu Raisa"
"Tapi dok, kenapa kulit istri saya jadi muncul ruam seperti ini dok. Gejalanya mirip seperti reaksi alergi seafood yang sering saya rasakan padahal istri saya tidak ada riwayat alergi sama sekali. Apa ini ada hubungannya sama kehamilannya dok?? Tapi rasanya aneh aja, kenapa jadi dia yang kena reaksi alerginya"
Dokter wanita itu tersenyum, seperti sudah biasa menghadapi hal seperti ini.
"Memang aneh Pak, tapi nyatanya hal itu bisa terjadi juga. Tapi kalau Pak Adam mau lebih yakin, sebaiknya di bawa periksa ke dokter kulit saja. Atau di hindari dulu makanan-makanan yang menyebabkan alergi"
Keduanya mengangguk mendengar penjelasan dokter itu. Mereka berdua pun akhirnya keluar dari ruangan dokter. Meski mereka sama-sama di selimuti kebahagiaan, tapi hati mereka terselip sesuatu yang mengganjal.
Saat di dalam mobil, Adam baru membuka suaranya.
"Sa??"
"Kenapa??"
Adam terus memikirkan perkataan dokter tadi hingga dia memberanikan diri untuk menanyakan apa yang saat ini ada di dalam pikirannya.
"Apa yang sebenarnya jadi pikiran terberat kamu saat ini??"
Deg...
Raisa tidak tau jika Adam akan bertanya seperti itu kepadanya.
"Ini pasti berhubungan sama hasil pemeriksaan tadi"
"A-aku.."
"Apa karena sebenarnya kamu belum menerima pernikahan kita??"
Di saat awal pernikahan mereka, Adam juga bersikap sama saja. Dia masih dingin dan acuh pada Raisa. Tapi bukan karena tak cinta alasannya, dia hanya tidak mau membuat Raisa semakin risih karena dia yang tiba-tiba berubah. Apalagi mengingat hinaan-hinaan yang di berikan Raisa waktu itu. Juga tentang keinginan Raisa yang ingin bercerai setelah berita tentang mereka memudar.
Tapi waktu itu, tanpa disangka-sangka, Raisa meminta kesempatan pada Adam agar memberinya waktu untuk berubah.
Betapa bahagianya Adam saat itu. Seperti melihat setitik cahaya di ruang yang gelap, cinta yang selama ini ia tunggu-tunggu seperti datang seperti ingin menjemputnya sebentar lagi.
Mulai saat itu, Adam mulai berani menunjukkan perhatiannya, kasih sayangnya pada Raisa meski masih tidak di hargai waktu itu. Apalagi saat Raisa memberikannya selimut saat Adam tidur di sofa dan mulai melayani kebutuhannya. Saat itu Adam mengira jika Raisa sudah bisa menerima dirinya. Tapi pikirannya itu sepertinya salah.
"Aku tau kalau semua ini berat buat kamu Sa. Apalagi kamu menikah dengan pria sepertiku, aku yang tidak pernah masuk ke dalam daftar pria yang bisa memasuki hati kamu kan??"
Hati Raisa seperti teriris mendengar kalimat putus asa dari Adam.
Seandainya saja bisa, Raisa ingin berteriak saat ini juga di depan Adam jika dia adalah satu-satunya pria yang ada di dalam hatinya. Tapi dia tidak bisa, keberaniannya hilang, nyalinya menciut, hingga suaranya tak bisa keluar sama sekali.
"Aku paham itu Sa, sangat paham. Tapi tidak bisakah kamu menganggap aku ini sebagai teman mu saja kalau kamu tidak bisa mengganggap aku lebih dari itu. Yang terpenting saat ini anak kita Sa, dia sangat bergantung kepadamu. Jadi aku mohon, apapun yang menjadi beban pikiran kamu bilang sama aku, biar aku tau apa yang harus aku lakukan"
Adam sebenarnya hancur saat ini. Memohon kepada istrinya sendiri, wanita yang sangat ia cintai hanya untuk di anggap walau sebagai teman saja.
"Atau sebenarnya kamu masih ragu sama aku dan masih yakin dengan pikiran kamu itu kalau aku ini hanya mengincar harta keluargamu saja??"
Deg.
Raisa semakin bungkam, mungkin menjadi bisu secara mendadak. Tebakan Adam tepat menancap pada ulu hati Raisa yang masih dalam kebimbangan.