Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Selamat tinggal


Adam langsung mengembangkan senyumnya saat melihat Raisa sudah menyambutnya di teras rumah. Wanita cantik itu berdiri sambil mengusap perutnya. Rambut panjangnya yang tertiup angin membuat Raisa terlihat semakin cantik.


"Mas" Raisa meraih tangan Adam lalu di kecupnya punggung tangan suaminya itu.


"Kamu kok di sini?? Udah makan siang??" Raisa menggeleng.


"Ica nungguin Mas"


Cup...


Adam mengecup pipi Raisa. Sungguh bahagia tiada tara dia saat ini. Mendapat istri cantik, dan begitu mencintainya seperti Raisa.


"Ya udah ayo kita makan. Anak kita pasti udah kelaparan ya??"


Adam masuk ke dalam sambil merangkul pinggang Raisa.


Mereka hanya berdua duduk di meja makan, karena semuanya sudah makan siang sejak tadi. Hanya Raisa saja yang keras kepala ingin menunggu Adam.


"Gimana masalahnya Mas?? Udah selesai??" Adam sedang menyeruput jus jeruk buatan Raisa.


"Udah, tapi ada kabar buruk dari Bu Ning??"


"Kenapa Bu Ning Mas??"


"Rumah dan warung Bu Nung habis terbakar"


"Astaghfirullah" Raisa sampai menutup mulutnya. Untung saja dia sudah meletakkan piring Adam lagi.


"Katanya Bu Ning lupa matiin kompor saat di jemput orang kelurahan"


"Terus sekarang gimana Mas??"


"Kalau warung sudah ludes karena dekat dengan dapur. Kalau rumah cuma sisa bagian depan aja"


Terbesit di pikiran Raisa jika itu adalah karma yang di terima oleh Bu Ning. Dari dulu wanita itu selalu mendzolimi suaminya. Tapi tak di sangka jika balasannya akan seperti itu.


Raisa mengambilkan lauk untuk Adam sesuai dengan kesukaan pria itu yang tadi sudah di masak oleh Yuli.


"Kasihan juga sebenarnya ya Mas, tapi kalau ingat Bu Ning yang jahat. Nggak jadi kasihan deh"


"Nggak boleh gitu sayang, sekarang Bu Ning lagi kena musibah. Meskipun dia udah jahat tapi Mas ikut prihatin"


Raisa semakin mengagumi sosok suaminya itu. Terlihat begitu keras namun berhati lembut.


"Mas tadi sudah mengatakan kalau di antara Mas dan Bu Ning sudah putus hubungan keluarga, tapi bolehkan kalau Mas bantu untuk memperbaiki rumah Bu Ning??"


"Boleh kok Mas, Ica nggak mungkin melarang Mas kalau Ternate baik"


"Ya udah ayo makan dulu" Mereka berdua makan di selingi dengan canda tawa.


Sungguh pasangan yang terlihat romantis dan terlihat saling mencintai. Tapi orang-orang yang baru melihatnya tidak tau saja jika mereka sempat melewati badai yang panjang untuk sampai pada titik ini.


"Minggu depan kita pulang ke Jakarta ya yank" Adam yang sudah menyelesaikan makan siangnya masih menunggu istrinya itu sambil memainkan rambut panjang istrinya.


"Emang masalah di sini udah selesai Mas??"


"Sudah, lagian bisa di urus sama Mas Dodo dan Mbak Yuli"


"Ya udah, Ica ikut Mas Adam aja"


"Istri Mas penurut banget sih"


Cup...


Adam kembali mencium pipi Raisa.


"Ih Mas kok cium-cium si sini. Kalau di lihat yang lain gimana??" Raisa melihat ke sekitarnya, siapa tau ada Mbah Welas dan yang lainnya.


"Biarin, kan udah halal"


Adam ingin mencium Raisa lagi namun tangan Raisa buru-buru menghalangi bibir Adam.


"Dasar genit, nggak di sini ah!!!" Raisa mengambil piring kotor Adam dan ingin mencucinya.


"Berati di kamar aja dong yank" Adam mengikuti Raisa ke dapur.


Raisa hanya diam tak menanggapi Adam yang menunjukkan sisi lain dari pria itu.


"Yank" Rengek Adam manja.


"Sayang"


Adam malah memeluk Raisa yang sedang mencuci piring dari belakang.


"Boleh kan yank??" Raisa yang geram langsung berbalik lalu mengecup bibir suaminya sekilas.


"Udah kan, jangan berisik deh!!" Raisa kembali melanjutkan mencuci piringnya, tapi Adam justru semakin menjadi.


"Maaaasss!!"


"Awwww!!!" Hadiah di pinggang Adam dari Raisa membuat pria itu mengakhiri kegiatannya itu.


"Rasain!! Makanya jangan aneh-aneh!!" Delik Raisa pada Adam yang sudah menyingkir dari belakang Raisa.


"Mas kan udah bilang kalau enakan di gigit dari pada di cubit yank"


"Maaaasss, ampun deh mesumnya!!" Raisa segera pergi dari dapur dengan di ikuti Adam yang masih terus menggodanya.


*


*


*


Sementara di tempat lain, masih ada Stevi yang terus mengejar cintanya. Wanita itu seolah buta dan tuli. Tak peduli jika Hanif sudah berkali-kali menunjukkan ketidaksukaannya pada Stevi. Tidak peduli juga bagaimana Hanif yang terlihat lebih dekat dengan Fany daripada kepadanya. Stevi tetap gigih dalam usahanya untuk mendapatkan Hanif.


Stevi yakin jika lama-lama Hanif akan luluh kepadanya. Cintanya yang teramat besar dan sedang menggebu-gebu itu cukup ia banggakan untuk membuat Hanif jatuh cinta kepadanya.


"Aku bantuin ya Mas??" Stevi ingin mengambil semprotan kecil dari tangan Hanif namun pria itu justru menjauhkannya.


"Nggak usah, lebih baik Mbak Stevi pergi dari sini" Ucap Hanif dengan dingin karena dia sudah kesal dengan Stevi yang sejak tadi menunggunya di sana dengan celotehannya yang membuat telinga Hanif panas.


"Kenapa?? Kan aku cuma mau bantuin kamu Mas, siram-siram kaya gitu aku bisa kok. Sekalian belajar biar nantinya bisa bantuin kamu terus. Sini Mas"


Stevi berpindah ke sisi kanan Hanif untuk meraih semprotan tadi. Tapi Hanif kembali menjauhkannya, dan mengangkat tangannya dengan tinggi supaya Stevi tidak bisa menggapainya.


"Saya bilang nggak usah!!" Tegas Hanif.


Namun Stevi yang tak pantang menyerah terus mencoba meraih semprotan itu dengan melompat-lompat kecil.


"Kamu tinggi banget sih Mas, jadi susah kan ambilnya"


Stevi terus berusaha hingga tak sengaja kakinya terkilir dan menyenggol tempat penyemaian bibit cabai yang letaknya setinggi pinggang Hanif itu.


Braaakkk...


Ratusan bibit cabai yang baru muncul tuntasnya itu jatuh ke bawah dan hancur berantakan.


"M-maaf Mas" Stevi tak berani menatap Hanif yang pasti saat ini sedang menatapnya dengan tajam.


"Maaf?? Apa dengan maaf kamu bisa balikin semua itu kaya tadi lagi??"


Stevi meremas jari-jarinya karena terlalu terkejut dengan suara Hanif yang meninggi itu.


"Sudah saya katakan untuk pergi dari sini tapi kamu yang keras kepala itu justru bikin masalah buat saya!!"


"Kamu nggak pernah sadar kalau saya nggak nyaman sama kamu yang terus di dekat saya. Saya terganggu!!"


"Kenapa kamu jadi wanita nggak bisa diam dan nggak punya malu?? Harusnya kamu kaya Fany??!!! Dia lebih anteng, nggak banyak tingkah kaya kamu!!"


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Stevi saat ini. Kalian pasti juga bisa merasakannya sendiri. Pria yang ia cintai itu jelas membandingkannya dengan Fany. Ditambah lagi bentakkan dan tatapan tajam itu.


Tes...


Air mata yang sejak tadi menggenang itu akhirnya jatuh juga. Perlahan Stevi mengangkat kepalanya. Dengan berani menatap Hanif dengan tatapannya yang nanar.


"Mas Hanif lebih suka Fany daripada aku??" Tanya Stevi dengan suara bergetar menyayat hati.


"Iya!! Kenapa?? Kamu nggak suka??" Hanif masih menatap Stevi dengan tajam.


Stevi menggeleng menggigit bibir bawahnya yang terus bergetar karena menahan suara tangisannya.


"A-aku nggak berhak melarang Mas Hanif untuk suka sama siapa aja" Stevi mengusap air matanya dengan kasar.


"Tapi bisakah Mas Hanif nggak usah menghina aku kaya tadi??"


"Maaf karena aku nggak punya malu, nggak bisa diam, banyak tingkah sampai buat Mas Hanif nggak nyaman dan merasa terganggu. Maaf juga karena kerjaan Mas Hanif jadi berantakan gara-gara aku"


"Aku janji mulai sekarang, aku nggak akan ganggu Mas Hanif lagi" Lagi-lagi Stevi menyusut air matanya yang terus menetes itu dengan kasar.


"Semoga, Mas Hanif bisa bahagia sama Fany ya. Makasih karena sempat buat aku bahagia di sini karena selalu bisa buat jantung aku berdebar-debar saat di dekat kamu. Selamat tinggal Mas Hanif" Stevi menunjukkan senyum terbaiknya pada Hanif meski matanya masih saja berair.


Tanpa menunggu jawaban apapun dari Hanif yang entah mengapa menjadi terpaku saat ini, Stevi berbalik pergi membawa segenap rasa sakit dalam hatinya.


*


*


*


Nih....niar nyesek, nyesek sekalian sono... Wkwkwwk


Gimana?? Yang penasaran sama cerita Stevi, tisu aman???